
"Kamu sudah mencium ku dan sekarang kamu bersikap seperti tidak terjadi apa-apa! Kamu harus tanggungjawab!" Loren mengejar Rizal sampai parkiran.
"Memangnya kamu hamil?" tanya Rizal sambil memakai helmnya.
"Ya! Kamu benar-benar......."Loren belum selesai berbicara, tetapi Rizal sudah pergi dengan motornya.
Sore itu pulang kerja, Loren dibuat kesal oleh Rizal. Dia meminta penjelasan atas tragedi ciuman yang dilakukan oleh Rizal tadi siang di ruang pantry, tetapi Rizal malah mengabaikannya. Ia pun hanya bisa mendengus kesal dan menghentakkan kakinya dilantai seperti anak kecil.
Kebetulan, saat itu Anton dan Dinda melihat Loren dan Rizal di parkiran. Mereka berdua berpura-pura tidak melihat dan langsung masuk kedalam mobil.
"Sepertinya Loren dan Rizal memiliki hubungan spesial," kata Anton sambil membantu Dinda memasangkan sabuk pengamannya.
"Oh, Mungkin!" sahut Dinda tidak peduli.
"Gak apa-apalah jika mereka memiliki hubungan spesial, toh mereka juga single. Tapi lebih baik menikah sih, daripada pacaran!" kata Anton melajukan mobilnya.
Seketika Dinda melirik kearah Anton. Memberi tatapan protes, sepertinya ia tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh sang suami. Di dalam lubuk hatinya buang terdalam, masih tidak rela jika Rizal menjalin hubungan dengan wanita lain.
Anton pun menyadari raut wajah Dinda yang tiba-tiba berubah. Ia pun segera mengalihkan pembicaraannya, agar Dinda tidak semakin kesal. Bersyukur, Anton berpikir secara dewasa dan tidak marah melihat Dinda bersikap demikian.
"Di depan ada penjual es krim enak, kamu mau gak?" tanya Anton mengalihkan pembicaraannya.
"Oh iya, es krim Turki itu kan Kak? Aku mau, aku mau!" jawab Dinda seperti anak kecil.
Melihat Dinda senang seperti itu sudah cukup bagi Anton. Dinda sendiri merasa bingung dengan dirinya sendiri. Ia sangat mencintai Anton, tetapi melihat adegan ciumannya Rizal dan Loren, membuat hatinya kesal.
*****
Malam hari setelah makan malam, Dinda masuk kedalam kamarnya Inah. Ia melihat Inah sedang duduk di kursi sambil menulis sesuatu di buku.
"Mbak Inah, sedang menulis apa?" tanya Dinda yang masuk tanpa mengetuk pintu.
"Eh, Non Dinda! Anu, ini iseng-iseng nulis cerpen," jawab Inah menoleh ke arah Dinda.
__ADS_1
"Bagaimana Mbak, Dimas sudah ada kabar?" tanya Dinda duduk dipinggir ranjang.
Inah terdiam, ia juga berhenti menulis dan menutup bukunya. Ia pun mulai bercerita kepada Dinda, jika Dimas sama sekali tidak menghubunginya semenjak Dimas pulang kerumahnya.
"Aku gak tau kabar dia Non! Dia tidak pernah meneleponku atau mengirimi ku pesan," jawab Inah tersenyum kecut.
Dinda pun langsung beranjak dari duduknya dan memeluk Inah. Ia juga menyuruh Inah untuk bersabar. Beberapa kata terlontar dari mulut Dinda untuk menenangkan Inah. Dinda sendiri juga tidak tahu apa yang dilakukan Dimas, karena dia juga tidak pernah menghubungi Anton maupun Dirinya.
"Yang sabar ya Mbak Inah, kalau dia memang jodohmu, pasti dia akan kembali dan segera melamar mu!" kata Dinda sambil memeluk Inah.
"Iya Non, dari awal memang aku juga tidak berharap banyak. Aku tahu diri, aku bukan wanita yang cocok baginya," Inah menahan air matanya agar tak jatuh ke pipinya.
"Kak Dimas sangat mencintai Mbak Inah kok! Dia banyak cerita tentang perasaannya kepada Kak Anton dan aku mendengar semua itu. Pokoknya Mbak Inah jangan berpikiran macam-macam, aku yakin Kak Dimas segera datang. Mungkin saja saat ini dia masih melakukan banyak hal," Dinda melepas pelukannya.
Tangis Inah pun pecah, pipinya basah oleh air matanya sendiri. Bisa saja ia mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, tetapi air matanya adalah sebagai bukti bahwa hatinya sedang menyimpan rasa pedih dihatinya.
Sedangkan Dinda tidak bisa berbuat banyak. Ia membiarkan Inah menangis sesenggukan, dengan menangis membuat hati menjadi sedikit lega. Setelah Inah berhenti menangis, Dinda keluar dari kamar dan menyuruh Inah untuk segera istirahat.
"Kenapa kamu terlihat sedih seperti itu?" tanya Anton yang saat itu sedang bekerja di kamar.
Anton beranjak dari duduknya dan menghampiri Dinda. Ia berlutut di hadapan Dinda dan menyandarkan kepalanya di kedua paha Dinda sambil mengelus tangannya. Saat itu Anton tak bisa banyak membantu tentang hubungan Inah dan Dimas. Tetapi Anton tak mau melihat Dinda sedih.
"Tetapi, melihatmu sedih seperti ini, hatiku juga ikut sedih!" Anton dengan posisi yang sama.
"Seberapa besar cinta Kakak untuk Dinda?" tanya Dinda tiba-tiba.
Seketika Anton mendongakkan kepalanya. Dia menatap wajah Dinda dengan tatapan lembut. Ia tidak bisa menjelaskan kepada Dinda, seberapa besar cinta untuknya. Yang jelas, dia tidak bisa hidup tanpa Dinda. Jika Dinda senang, dia juga merasa senang. Jika Dinda sedih, hatinya pun ikut sedih. Sebisa mungkin Anton akan membuat Dinda bahagia.
"Kakak tidak bisa menjawab, seberapa besar cintaku untukmu. Tetapi kamu bisa merasakan sendiri, seberapa besar cintaku padamu!" Anton tersenyum dan masih setia memandangi wajah Dinda.
Dinda pun membalas senyumannya. Lalu ia meraih dagu Anton dan menundukkan kepalanya. Dinda mencium kening Anton dengan lembut dan memeluknya. Mereka saling berpelukan dan Dinda tahu kalau Anton sangat mencintainya.
*****
__ADS_1
Beberapa hari kemudian,
Anton sangat sibuk dengan pekerjaannya. Tetapi ia tetap harus pergi ke pengadilan, untuk menjadi saksi atas aksi teror yang dilakukan oleh pesaing perusahaannya. Begitupun dengan Dinda, yang harus mendatangi penghasilan sebagai saksi bahwa Lisa lah orang yang mendorongnya.
"Sayang, kamu sudah siap belum?" tanya Anton sambil memakai dasinya.
"Sebentar, aku baru selesai mandi!" jawab Dinda sedikit kesal, karena sedari tadi Anton menyuruhnya untuk buru-buru.
"Maaf sayang, sudah buat kamu kesal! Soalnya jalanan macet dan takut terlambat," sahut Anton yang menyadari kekesalan Dinda.
Dengan terburu-buru Dinda segera keluar dari kamarnya setelah selesai mengoleskan krim diwajahnya. Anton pun dibuat kesal oleh Dinda, karena dia menunggu terlalu lama di dalam mobil. Karena pengacara dan detektif sudah menunggu di pengadilan.
Anton yang merasa kesal pun langsung melajukan kendaraannya tanpa mengatakan sepatah katapun. Dinda yang polos hanya bisa tersenyum sambil menggoda sang suami dengan manja.
"Suamiku kalau ngambek tambah ganteng saja!" Dinda menggoda Anton agar tidak kesal dengannya.
"Iya iya aku minta maaf! Aku salah karena tidak mendengarkan mu!" imbuh Dinda dengan nada sedikit kesal.
Anton tak bergeming, ia berkonsentrasi menyetir agar cepat sampai di pengadilan. Karena ada banyak hal yang harus ia bicarakan dengan pengacara sebelum persidangan dimulai. Tetapi karena waktunya yang terlalu mepet, hal itu membuat Anton kesal.
Sesampainya mereka di parkiran, Anton keluar dari mobil dan langsung menemui pengacaranya tanpa mempedulikan Dinda.
"Ada hal yang aku ingin bicarakan!" kata Anton kepada pengacaranya.
"Baik, kita cari tempat dulu atau kita kedalam mobil?" sahut sang pengacara.
"Baik, kita kedalam mobil," Anton pun kembali kedalam mobil dan menyampaikan sesuatu kepada pengacaranya.
Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas mereka membicarakan hal yang penting.
Sementara Dinda menunggu di ruang tunggu. Kebetulan di dada ada Loren dan juga Rizal. Dinda tampak canggung, karena mengingat kejadian Rizal mencium Loren. Sesekali Dinda melirik ke arah Rizal dan sepertinya Rizal sama sekali tak perduli dengannya.
Loren pun segera menyapa Dinda, karena memang Loren sendiri tidak bertegur sapa dengan Rizal semenjak kejadian ciuman di pantry.
__ADS_1
Bersambung...