
“Katakan apa yang kalian lakukan setelah nonton film itu?!” bentaknya. Tiba-tiba dadanya seperti ingin meledak menahan rasa penasaran. Sementara Maula kembali bersembunyi di bawah selimut tanpa menjawab apa pun.
“Kenapa diam? Abang nunggu jawaban kamu.”
“Abang tebak sendiri aja jawabannya.”
“Kalau Abang tau jawabannya, gak mungkin Abang nanya.”
“Abang tanya aku dengan cara apa pun, aku tetap gak mau jawab sekarang.”
“Mau kamu apa sih, Dek? Tinggal jawab aja apa susahnya?” Khayru duduk bersila menghadap Maula. Nada suaranya mulai melembut demi mendapatkan jawaban yang sebenarnya.
“Aku maunya tidur sekarang. Ngobrolnya lanjut besok saja.” Dia bahkan tak ingin memperlihatkan wajahnya pada Khayru. Mendapat respon seperti ini tentu saja hati Khayru sedikit gelisah, curiga, dan semakin penasaran.
Beranjak dari tempat tidur, membuka jendela lalu berdiri di atas balkon ditemani deburan ombak yang saling berkejaran. Dia berdiri cukup lama meski udara malam ini terasa sangat dingin menerpa kulit. Hatinya bimbang, dipenuhi rasa penyesalan. Jangan-jangan dia telah gagal menjaga Maula.
Tiba-tiba, tubuhnya merasa hangat kala seseorang berbagi selimut dan berdiri di sampingnya. Wajah tanpa dosa itu tiba-tiba muncul, membuat Khayru tak berhenti menatapnya. Dia melirik sekilas sambil mengulum senyum lalu memandang ke depan.
“Apa?! Kenapa melihatku seperti itu?” masih tetap dengan wajah tanpa dosa.
“Ish ....” Khayru mengendikkan pundaknya.
“Anak ini sangat membingungkan. Dia benar-benar menguji kesabaranku,” batin Khayru sambil menggelengkan kepalanya lalu menghela napas.
“Abang masih akan menagih jawabanmu, ingat itu!”
Maula tak menghiraukan peringatan Khayru, dia malah menyelusup ke dalam rengkuhan laki-laki yang tengah menumpukan kedua tangannya ke pagar balkon.
“Dingin, Bang.”
“Kok, ada sih, gadis gak tau malu seperti kamu?”
Maula menutup mulutnya yang terbuka lebar karena menguap. “Ngantuk, Bang. Tidur, yuk,” Dia memperlihatkan kelopak matanya yang sudah sangat lengket.
Khayru menatap sambil menyunggingkan senyumnya. Namun, akhirnya dia mengangkat tubuh kecil itu ke atas tempat tidur.
Begitulah Maula, dia memang bandel akan tetapi dia tidak akan bisa tidur begitu saja jika Khayru masih marah. Mau tidak mau, Khayru harus menjadi orang yang selalu memaafkan kesalahannya. Apa pun itu.
“Bangun, Dek. Siap-siap ... kita sarapan.” Khayru sudah keluar dari kamar mandi dan memilih pakaian yang rapi untuk hari ini.
“Abis sarapan kita ke mana?” Maula tak segera bangkit karena matanya masih begitu rapat.
“Ikut Abang pokoknya.”
Maula segera bangun dengan cepat sambil membuka matanya.
“Sudah bisa liburan kan hari ini?” tannyanya dengan mata berbinar-binar.
“Emangnya kamu mau pergi ke mana?” Khayru mulai mengenakan pakaiannya. Dari gaya pakaiannya yang santai, Maula bisa menebak mungkin hari ini dia tidak ada kegiatan yang berkaitan dengan pekerjaan.
“*Snorkeling*, *diving*, berkuda di tepi pantai, naik ke bukit Merese, jalan-jalan ke dusun Sude, berjemur di pantai pink, pergi ke sentra tenun kain Sasak ... terus--”
“Mandi dulu, Abang tunggu di bawah,” selanya memotong ucapan Maula sambil melilitkan handuk di leher Maula.
Dia membiarkan Maula bersiap-siap, sementara dirinya pergi ke bawah untuk menyapa beberapa tamu yang mungkin sudah duduk di restoran hotel menunggu sarapan.
__ADS_1
“*Selamat pagi, Bapak ... Ibu ... sarapannya sudah datang*?”
“*Bagaimana hari ini, Tuan ... Nyonya*?”
“*Good morning, nice to meet you* ....”
“*Selamat menikmati sarapan. Semoga hidangannya memuaskan*.”
“*Tell me if you need something* ....”
Khayru tidak menyadari, seseorang sudah berdiri di belakangnya. Dia adalah seorang asisten manager yang sangat cantik dan baru masuk kerja setelah cuti beberapa hari.
“Maaf ... Anda?”
“Selamat pagi, Pak. Nama saya Katia Mayasari, asistennya Pak Ares, dia akan bertugas nanti malam.” Dia mengulurkan tangannya sambil tersenyum.
“Khayru ...,” jawabnya sambil membalas uluran tangan sambil tak lupa untuk selalu tersenyum di mana pun, pada siapa pun yang ia temui.
Mereka melanjutkan obrolan sambil berjalan berkeliling di sekitaran hotel.
“Memangnya apa yang mereka katakan tentang saya?”
“Banyak,” jawabnya sambil menatap dan tersenyum penuh arti.
“Tampan ... ramah ... muda ... sukses--”
Tiba-tiba Khayru tertawa menanggapi pujian demi pujian yang entah ke berapa kali ia dengar dari mulut orang-orang yang bahkan belum mengenalnya dengan baik.
“Kenapa mereka asal bicara? Tampan ...? Muda ...?" Dia kembali tersenyum. Katia membalas senyuman itu sambil mengangkat alisnya.
“Beberapa tahun lagi, saya akan menjadi tua. Ketampanan tidak akan artinya lagi. “ Satu hal lagi, saya hanya melanjutkan usaha orang tua angkat saya. Jadi, yang sukses itu mereka, Alm. Mama dan Papa saya. Bukan saya.”
“Ternyata Anda juga begitu rendah hati,” gumam Katia dengan pandangan lurus ke depan.
“Abang?!”
Seseorang memanggil dari arah belakang, membuatnya segera menoleh ke arah Maula yang sepertinya sedang mencari keberadaannya sejak tadi. Mereka berhenti dan berdiri menunggu Maula yang tengah berlari ke arahnya.
__ADS_1
“Dan ini adik saya. Mohon maaf, bibirnya memang seperti ini,” ucapnya sambil menarik kedua pipi Maula supaya dia tersenyum. Sontak Maula mencubit tangan Khayru yang semakin membuatnya *bete* pagi ini.
Katia tersenyum melihat keakraban Maula dan Khayru, meski pun dia tidak terlalu suka dengan wajah jutek yang diperlihatkan Maula kepadanya.
“Oh, ya. Sampai lupa. Saya akan menyiapkan sarapan untuk Anda berdua.” Dia menatap jam tangannya yang sudah menunjukk angka 07.08 WITA. “Silakan kembali ke meja dulu untuk sarapan,” ucapnya sebelum pamit menuju dept. *food and beverage*.
“Siapa lagi dia, Bang?” tanyanya sesaat setelah Katia berlalu.
“Asisten manajer. Cantik, ya?” jawabnya pelan sambil melangkah di depan Maula. Sudah bisa dipastikan bibir Maula tengah komat Kamit ingin mencibir wanita itu.
“Bang, selesai sarapan kita jalan-jalan, ya?” Maula bersemangat menghabiskan sarapannya demi bisa segera pergi ke tempat yang dia inginkan.
“Meeting dulu sama karyawan.”
“Kalau gitu, abis meeting, ya?”
“Abang masih harus memeriksa semua departemen. *Front Office*, *Food and Beverage*, *Housekeeping*, *Acounting*, *HRD*, *Engineering*, *Marketing*, *Purchasing*, *Security* ....”
“Lha, ini bisa sebulan nunggu kerjaan Abang sampe selesai. Tau begini sih mending aku liburan sama Ariel aja,” protesnya.
“Aku telepon Ariel suruh datang ke sini aja, deh,” ucapnya sambil menyisihkan piring makannya lalu mulai memainkan handphone yang berada tak jauh dari tangannya. Dengan cepat Khayru mengambil handphone tersebut sambil berdiri.
“Mau pergi ke mana, sih? Gak sabaran banget. Ayo bangun!”
Akhirnya, Khayru mengundur jadwal meeting dan segala macam urusan demi mengikuti kemauan Maula. Padahal, urusan pekerjaan jauh lebih penting untuk kemajuan bisnisnya.
“Hari ini kita jalan, tapi sebelumnya kita pergi ke suatu tempat.”
“Ke mana? Ini pasti urusan kerja. Sama aja bohong, dong. Jalan-jalan tapi sambil kerja.”
“Gak usah protes,” ketusnya sambil menarik tangan Maula. Dia minta seseorang menyiapkan sebuah mobil untuk mencari sebuah alamat yang dia simpan baik-baik dalam dompetnya. Sebuah dusun yang pernah ia datangi beberapa tahun silam. Namun, saat ini suasana sudah banyak berubah.
“Mobil hanya bisa sampai di sini. Jadi kita harus jalan kaki. Gak apa-apa kan?”
“Sebenarnya kita mau ke mana sih, Bang?” Pertanyaan yang tak kunjung dijawab membuatnya semakin penasaran, akan tetapi tak ada pilihan lain buat Maula selain mengikuti Khayru yang mulai keluar dari mobilnya.
“Ikut saja. Nanti juga tau.”
To be continue ....
__ADS_1