Menikah Dengan Kakak Angkat

Menikah Dengan Kakak Angkat
Kesalahan!


__ADS_3

"Aku mohon, cepatlah pergi dari sini. Anton sebentar lagi akan pulang Zal!" Dinda memohon.


"Kenapa? Kamu takut? Apa kamu tidak senang aku datang kesini?" Rizal membelai rambut Dinda.


"Stop Zal! Hubungan kita sudah berakhir dan biarkan aku hidup tenang bersama suamiku," lagi-lagi Dinda memohon.


Seperti tak memperdulikan permohonan dari Dinda, Rizal pun berjalan mengitari dapur. Hidungnya mencium aroma masakan dan ia pun tersenyum sinis melihat beberapa hidangan tertata rapi di meja makan. Ia mengambil sendok makan dan mencicipi setiap masakan yang tersedia.


Selesai mencicipi makanan, Rizal duduk di meja makan sambil memandangi makanan tersebut. Kemudian ia menoleh ke arah Dinda yang saat itu masih berdiri mematung memandangi dirinya.


"Makanan ini seharusnya dihidangkan untukku, tapi kenyataannya ini semua untuk Anton," Rizal tersenyum kecut.


"Banyak orang mengatakan, melihat orang yang dicintainya bahagia, dia juga akan bahagia. Tetapi nyatanya, perkataan tidak sama dengan kenyataan. Melihat kamu bermesraan dengan suami mu, hatiku terasa sakit dan aku sudah tidak sanggup lagi melihat itu!" imbuh Rizal menatap Dinda tajam.


"Zal, aku tahu apa maksudmu. Aku pun merasakan hal yang sama. Aku melihatmu mencium Loren, hatiku juga terasa sakit. Tetapi aku mencoba untuk menenangkan diriku, karena tak seharusnya aku bersikap seperti itu. Di luar sana masih ada banyak gadis yang jauh lebih baik dariku, ketika kamu menemukan salah satu gadis baik itu, kamu akan melupakan diriku," sahut Dinda yang tak terasa meneteskan air matanya.


Rizal beranjak dari duduknya. Ia berjalan menghampiri Dinda dan membasuh air mata yang membasahi pipinya. Rizal mengartikan air mata itu sebagai tanda jika masih ada sisa cinta untuknya. Rizal pun tersenyum dan memeluk Dinda dengan lembut. Dinda mendorong tubuh Rizal, tetapi Rizal enggan melepaskannya.


"Ijinkan aku memelukmu Din! Tahukah kamu, aku sangat merindukanmu!" kata Rizal lirih.


Mendengar perkataan Rizal, Dinda pun berhenti mendorongnya. Dinda merasakan hangatnya tubuh Rizal dan suara detak jantungnya menghipnotis Dinda untuk bersandar di dada bidangnya. Membuat Dinda lupa diri bahwa dirinya adalah seorang istri.


Perlahan Rizal melepas pelukannya. Ia meraih dagu Dinda dan mendongakkan kepalanya. Mereka berdua saling berpandangan. Dengan lembut Rizal mendaratkan sebuah ciuman di bibirnya. Tak ada penolakan dari Dinda, ia hanya diam menerima ciuman itu.


"Dinda maafkan aku!" Rizal melepas ciumannya.


Dengan agresif Dinda melingkarkan tangannya di leher Rizal dan menciumnya. Ia meluapkan rasa rindunya yang selama ini ia pendam, cinta yang sulit dilupakan dan perasaan yang sukar dibohongi. Selama ini Dinda mengubur semua itu dalam-dalam demi untuk belajar mencintai sang suami.

__ADS_1


Usahanya selama ini sia-sia untuk melupakan Rizal. Seperti seorang istri yang merindukan suaminya, Dinda mengekspresikan rasa itu dengan sebuah kemesraan. Mereka berdua saling berciuman hingga kehilangan kendali.


"Dinda, apakah kamu masih mencintaiku?" tanya Rizal menghentikan ciumannya.


Dinda tak menjawab, dia hanya terdiam dan menundukkan kepalanya. Rizal pun tersenyum dan memeluk Dinda dengan erat, bibirnya mengecup belakang telinga Dinda, hingga membuat Dinda membuang nafas beratnya.


"Rizal, stop!" pekik Dinda mendorong tubuh Rizal.


Tiba-tiba bayangan Anton terlintas dibenaknya. Dinda mendorong tubuh Rizal dengan sekuat tenaganya. Ia menyadari, apa yang ia lakukan adalah hal yang keliru. Ia segera menyuruh Rizal untuk pulang, dia tidak mau mengkhianati Anton dengan hal yang membuatnya jatuh dalam dosa besar.


Cinta itu suci, tidak untuk dinodai dan cinta tak harus memiliki. Dinda tahu, jika dirinya masih ada rasa cinta untuk Rizal, tetapi rasa cintanya terhadap Anton lebih besar.


"Sejujurnya aku masih menyimpan rasa kepadamu, tetapi rasa cintaku terhadap suamiku jauh lebih besar. Pulanglah, carilah wanita yang lebih baik dariku!" kata Dinda menundukkan kepalanya.


Plok! Plok! Plok!


"Aku tidak tahu apa yang kalian lakukan ketika aku sedang tidak ada. Aku juga tidak tahu, berapa kali kalian bertemu selama aku tidak tahu. Teruntuk Istriku, Terima kasih sudah membuatku kecewa untuk kesekian kalinya!" Anton tersenyum kecut.


"Kakak, ini tidak seperti yang Kakak lihat!" Dinda mencoba menjelaskan.


"Malam ini aku capek sekali, aku mau istirahat!" ucap Anton yang terlihat tenang tetapi sedang marah.


Makanan yang ia masak sudah dingin. Anton sama sekali tidak menyicipinya, bahkan dia tidak tahu jika dimeja ada makanan kesukaannya. Anton naik ke atas masuk ke kamarnya, sedangkan Rizal pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun. Sementara Dinda masih berdiri sambil menangis.


Jika waktu bisa berputar kembali, Dinda tidak ingin mengenal Rizal. Tetapi hal itu mustahil terjadi, kini Dinda hanya bisa menyesali apa yang ia lakukan dengan Rizal. Dinda hanya berharap, jika Anton tak melihatnya berciuman dengan Rizal.


*****

__ADS_1


Setelah selesai salat subuh, Anton mencari keberadaan Dinda. Ia menuruni anak tangga dan mencari di setiap ruangan.


"Dinda, kamu di mana?" panggil Anton.


Diraihnya gagang pintu kamar sang nenek, Anton membukanya perlahan. Dilihatnya Dinda yang sedang tidur meringkuk tanpa selimut. Ada rasa iba dihatinya, tetapi mengingat kejadian semalam, membuat Anton marah. Anton pun langsung keluar dari kamar sang nenek.


Lalu Anton berjalan ke arah dapur, ia ingin memakan sesuatu, karena dari semalam dia belum makan. Dia membuka penutup makanan di meja makan. Dilihatnya makanan semalam yang disiapkan oleh Dinda.


"Dinda, kenapa kamu membuatku kecewa lagi?" kata Anton sambil melihat makanan di meja.


"Aku tahu kamu masih mencintai Rizal, tapi tak habis pikir jika kamu mengundangnya ke rumah ketika aku sedang tidak ada," gumam Anton yang tiba-tiba ingin berteriak meluapkan amarahnya.


Tidak menyentuh makanan itu, Anton pun mengambil susu segar dari dalam kulkas. Ketika ia sedang meminum susu, dia melihat Dinda keluar dari kamar. Dinda menatapnya sejenak, lalu ia pergi naik ke atas tanpa berkata apa-apa.


Diam bukan karena ia marah. Tetapi karena ia merasa bersalah. Dinda merasa ia sudah gagal menjadi istri yang baik. Dia tidak bisa menjaga pandangannya, ketika suaminya tidak ada di rumah.


"Kenapa kamu diam? Bukankah yang seharusnya marah itu aku, bukannya kamu!" tanya Anton dengan nada membentak.


"Kakak, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk membuat kakak kecewa," Dinda menangis dan berlutut di kaki Anton.


"Apakah semua pengorbananku yang aku lakukan selama ini tidak ada artinya bagimu, sehingga kamu tega membuat lara hatiku?" Anton pun menangis karena merasa kecewa.


Anton saat itu duduk di tepi ranjang, sedangkan Dinda berlutut di kakinya. Mereka berdua menangis bersamaan.


Bersambung...


Hi Kak, dukung Novel baruku yang berjudul "Kisah Inah dan Dimas". Terima kasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2