Menikah Dengan Kakak Angkat

Menikah Dengan Kakak Angkat
Hubungan Suami Istri


__ADS_3

Cahaya remang-remang, suasana yang sepi. Entah apa yang ingi Dinda lakukan. Mematikan lampu, menutup tirai jendela dan mengunci pintu. Ia berjalan perlahan menghampiri Anton, di lihatnya wajah tampan Anton yang terlihat seperti aktor Korea. Lalu Dinda membuka baju yang ia kenakan, hingga benar-benar tidak ada sehelai benangpun di tubuhnya.


Dengan tangannya yang gemetar, Dinda melepas satu per satu kancing kemeja yang di kenakan Anton, hingga mereka berdua sama-sama tidak mengenakan pakaian. Anton masih berdiri tegap, tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Tetapi sepertinya adik kecilnya tahu apa yang harus di lakukannya. Hati menolak, tapi sahwat menginginkan.


Dinda mendorong tubuh Anton perlahan, hingga ia terduduk di bibir ranjang. Tanpa ragu Dinda duduk di pangkuannya dengan posisi saling berhadapan. Sehingga memudahkan mereka untuk saling memandang.


"Dinda... Kamu yakin ingin melakukan hal ini?" Tanya Anton lirih.


"Sangat yakin! Demi nenek, apapun akan aku lakukan!" Jawab Dinda sambil mengarahkan bibirnya ke bibir Anton.


Entah dari mana Dinda belajar, dia sangat pandai memainkan bibirnya mencium bibir Anton. Dia mengenyampingkan hubungan antara kakak-adik, yang ada di pikirannya saat itu Anton adalah suaminya.


Saat itu Anton sama sekali belum merespon apa yang di lakukan Dinda. Di dalam pikirannya, Dinda adalah adiknya, dia tidak sanggup melakukan hubungan suami-istri. Sejenak, Anton menghentikan aktivitas Dinda. Ia menatapnya dengan lekat. Bibirnya merah merona, menggoda untuk di mainkan.


"Jangan anggap aku adikmu, anggap aku istrimu!" Ucap Dinda melanjutkan aktivitasnya.


Anton mulai merespon ciuman Dinda, sekitar lima menit mereka bermain dengan bibirnya. Dengan pelan Anton merubah posisinya menindih Dinda di atas ranjang. Tangannya bermain di dua gundukan kembar milik Dinda, sedangkan bibirnya masih sibuk bermain dengan bibir ranum Dinda.


Nafas mereka mulai terengah-engah, Anton menurunkan ciumannya di daerah leher ke telinga, hingga membuat Dinda merasakan sensasi yang sulit di artikan. Tangan Dinda meremas rambut Anton dan matanya terpejam menikmati setiap ciuman yang di daratkan di lehernya.


Kini ia rasakan, ciuman itu mendarat di dua gundukan kembarnya. Secara bergantian, Anton memainkan gundukan itu hingga membuat mulut Dinda mengeluarkan erangan. Sepertinya hubungan kakak-adik sudah tidak berlaku untuk mereka.


Daging kenyal yang di tumbuhi bulu-bulu halus, terpampang jelas di depan kedua mata Anton. Itu kali pertama Anton melihatnya, akhirnya apa yang membuatnya penasaran bisa ia lihat dengan mata telanjang. Tanpa berpikir panjang, Anton pun membenamkan kepalanya di daging kenyal yang berbulu itu.


Erangan Dinda semakin kuat, ketika benda kecil yang hangat menusuk-nusuk bagian sensitifnya. Aliran darahnya memanas, merasakan getaran-getaran yang membuatnya tidak bisa menahan sesuatu yang keluar di sertai rasa sensasi dahsyat yang membuat Dinda terkulai lemas.

__ADS_1


Anton menyudahi aktivitasnya di daerah daging berbulu, ia menatap wajah Dinda yang masih terkulai. Bibirnya tersenyum, tetapi matanya berkaca-kaca. Lalu ia menyalakan lampu yang berada di atas nakas, yang memperlihatkan wajah mereka dengan jelas.


"Dinda... apakah kamu sudah siap?" Tanya Anton lirih tepat di telinga Dinda.


Dinda menganggukkan kepalanya, tapi dia tidak berani membuka matanya. Dengan perlahan, Anton mengarahkan senjatanya dan memasukkannya di sebuah lubang yang sempit milik Dinda. Karena itu hal pertama bagi mereka berdua, Anton pun menemui kesulitan. Sangat sulit untuk memasuki lubang sempit tersebut.


Anton istirahat sejenak, tapi dia belum menyerah. Hingga ia mencoba untuk kedua kalinya dan akhirnya ujung senjatanya bisa menerobos lubang sempit itu. Ia mulai menekan sedikit demi sedikit.


"Kak... Sakit!" Kata Dinda meringis kesakitan.


"Tahan sebentar, nanti sakitnya hilang sendiri." Sahut Anton sambil mengecup kening Dinda.


Jari Anton berpadu dengan jarinya Dinda, dari cahaya lampu ia bisa melihat Dinda meneteskan air matanya. Hingga akhirnya, senjata Anton benar-benar masuk sepenuhnya. Air mata Dinda terus mengalir, rasa tak tega menghampiri Anton, tapi nasi sudah jadi bubur. Ia pun melanjutkan aktivitasnya untuk mencapai suatu kenikmatan yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.


Untuk mengurangi ketegangan, Anton mendaratkan bibirnya ke bibir Dinda. Pinggulnya mulai bergerak maju mundur, perlahan tapi pasti. Rasa sakit mulai hilang, air mata terganti dengan peluh. Hilang sudah keperawanan mereka berdua.


Lelah dalam gaya seperti itu, Anton pun membalikkan badannya dan posisi Dinda berada di atas tubuh Anton. Rasa malu pun terlihat di wajah Dinda, hingga ia menutupi wajahnya dengan jemarinya. Lalu tangan Anton meraih dua gundukan kembar, hal itu membuat Dinda tak menyadari bahwa dirinya sedang bergoyang menarik turunkan pinggulnya.


"Kakak... aku merasakan sesuatu yang mau keluar...." Teriak Dinda.


"Kita keluarkan bersama-sama!" Sahut Anton yang membantu Dinda menggoyangkan pinggulnya.


"Aaaarrrggggg....." Suara yang terlontar dari mereka berdua secara bersamaan.


Dinda ambruk di atas tubuh Anton. Kesadarannya mulai kembali, ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Anton mendekatkan tubuhnya hingga melekat ditubuh Dinda. Ia membisikkan sesuatu di telinga Dinda.

__ADS_1


"Dinda, kita sudah melakukannya, aku harap kamu tidak menyesali apa yang terjadi. Kakak akan selalu menyayangimu seperti sebelumnya. Setelah ini, kakak mohon jangan ada rasa canggung atau menjaga jarak." Ujar Anton pas di telinga Dinda.


"Kalau nanti aku hamil, terus bagaimana dengan kak Loren. Bukankah kakak sangat mencintainya?" Sahut Dinda sambil menggigit jarinya.


"Untuk saat ini, kita jangan pikirkan hal lain. Kita pikirkan kesehatan nenek dulu. Ya sudah... Ayo mandi, aku ajarin kamu caranya mandi besar." Kata Anton yang membuka selimutnya.


Dinda yang merasa malu pun langsung lari ke kamar mandi duluan dan Anton menyusul dari belakang. Ketika mereka berdua berada di dalam kamar mandi, Anton menyuruh Dinda untuk tiduran di bathtub yang sudah ia isi dengan aroma terapi.


Hal itu agar rasa perih dan ngilu di bagian sensitif Dinda berkurang. Anton pun langsung masuk ke ruang partikel kaca untuk mandi. Tetapi ketika ia asyik mengguyurkan air hangat ke kepalanya, tiba-tiba Dinda yang tanpa pakaian pun datang masuk ke dalam partisi kaca tersebut.


"Kenapa kamu kesini?" Tanya Anton menatap tubuh Dinda.


"Airnya sudah dingin!" Jawab Dinda yang langsung mengguyur badannya dengan air hangat.


"Emangnya kamu gak malu, telanjang begitu di depan kakak?" Tanya Anton yang adik kecilnya mulai bangun lagi.


Karena Dinda tidak merespon perkataannya, Anton pun tanpa meminta ijin, langsung melahap bibir Dinda yang basah karena guyuran air dari shower. Tangannya menjelajahi setiap lekuk tubuh Dinda yang ramping. Dengan bersemangat Dinda membalas ciuman sang kakak yang mulai liar.


Babak kedua pun terjadi lagi di dalam tempat mandi. Dengan masih di guyur air dari shower, Anton mulai mempraktekkan adegan yang ada di dalam film yang pernah ia tonton. Dinda sendiri tidak memprotes dengan apa yang di lakukan sang kakak. Ia malah menikmati setiap hentakan yang di hujam kan kepadanya.


"Ah... kak..a-aku..."


"Ah.... kakak juga keluar"


Kaki Dinda pun terasa lemas tak bertenaga. Kenikmatan-kenikmatan yang di berikan oleh sang kakak secara beruntun membuatnya merasa lelah. Lalu Anton menyuruh Dinda untuk mandi besar. Mengajarinya langkah-langkah dan caranya agar mandi besarnya sempurna. Karena mandi besar sangat penting untuk kesucian badan.

__ADS_1


Anton terlebih dulu keluar dari kamar mandi, ia mengganti pakaiannya dan membuka tirai jendelanya. Dilihatnya bercak darah di seprei, lalu ia menggantinya dengan yang bersih.


Bersambung...


__ADS_2