
Anton selesai mandi dan Sholat. Ia langsung merebahkan badannya di samping Dinda. Sedangkan Dinda masih menutupi wajahnya dengan selimut. Hal itu karena dia malu sama dirinya sendiri yang bertindak seperti seorang gadis nakal yang mencoba menggoda seorang laki-laki.
Malam terasa sunyi, Dinda membalikkan posisinya dengan membelakangi Anton. Dia tidak tahu cara memulainya untuk menggoda sang kakak. Saat ini dirinya mungkin bisa di bilang egois, dia hanya memikirkan kesembuhan sang nenek tanpa memperdulikan perasaan orang lain, Loren.
Dia tak perduli jika kakaknya mencintai Loren, tapi kesembuhan nenek jauh lebih penting dari itu, bahkan kebahagiaannya sendiri. Saat itu Anton masih sibuk dengan ponselnya, sepertinya dia sedang chatting dengan Loren.
"Din, apa rencana mu kedepannya? Kamu berjanji sama nenek kalau akan memberi Buyut kepadanya, itu artinya kamu harus hamil dan melahirkan!" Tanya Anton tiba-tiba.
"Aku tidak tahu, yang jelas aku ingin nenek cepat sembuh dan tidak sakit lagi!" Jawabnya dengan posisi yang sama.
"Berarti kamu bersedia untuk hamil dan kita....."
Belum sampai Anton selesai berbicara, Dinda sudah menghampirinya dan mencium bibir sang kakak. Karena itu hal pertama bagi Dinda, ia pun asal mencium dan meniru adegan ciuman di drama Korea. Anton terkejut dan mendorong tubuh Dinda.
Dinda tidak sanggup memandangi wajah sang kakak, karena baginya Anton adalah kakak kandungnya sendiri. Rasanya hambar tanpa rasa ketika mencium seseorang yang mungkin kita anggap saudara. Seperti itulah yang di rasakan Dinda. Malu dan hilangnya harga diri, hal itu membuat Dinda tidak bisa melihat wajah Anton.
"Buka matamu!" Suruh Anton sambil memperhatikan wajah imut Dinda.
"Maaf kak!" Ucap Dinda yang saat itu masih berada di atas tubuh Anton.
Anton membalikkan badannya, hingga posisinya menindih tubuh Dinda. Ia melayangkan kecupan manis pada dahi Dinda. Anton tahu, Dinda terpaksa melakukan hal itu, karena ia ingin sang nenek cepat sembuh. Tapi Anton masih memikirkan masa depan Dinda dan juga hubungannya dengan Loren.
"Dinda, Kakak tahu kamu ingin nenek cepat sembuh kan. Kakak juga ingin itu, tapi kamu jangan mengorbankan dirimu sendiri, kita pikirkan cara yang lainnya." Tutur Anton menasehati.
"Tapi kak, Nenek ingin punya Buyut." Sahut Dinda merasa sedih.
Anton mengecup bibir merah Dinda, awalnya lembut tetapi lama kelamaan Anton mulai menikmati bibir Dinda dengan sedikit kasar. Dinda terbelalak, tapi ia menikmati perlakuan sang kakak. Bahkan di saat Anton memasukan lidahnya ke rongga mulutnya, Dinda membalas dan nafas mereka berdua memburu penuh gairah.
Dengan nafasnya yang masih memburu, Anton melepaskan ciumannya dan berbaring di samping Dinda yang juga terdengar nafasnya yang tersengal-sengal. Anton tidak kuat untuk meneruskan aktivitasnya, dia tidak tega melakukan yang lebih intim terhadap Dinda.
__ADS_1
Dinda yang merasa malu pun segera membalikan badannya membelakangi sang kakak. Ia menarik selimut dan menutupi seluruh badannya. Tak terasa mereka berdua tertidur pulas.
*****
Pagi hari, Dinda sengaja tidak pergi ke kantor karena ia khawatir dengan keadaan sang nenek. Selain itu, ia merasa canggung ketika berhadapan dengan sang kakak, begitupun dengan Anton yang selalu bersikap salah tingkah ketika berhadapan dengan Dinda.Itu semua karena aktivitas mereka semalam.
"Kamu tidak masuk kerja?" Tanya Anton canggung.
"Gak kak, aku mau menemani nenek saja di rumah." Jawab Dinda tanpa menatap wajah sang kakak.
Pagi itu mereka sedang menyantap sarapannya, kecanggungan mereka pun di sadari oleh Inah, asisten rumah tangganya. Inah tersenyum ke arah mereka, pikirannya mesum. Berfikir bahwa telah terjadi sesuatu antar mereka berdua, Dinda dan Anton. Entah apa yang terjadi, yang jelas Inah yakin kalau sudah terjadi pergulatan.
Inah yang usianya tiga tahun lebih tua dari Dinda pun sudah mengerti apa yang di lakukan suami istri. Memang dasar otak mesum, Inah pun tidak bisa tersenyum meledek ke arah Dinda dan Anton. Apalagi hubungannya dengan Dinda sudah seperti teman sendiri.
"Non Dinda, Den Anton, kalian kok malu-malu begitu kenapa? Oh... pasti telah terjadi sesuatu nih!" Ledek Inah kepada mereka.
Anton dan Dinda pun serempak tersedak karena mendengar perkataan Inah, hal itu membuat Inah semakin yakin kalau sudah terjadi sesuatu di antara mereka berdua. Kalaupun terjadi sesuatu pun tak jadi masalah, toh mereka sah sebagai suami istri.
"Dinda...... Telpon Dokter, nenek pingsan!" Teriak Anton.
"I-iya Kak!" Sahut Dinda panik.
Dinda langsung menelpon sang Dokter, tangannya gemetar, air matanya mengalir, menangis tanpa suara. Setelah menelpon Dokter, Dinda berlari menghampiri sang nenek. Tangannya menggenggam tangan sang nenek, nenek pun siuman. Lalu Dinda memeluk sang nenek yang masih bingung melihat Dinda menangis.
"Kamu kenapa menangis?" Tanya sang nenek ringkih.
"Tadi nenek pingsan! Jangan bikin Dinda khawatir begini nek!" Jawab Dinda mengeluarkan tangisannya.
Anton pun ikut menangis melihat Dinda menangis seperti itu. Dia tahu, betapa sayangnya Dinda kepada sang nenek, makanya Dinda rela berkorban segalanya demi sang nenek. Anton pun mengelus rambut Dinda dan menyuruhnya untuk berhenti menangis.
__ADS_1
Tak lama kemudian sang Dokter datang, ia masuk ke kamar dan mulai mengeluarkan peralatannya dan memeriksa sang nenek. Dokter menyarankan untuk membawa sang nenek ke rumah sakit, tetapi nenek menolak dan memilih di rawat di rumah. Lalu Dokter memasangkan selang infus dan oksigen.
"Saya sudah katakan berkali-kali, jangan biarkan nenek banyak pikiran! Coba kalian tanya nenek, sebenarnya apa sih yang ia pikirkan." Kata Dokter penuh tekanan.
"Iya Dok, nanti akan aku tanyakan." Sahut Anton yang tampak sedang sedih.
Pagi itu Anton tidak jadi berangkat bekerja, ia juga khawatir dengan kondisi sang nenek. Padahal hari ini Loren mulai bekerja, tapi sang nenek lebih penting dari Loren. Anton pun keluar dari kamar sang nenek, mengantar Dokter sampai depan rumah.
Terdengar suara ponselnya berdering berulang kali. Ia tahu, panggilan itu pasti dari Loren. Karena ia sudah bilang kepada Loren, bahwa dirinya menjemputnya. Ia pun langsung lari menaiki anak tangga untuk mengambil ponselnya yang berada di kamarnya.
Anton menjelaskan kondisi neneknya kepada Loren, sehingga membuat Anton tidak bisa masuk kerja. Loren pun bisa mengerti, karena Loren tahu Anton sangat menyayangi sang nenek.
"Oren, maafin aku ya! Hari ini aku tidak bisa masuk kerja, penyakit nenek kambuh lagi. Kamu jangan marah ya, aku mohon!" Ucap Anton dalam telpon.
"Gak apa-apa sayang, aku ngerti kok! Semoga nenek cepat sembuh ya. Jangan khawatir, aku gak marah kok. Sampai ketemu besok ya!" Kata Loren menutup panggilannya.
Ketika Anton baru mau keluar dari kamarnya, Dia tDinda terlebih dulu masuk ke kamar. Dengan tatapan aneh, Dinda menutup pintu dan menguncinya.
"Din kenapa di kunci?" Tanya Anton kebingungan.
Tanpa menjawab pertanyaan sang kakak, Dinda berjalan menuju ke arah jendela. Dia menutup semua tirai dan mematikan lampu, sehingga tidak ada cahaya yang masuk. Hanya terlihat samar-samar cahaya pantulan dari kamar mandi.
"Dinda.... Kamu kenapa?" Tanya Anton sekali lagi.
"Kakak sayang kan sama nenek dan juga aku?" Tanya Dinda balik.
"Tentu saja aku sangat menyayangi kalian berdua. Sebenarnya, apa yang ingin kamu bicarakan?" Jawab Anton.
Dinda berjalan perlahan menghampiri Anton. Terlihat samar-samar wajah tampan sang kakak, tanpa ragu ia meraih tangan Anton.
__ADS_1
Bersambung....