Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 44


__ADS_3

“Bagaimana ini? Sepertinya hubungan mereka dalam masalah besar,” Aldi menggelengkan kepala saat Khayru dan Maula bergegas meninggalkan ruangan.


Ting!


Pintu lift yang mereka tumpangi, terbuka di lantai dasar. Maula bergegas keluar. Namun, Khayru menarik tangannya dan menekan kembali salah satu tombol di sebelah kanan hingga pintu lift kembali tertutup.


“Biar aku naik taksi saja.” Maula berusaha melepaskan tangannya, akan tetapi genggaman tangan Khayru semakin erat.


Pintu lift pun kembali terbuka di lantai basement (ruang bawah tanah), tempat di mana Khayru memarkirkan mobilnya. Sikap Maula yang dingin, membuat Khayru tidak nyaman. Dia bingung harus menjelaskan apa karena Maula bersikeras mengatakan bahwa dirinya tidak marah. Namun, sepertinya bahasa tubuh Maula tidak cukup pandai untuk berbohong.


“Kamu marah?” Khayru melirik sekilas disela mengemudi.


“Enggak, Bang,” jawabnya sambil tetap memandang ke luar.


Mobil berhenti di halaman rumah. Maula bahkan tak ingin menunggu suaminya. Dia keluar lalu berlari ke dalam kamar. Saat Khayru coba masuk, pintu kamar sudah terkunci rapat.


Kamu marah. Kenapa tidak bilang kalau kamu sedang marah? Khayru masih berdiri di depan pintu sebelum akhirnya kembali ke kamarnya.


Aku tidak marah. Aku bisa memaklumi jika Abang tidak bisa mencintaiku, tapi sulit bagiku untuk memaafkan jika Abang mengumbar kekurangan yang aku miliki pada orang lain. Ini sangat melukai perasaanku. Maula masih bersandar di pintu kamarnya. Dia bisa mendengar suara sepatu Khayru yang berhenti di sana lalu berputar arah.



Setelah selesai makan malam, Maula izin undur diri karena banyak PR sekolah yang harus dia selesaikan malam ini.



“Abang mau bantu kamu ngerjain PR.” Khayru segera berdiri tanpa menghabiskan makanannya. Dia tidak ingin melewatkan setiap kesempatan apa pun untuk bisa mendekati Maula. Namun, akhirnya selalu gagal.



“Gak usah, gak usah!” cegah Maula. Dia meminta Khayru duduk kembali untuk menyelesaikan makan malamnya. “Aku bisa sendiri, kok. Kalau ada Abang nanti malah bercanda Mulu.” Maula beralasan.



Khayru hanya memandangi Maula yang semakin hari, semakin aneh. Sejak saat itu mereka tidak pernah lagi tidur satu kamar karena Maula lebih suka mengunci diri di kamar dengan alasan butuh konsentrasi belajar. Ketika Khayru datang memeluk dan mencium kepalanya, perlahan dia akan berusaha melepaskan diri dan menjauh. Bahkan dia sering mengabaikan Khayru yang sudah siap mengantar dan menjemputnya karena lebih suka meminta tumpangan pada Rere dan Nikita. Di rumah pun masih ada Katia yang bisa dia mintai bantuan jika benar-benar dibutuhkan dari pada meminta bantuan Khayru.



Sore itu Khayru berdiri di depan pintu. Sengaja menunggu Maula pulang sebelum dia menghindar lagi.



“Dek, Abang ada sesuatu untukmu.” Dia ingat betul hal yang Maula inginkan saat ini, hal yang membuat Maula memohon dan merayu-rayu demi mendapatkannya.



“Apa itu, bang?” Maula mendongak seraya membuka ikatan tali sepatunya.



Khayru tersenyum sambil menunjukkan sebuah kunci mobil yang sengaja dia beli untuk Maula, akan tetapi ekspresi Maula ternyata tetap datar. Jauh dari perkiraannya.



“Mobil baru buat kamu.”



“Aku gak lagi ulang tahun kan hari ini?” Maula mengerutkan dahinya.



“Apa pun yang kamu mau, Abang tidak perlu menunggu hari ulang tahun untuk memberikannya,” ucapnya sambil mendekat.

__ADS_1



“Oh ... ya udah, makasih, Bang. Aku masuk dulu ya.” Maula sama sekali tidak tertarik dengan apa pun saat ini.



“Mobilnya ada di luar, loh. Kamu tidak ingin melihatnya dulu? Nanti sekalian Abang ajarin kamu nyetir!” seru Khayru saat Maula mulai melangkah.



“Lain kali sajalah, Bang. Aku lebih suka nebeng mobilnya Rere dari pada harus cape-cape nyetir sendiri. Maaf, ya, Bang.”



Lagi-lagi, Khayru gagal. Usahanya sia-sia. Hingga suatu hari terdengar sebuah pertengkaran di depan kamar mereka yang cukup menyita perhatian seisi rumah. Khayru yang tidak tahan dengan perubahan sikap Maula, terus memohon supaya Maula mengatakan apa pun yang mengganggu pikirannya selama ini. Itu lebih baik dari pada dia harus bersikap dingin padanya.



“Abang jangan khawatir, karena aku cukup dewasa sekarang. Jika ada masalah, aku akan lebih dulu memberitahu Abang dibanding orang lain. Bukankah istri adalah pakaian buat suaminya begitupun sebaliknya. Harus mampu saling menutupi aib pasangannya masing-masing.” Maula menatap dengan mata yang mulai basah. Namun, dia tetap berusaha untuk tidak menjatuhkan air matanya.



“Kamu ini bicara apa? Aib yang mana?!”



“Aku tidak akan bilang pada siapa pun jika perasaan Abang sesungguhnya bukan buat aku tapi buat Tante Risa.”



Khayru segera memeluk tubuh kecil yang tengah menatap ke arahnya. “Apa yang kamu pikirkan selama ini?” Khayru tidak pernah tahu jika malam itu, Maula mendengar dan melihat adegan Risa yang memeluknya.




“Sudah jangan bicara lagi. Semua itu tidak benar.”



“Kita bisa berpisah sebelum Tante Risa menikah dengan Om Aldi. Abang bisa kejar cinta sejati Abang sebelum terlambat. Dan aku bisa hidup seperti anak-anak lain seusiaku. Aku tidak dipaksa menjadi tua sebelum waktunya lagi.”



“Kamu ... semakin lama bicaranya semakin ngawur, Dek.”



“Aku tidak ngawur. Ini keinginanku yang sesungguhnya sebelum memutuskan untuk mengikuti kemauan Papa.”



“Lalu kamu mau mencurangi amanat Papa kita?”



“Aku rasa, Papa hanya ingin melihatku hidup lebih baik terlepas ada dan tiadanya Abang di sisiku.” Maula kembali menatap sambil tersenyum.



“Aku janji dan akan aku buktikan jika aku bisa hidup lebih baik. Menjadi anak yang pintar, tidak pemarah lagi, simpati pada orang-orang di sekitarku. Meski pun tanpa ada Abang.”


__ADS_1


Khayru melepaskan pelukannya perlahan, sambil menatap Maula dalam-dalam. Ia tak mengira jika gadis itu akan mengatakan hal seperti ini meskipun dia pernah membayangkannya saat dia menyampaikan amanat Tuan Zul di hari ulang tahun Maula.



*Bagaimana bisa matanya berbinar dan sangat yakin ingin berpisah*?



“Abang tak ingin mendengar apa pun. Masuklah ke kamarmu.”



Maula masih ingin menyampaikan sesuatu. Namun, urung saat sudut matanya menangkap bayangan beberapa orang yang tengah menguping pembicaraan.



“Masuklah!” Khayru mengulangi perintahnya. Hingga Maula benar-benar masuk sambil menunduk. Khayru melakukan hal yang sama setelah menegur beberapa ART yang masih berdiri menangkap tanda-tanda perselisihan di antara Khayru dan Maula.



“Kalian juga! Kenapa masih berdiri di situ? Kembalilah ke tempat masing-masing.” Seketika mereka bubar dan Khayru bisa masuk ke kamarnya. Dia hanya berdiri lalu duduk di ujung tempat tidur sambil berpikir sangat keras. Lalu berdiri lagi sambil meremas rambut. Melangkah ke tepi jendela lalu duduk lagi. Begitu seterusnya.



“Apa yang sebenarnya ada dalam pikiran anak itu. Kenapa bisa bicara se kacau itu?” Khayru mengusap wajahnya dengan kasar.



Pagi itu, mereka bersiap-siap di kamar masing-masing. Sambil melangkah menuju pintu, dia merogoh handphone yang berbunyi di saku jasnya.


“Ayah ... Assalamualaikum, Ayah.” Khayru nampak bahagia bisa mendengar suara ayahnya di balik telepon.


“Waalaikum salam, Nak. Kamu ke mana saja? Sampai lupa dengan ayahmu.”


“Maafkan anakmu ini, Ayah, belum sempat untuk pulang ke sana?”


“Kalau begitu, kapan kamu bisa pulang?”


“Iru belum bisa meninggalkan Maula saat ini, Ayah.”


“Apa kamu tidak mau mengenalkannya pada ayah? Bawalah dia sesekali menemui ayah.”


“Dia masih sibuk persiapan ujian sekolah, Ayah.”


“Kalau begitu, carilah waktu yang tepat.”


“Baik, Ayah. Iru akan cari waktu yang tepat untuk pulang ke Maroko,” ucapnya sambil membuka pintu kamar. Beberapa langkah dari pintu kamar, Maula pun baru saja keluar dari kamarnya. Dia sempat berhenti sesaat saat mendengar kalimat terakhir yang diucapkan suaminya. Seperti mencium bau-bau perpisahan karena Khayru memiliki seorang Ayah yang juga tidak bisa diabaikan.


Maula memutar badannya untuk kemudian bertanya. “Abang mau pulang ke Maroko?”


“Untuk beberapa hari saja. Tapi jika kamu keberatan, Abang akan menundanya.”


“Untuk bertemu orangtua, kenapa harus menundanya? Berangkat saja kapan pun Abang mau. Lain kali tidak usah meminta izinku.”


To Be Continue ....


Untuk semua readers tersayang. Dari hati yang paling dalam, saya mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1442 Hijriah. Mohon maaf lahir dan batin 🙏


Taqabbalallahu minna waminkum wa ahalahullahu 'alaik


: تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ, وَأَحَالَهُ اللَّهُ عَلَيْك


"Semoga Allah menerima (amalan) dari kami dan darimu sekalian dan semoga Allah menyempurnakannya atasmu"

__ADS_1


__ADS_2