
Seminggu berlalu,
Anton masih marah, dia tidak mau berbicara kepada Dinda. Anton lebih sering tidur di kantor daripada di rumah. Dinda mencoba mengajaknya berkomunikasi, tetapi Anton terus menghindarinya. Berkali-kali Dinda meminta maaf dan mengakui kesalahannya, tetapi Anton tetap tidak mau berbicara dengannya.
Sejak kejadian itu, Rizal juga tidak lagi datang ke kantor. Tidak ada kabar darinya ataupun surat pengunduran diri. Sementara Dinda hanya diam di rumah tanpa melakukan hal apapun. Setiap harinya dia hanya menangis dan makan jika ia benar-benar lapar.
"Kakak tidak tidur di rumah lagi?" tanya Dinda yang melihat Anton mengemasi barang-barangnya.
"Tidak!" jawab Anton singkat.
Dinda yang sangat merindukan Anton pun langsung memeluknya dari belakang. Dinda meminta maaf dan melarangnya untuk pergi. Tetapi Anton melepaskan tangan Dinda yang melingkar di pinggangnya. Anton melarang Dinda untuk tidak menyentuhnya.
Lagi-lagi Dinda hanya bisa menangis. Ia meringkuk di atas ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Agar tangisannya tidak terdengar oleh Anton, ia pun menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Kamu melihat kemeja putihku yang bergaris biru itu tidak?" tanya Anton yang masih sibuk mencari kemejanya.
"Ada lemari gantung sebelah kiri," jawab Dinda dengan suara khas orang yang lagi nangis.
Anton pun menoleh kearah Dinda, karena mendengar suara Dinda seperti orang yang sedang menangis. Walaupun dia tahu kalau Dinda sedang menangis, Ia tidak mencoba untuk menenangkannya.
Karena Anton tak menemukan kemeja yang ia cari. Dia pun menyuruh Dinda untuk membantu mencarinya. Dengan wajah bengkaknya, Dinda turun dari ranjang dan mencarikan kemeja yang dimaksud Anton. Tak butuh semenit, Dinda sudah menemukan kemeja tersebut.
"Terima kasih!" kata Anton menarik kemejanya dari tangan Dinda.
"Sama-sama," sahut Dinda.
Ketika Anton sudah bersiap untuk pergi, tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya. Suara Guntur terdengar menakutkan. Anton pun mengurungkan niatnya untuk pergi. Dia berjalan ke arah dapur dan membuka kulkas. Perutnya terasa lapar, karena sejak tadi siang dia belum makan.
__ADS_1
Tak ada makanan sama sekali di dalam kulkas. Hanya ada satu apel yang sudah mulai mengeriput. Susu pun tidak ada, hal itu membuatnya mengerutkan dahinya.
"Tidak ada makanan apapun, apa yang dimakan Dinda selama ini?" gumamnya sendiri.
Anton pun melihat tong sampah yang penuh dengan bungkus mie instan dan dilihatnya kardus yang berisikan mie instan. Ia pun menduga, kalau Dinda selalu makan mie instan ketika dia sedang tidak di rumah. Padahal dokter melarang Dinda untuk mengkonsumsi mie instan.
"Kakak lapar?" tanya Dinda yang saat itu turun dari tangga.
"Hanya ada mie instan. Kakak mau aku buatin mie?" tanyanya lagi.
"Gak usah, aku bisa buat sendiri!" sahut Anton dengan nada dingin.
Dinda dengan setia menunggu Anton membuat mie rebus. Bahkan ketika makan, Dinda duduk di depannya sambil memperhatikan Anton menyantap mie tersebut. Anton menyuruhnya pergi, tetapi Dinda yang bandel tetap menemaninya.
Setelah makan, Anton masuk ke kamar sedangkan Dinda mencuci piring kotor. Lalu Dinda juga masuk kedalam kamar, tetapi ia tidak melihat Anton di kamar. Sepertinya Anton sedang mandi. Ketika Dinda hendak menyalakan TV, tiba-tiba lampu padam dan semua gelap gulita.
"Dinda! Din, Dinda!" teriak Anton dari dalam kamar mandi.
Dengan ponselnya, Dinda berjalan ke arah kamar mandi. Kebetulan pintu kamar mandi tidak di kunci, jadi Dinda langsung masuk dan menerangi Anton menggunakan ponselnya. Saat itu Anton sedang berdiri di bawah shower tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya.
"Ambilkan handuk!" suruh Anton.
Mereka berdua pun keluar dari kamar mandi dan hanya diterangi senter dari ponselnya Dinda. Samar-samar Dinda melihat tubuh basah Anton yang hanya ditutupi lilitan handuk. Kemudian Dinda menaruh ponselnya di atas meja riasnya. Dengan segera Dinda memeluk Anton dengan erat.
Anton memilih menghindar dari Dinda, ia segera memakai pakaiannya. Sementara Dinda sudah tidak tahan lagi dengan sikap Anton yang masih marah dengannya.
"Aku tahu Kak, aku salah! Tapi jangan menghukum ku seperti ini! Karena setiap manusia melakukan kesalahan," kata Dinda sambil menangis.
__ADS_1
"Kesalahan? Kamu selalu melakukan kesalahan yang sama! Kamu tahu, selama ini aku tahu kalau kamu masih menyimpan rasa sama Rizal, tapi tak pernah terpikirkan olehku kalau kamu sampai mengundangnya masuk ke rumah, ketika aku tidak ada! Jika kamu berada di posisiku, apa kira-kira yang akan kamu lakukan?" sahut Anton dengan nada sedikit membentak.
"Aku pikir, jika aku memberikan cinta dan perhatian lebih kepadamu, kamu bisa memberikan seutuh cintamu kepadaku. Tetapi semua itu salah, kamu sama sekali tidak menghargai perasaanku dan cintaku!" imbuh Anton yang hampir menangis menahan amarahnya.
Sifat labil Dinda masih melekat di dirinya. Beberapa masalah sudah ia lalaui, tetapi belum cukup membuatnya menjadi dewasa. Masih menangis Dinda pun terduduk di lantai. Menyalahkan dirinya sendiri yang begitu bodoh dengan sikapnya yang tidak bisa menjaga cinta tulus yang diberikan sang suami.
Lampu pun menyala, Dinda masih duduk di lantai menangis sesenggukan. Anton yang saat itu tiduran di atas ranjang pun merasa iba melihatnya seperti itu. Dengan segera Anton menghampirinya dan mengangkatnya ke atas ranjang.
"Kakak, beri aku kesempatan. Aku janji, aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi!" Dinda memohon dan memeluk Anton dengan penuh penyesalan.
"Jangan pernah mengatakan janji. Berusahalah untuk tidak menyakiti orang yang dengan tulus mencintaimu. Pikirkan baik-baik sebelum melakukan sesuatu," Anton melepaskan pelukan Dinda.
Hatinya masih terluka, dia masih marah. Butuh waktu untuk menyembuhkan luka yang sebelumnya belum sembuh. Anton menyuruh Dinda untuk segera tidur, karena kedua matanya bengkak kebanyakan nangis.
Tak lama kemudian, Dinda pun tertidur. Anton yang sebenarnya sangat merindukannya pun memandangi wajahnya yang terlihat bengkak karena kebanyakan menangis. Baru saja seminggu dia tidak memperhatikan Dinda, ia sudah merasa Dinda agak kurusan. Anton bisa melihat tulang Dinda yang menonjol.
"Ini hukuman untukmu, supaya kamu tahu bagaimana caranya untuk mencintai seseorang!" gumam Anton membelai rambut Dinda.
Anton hendak mematikan lampu di nakas dan bersiap untuk tidur. tetapi ia dikejutkan oleh suara Dinda yang tiba-tiba menangis sambil memanggil namanya. Dengan segera Anton menoleh ke arahnya dan rupanya Dinda sedang mengigau.
Tubuh Dinda bergetar dan kedinginan. Ia mencari selimut untuk menutupi tubuhnya dan kembali tidur. Anton yang saat itu belum tidur pun hanya melihat apa yang dilakukan Dinda. Merasa iba, Anton kemudian memeluknya dari belakang dan badan Dinda mulai menghangat.
"Dinda, kamu demam?" tanya Anton menyentuh dahinya.
"Aku kedinginan," kata Dinda dengan mulutnya yang menggigil.
Anton segera mematikan AC dan memeluk Dinda agar dia tidak kedinginan. Semakin malam, tubuh Dinda semakin panas. Anton mulai panik, ia pergi keluar kamar mengambil air es untuk mengompres dahi Dinda.
__ADS_1
Semalaman Anton tidak bisa tidur, karena badan Dinda begitu Panas. Ia menungguinya dan mengompres dahinya sepanjang malam. Baru setelah salat subuh, Anton merebahkan tubuhnya di samping Dinda. Karena belum bisa tidur, Anton kemudian mengambil ponselnya Dinda untuk mengecek apa saja yang dilakukan Dinda dengan ponselnya.
Bersambung...