Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 10. Maula's first period


__ADS_3

Assalamualaikum, maaf baru menyapa. Rindu sekali dua bulan tidak bersua dalam cerita. Adakah yang masih ingat dengan Author yang nama dan karyanya ini sangat receh gak ada dua?


Sehat-sehat, ya semuanya. Kita saling mendoakan meski jauh di mata. 🙏


Kita dah masuk bab 10, nih. Semoga masih ada yang mau baca. 😊


...________❤️❤️❤️________...


Khayru melipat sejadahnya setelah selesai salat subuh. Dia kenakan kembali jubah tidur yang panjang menutupi lutut. Tiba-tiba sayup-sayup terdengar teriakan dari kamar Maula. Khayru segera berlari memeriksakannya. Dia lihat ke semua sudut kamar, dan ternyata suara itu berasal dari kamar mandi.


“Kenapa, La? Kamu gapapa kan?”


 


“Itu ...! Itu ...!” Maula menutup wajahnya sambil nunjuk-nunjuk ke lantai. Di sana tergeletak celana piyama yang menyatu dengan cel*na dalamnya.


 


“Iya, itu celana kamu. Kenapa dilepas?” Lalu Khayru menatap ke bagian bawah tubuh Maula. Dia tarik sebuah handuk dan melingkarkannya di pinggang gadis itu, ketika sadar bahwa Maula tidak sedang memakai celana.


 


“Kenapa membuka celana sambil teriak-teriak? Gimana kalau Mang Sodik dan satpam datang?”


 


“Abang lihat sendiri aja, di celanaku ada darahnya!” Wajah panik itu lalu menunduk karena merasakan ada sesuatu yang basah hingga menetes ke kakinya. Maula kembali menjerit sambil menghentak-hentakkan kakinya.


 


“Darah ...! Kenapa ada darah lagi di sini?! Aku sakit apa ini, Bang? Aku pusing liat darah. Singkirkan itu. Buang celana dalamku!” Dia menyembunyikan wajah sambil melingkarkan tangan di pinggang Khayru. Dia stres melihat darah yang tiba-tiba keluar dari kem*luannya.


 


Khayru memanggil salah satu asisten rumah tangga supaya dia menelepon dokter. Lalu dia jongkok di depan Maula untuk memastikan bahwa ada darah di sana. “Loh, iya! Darah apa ini?” Dia ikut panik.


 


“Saya datang ... Saya datang, Tuan. Maaf, ada apa ya?” Mbak Tini datang tergopoh-gopoh.


 


“Mbak, cepat panggilin dokter. Suruh ke sini.”


 


“Iya, iya. Siap!” Dengan cepat dia membalikkan badannya, tapi tiba-tiba dia berhenti dan menoleh. “Ini sebenarnya siapa yang sakit, Tuan?” Dia melihat Khayru tengah mengelap kaki Maula dengan ujung handuk putih bersih yang tiba-tiba penuh bercak darah.


 


“Bawa sekalian celana Maula dari sini, Mbak.” Khayru menunjuk dengan ekor matanya.


“Non Maula lagi mens, ya?” tanya Mbak Tini saat memasukkan cel*na dalam berdarah itu ke dalam keranjang cucian.


 


Seketika Khayru Mendongak menatap wajah Maula yang pucat hampir pingsan. “Mens? Kenapa Abang gak kepikiran kalau kamu lagi Menstruasi? Kamu kan dah tiga belas tahun sekarang.” ucapnya sambil tersenyum.


 


“Menstruasi?” Maula benar-benar pingsan hanya karena membayangkan darah yang akan keluar lebih banyak lagi.


Pagi ini seisi rumah begitu panik. Khayru menyanggah tubuh Maula lalu memindahkannya ke tempat tidur.


 

__ADS_1


“Mbak, ambilin handphone di kamar. Saya mau telepon dokter.”


 


Mbak Tini mondar mandir membawa keranjang cucian. Baru keluar kamar lalu masuk lagi. “Tuan, biar saya saja yang telepon dokter. Tuan beliin pembalut saja dulu.”


“Pembalut buat apa sih, Mbak? Kan ada di kotak obat.” Dia menunjuk kotak p3k yang menempel di dinding.


“Bukan yang itu, Tuan. Maksud Tini tuh pembalut buat wanita. Kalau lagi mens kan pake itu biar gak tembus.”


“Harus ya pake itu? Di mana belinya?” ucapnya sambil menutup tubuh bagian bawah Maula dengan selimut.


“Di Al*famart banyak, Tuan. Cari yang deket aja. Kalau bisa, agak cepet!”


 


“Tapi jangan lupa panggil dokter, ya,” pesan Khayru sambil berlari menuju garasi. Sepertinya dia tidak sabar menunggu mobil yang baru saja dinyalakan dan masih harus dipanaskan. Akhirnya dia berlari menuju gerbang yang kebetulan sudah dibuka oleh satpam yang jaga malam tadi.


 


Dia ingat betul di pertigaan jalan ini ada mini market yang sering ia lewati. Namun, sayang. Tiba di sana toko tutup karena masih terlalu pagi. Dia menatap jam tangan. Jarumnya menunjuk angka enam. Sedangkan di depan toko tertulis ‘Buka pukul 08.00-23.00’.


 


“Ck, harus lari ke mana lagi sepagi ini?” percuma pikirnya berlari mencari mini market lain karena mungkin sama-sama masih tutup. Dia putuskan menunggu sambil duduk di teras toko sampai karyawan datang. Selama dua jam kurang dia nampak seperti orang mengantuk, menopang kepala dengan tangannya. Dan akhirnya, salah satu karyawan tiba lalu segera membuka toko. Dia segera bangun mengikuti sang karyawan lalu masuk.


 


Dia berkeliling mencari-cari barang yang dicari sambil mengingat-ingat slogan iklan di televisi. Sambil menggaruk-garuk kepalanya, dia baca satu per satu tulisan yang ada di kemasan merk pembalut wanita.


 


“Yang ini, 'Maxi wing'. Maksudnya apa ya? Biar bisa terbang atau gimana?”


 


 


“Ada lagi, nih. ‘Double compfort’. Yang ini pasti cocok buat Maula. Biar nyaman dipake.”


 


“Wah, ini apa lagi, nih? Tulisannya ‘Anti bocor’ kayak iklan aqu*proof,” ucapnya sambil menatap langit-langit.


 


Karena bingung, dia mengambil semua merk dan membawanya ke kasir.


 


“Semuanya jadi tiga ratus empat puluh lima ribu enam ratus lima puluh rupiah, Pak.”


 


Khayru merogoh saku jubah tidurnya. Tersadar bahwa dia pergi dari rumah tidak membawa apa pun. Tanpa uang sepeser pun tanpa membawa handphone pula.


“Celaka.”


 


“Mbak, bisa saya bawa dulu barangnya ke rumah? Setelah itu saya kembali membawa uang.”


 


“Maaf, Pak. Tidak bisa. Saya hanya bisa menyerahkan barang setelah selesai pembayaran.”

__ADS_1


 


“Ya, ampun, Mbak. Saya ini bukan penipu, loh. Saya bisa bayar dengan dendanya sekaligus, nanti. Tapi barang ini harus segera saya bawa pulang ke rumah.”


“Iya, tapi ini peraturan pemilik toko. Saya tidak mau ambil resiko, Pa. maaf.”


“Hhh ...Ya Tuhan!”


Baru kali ini Khayru berdebat hanya gara-gara hal sekecil ini hingga membuatnya jengkel sampai ke ubun-ubun.


 


“Mbak, coba pinjamkan saya handphone sebentar. Saya mau menghubungi teman saya dulu.”


Sang pelayan toko berbaik hati meminjamkan handphone-nya.


“Di! Ini gue. Lo di mana?”


“Di kantor. Ini baru nyampe. Kenapa, Ru? Kek lagi uring-uringan?”


“Sekarang juga Lo dateng ke Alf*mart yang ada di komplek rumah gue. Gak usah pake lama.” Telepon langsung di tutup.


 


Dua puluh menit kemudian, Aldi datang terburu-buru. “Ada apa sih, Ru?”


“Lo bayar nih semua belanjaan gue. Sekalian bayar juga sama toko dan pelayannya.” Khayru mengambil dua kantong penuh belanjaan lalu naik ke mobil Aldi.


Aldi mengerutkan keningnya. Tak biasanya Khayru bersikap seperti ini. Dia membayar semua belanjaan, tapi tentu tidak dengan toko beserta pelayannya.


“Kenapa, sih?” tanya Aldi sambil membuka pintu mobilnya.


“Astagfirullah.” Khayru mengusap dadanya. “Iya, ya. Gue kenapa tadi marah-marahin kasir toko?” Heran sendiri dengan kelakuannya.


“Tadinya kan gue Cuma mau buru-buru pulang karena barang ini mau dipake sama Maula.” Dia menunjuk kantong belanjaan lalu kembali menatap jam tangannya. “Apa-apaan ini? Udah jam sembilan aja. Padahal dari rumah tadi jam enam.”


 


“Ya ampun. Tiga jam cuma buat beliin pembalut doang buat Maula?”


“Ish ... gue lari dari rumah jam enam, terus nunggu dua jam karena toko belum buka. Pas mau bayar belanjaan baru nyadar gak bawa uang sepeserpun. Bayangin aja.”


“Haha ... Bini dateng bulan aja repotnya kayak mau lahiran, Ru.”


“Eh, dah nyampe rumah gue, nih. Mulut harus dijaga.”


“Sorry, bro.” Aldi terkekeh.


 


“Udah sana balik ke kantor. Gue gak kerja hari ini.”


 


“Oke, Bos!”


 


Khayru berlari karena teringat akan Maula dalam keadaan pingsan beberapa jam yang lalu.


 


To be continued ....


 

__ADS_1


__ADS_2