Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 59


__ADS_3

“Syukurlah kamu belum tidur.” Saat Aldi melihat Maula datang bersama Katia.


“Iya, Om. Ada apa, ya, malem-malem begini?”


Katia bantu menyampaikan apa maksud kedatangan Aldi malam ini. Dan ternyata Maula menyambut dengan baik niat baik Aldi itu karena, jujur dia masih butuh bimbingan untuk masuk perguruan tinggi.


“Jadi, kamu sudah putuskan kuliah di mana? Sebaiknya jangan terlalu jauh lokasinya dari gedung kantor kita. Supaya Om dan Katia tidak kesulitan memantau kamu, La.”


“Pilihannya antara, ESMOD Jakarta, LCI Jakarta, Bunka school of Fashion, Raffles Institute of Highher Educatin. Menurut Om sama Kakak Tia, mana yang paling bagus?”


“Dalam hal ini, Kakak belum bisa kasih kamu saran, Dek. Kakak belum begitu tahu seluk beluk perguruan tinggi di sini. Coba kita denger saran Pak Aldi saja,” Katia lebih memilih menyimak saja.


Aldi sedikit mengernyit. “Kamu mau ambil jurusan apa di sana, La?” Setahu Aldi, itu semua Universitas terbaik di bidang Fashion. Ini bertolak belakang dengan permintaan Khayru yang menginginkan Maula kuliah di bidang bisnis. Karena mau tidak mau, Maula harus memimpin perusahaannya kelak.


“Kalau menurut Om, 'Internasional Bussines school' akan menjadi pilihan terbaikmu, loh.” Ia coba memberi saran. “Selain lokasinya ini hanya beberapa langkah saja dari gedung kantor kita, Om sama Abang kamu juga dulu kuliah di sana. Yang menarik, perkuliahan bisnis di sana menggunakan Bahasa Inggris. Bahkan, metode pembelajarannya pun mengadaptasi perkuliahan Harvard University. Gimana menurut kamu?” Aldi berharap, Maula akan tertarik.


“Maaf, Om, sepertinya aku gak begitu tertarik untuk mendalami ilmu bisnis. Aku lebih minat kuliah di bidang design fashion saja.”


“Kamu pemilik saham terbesar di perusahaan Tuan Zul, Otomatis akan menjadi pemimpin di perusahaanmu sendiri nantinya.” Ucapan Aldi untuk memberi motivasi pada Maula supaya dia tertarik mengelola bisnis.


Sungguh Maula tak ada keinginan terlibat dalam dunia bisnis, akan tetapi yang dikatakan Aldi memang benar. Jika dulu, ia bebas mengikuti minatnya, karena ada suami yang juga mewarisi harta sang ayah. Kini berbeda, Maula dituntut untuk tidak bergantung pada orang lain. Dia harus bisa.


“Baiklah, Om. Kasih waktu aku untuk berpikir. Keputusannya, nanti aku kasih tahu sama Kakak Tia biar dia sampein ke Om.”


Supaya tidak pulang terlalu malam, Aldi segera pamit pada Katia dan Maula. Dia memang terlihat sangat lelah, ingin segera beristirahat di rumahnya. Aldi hampir melupakan kotak itu lagi yang akhirnya dia letakkan di depan pintu.


Mang Sodik yang terlebih dulu menemukannya di pagi hari, segera menyerahkan kota itu pada sang pemilik. Meski tak ada keterangan pengirim, akan tetapi ada nama Maula sebagai penerima dalam kartu ucapan itu.


“Itu untukku, Mang?” tanya Maula heran. “Dari siapa?” Dia meminta Mang Sodik membacakan isi kartu ucapan di atas kotak.


“Bahasa Inggris, Non. Mamang gak bisa bacanya.” Langsung saja dia menyodorkan kotak itu beserta kartunya. “Yang mamang tau, ada nama Enon di sana.”


Congratulation on your graduation, Maula.


Maula sempat bingung, tapi dari kemasannya dia bisa tahu dari butik mana barang itu berasal. Dia buka sebentar untuk melihat isinya, lalu segera menelepon sang designer kenamaan yang sudah beberapa kali merancang dress untuknya di waktu yang lalu. Setelah dia tahu siapa pengirimnya, Maula hanya meninggalkan kotak itu di teras rumah lalu pergi ke sekolah. Ada gladi resik terakhir hari ini, karena wisuda akan digelar esok hari.




Sepulang sekolah, Maula kembali melihat kotak yang ia tinggalkan sudah berada di bawah pintu kamarnya. Dia hanya menunduk menatap benda itu dan akhirnya dia mengambil sambil memandangi diiringi helaan napas panjang.



Dia bawa kotak itu ke dalam kamar. Sempat ia sembunyikan di bawah meja karena tak pernah terpikir olehnya untuk memakainya besok. Namun, ketika malam saatnya dia mulai membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, tiba-tiba dia bangun untuk mengambilnya. Dia buka perlahan dan mengeluarkan setelan kebaya merah muda yang menjuntai sepanjang rok batik bawahannya. Dia cukup menempelkannya di badan, sudah bisa dipastikan ukurannya sangat pas. Kenapa Khayru bisa memesan baju dengan ukuran Maula yang selalu pas?



Maula duduk dengan tangan masih memegangi baju itu, lalu memutar kepalanya sambil memandangi sandaran tempat tidur. Selalu saja ada bayangan yang selalu mengajak main-main.



Khayru duduk di sandaran tempat tidur seperti biasanya menjemput rasa kantuk dengan membaca sebuah buku yang berjudul **Garis Waktu** karya **Fiersa Besari**. Sementara Maula baru saja menaiki ranjang sambil merangkak dari ujung tempat tidurnya.



“Bang! Abang katanya punya tips buat manjangin kaki aku,” ucapnya sambil duduk di sebelah Khayru lalu ia menggoyang-goyangkan kaki suaminya yang panjang menggunakan kaki miliknya yang pendek, karena suaminya masih saja bergeming.

__ADS_1



“Bang! Tipsnya apa?” desak Maula kembali menggoyangkan kaki mereka yang terjulur ke depan.



“Tipsnya ya tidur,” jawabnya enteng sambil menutup buku yang dibaca lalu menarik selimut.



“Loh, kok, tidur?”Sambil menarik tangan Khayru. “Jangan tidur dulu!” bujuknya.



“Beneran mau tau?”



Maula mengangguk cepat.



“Kaki kamu ... ya ... direndem seharian ... pake minyak tanah. Dijamin melar. Cobain gih!” ucapnya lalu bersembunyi di balik selimut.



“Abaaanggg!!! Dikira karet apa kaki aku?”



Khayru tertawa terbahak lalu bangun kembali sambil mencubit pipi Maula.




“Gini, ya ... jadi tinggi badan seseorang itu dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu genetik (keturunan), gizi, dan lingkungan. Genetik dalam hal ini adalah tinggi badan kedua orangtua. Abang ada rumus memperkirakan tinggi badan berdasarkan tinggi orangtuanya, loh.”



“Masaa?”



*Anak laki-laki\= (Tinggi Ibu \+ 13) \+ Tinggi Ayah (dalam cm) dibagi 2 ± 8,5 cm*



*Anak perempuan \= (Tinggi Ayah - 13) \+ Tinggi Ibu (dalam cm) dibagi 2 ± 8,5 cm*



“Tapi perlu diketahui bahwa penambahan tinggi badan dapat dilakukan apabila lempeng pertumbuhan yang terdapat di tulang panjang masih terbuka. Lempeng tersebut terbuka pada saat usia pubertas dan umumnya akan menutup pada usia 20-21 tahun.”



“Kok, Abang bisa tau?”

__ADS_1



“Di kasih tau sama dr. Atika,” pungkasnya sambil kembali menyembunyikan diri di balik selimut.



“Dr. Atika yang mana, Bang?! Heyy ... jawab dulu! Aku taunya dr. Lutfie sama istrinya.”



“Selingkuhan Abang!” teriaknya masih dari balik selimut, membuat Maula ingin menerkamnya.



“Kalau gitu aku mau selingkuh juga, besok!” Dia turut menarik selimut sambil memunggungi suaminya, membuat Khayru terbangun sambil tertawa.



“Hahaha ... itu, loh, dr. Atika yang jawab layanan e-Konsultasi Tanya Dokter di KlikDokter.com.”



“Ngapain tanya-tanya dokter di situs begituan? Kurang kerjaan.” Maula memutar badannya dengan mulutnya yang masih mengerucut.



“Ya biar ada jawaban kalau kamu tanya-tanya lagi. Kamu kan gak bisa diem kalau belum dijawab.” Dia masih terkekeh. “Meskipun sebenarnya, Abang bisa menebak perubahan tinggi badan kamu ini, nih,” ucapnya sambil menggoyangkan kaki Maula dengan kaki panjang miliknya.



“Tidur gandengan kek gini sejak kamu bayi, Abang masih ingat, kapan kaki kamu panjangnya sampai paha Abang, terus tambah dikit nyampe lutut, bawah tutut, betis,” ucapnya sambil menunjuk bagian- bagian kakinya sendiri. “Bahkan, Abang bisa hafal berapa inci kamu tumbuh tiap malam,” lanjutnya sambil menunjukkan ujung kukunya. Khayru sedikit mendramatisir ucapannya untuk menunjukkan betapa dia tahu hal terkecil tentang Maula.



Maula langsung menyergap tubuh suaminya sambil tersenyum. “Aku kira, Abang benar-benar selingkuh hehe ... Aku bisa murka, loh, Bang.”



“Pokoknya, tidur yang cukup adalah salah satu cara untuk memanjangkan kaki karena pada 1-2 jam pertama usai kita terlelap, hormon pertumbuhan akan bekerja dalam darah. Itu artinya, tidur yang cukup setidaknya 8 jam setiap malam sangat penting bagi remaja maupun dewasa yang ingin lebih tinggi. Jadi ... pilih mana? Mau tidur apa mau ditiduri?” selorohnya.



Maula mengguncang kepalanya sangat cepat lalu menutup kotak itu dan meletakkannya di sembarang tempat. Dia bergegas tidur. Tidak ingin berpikir banyak hal karena harus fokus dengan hari wisudanya besok.



*Aku sudah siap jika besok harus datang tanpa kehadiran Abang lagi. Aku akan terbiasa dengan ini*.



To Be Continued ....



\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_1


Kira-kira ... Khayru datang apa enggak di hari wisuda?


__ADS_2