Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 27. Papa bilang ....


__ADS_3

Setelah beberapa menit, Maula mulai sadar dan membuka matanya. Khayru yang masih mengusap lengan Maula dengan telapak tangannya segera memberinya minum teh manis hangat.


“Jangan duduk dulu, ya. Tetap berbaring sampai beberpa menit,” cakapnya sambil meraih ponsel di atas nakas.


Nampak di layar sebuah teks 'Umi Khadijah memanggil ....' Dia segera meletakan handphone di telinganya.


“Assalamualaikum, Umi ....”


Umi Khadijah hanya ingin bertanya kabar Maula yang masih pingsan saat dia pulang.


“Gak papa Umi. Jangan khawatir, Maula sudah sadar, kok.”


“Boleh Umi bicara sebentar dengan Maula?” tanyanya.


Khayru menyerahkan gawainya pada Maula setelah ia bantu gadis itu untuk bangun.


“Gak apa-apa. Aku bisa sendiri.” Maula menolak bantuan Khayru.


Sambil menerima telepon, Ia beranjak ke kamarnya. Cukup lama dia mengobrol dengan Umi Khadijah hingga akhirnya Umi pamit menutup telepon karena hari ternyata semakin sore.


Handphone Khayru yang masih ia pegang, masih ia tatap layarnya seraya duduk di tepi tempat tidur. Tak sadar jika bibirnya tengah mengulas senyum, hal lucu yang ia lihat ketika foto dirinya yang Khayru sebut dengan 'gaya serangan migrain' itu ternyata dia jadikan Wallpaper di handphonenya selama ini. Padahal dia bilang sudah menghapusnya waktu itu.


“Jelek semua fotonya. Hapus ajalah, cuma ngabisin memory doang,” ucap Khayru sambil menggerakkan jari telunjuknya di atas layar sentuh.


“Jangan dong! Itu kan gaya selfie kekinian yang hakiki. Aku titip di situ dulu.”


“Ini sih 'gaya serangan migrain' jatohnya. Langsung Abang hapus semua tadi.” Sambil menaruh handphone ke dalam saku kemeja.


Foto wallpaper itu membuat Maula penasaran dengan isi galery di handphone milik Khayru. Tanpa sungkan dia membukanya, meski tak ada yang istimewa di dalamnya. Tak tahu kenapa galery hanya diisi dengan foto-foto miliknya, nyaris tak ada foto lain selain foto Maula. Namun, ada satu hal yang sangat menarik perhatiannya. Sebuah foto punggung tangan laki-laki dan perempuan yang berbeda ukuran namun mengenakan sepasang cincin berlian yang padu padan. Salah satunya jelas milik Khayru karena dia masih memakainya.


Maula mengernyit, lalu meletakkan handphone di atas nakas. Dia membuka satu laci di bawahnya. Sebuah cincin berdiameter 15 mm bertatahkan berlian masih tergeletak di sana. Cincin yang tiba-tiba muncul di jari manisnya saat ia bangun tidur beberapa tahun yang lalu. Cincin yang membuat Khayru marah karena Maula melemparkannya.


“Loh, cincinnya, mana?” Khayru membolak-balikkan tangan Maula sesaat setelah sarapan pagi, waktu itu.


“Aku buang tadi,” jawab Maula enteng. “Abisnya ngeri, gak tahu asalnya dari mana, ujuk-ujuk ada di jariku,” kilahnya setelah menyadari wajah Khayru mulai kesal.


“Kenapa gak nanya?!” Sedikit membentak.


“Abang gak usah nyolot gitu, bisa gak!?Nanti aku cari sampe ketemu pokoknya. Heran deh! Bisa-bisanya marahin aku cuma gara-gara barang murahan yang sebenarnya masih mampu Abang beli beserta tokonya.”


Khayru segera meminta maaf berulang-ulang sambil memeluk Maula. Dia menyesal dan mengaku khilaf.


Kini Maula mengerti kenapa Khayru marah. Dia mengambil cincin yang ia simpan di laci--sejak ia menemukannya kembali. Dia coba mengenakan cincin itu. Namun, apa daya, ukuran jari Maula tidak seperti dulu lagi. Benda itu hanya muat ia kenakan di jari kelingkingnya. Akhirnya dia hanya terkekeh sambil memainkan jari kelingkingnya sendiri karena meski kekecilan, ia tetap memakainya?


Sedetik kemudian dia kembali murung. Seperti sedang terjadi perang batin dalam dirinya. Karena satu sisi, dia ingin marah sejadi-jadinya. Merasa masa depannya yang panjang telah hilang dalam sekejap. Namun, dalam waktu bersamaan, ucapan Umi Khadijah terngiang di telinganya.

__ADS_1


Di Jam makan malam, terdengar ketukan pintu di kamar Maula. Khayru meminta seseorang untuk memanggilnya sementara dia menunggu di meja makan. Namun, ternyata Maula menolak keluar kamar. Kali ini, Khayru hanya membiarkannya saja karena mungkin Maula tidak ingin diganggu.


Dia kembali ke ruang kerja setelah menyelesaikan makan malamnya, baru kembali ke kamar tidur setelah ia mengantuk. Tiba-tiba dia ingat dengan handphone yang dibawa Maula ke kamarnya. Karena itu, diam-diam dia membuka kamar Maula untuk mengambil benda itu. Seraya meraih handphone di nakas, matanya tertuju pada wajah Maula yang tengah tertidur pulas. Ia segera memutar badannya, akan tetapi suara serak Maula tiba-tiba memanggil.


“Abang mau ke mana?”


Ternyata Maula tidak bisa tidur malam ini. Dia mendengar suara Khayru meski masuk mengendap-endap. Khayru menghampirinya lalu duduk menghadap ke arahnya.


“Kenapa belum tidur? Ini sudah malam, loh.” Khayru tengadah menatap jam dinding.


Tiba-tiba Maula bangun memeluk Khayru.


“Gak bisa tidur,” jawabnya pelan.


“Mau Abang temenin?”


Maula mengangguk. Khayru pun berbaring di sampingnya meski perasaan malam ini sedikit berbeda dari biasanya. Ternyata tak seorang pun dari mereka bisa tidur malam ini meski sudah memaksa matanya untuk terpejam, tetap saja kesadaran mereka tak berkurang. Hanya terdengar suara detak jam dinding di tengah keheningan malam.


“Sudah tidur, Dek?”tanya Khayru untuk memastikan Maula benar-benar tidur malam ini. Tanpa diduga, Maula masih bisa menjawab pertanyaannya.


“Belum.”


Khayru memutar badannya menghadap Maula. “Apa yang kamu pikirkan? Tidurlah.”


“Aku sudah memaksa tidur, tapi gak bisa.”


“Kamu marah sama Abang?”


Maula menjawab dengan anggukan membuat Khayru menatap ke arahnya.


“Lantas, kenapa mau tidur sama Abang?”


“Umi bilang, suami-istri tidak boleh tidur terpisah.”


“Jangan tanya lagi, ah. Aku mau tidur sekarang,” lanjutnya sambil menyembunyikan wajah di pelukan Khayru.


Tak menyangka bahwa Maula bisa mengucapkan kata-kata suami-istri di tengah kemarahannya. Khayru tersenyum sambil mengeratkan pelukannya. Bahkan sampai beberapa jam kedepan dia masih bisa merasakan napas Maula yang tidak beraturan. Ini menandakan mereka berdua belum tertidur.


“Mungkin kamu lapar, jadi gak bisa tidur.”


“Aku sedang tidur, kok. Jangan khawatir.”


“Mana ada orang tidur menjawab pertanyaan.” Khayru terkekeh. “Orang tidur itu napasnya rileks dan teratur.”


Maula meletakkan telapak tangannya di dada Khayru. “Ini kenapa jantung Abang seperti abis lari marathon?”

__ADS_1


“Kedengeran, ya?”


“Abang juga gak tau, kenapa jadi berdebar-debar seperti ini.”


“Pasti takut aku marahi.”


“Sepertinya begitu.”


Maula bangun dan mendudukkan diri. Tak lama, Khayru mengikuti. Dia menghela napas sambil melipat tangan di dadanya.


“Jujur, aku ingin marah. Semarah-marahnya.”


“Lantas, kenapa tidak marah saja? Abang terima, kok.”


“Kemudian, aku teringat ucapan Papa. Pesan Papa sebelum meninggal.”


“Papa bilang apa?”


“... Jika Abang pulang, hormati dan perlakukan dia seperti Mama memperlakukan Papa ....”


“Pasti kamu gak paham dengan ucapan Papa itu?”


“Bocah sepuluh tahun mana ngerti ucapan seperti itu. Aku cuma iya, iya aja untuk menyenangkan hati Papa.”


“Sekarang mau menghormati Abang karena sudah mengerti ucapan Papa, 'kan?”


“Aku gak janji, sih. Hanya berusaha dan mencoba saja.”


Khayru menarik pundak Maula sambil mencium kepalanya. “Makasih karena mau mengingat ucapan-ucapan Papa. Kamu juga harus ngerti, apa yang Papa lakukan adalah bentuk kasih sayang dan tanggung jawabnya.”


“Abang saja selalu patuh dengan Papa, kenapa aku tidak?”


“Ini beneran kamu? Gak mungkin kamu sebijak ini.”


“Mungkin ada arwah gentayangan yang tengah merasukiku. Coba lihat mataku.” ucapnya sambil melotot ke arah Khayru.


“Husst ....” Sontak Khayru menutup mulut Maula. “Malam-malam begini kok ngomongin arwah.”Khayru mulai menatap seluruh ruangan lalu menarik Maula kedalam selimutnya.


“Akh, Abang penakut ....”


“Eng-gak ... Abang cuma takut sama Allah. Mana ada arwah gentayangan. Kamu kali yang gentayangan.”


.


.

__ADS_1


.


To Be Continued ....


__ADS_2