
Suasana rumah belum terasa sepi karena masih ada pengajian selama empat puluh hari. Maula tak jauh dari pangkuan ayahnya yang masih sibuk menerima tamu.
Selain Kyai Abdurrahman, ada Aldi beserta ayahnya juga dokter Luthfie yang selalu duduk berkumpul menghibur Tuan Zul.
“Pak Zul, saya tidak melihat kehadiran Khayru sampai saat ini. Apakah dia tidak diberitahu mengenai kabar duka ini?”
“Saya sudah terlebih dahulu mendapat kabar bahwa penyakit ayahnya Khayru semakin hari semakin parah. Jika saya memintanya datang, saya khawatir dia akan menyesal karena tidak menemani orang tuanya hingga hari akhir. Saya akan menjadi orang yang paling berdosa jika hal itu terjadi.”
“Paling tidak, dia diberitahu, meskipun tak bisa hadir di sini. Maaf, kalau saya Sok tahu, Pak,” ucapnya sopan.
“Saya paham maksud kamu, Di. Saya hanya tidak ingin membuat pikirannya lebih kacau saat ini. Saya yakin, dia akan merasakan dilema jika tahu istri saya sudah meninggal.”
“Baiklah, Pak. Saya mengerti.”
Aldi adalah sahabat Khayru yang juga anak dari Suryadi--pengacara keluarga--Tuan Zul. Sejak Khayru bertolak ke Maroko, Aldi-lah yang menggantikan posisinya di perusahaan.
Selepas empat puluh hari berlalu, Maula lebih sering mengurung dirinya di kamar setelah pulang sekolah, dia menolak bertemu dengan teman-teman sekolahnya sampai ayahnya pulang kerja dan mengetuk pintu.
“Sayang, papa sudah pulang. Keluarlah, temani papa makan dulu.”
Maula selalu keluar dari kamar dengan wajahnya yang sembab. Ayahnya mengusap pipi Maula yang basah lalu menggendongnya. “Kamu nangis lagi?” ucap Zul pelan sambil membawanya ke meja makan. Maula hanya menyandarkan kepalanya di pundak sang ayah. Saat ini hanya seorang ayah yang dia miliki. Entah apa jadinya jika dia tidak ada.
Satu tahun kemudian ....
Tidak seperti biasanya Tuan Zul yang biasanya sudah duduk menunggu di meja makan, kali ini belum keluar dari kamar. Maula segera datang mengetuk pintu untuk mengajaknya sarapan.
“Pagi, Pa ... Papa sudah bangun?” seru Maula berdiri di depan pintu.
“Masuk, sayang,” sahutnya dari dalam kamar. Dia masih duduk bersandar di tempat tidur.
“Papa belum siap-siap? Hari ini gak ke kantor, ya?”
“Nanti, papa berangkat agak siangan. Kamu sarapan duluan aja. Bilang sama Mang Sodik, abis nganter kamu, suruh dia langsung ngadep papa di sini.”
“Tapi gimana sakit kepala Papa, udah baikan belum? Pak dokter bilang apa semalem?”
“Udah gak sakit, kok, sekarang. Jangan khawatirin papa. Udah sana, berangkat sekolah dulu, tar kesiangan.”
“Ya udah, Pa. Kalau Papa sakit kepala lagi, jangan ke kantor dulu, ya, Pa.” Maula beranjak meninggalkan kamar setelah mencium punggung tangan ayahnya.
“Jangan lupa minta Mang Sodik temui Papa, ya, La!”
“Ya,” jawabnya sambil menutup pintu.
Setelah mengantar Maula ke sekolah, Mang Sodik segera munuju kamar majikannya. Ia dipersilakan masuk setelah mengetuk pintu.
“Tuan memanggil saya?”
__ADS_1
“Iya, Mang, tolong bantu saya. Antar saya ke rumah sakit. Dokter minta saya melakukan pemeriksaan hari ini.”
“Baik, Tuan. Mari saya bantu.”
“Mang, jangan bilang Maula kalau hari ini saya ke rumah sakit.”
“Kenapa memangnya, Tuan?”
“Karena dia akan sangat khawatir. Maula tidak boleh mendengar keluhan tentang kesehatanku. Lagi pula saya sudah terbiasa dengan sakit kepala ini, hanya saja kali ini penglihatan sedikit terganggu.”
“Seharusnya sejak dulu Tuan melakukan pemeriksaan. Supaya tidak salah obat, Tuan.”
“Doakan saja biar saya sehat, Mang. Saya harus panjang umur demi putri saya satu-satunya. Kasihan dia tidak punya siapa-siapa di dunia ini.”
“Tuan, kok, ngomongnya begitu. Saya yakin Tuan akan hidup sampai Tuan punya cucu dan cucu buyut yang banyak,” hibur Mang Sodik sambil menggandeng tangan majikannya dan membawa dia duduk di dalam mobil.
Mobil pun meluncur menuju rumah sakit. Sesuai jadwal, dokter melakukan pemeriksaan lengkap terhadap Tuan Zul terkait keluhan yang ia rahasiakan selama ini.
Beberapa hari kemudian, Tuan Zul lebih sering kerja dari rumah. Aldi dan sekretarisnya-lah yang lebih sering datang jika ada pekerjaan yang sangat penting. Setiap malam, Maula menemaninya ngobrol hingga ia tertidur. Meski hanya berdiam diri di kamar, Tuan Zul tidak pernah menampakkan gelagat seperti orang yang tengah sakit. Dia selalu tertawa lebar di depan putrinya.
“Suruh masuk saja, Bik.”
Dokter pun masuk menemui Tuan Zul di tempat tidurnya. “Saya baru pulang dari rumah sakit, lalu mampir ke sini sebentar. Gimana keadaan Pak Zul hari ini?” tanya dokter Luthfie sambil menyentuh tangan pasiennya. Dia sedikit berbasa basi sebelum menyampaikan sesuatu yang penting.
“Maula, bisa tinggalkan papa sama Pak Dokter dulu, sebentar, sayang?” pinta sang ayah.”
“Baik, Pa.” Maula menuruti perintah ayahnya.
“Saya senang dokter menetap kembali di Jakarta.” Tuan Zul tersenyum pada dr Luthfie yang beberapa tahun terakhir tinggal di Bandung, bertugas dan memiliki istri di sana.
“Iya, Pak. Kebetulan istri saya ingin tinggal di sini untuk sementara. Jadi saya membawanya.”
“Dokter benar-benar mampir atau memang ada yang ingin disampaikan?” Tuan Zul melihat beberapa benda yang ada di tangan dokter.
Dokter menatap wajah pria paruh baya itu lalu perlahan mengeluarkan sesuatu dari dalam map yang ia bawa.
__ADS_1
“Saya ... bawakan hasil pemeriksaan Pak Zul tempo hari.” Dokter terlihat enggan menyerahkan benda itu.
“Ada apa, Dokter? Bisa saya lihat hasilnya?”
Dokter menyerahkan semua sambil menundukkan kepalanya. Tuan Zul seperti mendapatkan sebuah isyarat. Dan benar saja, ternyata hasil yang dia baca cukup membuatnya tercengang.
“Dokter ... Tolong jelaskan semua ini. Sa-saya tidak begitu paham dengan ilmu kedokteran.”
Dokter menganggukkan kepalanya pelan. “Maaf, saya harus mengatakan ini. Benar, bahwa selama ini Pak Zul positif mengidap kanker otak stadium akhir,” ucapnya pelan.
“Dokter, mungkin ada yang salah dengan hasil pemeriksaan ini. Coba ditelaah lagi. Dalam silsilah keluarga saya, tidak ada riwayat pengidap kanker.”
“Jika Pak Zul merasa ragu, kita bisa melakukan pemeriksaan ulang. Namun, kemarin kita bersama dokter onkolog melakukannya melalui beberapa metode dan semua hasilnya sama. Perlu kita tahu bahwa selain karena faktor genetik, kanker bisa terjadi karena beberapa hal seperti paparan radiasi dan zat kimia, pencemaran lingkungan, kebiasaan merokok, faktor usia dan jenis kelamin, penyebaran virus atau bahkan karena benturan dalam jangka waktu yang sudah lama tanpa kita sadari bisa menjadi pemicu sel kanker.”
Tuan Zul menarik napas sambil memejamkan matanya. “Berapa lama lagi kesempatan saya untuk hidup, dokter?”
“Saya tidak ingin mendeteksi umur seseorang, saya hanya berharap Pak Zul akan sembuh dan hidup lebih lama lagi seperti ayah saya yang mendapat keajaiban saat ini.”
Tuan Zul masih sulit untuk menerima kenyataan ini, dia memejamkan matanya dan berusaha untuk tenang.
“Maafkan saya karena kita sedikit telat mendeteksi gejalanya, Pak Zul.”
“Ini memang salah saya, karena selalu menunda-nunda untuk diperiksa.”
“Pak Zul juga tidak pernah bercerita jika selama ini sering merasakan sakit kepala hingga penglihatan menjadi berubah seperti sekarang.”
“Saya baru ingat, waktu itu usia Khayru menginjak delapan belas tahun, saya mengajarinya mengemudikan mobil yang baru saya beli. Ada sedikit kecelakaan ketika itu. Kepala saya terbentur, tapi saya berpura-pura tidak merasakan apa-apa, karena jika Khayru tahu, dia akan merasa sangat bersalah. Saya pikir juga ini hanya sakit kepala biasa.”
“Ini jadi pelajaran untuk kita semua supaya tidak menyepelekan benturan pada kepala. Kita tidak tahu jika benturan menyebabkan trauma pada jaringan otak, sehingga menjadi penyebab tumbuhnya jaringan abnormal yang bisa berkembang menjadi kanker.”
“Saya sedih karena harus meninggalkan putri saya yang masih terlalu kecil?” Akhirnya Tuan Zul menumpahkan tangisnya mengingat putri satu-satunya yang akan hidup sebatang kara di usinya yang masih sepuluh tahun, jika dirinya meninggal dalam waktu yang dekat.
“Saran saya, kita jangan menunda pengobatan. Kita harus tetap berusaha, setidaknya untuk mencegah penyebaran sel kanker.”
Tuan Zul mengikuti semua arahan dan anjuran dokter, melakukan bebagai macam therapy sebagai bentuk ikhtiar meski hanya ada sedikit kemungkinan saja untuk bisa kembali sembuh.
To be continued ....
__ADS_1