Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 34. Do not Disturb!


__ADS_3

“Nah, sekarang sudah tau, kan, gimana caranya minta maaf sama suami?” ucap Umi Khadijah setelah bercerita panjang lebar tentang bagaimana pentingnya ridho suami buat seorang istri.


“Minta maafnya seperti yang dilakukan Sayyidatina Fatimah Az-Zahra, ya, Umi?” tanya Maula tidak yakin.


“Ya, enggak.” Umi tersenyum. “Kamu bisa minta maaf dengan cara kamu sendiri, kok.”


“Hmm.” Maula manggut-manggut. “Umi yakin gak mau aku bantuin masak sekarang?”


“Kenapa memangnya?” Kening Umi Khadijah mengkerut tiba-tiba.


“Kalau gak mau dibantuin, Maula mau pulang sekarang aja. Dah sore.” Maula menatap jam tangannya.


“Ya udah. Sana pulang aja. Dirayu lagi suaminya jangan sampai marah.” Dia tersenyum sambil mengedipkan mata, lalu berdiri menarik tangan Maula, membawanya ke ruang tamu menghadap suaminya yang tengah bercengkrama sambil sesekali diselingi tawa.


“Ini, anak umi yang cantik ini katanya mau pulang sekarang. Takut kesorean.” Umi Khadijah memberitahukan supaya mereka segera mengakhiri percakapan sore ini.


“Oh, iya, Umi, baiklah.” Khayru merapikan jasnya sambil bangkit dari tempat duduk. “Kita pamit dulu kalau gitu. Lain kali mampir lagi ke sini.” Setelah menyalami Pak Kyai, dia meraih tangan dan tas sekolah milik Maula. Berpamitan lalu membawa Maula ke halaman tempat mobilnya diparkirkan.


Sebelum naik ke mobil, dia melepaskan tangan Maula sambil menyerahkan tasnya. “Perlu dicariin taksi, gak, buat pulang ke rumah?” sindirnya.


“Ada suami bawa mobil sendiri, masa harus naik taksi?” gerutunya.


“Kirain gak suka pulang sama suami sendiri,” jawab Khayru sambil naik ke dalam mobil. Sementara Maula masih berdiri karena belum dipersilakan masuk.


“Mau berdiri terus di situ!?” serunya dari dalam mobil. Dia membukakan pintu, tapi Maula tak kunjung naik. Akhirnya dia turun, untuk memaksa Maula segera naik. “Cepetan, ah, dah sore, nih,” sambil mendorong tubuh Maula lalu menutup kembali pintu mobil.


Mereka sama-sama tak mengeluarkan suara. Maula masih berpikir dengan cara apa dia harus minta maaf, sedangkan Khayru hanya berpura-pura memasang wajah dingin di hadapannya.


Mobil tiba di halaman, mereka keluar dari kendaraan itu dan masuk ke rumah beriringan. Maula mengikuti sampai Khayru masuk ke kamar pribadinya, masih dengan perasaan bingung harus bicara apa.


“Kamu suka banget masuk ke kamar ini. Apa kita mau tukeran kamar aja?”ucap Khayru sambil membuka ikatan dasi di lehernya.


“Sini, sini ... aku yang bukain dasinya.” Dengan cepat Maula menarik leher suaminya. Mencoba membuka ikatan dasi lalu membantu melepaskan jas juga. Selain itu dia meminta suaminya duduk karena dia akan membuka sepatu beserta kaos kakinya.


“Eh, ini apa-apaan?” Khayru menyingkirkan tangan Maula dari kakinya. “Abang bisa sendiri, kok.”


“Gak papa. Aku suka melakukan ini.” Maula kembali meraih kaki suaminya.


“Sejak kapan?” Khayru memutar bola matanya. “Sepatu kamu aja masih sering abang yang pakein.”


“Sejak hari ini dan seterusnya, biar aku yang gantian bantu abang,” tegas Maula berlaga menjadi anak baik sambil membawa sepatu itu ke sudut meja.


“Palingan besok juga kamu berubah lagi.” Sambil membuka kancing kemejanya, dia hendak bangkit. Namun, Maula segera duduk di pangkuannya.


“Aku yang bukain,” sambil menyingkirkan kedua tangan Khayru lalu membuka kancing-kancing itu dengan tangannya.


“Tunggu, tunggu ... kamu mengotori tempat tidur Abang kalau begini caranya.” Dia menunjuk kaki Maula yang belum sempat membuka sepatu sekolahnya sendiri, sementara posisinya tengah duduk berhadapan dengan kaki melingkar di pinggang Khayru--yang tengah duduk di tempat tidur.


Maula pun menengok ke belakang tubuh suaminya sambil terkekeh. “Hi hi ... sampai lupa buka sepatu sendiri.”


Khayru mengangkat tubuh Maula untuk memindahkannya ke sofa. Namun, Maula malah memeluk sambil melingkarkan kakinya.


“Aku gak mau turun sampai Abang maafin aku,” bisiknya di telinga Khayru.


“Kamu tuh berat, Dek. Kamu bukan anak sepuluh tahun lagi. Ayo turun.” ucapnya yang masih berdiri d depan sofa.


“Bodo amat.”


“Abang mau renang di bawah. Kamu mau ikut nyebur juga?”


“Gak papa. Nyebur di lautan aja aku mau ikut apa lagi di kolam renang.”


“Serius? Abang beneran turun ke kolam, nih,” ucapnya sambil menarik sebuah handuk dari lemari lalu berjalan dengan tubuh Maula yang masih menempel tak mau lepas.


“Dua rius, Bang,” jawabnya keukeuh.

__ADS_1


Khayru benar-benar menuju kolam renang yang berada di halaman belakang rumah. Melewati Bik Nur yang tengah membersihkan pintu kaca yang membatasi ruang makan dan kolam renang.


“Itu Non Maula kenapa, Tuan?”


“Gak tau, Bik. Dia mau aku lempar ke kolam renang katanya.”


“Ya ampun, Non. Nanti seragamnya basah, dong.”


“Masih banyak, kok, seragam di lemari.”


“Ya udah, Bik, pintu sama gordengnya tolong ditutup rapat. Jangan ada siapa pun yang masuk ke sini.”Ini pesan Khayru setiap kali dia berenang di belakang rumah.


“Siap, Tuan. Nanti Bibik pasang tulisan 'Do not disturb! Forbidden area'”


“Sip! Pinter Bibik.”


“Emangnya si Bibik ngerti gitu, bahasa inggris?” gumam Maula yang cuma terdengar oleh suaminya.


“Kalau si Bibik mah meskipun gak sekolah tinggi-tinggi, ngerti dia bahasa inggris. Gak kaya kamu, udah kelas tiga SMA, bilang 'I Love You' aja gak bisa,”sambil melepaskan celana panjangnya.


“Siapa bilang gak bisa? I Love You ...,”jawabnya sambil menatap wajah Khayru.


“Kalau gitu ....” Khayru membalas tatapan Maula sambil melepaskan jilbabnya. “I Love you too ... jiahhh.” Dia langsung melompat ke dalam kolam yang hangat karena seharian ini sudah terpapar sinar matahari yang begitu terik.


Maula yang kaget, semakin mengeratkan pelukannya sambil berteriak sekuat tenaga.


“Abaaangg, ish ... ?! pekiknya sambil terengah. Tenggelam ke dalam air, sudah membuatnya kesulitan bernapas.


“Ngomong dulu, kek, kalau mau lompat. Kasih aba-aba.” Maula masih kelabakan sambil mengusap wajah dan rambutnya yang sudah basah.


“Suruh siapa gak mau lepas? Berat, tau?!” Khayru tertawa puas melihat Maula yang semakin kesal.


“Kalau kek gini aku beneran gak mau lepas!” Dia kembali melingkarkan tangannya sambil memeluk Khayru.


“Nunggu ada petir dulu, ya, baru lepas. Ha ha ha ... Dasar tokek!!”


“Iya, dan kemeja putihmu juga tembus pandang. Abang bisa lihat dengan jelas.” Khayru menatap ke arah dadanya.


“Abang lihat apa?” Maula segera melepaskan diri dari suaminya. “Ah, ya udahlah, terserah. Liat doang, tapi gak boleh sentuh.”


“Gak boleh sentuh gimana? Kan kamu yang mepet-mepet dari tadi.”


“Akh ... ya udah, ya udah. Terserahlah ... aku gak peduli.” Maula terlihat masa bodoh dengan kemeja basahnya yang transparant maupun roknya yang menggelembung di dalam air.


Setelah diam beberapa saat, mereka saling balas menghujani wajah masing-masing dengan cipratan air kolam sambil tertawa-tawa seperti ketika mereka masih kecil. Hingga waktu terus berjalan hampir menjelang waktu magrib, mereka baru naik dan membersihkan diri dengan air bersih.




Mereka hanya keluar untuk makan malam setelah itu kembali ke kamar karena Maula mengeluh sakit di telinga akibat banyak air yang masuk saat berenang tadi sore. Khayru membantunya dengan menggunakan *cotton Bud* sebelum tidur.



“Gimana? Masih sakit gak telinganya?”



“Enggak, Bang. Airnya sudah keluar semua. Gak sakit lagi.”



“Ya udah, tidur.”


__ADS_1


“Makasih, Bang. Abang gak marah lagi kan sama aku?”



Melihat suaminya tidak merespon, Maula tidak berhenti bicara.



“Abang mau aku ngelakuin apa? Kalau Abang mau aku jadi istri yang baik, aku bakalan coba semuanya. Masak? Nyuci? Nyetrika ... Aku bisa.”



Dia hanya menatap lalu bertanya, “Tadi ngobrol apa sama Umi?” *Dilihat dari tingkahnya, dia pasti sudah diceramahi Umi*.



“Bilang, gak, ya?” Pura-pura berpikir sebentar. “Enggak, deh. Soalnya Abang juga bikin aku marah tadi di sekolah.”



“Abang salah apa sama kamu?”



“Soal Rere dan Nikita. Ngapain Abang deket-deket sama mereka?”



“Oohh ... itu.” Khayru mengangguk.



“Abang kan suamiku, ngapain deketin musuh-musuh aku?”



“Abang cuma mau kamu punya teman,” ucapnya sambil menarik selimut.



“Tapi kenapa harus pilih mereka? Musuh bebuyutanku!” Maula mencibir.



“Karena Abang gak mau kamu punya musuh. Suatu hari nanti, kamu bakalan butuh mereka.”



Mereka belum selesai bicara. Namun, suara ketukan pintu menghentikannya.



“Tuan ... di luar ada tamu!” Suara Tini dari luar terdengar sangat keras.



To Be Continued ....



**Warning**!! 💀



Maaf readers tercinta, jangan coba bayangin gimana Khayru menatap baju Maula yang transparan sama roknya yang menggelembung, ya. Jangaaan!! ... puasa, loh, puasa.

__ADS_1



Sambil nunggu Maula yang up-nya super lama, yang belum baca **Risalah Jodoh**, boleh mampir dulu ke sebelah, siapa tahu berkenan. 🙏


__ADS_2