Menikah Dengan Kakak Angkat

Menikah Dengan Kakak Angkat
Minta Maaf dan Ungkapan Hati


__ADS_3

Makanan yang ia pesan pun sudah datang. Anton menyiapkan makanan untuk Dinda. Ia berniat untuk memberikan kepada Dinda. Tetapi Loren melarangnya dan menyuruh Anton untuk tidak terlalu perhatian kepada Dinda.


"Biarin dia makan sendirilah, Dinda kan gak sakit!" Protes Loren.


"Iya aku tau, aku cuma mau ngasih makanan ini ke dia. Biar dia makan di kamar." Sahut Anton.


Anton pun berjalan masuk ke ruang pribadinya, untuk memberi makanannya kepada Dinda. Tetapi, ketika ia masuk ke dalam, Dinda tertidur nyenyak. Kemudian ia letakkan di meja dan dia pergi keluar lagi untuk memakan makanannya.


Seperti biasanya, Loren selalu memanjakan Anton. Ia menyuapi Anton seperti anak kecil. Anton tak menolak hal itu, karena dia sendiri suka di manja. Suap demi suap makanannya habis.


"Sayang, kehamilan Dinda kan sudah memasuki bulan ke lima, itu artinya empat bulan lagi dia melahirkan. Bagaimana kalau kita urus pernikahan kita mulai sekarang!" Pinta Loren dengan manja.


"Kita bicarakan hal ini nanti saja, kalau Dinda sudah melahirkan. Lagian kan masih lama, kita jalani saja dulu." Tolak Anton sambil memainkan ponselnya.


Karena merasa kesal, Loren pun keluar dari ruangannya Anton. Karena memang jam istirahat sudah selesai. Kemudian Anton menghampiri Dinda dan di lihatnya Dinda masih tertidur pulas. Padahal sudah jam satu siang, Anton khawatir kalau Dinda telat makan. Apalagi Dokter mengatakan bahwa janin Dinda kurang berat badan.


Antara tega dan tidak tega, akhirnya Anton mencoba untuk membangunkan Dinda. Tetapi Dinda hanya melenguh, memindah posisi wajahnya menghadap ke arah Anton. Wajah manis, cantik dan menawan terpampang jelas. Anton tak bisa membohongi dirinya sendiri, bahwa rasa cintanya terhadap Dinda semakin dalam.


Mungkin saja dia di depan Dinda berpura-pura mesra dengan Loren, tetapi cintanya sudah berpindah untuk Dinda. Anton menangkap ekspresi aneh ketika Dinda melihatnya bermesraan dengan Loren. Anton yakin jika Dinda juga memiliki rasa untuknya, walaupun sekecil biji jagung.


Apalagi dia tahu jika Dinda sudah tak lagi bersama Rizal, berarti ada kesempatan untuk mengambil hati Dinda. Untuk sementara Anton akan memberi ruang untuk Dinda berfikir, merasakan dan mengerti dengan perasaannya sendiri.


"Aduh..... laparnya!" Lenguh Dinda menggeliat.


"Kalau lapar, cepetan bangun dan makan!" Sahut Anton yang masih duduk di sebelah Dinda.


Sontak saja Dinda terkejut melihat sang kakak sudah berada di sampingnya.

__ADS_1


"Ah kakak, ngagetin saja!" Protes Dinda sambil memukul tubuh Anton dengan ringan.


Kemudian Anton menyuruh Dinda untuk pergi ke toilet mencuci mukanya. Lalu, Anton menyuruh Dinda duduk di pinggir ranjang, sedangkan ia berpindah di kursi dan mulai menyuapi Dinda.


Dinda pun diam sejenak, bingung dengan sikap sang kakak. Jika di hadapan orang lain, dia bersikap dingin, tetapi jika hanya ada mereka berdua, Anton sangat perhatian dengannya. Hal itu membuat Dinda hanya bisa menggelengkan kepalanya, karena merasa bingung.


"Kenapa kepalamu?" Tanya Anton heran.


"Ish, kakak kadang baik, kadang ngeselin!" Jawab Dinda dengan nada menggemaskan.


Kemudian Anton mengutarakan apa yang ada di hatinya. Dia masih merasa kesal dengan sikap Dinda malam itu yang lebih memilih Rizal ketimbang dirinya. Harga dirinya masih terluka, karena merasa tidak di hargai sebagai suami.


Sebenarnya, Anton juga kesal dengan Rizal. Bahkan tersimpan rasa benci di hatinya, tetapi karena rasa kemanusiaannya yang tinggi, ia pun masih menerima Rizal bekerja di perusahaannya. Rizal yang menjadi tulang punggung keluarga, itulah alasan Anton masih memperkerjakan Rizal di perusahaannya.


Dinda pun memeluk sang kakak dan meminta maaf atas sikapnya yang seperti anak kecil. Bahkan tidak memikirkan perasaan sang kakak waktu itu. Sekarang dia sadar, karena keegoisannya, banyak orang yang terluka karena dirinya. Dinda pun berusaha untuk menjadikan semuanya sebuah pelajaran.


"Sudah! Makan dulu." Suruh Anton sambil menyuapi Dinda satu sendok penuh.


Dinda pun menghabiskan makan siangnya. Setelah minum air putih, lalu Anton menyuruh Dinda untuk makan pisang yang ia beli lewat online tadi. Karena kata Dokter, buah pisang bisa mencegah stress.


Anton mulai bekerja, sedangkan Dinda diam diri di ruang istirahat. Tampaknya ia mulai merasa bosan, dia keluar masuk melihat ini dan itu. Membuka file ini dan itu, hingga membuat perhatian Anton tertuju padanya. Anton pun hanya memandanginya, wajah tanpa make-up membuat Dinda terlihat lebih manis.


"Kamu bosan?" Tanya Anton yang masih duduk di kursi kerjanya.


"Iya, kasih Dinda kerjaan dunk kak!" Jawab Dinda dengan nada manjanya.


Lalu Dinda pun berjalan menghampiri sang kakak, ia berdiri tepat di samping Anton sambil melihat ke arah laptopnya. Ketika Dinda membungkukkan badannya untuk melihat tulisan yang tak bisa ia lihat dari jarak jauh, wajahnya dengan wajah Anton berdekatan. Sebagai laki-laki normal yang juga mencintainya, Anton pun segera berdiri dari duduknya.

__ADS_1


Ia mengangkat tubuh Dinda untuk duduk di meja kerjanya. Dinda teriak memprotes, tetapi Anton tak perduli dengan teriakan Dinda. Ia menahan Dinda dengan menempatkan kaki kirinya di antara selah-selah paha Dinda, sehingga Dinda tidak bisa turun dari meja.


Karena kesal dengan ulah sang kakak, Dinda pun meraih kepala Anton dengan meletakkan kedua telapak tangannya di pipi sang kakak. Lalu Dinda menarik kepalanya Anton mendekati wajahnya. Dinda mulai meraih bibir sang kakak dengan bibir lembutnya.


Ciuman bergairah pun tak terhindarkan. Bibir mereka saling bertautan, menikmati lembutnya bibir mereka masing-masing. Nafas mereka mulai tak beraturan, karena cukup lama mereka berciuman. Dinda pun mendorong tubuh Anton dan menyudahi adegan ciuman yang super keren. Karena Dinda tidak ingin orang melihat mereka, apalagi mereka sedang di kantor.


"Kakak, takut ada yang masuk!" Alasan Dinda menyudahi ciumannya.


"Gak akan ada yang masuk, lagi pula jika ada karyawan yang masuk, mereka akan ketuk pintu terlebih dahulu." Sahutnya menjelaskan.


Seperti tak memperdulikan keadaan, Anton pun meneruskan aktivitasnya. Ia menggendong Dinda dengan posisi Dinda melingkarkan tangannya di leher Anton dan melingkarkan kakinya di pinggang Anton. Mereka berdua memasuki ruang untuk istirahat. Tetapi tanpa mereka sadari, aktivitasnya di lihat oleh Loren.


Anton menidurkan Dinda di atas Ranjang dan tangannya mulai menyusup ke dalam baju Dinda. Tiba-tiba Dinda menghentikan aktivitas sang kakak dan menarik tangan sang kakak keluar dari dalam celah bajunya.


"Kakak, bukankah kakak akan menikahi kak Loren?" Tanya Dinda serius.


Anton memandangi wajah lugu Dinda sambil merapikan rambut yang menutupi wajah Dinda.


"Menurutmu, apakah aku harus menikahi Loren?" Anton balik bertanya.


"Kalian kan saling mencintai! Tapi jika aku melarang mu, apakah kakak akan mendengarkan ku?" Jawab Dinda balik bertanya.


Anton menghela nafas panjang, ia mengubah posisinya dengan merebahkan badannya di samping Dinda. Lalu ia menarik tubuh Dinda, sehingga posisi mereka saling berhadapan. Kemudian Anton mengecup kening Dinda dengan lembut. Kecupan penuh arti, melambangkan bahwa orang yang mengecup memiliki rasa cinta yang teramat besar.


"Dinda, jawab kakak dengan jujur. Adakah perasaanmu sebesar biji jagung, kamu memiliki rasa terhadapku?" Tanya Anton dengan serius.


"Awalnya aku mencintaimu dan menyayangimu seperti adik kandungku sendiri, tetapi setelah kita melakukan hubungan suami istri, aku mulai merasa bahwa rasa sayang terhadapmu berubah. Perasaan itu berubah menjadi rasa cemburu ketika kamu dekat dengan laki-laki lain. Aku merasa nyaman di saat bersamamu seperti ini." Imbuh Anton mengungkapkan perasaannya.

__ADS_1


Ia menghela nafas panjang dan ia merubah posisinya dengan tiduran telentang menghadap langit-langit ruangannya.


Bersambung...


__ADS_2