
Ini kali pertama mereka Dinda dan Anton Salat subuh berjamaah, setelah kecelakaan yang menimpa Dinda jatuh dari tangga. Betapa bahagianya Anton mendapati Dinda kembali diperlukannya. Suatu hal yang gak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
"Sayang, aku masih kantuk!" kata Anton menarik tangan Dinda agar tiduran di ranjang dengannya.
"Tapi kakak harus pergi kerja kan?" tanya Dinda yang nurut tidur di dekapannya Anton.
"Aku malas pergi, hari ini aku ingin berduaan saja denganmu!" jawab Anton yang memeluk Dinda dari arah belakang dengan erat.
Wajar saja Anton malas pergi bekerja, karena sudah lama dia tidak menghabiskan waktunya dengan Dinda. Hari itu ia benar-benar ingin bersama Dinda, tanpa ingin ada seorangpun yang mengganggu mereka.
Dinda membalikkan badannya dan memandangi Anton sambil mengelus pipinya. Tetapi, tiba-tiba pikiran Dinda membayangkan kalau orang yang di depannya adalah Rizal. Dinda langsung beranjak dengan posisi duduk untuk menghilangkan pikirannya yang selalu memikirkan Rizal.
"Sayang kamu kenapa? Apakah ada yang sakit?" tanya Anton yang khawatir karena Dinda tiba-tiba beranjak.
"Tidak apa-apa kak!" jawab Dinda yang langsung mengecup bibir Anton.
Hal itu ia lakukan agar pikirannya tidak memikirkan Rizal. Dinda tidak mau menyakiti hati Anton yang sudah tulus mencintainya. Lagipula, tidak ada gunanya memikirkan Rizal, karena statusnya adalah istrinya Anton. Kalaupun memaksakan cintanya, Dinda yakin tidak akan mudah, apalagi Rizal masih muda dan lajang, banyak gadis cantik diluar sana.
Dinda memilih Anton yang jelas-jelas mencintainya dengan tulus. Karena cinta akan datang dengan seiring waktu berjalan. Apalagi perlakuan Anton kepada Dinda sangat baik, pasti bagi Dinda tidak mudah untuk membuka hatinya bagi Anton.
"Bolehkan aku menyentuh ini?" tanya Anton yang sedang asyik bermain di area dada Dinda.
"Lakukan apa saja yang ingin kakak lakukan, aku kan istrinya kakak!" jawab Dinda yang saat itu duduk di pangkuan Anton dengan posisi saling berhadapan.
Mendapat lampu merah dari Dinda, Anton pun melakukan apapun yang ia mau sebagai seorang suami. Dinda pun menikmati apa yang dilakukan Anton terhadap dirinya. Dan pagi itu pun terjadi pertempuran antara suami istri yang begitu memukau, karena memang sudah lama mereka tidak melakukan hubungan suami-isteri.
Karena hubungan suami-istri tersebut, membuat Dinda sedikit mengingat bahwa dia sudah pernah melakukan hal tersebut sebelumnya dengan Anton.
"Maaf Din, sudah buat kamu capek!" kata Anton sambil membelai rambut Dinda yang berantakan.
"Gak apa-apa kak," sahut Dinda yang terkulai lemah karena kecapekan setelah melakukan hubungan suami-istri.
Tok Tok Tok
__ADS_1
"Bro! Sudah siang, kamu berangkat kerja gak!" Dimas mengetuk pintu sambil teriak-teriak dari balik pintu.
Anton yang masih belum memakai bajunya pun segera beranjak dari ranjang dan mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai dan memakainya.
"Sorry bro, aku kesiangan! Kamu berangkat duluan bawa mobilku," Anton membuka pintu dan beralasan untuk tidak pergi ke kantor.
"Kamu nanti naik apa?" tanya Dimas yang memandangi Anton dengan tatapan tajam.
"Aku pakai mobil sport, itupun kalau aku masuk kerja! Kalau aku gak masuk kerja, tolong handle perusahaan ya!" jawab Anton sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
Sebagai laki-laki dewasa, sepertinya Dimas paham dengan apa yang sudah dilakukan oleh Anton. Ia pun hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil pergi menuruni anak tangga. Sedangkan Anton hanya bisa tersenyum penuh kemenangan.
Anton kembali menutup pintu kamar, dia mendapati Dinda sudah tertidur pulas dengan dibalut selimut, sehingga hanya menampakkan kepalanya dan rambutnya yang berantakan. Melihat pemandangan itu membuat Anton tersenyum gemas.
"Ah... aku mau tidur lagi!" kata Anton masuk kedalam selimut.
"Ih kakak geli ah!" protes Dinda karena tangan Anton menjelajahi daerah sensitifnya.
"Habisnya kamu menggemaskan sih!" sahut Anton yang tidak berhenti dengan aktivitasnya.
Entah karena sentuhan-sentuhan yang dilakukan Anton atau memang Dinda sedang ingin mengekspresikan keinginannya, Ia pun mencium mesra bibir Anton dengan sedikit agresif.
"Ah sakit!" teriak Anton.
"Maaf kak, hehe.." Dinda tak sengaja menggigit bibirnya Anton.
"Ngegigit yang pelan-pelan saja ya!" pesan Anton dan meneruskan aktivitasnya kembali.
Untuk kesekian kalinya mereka melakukan hubungan suami-istri, hingga keduanya terkulai lemah tanpa tenaga. Mereka berdua pun akhirnya tertidur dengan posisi berpelukan.
*****
Perutnya berbunyi, tanda bahwa rasa lapar. Ia pun bangun dari tidurnya dan betapa terkejutnya dia ketika melihat Anton di hadapannya tanpa mengenakan sehelai benangpun di badannya.
__ADS_1
"Hah! Kenapa aku sama dia gak mengenakan pakaian, apa yang kita lakukan?" tanya Dinda pada dirinya sendiri.
Dinda mencoba mengingat-ingat apa yang ia lakukan sebelum ia tidur. Karena gegar otak yang ia alami belum sembuh total, Dinda pun kesulitan mengingat apa yang ia lakukan beberapa jam yang lalu. Perutnya yang sudah begitu lapar, membuatnya tidak peduli dengan apa yang ia lakukan. Dinda pun beranjak dari ranjang dan langsung memakai bajunya.
"Dinda, kamu mau kemana?" tanya Anton yang melihat Dinda meraih ganggang pintu.
"Aku lapar, aku mau makan!" jawabnya dengan nada jutek.
"Kita harus mandi dulu, biar suci! Kita kan habis melakukan hal itu, jadi harus mandi besar," tutur Anton yang menghampiri Dinda.
Anton meraih tangan Dinda dan menggandengnya menuju ke kamar mandi. Dinda tampak kebingungan, ia seperti orang linglung yang tak tahu apa yang harus ia lakukan.
"Kamu kenapa diam saja, ayo buka bajumu dan mandi!" suruh Anton.
"Memangnya apa yang kita lakukan? Kenapa kita harus mandi?" tanya Dinda yang tak mengingat apa yang ia lakukan dengan Anton.
Anton tercengang mendengar perkataannya Dinda, itu artinya Dinda tidak ingat dengan apa yang sudah mereka berdua lakukan. Senyumnya memudar seketika, rasa kecewa memenuhi relung hatinya. Bagaimana bisa tiga jam yang lalu dengan mudah Dinda lupakan, tetapi Anton tak bisa marah, karena dia memaklumi jika Dinda belum sembuh total.
Tanpa berkata apa-apa, Anton menarik tangan Dinda dan membantunya untuk mandi. Dinda sempat menolak, karena dia merasa malu di depan Anton tanpa mengenakan pakaian.
"Aku bisa mandi sendiri!" kata Dinda.
"Aku tahu kamu suamiku, tapi gak seperti ini juga!" protes Dinda.
"Diamlah, aku ajari kamu mandi besar," sahut Anton yang tak berhenti mengusap badan Dinda dengan sabun mandi.
Selain memandikan Dinda, Anton juga mengajari Dinda membaca Doa mandi besar. Dinda benar-benar tak ingat apa yang sudah ia lakukan dengan Anton. Ia merasa ada yang aneh di bagian kewanitaannya, tetapi dia masih bingung dengan apa yang terjadi.
"Sebenarnya apa yang kita lakukan?" tanya Dinda penasaran.
"Kamu gak perlu tahu, yang penting kamu gak jutek sama aku, itu sudah lebih dari cukup!" jawab Anton yang juga baru selesai mandi.
Dinda merasa bingung, ia mencoba mengingat-ingat dengan apa yang sudah ia lakukan dengan Anton, tetapi semakin ia mengingat, kepalanya semakin terasa sakit. Jadi Dinda memilih tidak peduli dengan apa yang sudah terjadi.
__ADS_1
Anton melilitkan handuk pada badan Dinda dan juga badannya. Lalu ia membopong Dinda keluar dari kamar mandi, karena AC kamar belum dimatikan, Dinda pun kedinginan dan dengan spontan ia memeluk Anton.
Bersambung...