
“Dek, bisa gak, kita berangkat bareng pagi ini? Abang mau bicara,” ucapnya di tengah-tengah sarapan pagi.
“Kenapa gak bicara sekarang aja, Bang? Aku dengerin, kok.” jawabnya seperti biasa dengan nada datar. Sama sekali tidak tertarik dengan apa pun yang akan dibicarakan suaminya. Bik Sulis dan Katia saling bertukar pandang. Mereka sudah mengira bahwa perang dingin di antara Khayru dan Maula masih berlangsung. Katia mengusap tangan Maula sambil menatapnya. Dia ingin sekali menasihatinya. Namun, kafasitasnya tidak memadai. Meskipun Katia lebih tua, akan tetapi dia belum memiliki pengalaman dalam berumah tangga. Nasihat apa yang bisa dia berikan jika dirinya saja tidak tahu seperti apa msalah yang sering muncul dalam kehidupan suami istri.
“Abang mau bicara berdua saja, bisa?” tanya Khayru dengan penuh kehati-hatian.
Tiba-tiba Maula menatap jam tangannya. Dia mengerutkan dahi sambil berdiri. “Kayaknya, Rere dah nunggu di luar, deh. Aku harus berangkat sekarang. Maaf, ya, aku duluan.” Dia tetap mencium tangan suaminya juga tangan Katia sebelum pergi. Khayru menarik nafas dalam-dalam lalu perlahan membuangnya sambil meletakkan sendok dan garpu di atas piring. Ucapan dan mimik wajah Maula, tidak pernah menunjukkan ada masalah pada siapa pun, tetapi sikapnya yang selalu menghindar, semakin hari semakin kentara.
“Tuan ... sebenarnya ada apa?” tanya Bik Sulis sedikit prihatin. Dia pernah bertanya juga pada Maula tapi jawabannya tetap 'tak ada apa-apa' semakin membuat Bik Sulis dan yang lainnya semakin curiga.
“Entahlah. Mungkin Maula salah paham.” Khayru kembali menghela napas. “Dia berubah, dan saya hampir tidak mengenalinya lagi.”
“Setelah dia pulang sekolah nanti, saya akan coba ajak dia bicara. Siapa tahu dia mau terbuka.”
“Terima kasih. Saya akan senang sekali jika dia mau sharing tentang masalahnya. Supaya kita tahu bagaimana harus bersikap padanya.”
Khayru duduk bersandar di kursi kejayaannya sambil memejamkan mata. Tanggannya tak henti mengurut dahi sebelah kanan yang belakangan ini selalu terasa pusing. Sementara isi kepalanya seperti sedang menggantung di udara. Masalah pekerjaan saja sudah cukup menyita pikirannya, apalagi harus memikirkan sikap Maula yang membingungkan.
Aldi tiba-tiba duduk di hadapannya. Dia tahu betul jika sejak kejadian waktu itu, mereka pasti tidak akan baik-baik saja. “Sudah gue bilang, izinin gue ngomong sama Maula. Biar gue bantu jelasin ucapan Lo tempo hari.”
Ucapan Aldi membuat Khayru membuka mata sambil membenahi posisi duduknya.
“Maula ... gak suka orang lain ikut campur. Dia bisa lebih muak lihat wajah gue kalau tau gue bahas ini lagi dengan, Lo.” Khayru menatap tajam ke arah sahabatnya, “Ini gara-gara Lo juga, sih. Ngapain waktu itu nanya-nanya gue cinta dia apa enggak? Salah ngomong kan gue jadinya.” Khayru berdesis kesal pada Aldi. Namun, tak bisa melampiaskan kekesalannya.
“Ya, makanya, gue inisiatif pengen bantu Lo dengan coba bicara dengannya. Lagian heran gue sama Lo. Udah lengket kek gitu, masa gak ada cinta sedikit pun buat istri Lo.”
__ADS_1
“Kan sudah gue bilang, kalau ucapan gue waktu itu belum selesai, Bwambang! Meskipun gue gak cinta, tapi gue udah sayang dia sejak lahir. Rasa sayang yang gak akan pernah berubah selamanya. Sebagai adik, sebagai istri, sebagai teman. Perasaan itu sudah komplit semua buat dia, karena hanya dengan Maula gue bisa melakukan banyak hal bersama-sama. Meskipun itu semua terjadi karena awalnya kami hanya dipaksa untuk selalu bersama ... ahh sudahlah, gue jadi kangen dia kalau lagi manja-manja. Maula udah berubah banyak sekarang.” Khayru sedikit membayangkan keadaan sebelum Maula menjadi se mandiri sekarang ini.
“Hehh, Parjo!? Emangnya bedanya 'cinta' ama 'sayang' tuh apaan? Menurut gue, kalau dah cinta pasti sayang juga kan. Begitu pun sebaliknya. Dibikin ribet, sih, Lo. Makanya jadi salah paham.”
“Terserah Lo, itu kan pendapat Lo. Gue rasa, yang namanya cinta pada sesama manusia itu, kapan aja bisa berubah. Terkadang ada nafsu terselubung di dalamnya, tapi kalau sayang, enggak. Kemurniannya selalu terjaga menurut gue.”
“Dihh ... ngomongin cinta dan kasih sayang aja dah bikin ABG tua di depan gue senyum-senyum sendiri macam orang gila. Amit-amit,” cibir Aldi sambil bergidik geli.
“Kan Lo yang nanya, Bwambang! Udah kepo akut, gak nyadar diri, lagi, Lo.” Khayru melempar pena ke wajah sahabatnya yang sigap ditangkap Aldi sambil terkekeh.
“Yaudahlah. Biar nanti gue dateng ke rumah Lo. Gue ajak Maula ngomong baik-baik. Gue mau jelasin kalau Lo tuh sebenarnya sayang dia sejak lahir dan gak akan berubah sekali pun rambutnya nanti sudah memutih.” Aldi beranjak dari tempat duduknya sambil merapikan jas hitam yang dia kenakan. “Siapa tahu bisa sedikit meredakan kemarahannya,” ucap Aldi sambil bergegas meninggalkan Khayru.
“Apa? Ke Maroko?” Aldi memutar badannya sambil mengerutkan dahi. “Apa ... gak sebaiknya Lo selesain dulu masalah sama Maula, baru pergi.”
“Gak papa. Dia gak keberatan, kok, kalau gue pergi. Syukur-syukur dia jadi kengen gue, selama gak ketemu,” ucapnya sambil terkekeh.
“Terserah Lo, dah, ah.” Aldi benar-benar keluar dari ruangan itu untuk melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
“Aku dah selesai makan malam. Izin masuk kamar duluan, ya.” Maula berdiri seraya menggeser kursinya. “Biasa ... tugas sekolahku bertambah terus tiap hari,” ucapnya sambil tersenyum.
“Tunggu, Dek. Kakak ada perlu sebentar.” Katia turut bangkit dari duduknya lalu menyusul Maula yang sudah berjalan bebeapa langkah.
“Iya, Kak. Ada apa, ya?”
“Kita bicara di atas.” Katia mulai menggandeng tangan Maula seraya melanjutkan langkahnya. Tiba di depan kamar, mereka mulai berhenti. Maula menatap Katia yang katanya minta waktu sebentar saja untuk bicara.
“Kakak butuh bantuanku? Katakan saja. Aku usahakan bantu sebisaku.”
Katia menggenggam tangan Maula sambil menatap matanya seakan sedang mencari sesuatu dari sorot matanya.
“Ada apa?” tanya Maula lagi yang semakin penasaran.
“Gak apa-apa sih, sebenarnya. Kakak cuma butuh seorang adik untuk teman ngobrol-ngobrol saja,” tuturnya sambil menghadapkan diri pada Maula. “Menurut kamu ... kakak, nih, udah pantas apa belum kamu anggap Kakak?”
Maula tersenyum sambil memeluk wanita di hadapannya. “Kenapa tanya begitu? Kakak satu-satunya keluarga yang aku miliki. Apa ... aku ada salah sama Kakak? Maafin, ya kalau aku pernah menyinggung perasaan.”
“Bukan begitu, Dek.” sela Katia.
“Gak apa-apa. Kakak jujur aja kalau aku ada salah. Aku sadar, kok, selama ini aku jarang mikirin perasaan orang lain. Makanya banyak orang yang musuhin aku. Kalau bukan karena Abang yang selalu berdiri di sampingku, mungkin aku tidak memiliki teman seperti Rere dan Nikita. Karena Abang juga, aku bisa punya saudari seperti Kakak ini. Dan aku bisa berdamai dengan semua ART di rumah ini,” ucapnya sambil tersenyum.
“Semua berkat Pak Iru?” tanya Katia seraya menatap.
Maula mengangguk.
“Kalau boleh tanya, apa arti dia untukmu selama ini?” Tak lama, Katia meralat ucapannya. “Tapi kalau kamu gak percaya Kakak, gak usah dijawab. Gak apa-apa.”
Maula menyandarkan tubuhnya ke dinding sambil menekuk salah satu kakinya. Matanya nampak sedang menerawang.
“Abang itu ... segala-galanya buatku. Pengganti orang tuaku. Seorang Kakak yang selalu mengutamakan kepentinganku di atas segala-galanya. Dia juga mengorbankan kebahagiaannya demi aku.” Maula sedikit memejamkan mata sambil menggigit bibirnya.
“Se sempurna itu?” tanya Katia yang juga menyenderkan tubuhnya ke dinding hingga mereka saling berhadapan. “Beliau tidak pernah mengecewakanmu?”
Karena terlalu sempurna, hingga Maula lebih memilih untuk menyembunyikan rasa marah dan kecewa dengan cara seperti ini.
“Akulah yang sering mengecewakannya. Aku gak pernah bisa menjadi wanita sempurna dihatinya.”
__ADS_1
“Maksudnya?” Katia mengerutkan keningnya. Dia mulai penasaran dengan ucapan Maula.
To Be Continue ....