Menikah Dengan Kakak Angkat

Menikah Dengan Kakak Angkat
Kekhawatiran Dinda


__ADS_3

Menangis hanya membuatnya semakin merasa lapar. Kesedihan kehilangan janin yang beberapa bulan lagi akan ia lahirkan, membuat Dinda sulit untuk melupakan dan membuat hatinya semakin sakit jika mengingatnya. Tetapi, kesedihan tidak akan mengembalikan yang sudah tiada.


Karena rasa lapar yang teramat, Dinda pun meminta kepada Inah untuk mengambilkan makanan yang sudah di siapkan oleh rumah sakit. Tetapi, belum saja Dinda memakannya, Anton sudah datang membawa beberapa bungkusan di plastik. Dinda pun segera menaruh makanan yang akan dia makan.


"Kakak lama banget, aku sudah lapar nih!" protes Dinda seperti anak kecil.


"Maaf sayang, ada banyak kendala." jawabnya tersenyum.


Anton senang karena Dinda tak lagi jutek kepadanya. Lalu dia menyiapkan makanan untuk Dinda di piring yang ia bawa. Ikan goreng dan sambal plus lalapan. Makanan yang di inginkan Dinda pagi itu. Dengan sepenuh hati Anton membantu simbok memasak itu semua. Walaupun tidak 100% dia yang masak, tetapi Anton sangat puas bisa membuat sarapan untuk Dinda.


Kemudian Anton melepaskan daging ikan dari tulangnya, ia juga menyuapi Dinda dengan tangannya. Seperti seorang bapak menyuapi anaknya. Dinda makan dengan lahapnya, karena dia memang sangat lapar. Apalagi makan ikan gurami goreng dengan sambal, itu membuat Dinda semakin bersemangat untuk makan. Walaupun sambalnya tidak terlalu pedas.


"Sambalnya kok gak pedas sih!" protes Dinda.


"Aku sengaja gak buat pedas, karena makan pedas-pedas gak bagus buat pencernaan." sahut Anton keceplosan.


"Kakak yang buat ini sambal?" tanya Dinda terkejut.


"Eh, enggak! Maksud kakak, kakak request sambal yang gak terlalu pedas gitu!" elaknya dengan gugup.


Hampir saja dia ketahuan, padahal memang Dinda sudah tahu kalau sang kakak lah yang membuat sarapan untuknya, hanya saja ia berpura-pura, agar sang kakak tidak kecewa. Memang Anton sengaja membuat sambalnya tidak terlalu pedas, mengingat Dinda baru saja melahirkan paksa. Ia khawatir kalau ada masalah dengan perutnya Dinda.


Dengan sabar Anton menyuapi Dinda hingga makanan di piring habis. Inah yang sedari tadi duduk di sofa memandangi mereka, merasa iri karena ia ingin juga di suapi sama orang yang ia cintai. Tapi siapa yang mau menyuapi Inah, pacar saja tidak punya.


Setelah selesai menyuapi Dinda, Anton pergi ke toilet untuk mencuci tangannya. Lalu dia kembali di samping Dinda dan memberinya air putih. Dinda merasa bersalah, karena ia sempat kesal dengan keberadaan Anton di tengah-tengah hubungannya dengan Rizal.

__ADS_1


"Kak, maafin Dinda." Tiba-tiba Dinda meminta maaf.


"Maaf kenapa sayang?" tanya Anton heran.


"Maaf karena aku tidak bisa jaga bayi kita. Jika saja aku tidak mengajak Rizal ketemuan di sana, mungkin aku tidak akan jatuh dan bayi kita masih hidup sampai sekarang." jawab Dinda mulai menangis lagi.


Anton memeluk Dinda yang tiba-tiba menangis, ia juga tidak ingin semua ini terjadi, tapi apa daya, semua sudah terjadi dan bayinya sudah tidak ada. Bagi Anton, tidak ada yang perlu di sesali, tetapi hatinya mengatakan bahwa jatuhnya Dinda ada unsur kesengajaan. Entah siap, yang jelas Anton akan mengusutnya sampai tahu pelakunya.


Tidak dengan Dinda, dia malah menyalahkan dirinya yang tidak hati-hati saat menuruni anak tangga. Setelah ia terjatuh, Dinda pingsan dan ia tidak ingat apa yang terjadi dengannya. Bahkan yang dia ingat hanya keluar dari ruangannya Anton dan tidak ingat kalau dia masuk ke tangga darurat.


"Apa kamu merasa kalau seseorang mendorongmu?" tanya Anton ingin tahu.


"Aku tidak ingat kak! Yang aku ingat, aku keluar dari ruangan kakak ingin menemui Rizal. Aku tidak ingat sama sekali kalau aku masuk ke dalam tangga darurat." jawab Dinda yang kehilangan ingatannya sesaat sebelum ia kecelakaan.


Hari ini Anton menyuruh Dimas untuk menyelidiki semua, apa yang sebenarnya terjadi di tangga darurat dan kenapa CCTV mati dua jam sebelum kejadian. Anton menaruh curiga kepada Rizal, tapi tiba-tiba keyakinannya memudar ketika ia teringat kalau Rizal tidak mengontrol CCTV di lantai sembilan.


Anton sengaja tidak mau melaporkan kejadian ini ke kantor polisi, karena dia tidak ingin reputasi perusahaan buruk karena mungkin saja salah satu karyawannya sengaja mencelakai Dinda. Maka dari itu, Anton menyuruh Dimas untuk menyewa detektif dan mencari tahu pelakunya dengan diam-diam.


"Sayang, waktu kamu masuk ke dalam tangga darurat, apa kamu melihat Rizal atau tidak?" tanya Anton mengintrogasi.


"Kan sudah ku bilang, kalau aku tidak ingat kalau aku masuk ke tangga darurat." jawab Dinda sambil mengelap ingusnya yang terus meler.


Kemudian Anton memotong-motong buah naga untuk Dinda. Karena kata Dokter, buah naga bisa menambah darah. Sewaktu Dinda jatuh, dia kehilangan cukup banyak darah. Maka dari itu, Dinda agak lemas, karena darahnya masih belum cukup.


Ia pun menyuapi Dinda yang sebenarnya tidak ingin makan buah itu. Tetapi, dengan terpaksa Dinda membuka mulutnya dan memakan buah naga yang dikasih Anton. Karena semua itu demi kebaikannya sendiri.

__ADS_1


Kring Kring Kring


Suara ponsel Anton berbunyi, ia pun segera mengangkatnya, karena panggilan itu dari Dimas. Sepertinya Dimas memberi informasi kepada Anton.


Entah apa yang Dimas katakan, karena Anton hanya mengangguk dan mendengarkan apa yang di katakan oleh Dimas. Dinda sendiri merasa penasaran, begitupun dengan Inah.


Setelah Anton mematikan panggilan dari Dimas, ia segera berpamitan kepada Dinda, bahwa dirinya mau pergi sebentar. Anton juga menyuruh Inah untuk menjaga Dinda agar mengingatkan Dinda untuk meminum obatnya.


"Din, kakak pergi sebenar ya! Kamu di sini sama Mbak Inah." pamit Anton.


"Mbak Inah, kamu jagain Dinda ya, aku pergi keluar sebentar. Jangan lupa ingatin Dinda minum obatnya." imbuh Anton kepada Inah.


"Kakak mau pergi kemana?" tanya Dinda penasaran.


"Nemuin Dimas, ada hal yang ingin kita bicarakan." jawab Anton buru-buru keluar dari ruangan.


Dinda nampak khawatir jika Anton dan Dimas sedang memperkarakan atas jatuhnya ia dari tangga. Ia khawatir jika mereka menyalahkan Rizal, karena Dinda yakin, kalau Rizal tidak mungkin mencelakakannya. Lalu dengan buru-buru ia menelpon Rizal.


Tut Tut Tut


Berkali-kali Dinda menelpon Rizal, tetapi tidak di angkatnya. Hal itu membuat Dinda semakin khawatir, ia mencoba mengingat-ingat kejadian sebelum ia jatuh, tetapi dia benar-benar tidak ingat kalau dirinya masuk ke dalam tangga darurat. Tetapi ia ingat jika ia ada janji dengan Rizal, jika dirinya akan menemui Rizal di tangga darurat.


Dinda menghela nafas panjang, lalu membuangnya dengan kasar. Ia mengirim pesan singkat kepada Rizal dan meminta maaf jika nanti Anton akan menyalahkannya atas jatuhnya ia dari tangga.


Rizal sangat mencintai Dinda, walaupun mereka sempat ada masalah dan bersepakat untuk mengakhiri hubungan mereka, tetapi Dinda maupun Rizal tidak bisa melupakan satu sama lain, sehingga mereka sering memberi perhatian satu sama lain melalui pesan singkat.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2