
Saling bekerjasama membuat hubungan mereka berdua semakin harmonis. Anton selalu membantu Dinda untuk merawat Afzal, bahkan ia sudah pandai mengganti popok dan memandikan Afzal. Biarpun Anton kurang tidur, tetapi ia tetap pergi ke kantor agar perusahaannya berjalan seimbangan.
"Kak, tolong gantiin popoknya baby Afzal?" Dinda menyuruh sang suami.
"Ok! Kamu tidur saja lagi," sahut Anton yang langsung menghampiri Afzal dan menggantikan popok untuknya.
"Terima kasih ya sayang!" ucap Dinda yang merasa kantuk.
Malam itu Anton belum tidur, masih sibuk dengan laptopnya. Karena Dinda sudah tidur dan ia tahu kalau sang istri kecapekan, Anton pun langsung menggantikan popok Afzal yang sudah waktunya diganti. Melihat istrinya yang tertidur pulas, Anton pun merasa bersyukur, karena semenjak Afzal dilahirkan, Dinda menjadi lebih dewasa.
Setelah selesai mengganti popok dan cuci tangan, Anton pun keluar dari kamar. Ia hendak membuat mie instan, karena dia terserang rasa lapar. Ketika ia sampai di lantai bawah, ia melihat sosok hitam yang sedang berdiri tepat di depan microwave. Sedikit rasa takut, ia pun memberanikan diri menghampiri sosok hitam itu untuk melihatnya dengan jelas.
"Kamu ngapain Sri?" tanya Anton yang melihat sosok hitam itu adalah Sri, asisten rumah tangga.
"Eh! Den Anton, ngagetin saja!" sahut Sri yang terkejut melihat kedatangan Anton.
"Kamu yang ngagetin! Malam-malam di dapur gak nyalain lampu. Makan sambil berdiri, lihat tuh badan mu tambah gembul!" gerutu Anton.
Kebetulan, malam itu asistennya belum tidur, jadi Anton meminta bantuan kepadanya untuk dibuatkan mie instan. Cukup lama Anton berada di lantai bawah, karena ia makan sambil menonton pertandingan sepak bola. Hampir dua jam dan pertandingan pun selesai, kemudian ia pun naik ke atas masuk ke kamarnya.
Dilihatnya Dinda yang sedang duduk dipinggir ranjang menyusui Afzal. Lalu Anton ikut duduk di sebelahnya sambil menciumi Dinda dengan manja. Setelah selesai menyusui, Dinda pun menaruh Afzal di ranjang bayi. Tiba-tiba Anton memeluk Dinda dari belakang dan mencium tekuk lehernya, hingga membuat Dinda menggelinjang.
"Belum waktunya sayang," ujar Dinda membalikkan badannya.
"Aku tahu kok! Tapi aku lagi ingin di sayang," sahut Anton mencium bibir Dinda dengan lembut.
__ADS_1
Wajar saja seorang suami merindukan istrinya, ketika sang istri sedang nifas. Walaupun Dinda tidak bisa melayani Anton di atas ranjang, tetapi ia punya cara jitu untuk membuat rasa rindu sang suami terobati. Anton pun semakin cinta dengan Dinda, karena dia sangat memprioritaskan dirinya, walaupun Dinda sendiri sangat sibuk dan lelah mengurus Afzal sendirian ketika ia pergi ke kantor.
Selain itu, Dinda juga masih menyiapkan baju kerjanya dan terkadang Dinda menyiapkan sarapan untuknya. Setelah menjadi seorang ibu, Dinda benar-benar berubah total. Dia benar-benar memiliki tanggung jawab dan ia tahu betul peran sebagai seorang ibu dan istri. Perubahannya, tak luput dari sosok suami yang selalu mendukungnya.
"Sayang, kamu mandi dulu, terus tidur. Sudah malam, jangan begadang terus!" suruh Dinda sambil membantu melepas baju Anton.
"Iya sayang! Kenapa sih kamu sangat menggemaskan seperti ini," puji Anton memeluk Dinda dengan gemas.
"Sudah manjanya, cepetan mandi! Lihat tuh, sudah jam berapa?" Dinda mendorong tubuh sang suami.
Anton yang merasa sudah lega pun langsung pergi ke kamar mandi. Karena malam itu memang sudah hampir tengah malam, jadi ia buru-buru mandi dan istirahat.
*****
Setelah salat Subuh, Anton sibuk dengan laptopnya, sedangkan Dinda masih tertidur pulas, karena setiap tiga jam sekali dia harus bangun untuk menyusui babi Afzal. Tetapi Anton tak sengaja menjatuhkan barang ke lantai hingga menimbulkan kebisingan dan membuat Dinda terbangun.
"Sudah jam berapa?" tanya Dinda menggeliat.
"Masih jam tiga malam," jawab Anton berbohong.
Bukan semata-mata ia berbohong, Anton hanya ingin Dinda tidur lagi. Tetapi karena Dinda melihat sedikit cahaya dari selah-selah gorden yang tidak tertutup rapat, Inah pun langsung turun dari ranjang dan mengambil ponselnya. Ternyata pagi itu sudah jam enam, Dinda pun memprotes Anton yang sudah bohong dengannya.
Dengan segera Dinda masuk ke kamar mandi untuk gosok gigi dan cuci muka. Kemudian ia menyusui Afzal, setelah selesai ia berpamitan dengan sang suami dan menyuruhnya untuk menjaga Afzal, sedangkan Anton masih sibuk dengan laptopnya.
"Mbak! Ada ayam gak?" tanya Dinda pada Sri.
__ADS_1
"Ada Non, di freezer!" jawab Sri yang saat itu sedang mengepel lantai dengan rekannya.
"Ok! Nanti kalau sudah selesai mengepel, tolong belikan aku buah naga di pasar ya Mbak, soalnya darah merah ku rendah," suruh Dinda.
"Iya Non, ini sebentar lagi selesai kok!" sahut Sri yang baru selesai mengepel.
Pagi itu Dinda membuat sup ayam lunak dan memasukkan beberapa sayuran didalamnya. Selesai memasak, ia menyuruh sang suami untuk mandi, lalu dia menyiapkan baju kerja untuknya. Tak hanya itu, Dinda juga membantu Anton memakaikan dasinya. Peluk dan cium menghujani Dinda, Anton mengekspresikan dirinya, bahwa ia sangat mencintai sang istri.
Anton merasa dirinya sangat berarti bagi Dinda, rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Jika sebelumnya ia selalu takut kehilangan sang istri, tetapi kali ini ia merasa dirinya spesial dan nyaman saat bersamanya. Akhirnya ia bisa merasakan hasil buah dari kesabarannya.
"Sayang, kamu gak boleh makan sambal! Ingat, kamu lagi nyusuin!" Larang Anton.
"Makan sedikit boleh ya! Kangen banget sama rasanya sambal Kak, lagian aku buatnya gak pedes kok!" kata Dinda memelas.
"Boleh, tapi sekali ini saja! Besok-besok gak boleh," sahut Anton mengambilkan sambal untuk Dinda.
"Terima kasih suamiku tersayang," kata Dinda menggemaskan.
Setelah sarapan, mereka berdua masuk kedalam kamar. Anton mencium Afzal di keningnya. Rasanya, hari itu dia tidak ingin berangkat kerja, ia ingin menghabiskan waktunya dengan sang istri dan anaknya. Tetapi ia tetap harus pergi, karena ada proyek yang harus ia tangani. Dan kebetulan Loren sedang cuti, karena mau menerima lamaran dari Rizal, jadi Anton terpaksa melakukan pekerjaannya sendiri.
"Sayang, aku malas berangkat kerja!" kata Anton memeluk Dinda dengan manja.
"Kayaknya jiwa kita ketukar deh Kak! Perasaan akhir-akhir ini Kakak lebih manja seperti anak kecil," ujar Dinda membalas pelukan sang suami.
"Biarin, yang penting istriku sayang sama aku!" sahut Anton yang tidak mau melepaskan pelukannya.
__ADS_1
Untungnya, Anton bekerja di perusahaan miliknya sendiri, jadi walaupun ia berangkat agak siang tidak ada yang memarahinya. Sebenarnya Anton orang yang disiplin, tetapi karena keluarga baginya sangat penting daripada harta, jadi ia memilih untuk menghabiskan waktu dengan istri dan anaknya. Karena waktu tidak akan bisa terulang, sedangkan harta bisa dicari.
The End