
Karena kelabilan, Dinda pun merasa kesal terhadap dirinya sendiri. Tidak berpikir sebelum bertindak, menuruti keegoisan sesaat yang membuatnya tersesat di setiap saat. Penyesalan tak ada gunanya, menangis pun percuma. Ingin teriak, tapi hanya akan membuat tenggorokannya sakit.
Untuk menghilangkan rasa kesalnya, sore itu Dinda tidak langsung pulang ke rumah. Ia pergi dengan Rizal ke sebuah mall untuk menonton di bioskop, selain itu Dinda juga ingin lebih mengenal kepribadian Rizal yang belum ia tahu sepenuhnya.
Sang kakak yang langsung pulang ke rumah pun merasa khawatir, karena sudah hampir jam sembilan malam Dinda tidak kunjung pulang. Di telponnya berkali-kali tetapi sekalipun tak ia angkat. Pesan yang ia kirim pun tak di balasnya.
Anton mondar mandir di ruang tamu menunggu kedatangan Dinda. Simbok dan Inah sudah tidur, begitupun dengan sang nenek. Tak lama kemudian, pintu utama pun terbuka. Karena Dinda punya kunci sendiri.
Tanpa berkata apa-apa, Anton langsung menarik tangan Dinda berjalan menaiki anak tangga. Anton yang merasa kesal pun melempar Dinda ke atas ranjang.
"Kakak apa-apaan sih!" Protes Dinda atas kekasaran Anton.
"Jam segini kamu baru pulang! Ngapain saja kamu Sam Rizal?" Tanya Anton dengan nada tinggi.
Melihat sang kakak yang sangat marah, Dinda pun hanya bisa diam tanpa menjawab pertanyaan sang kakak.
"Kamu bilang ingin segera hamil! Istirahat, jangan terlalu capek!" Imbuh Anton.
Selesai memarahi Dinda, Anton kemudian menyuruhnya untuk mandi. Setelah mandi Dinda merebahkan badannya di samping sang kakak. Sebenarnya Dinda merasa kesal tapi dia hanya bisa diam, karena dia takut jika sang kakak sudah marah.
*****
Keesokan harinya Pak Dokter datang ke rumah untuk mengecek kondisi sang nenek. Pak Dokter sengaja datang pagi-pagi, karena dia ada praktek di jam kerja.
Setelah selesai mengecek sang nenek, Dinda dan Anton bertanya seputar kehamilan dengan sang Dokter.
"Dok, biasanya butuh berapa lama untuk hamil setelah melakukan hubungan suami-istri?" Tanya Dinda tanpa canggung.
"Membutuhkan waktu hingga enam hari setelah hubungan seksual untuk sp*rma dan sel telur bertemu dan membentuk sel embrio yang berhasil dibuahi." Jawab Dokter.
"Agar cepat hamil, biasanya pasutri harus melakukan hubungan intim 2-3 kali dalam seminggu." Imbuh Dokter.
"Lantas, berapa hari orang hamil bisa tahu kalau dia sedang hamil?" Tanya Anton ingin tahu.
__ADS_1
"Segera setelah sel telur yang telah dibuahi ditanamkan ke dalam dinding rahim, hormon kehamilan hCG diproduksi. Ini berarti tes kehamilan berkualitas tinggi dapat mendeteksi kehamilan hanya dalam 5 hari setelah pembuahan." Jawab Dokter dengan detail.
Hal itu membuat Dinda dan Anton berfikir bahwa tidak hanya sekali melakukan, jika ingin cepat hamil. Mereka berdua saling menoleh berhadapan ketika Pak Dokter pergi.
"Apa lihat-lihat!" Kata Anton yang masih kesal karena semalam Dinda pulang larut malam.
"Ih juteknya!" Sahut Dinda yang tak kalah kesal.
Dinda kemudian berjalan menaiki anak tangga dan Anton berjalan di belakangnya. Dinda masuk kamar dan melemparkan badannya di atas ranjang. Lalu ia meraih ponselnya untuk membalas pesan dari Rizal.
Entah apa yang merasuki tubuh Anton, tiba-tiba ia berdiri di pinggir ranjang sambil memandangi Dinda dengan tatapan nakal. Dinda yang melihatnya pun langsung memposisikan dirinya duduk di ranjang sambil mendongakkan kepalanya.
"Kakak........"
Tak memberi kesempatan kepada Dinda untuk berbicara, Anton dengan cepat meraih dagu Dinda dan mendaratkan sebuah ciuman yang cukup panas.
Tanpa penolakan dari Dinda, mereka berdua menikmati setiap permainan lidah mereka masing-masing. Mereka berdua larut dalam kenikmatan yang mereka ciptakan. Tangan Anton mulai melepas piyama yang di pakai Dinda. Hingga terlihat jelas gundukan kenyal yang dengan mudah ia mainkan.
Bibir Anton turun ke leher, menelusuri leher jenjang Dinda dan tak ketinggalan telinga Dinda yang sangat sensitif. Sedangkan Dinda hanya bisa memejamkan matanya, menikmati permainan dari sang kakak.
"Din, Kakak......" Kata Anton yang terputus.
"Iya lakuin saja kak! Dinda ingin segera hamil." Potong kata-kata sang kakak.
Akhirnya terjadi lagi hubungan intim antara suami dan istri. Setelah mereka selesai menikmati detik demi detik yang mereka lakukan. Mereka berdua pergi Mandi, Anton yang mulai menyukai Dinda pun dengan lembut membantu Dinda membersihkan badannya.
Anton sendiri merasa bingung dengan dirinya sendiri yang terlena akan kecantikan Dinda. Entah itu cinta yang timbul karena hubungan intim atau karena memang dia mencintai atas dasar sayang. Sebagai laki-laki Anton pun tidak paham dengan perasaannya, dia tidak mau mencintai sang adik hanya berdasarkan hubungan intim.
Karena sejak pertama mereka berhubungan intim. Perasaan Anton berubah, bahkan di saat Dinda sedang berduaan dengan Rizal, membuat Anton kesal dan tidak suka jika Dinda sama laki-laki lain.
Sebelumnya dia memang over protective terhadap Dinda, tetapi rasa dulu dan sekarang berbeda.
"Kak, sudah jam delapan loh!" Kata Dinda melihat jam di ponselnya.
__ADS_1
"Ayo cepetan pakai bajumu." Sahut Anton dan membantu Dinda mengenakan bajunya.
Kemudian mereka buru-buru menuruni anak tangga, sebelum pergi kerja, mereka terlebih dahulu berpamitan kepada sang nenek dan menyuruh Simbok untuk memberikan obat kepada nenek tepat waktu.
*****
Di kantor,
Seperti biasanya, Dinda selalu makan siang bareng Rizal. Mungkin raganya milik sang kakak, tetapi cintanya tetap untuk Rizal. Ingin sekali Dinda jujur kepada Rizal tentang hubungannya dengan sang kakak, tetapi ia belum berani. Mengingat hubungan mereka masih seumuran jagung, dia takut kalau Rizal meninggalkannya.
Siang itu mereka makan siang di kantin. Para karyawan pun mulai berbisik-bisik dan menggosipkan bahwa Dinda dan Rizal sedang berpacaran. Bagi mereka tidak apa-apa, karena Dinda dan Anton sangat cocok satu sama lain.
"Din, besok kita kerumah Yuki bareng ya! Aku jemput kamu dengan sepeda motor." Ajak Rizal tersenyum.
"Okay! Kamu jemput aku jam delapan saja, jadi sebelum acara kita bisa bantu-bantu Yuki." Sahut Dinda setuju.
Besok hari libur dan besok hari ulangtahun Yuki yang ke 18 tahun. Mereka di undang untuk merayakan pesta ulangtahun Yuki yang memang dia mengundang seluruh teman SMA mereka, jadi sekalian reunian.
Anton yang juga sedang makan dengan Loren pun melihat Dinda dan Rizal sedang tertawa bercanda. Hal itu membuat Anton tidak bisa fokus dengan makanannya. Loren yang melihat raut wajah Anton yang kesal pun ikut menoleh ke arah Anton memandang.
Sekarang Loren tahu, apa penyebab Anton memasang wajah kesal. Loren pun tidak terlalu senang karena Anton yang terlalu over protective terhadap Dinda.
"Kamu sebenarnya gak suka dengan hubungannya Dinda dan Rizal atau cemburu sih?" Celetuk Loren kesal.
Anton terkejut dengan perkataan Loren yang tiba-tiba.
"Aku hanya tidak suka kalau Dinda pacaran. Dia masih terlalu muda untuk mengenal hal itu!" Sahut Anton yang menyadari kalau Loren mulai kesal dengannya.
"Banyak gadis seumuran dengan Dinda sudah pacaran, bahkan yang di bawah Dinda juga banyak. Sudahlah, biarin dia melakukan apa yang dia inginkan. Lagian kamu gak kasian apa, sudah di paksa menikah denganmu dan gak boleh kuliah, sekarang kamu juga mau atur-atur hidupnya. Aku yakin, di balik keceriaan Dinda tersimpan rasa sakit." Ujar Loren.
Anton hanya terdiam mendengar perkataan Loren. Dia sadar kalau Dinda sudah banyak berkorban, bahkan dia mengorbankan keperawanannya hanya untuk membuat sang nenek bahagia. Anton sendiri menikmati setiap melakukan hubungan suami-istri dengan Dinda.
Rasa bersalah pun menyergap di benaknya. Sebenarnya orang yang paling Dinda sayangilah, yang sudah menghancurkan kebahagiaannya, masa depannya dan juga keinginannya.
__ADS_1
Bersambung....