
Di lihatnya wajah Dinda dengan seksama, bibirnya mengembang, tersenyum penuh kebahagiaan. Rasa cintanya semakin dalam, sedalam samudera yang tak bisa ia ukur. Mata Dinda yang menghipnotisnya pun membuatnya semakin di mabuk oleh panah asmara. Bagaimana bisa, cintanya tumbuh begitu cepat dan tak dapat ia mengerti.
"Sayang, kita turun yuk! Dimas ada di bawah." Ajak Anton sambil melepas pelukannya.
"Memangnya sekarang kak Dimas jadi supir kakak?" Tanya Dinda berjalan keluar kamar sambil bergandengan tangan dengan sang kakak.
"Iya, dia gak ada kerjaan!" Jawabnya menuruni anak tangga sama Dinda.
Ketika mereka berdua menuruni anak tangga, mereka melihat Inah dan Dimas sedang mengobrol. Dinda pun tersenyum gemas, tak tahan ingin meledek Inah dan Dimas. Karena Dinda tahu, kalau Inah sangat menyukai Dimas, jadi ketika Dinda melihat mereka berdua ngobrol, rasanya ingin sekali menggoda mereka agar jadian.
"Akhirnya dreams come true ya Mbak Inah....." Ledek Dinda yang saat itu ikut duduk di sebelah Inah.
"Apa sih Non! aku mau bantuin Simbok nyiapin makan malam dulu ya!" Alasan Inah karena merasa canggung.
Dinda menarik tangan Inah dan melarangnya untuk tidak pergi, karena dia berencana untuk menjodohkan Dimas dengan Inah. Jadi agar mereka tidak canggung, Dinda pun memulai membicarakan tentang kecocokan mereka berdua. Dimas maupun Inah hanya tersenyum mendengar pernyataan dari Dinda.
"Beneran, kalian itu cocok loh!" Ujar Dinda sambil menatap ke arah Inah.
"Iya juga sih! Tapi hati-hati Mbak Inah, Dimas tuh playboy." Kata Anton menanggapi perkataan Dinda.
Dimas hanya pasrah di sebut sebagai seorang playboy, karena memang dia mengakui bahwa dirinya pernah menjadi Playboy. Tetapi semenjak ia di depak dari keluarganya, Dimas tidak punya banyak uang dan gadis-gadis yang dulunya lengket sama dia sudah pada pergi satu per satu meninggalkannya.
Bagi Dimas saat ini gadis cantik dan seksi tidaklah penting, yang terpenting baginya adalah baik hatinya dan menerima dirinya apa adanya. Kalaupun Inah mau dengannya, Dimas malah senang, karena Inah sepertinya gadis polos dan juga baik hati.
"Kalau Inah mau sama aku, ya ayok nikah!" Kata Dimas santai.
"Tuh Mbak, Kak Dimas mau ngajakin nikah loh!" Kompor Dinda.
"Ah Den Dimas mah bercanda aja! Sudah ah, aku mau bantuin Simbok masak, sudah sore!" Sahut Inah malu-malu.
__ADS_1
Anton, Dinda dan Dimas pun tersenyum melihat tingkah Inah yang mulai salah tingkah. Walaupun perkataan Dimas menurut Inah hanya bercanda, tetapi sebenarnya Dimas serius dengan perkataannya yang ingin menikahi Inah. Karena dia sudah muak dengan apa yang dia lakukan selama ini. Mungkin dengan menikah hidupnya akan jauh lebih baik.
Mungkin untuk saat ini Dimas tidak ada perasaan kepada Inah. Tetapi Dimas yakin jika mereka sering bersama, rasa cinta akan tumbuh dengan sendirinya. Untuk soal status Inah yang sebagai asisten rumah tangga, tak jadi masalah baginya. Yang terpenting hati Inah tulus, tulus mencintainya dan juga menerima Dimas apa adanya.
"Tanyain sama Inah ya, dia serius gak mau di nikahi?" Ucap Dimas dengan serius.
"Kamu yakin mau nikahi Inah?" Tanya Anton meyakinkan.
"Ya yakinlah... Sudah lama juga aku merhatiin dia." Jawab Dimas mengakui.
Ternyata selama ini Dimas diam-diam memperhatikan Inah. Walaupun Inah tidak secantik gadis-gadis kota yang putih dan glowing, tetapi Inah memiliki daya tarik tersendiri. Postur tubuh yang ideal, membuatnya terlihat menarik dan enak dinpandang. Kulitnya kuning langsat dan di tambah senyum manisnya, bagi laki-laki yang menyukai gadis exotic pasti kepincut dengan Inah.
Dinda dan Anton pun saling melirik, sepertinya memang Dimas serius ingin menikahi Inah. Tentu saja mereka kaget, pasalnya Inah bukan tipe wanita yang di sukai Dimas. Maksud Dinda hanya meledek mereka, malah terjadi beneran.
Tentu saja Dinda mendukung Dimas kalau dia benar-benar ingin serius dengan Inah. Tapi berbeda dengan Anton yang mengenal Dimas dalam keseluruhan. Dia menentang kalau Dimas mau menikahi Inah. Bagi Anton Inah gadis yang polos, sedangkan Dimas laki-laki playboy dan suka minum-minuman beralkohol.
"Setiap orang bisa berubah kak, biarin saja kak Dimas sama Mbak Inah pendekatan dulu." Bela Dinda kepada Dimas.
"Sudah-sudah, kalian gak usah ribut! Aku sama Inah diam saja, kalian malah ribut!" Protes Dimas sedikit kesal.
Tak lama kemudian Inah memanggil mereka untuk makan malam. Karena Simbok merasa gak enak badan, jadi sore itu Inah memasak semua menu makanan yang tersaji di meja makan.
"Aku tahu, ini masakan mbak Inah!" Ujar Dinda yang bisa membedakan masakan Simbok dan Inah.
"Simbok gak enak badan Non, jadi aku yang masak." Sahut Inah sambil mengambilkan nasi untuk Dimas.
Karena letak dapur berada di dalam ruangan, jadi mereka tidak melihat kalau yang masak adalah Inah. Dimas tersenyum geli pada dirinya sendiri, ketika pikirannya membayangkan, dirinya menikah dengan Inah. Mungkin karena faktor umur, jadi Dimas ingin segera menikah.
Dinda pun melirik ke arah Dimas yang sedang senyum-senyum sendiri. Dengan reflek, Dinda pun ikut tersenyum. Anton yang menyadari mereka berdua tersenyum tanpa sebab pun merasa penasaran.
__ADS_1
"Kalian berdua senyum-senyum kenapa?" Tanya Anton heran.
"Karena kak Dimas senyum-senyum gak jelas, jadi aku ikut senyum aja!" Jawab Dinda sambil tertawa.
Setelah mereka selesai makan, Dimas berpamitan untuk pulang. Sedangkan Dinda dan Anton naik ke atas untuk menunaikan Ibadah Sholat Maghrib. Lalu Anton membuka Al Qur'an dan membaca Surah Maryam. Begitupun dengan Dinda yang menyimak sang kakak.
Mereka membaca Al Qur'an sampai memasuki waktu Isya dan mereka Sholat berjamaah bersama. Setelah selesai Sholat, Dinda merasa pinggangnya sakit. Anton yang merasa khawatir pun langsung menelpon Dokter. Bertanya apa yang harus ia lakukan agar pinggang Dinda tak sakit lagi.
Dokter menyuruh Anton untuk mengompres pinggang Dinda dengan air hangat. Dengan segera Anton mencari alat kompres dan memasukkan air panas kedalamannya. Lalu ia kompres ke pinggang Dinda yang sakit.
"Sayang, terlalu panas?" Tanya Anton khawatir.
"Gak kak, pas kok!" Jawab Dinda sambil meringis kesakitan.
Melihat Dinda meringis kesakitan membuat Anton tak tega. Lalu ia menyuruh Dinda untuk bergerak meregangkan ototnya, seperti yang ia tonton di YouTube. Setelah agak baikan, Dinda kemudian tiduran di atas ranjang. Sedangkan Anton mulai memijit kaki Dinda agar Dinda merasa nyaman.
Hati Dinda tersentuh ketika melihat sang kakak yang begitu perhatian dan perduli dengannya. Lalu Dinda menyuruh Anton untuk berhenti memijitnya dan tidur di sampingnya sambil memeluknya.
"Kak, hal apa yang menarik dariku?" Tanya Dinda tiba-tiba.
"Gak ada hal yang menarik darimu! Hehe.." Canda Anton.
"Kakak sendiri gak tahu apa yang menarik darimu, tapi kakak sangat menyayangimu. Maafkan kakak yang pernah menyakitimu. Kakak jahat kan, sudah nuduh kamu dan juga bentak-bentak kamu." Imbuh Anton menyesali perbuatannya yang pernah menyakiti Dinda.
"Sudah, lupakan hal itu. Ayo tidur, besok aku mau ikut kakak ke kantor. Di rumah aku bosan." Sahut Dinda yang sudah mulai mengantuk.
Karena di rumah terus, Dinda merasa bosan. Jadi ia berencana untuk ikut pergi ke kantor dengan sang kakak. Sebenarnya Anton sedikit khawatir jika Dinda ikut ke kantor dan ia kecapekan.
Bersambung...
__ADS_1