Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 66


__ADS_3

“Ya udah suruh tunggu bentar, deh. Minta Kakak Tia yang temenin dulu, ya.”


Setelah mengenakan penutup kepala dan outer panjang yang membalut piyamanya, Maula segera turun ke ruang tamu, menemui lelaki dewasa yang datang seperti yang dikatakan Neneng. Ternyata tidak hanya dewasa, lelaki itu sudah hampir paruh baya. Dia berdiri membelakangi, tengah menunggu Katia yang membawakan minum untuknya.


“Assalamualaikum ....” Suara Maula membuatnya memutar badan.


“Waalaikumsalam ...,” balasnya sambil tersenyum.


Maula merasa lega saat dia tahu yang datang ternyata sopir yang membawa pergi Kartu identitasnya beberapa hari yang lalu. Dia khawatir jika kartu identitas itu dibawa kabur dan disalah gunakan oleh orang jahat, karena seharusnya lelaki itu sudah mengembalikannya sore di hari yang sama.


“Hhh ... syukurlah, anda datang.” Maula menghela napas lalu mempersilakan lelaki itu untuk duduk. Tak lama Katia datang dari dapur, meletakkan minuman di atas meja lalu duduk di sebelah Maula. Hatinya ingin bertanya, siapa lelaki yang datang itu. Namun, dia memilih menyimak terlebih dahulu.


“Gimana? Tidak sulit, kan, mencari keberadaan saya?” tanya Maula. “Saya tunggu Bapak dari kemarin, loh. Kenapa baru datang sekarang?”


“Iya, maaf Mbak, saya sibuk,” ucapnya sambil menatap sekeliling rumah. Entah dia tidak menyangka jika Maula tinggal di rumah sebesar dan semewah ini, atau dia melihat sesuatu yang beda di ruangan itu. Yang pasti, dia sedikit berpikir keras menemukan jawabannya.


“Saya akan ganti biaya perbaikan mobil, berikan bill-nya, Pak.”


Sopir itu pun mengeluarkan kertas kecil yang diberikan pemilik bengkel, tempo hari. “Ini, Mbak. Biaya sudah dibayar sama majikan saya, tapi saya harus segera menggantinya, kalau tidak ... Krekk! dia bisa bunuh saya.” Dengan gerakan tangan memotong lehernya.


Maula mengambil kertas itu dari atas meja, akan tetapi dia kaget melihat sembilan digit angka yang berderet, dengan mata terbelalak, ia meletakkannya kembali. “Sepertinya tertukar, Pak.”


“Enggak, kok. Itu emang benar tagihannya,” jawab supir dengan santai.


“Tapi itu angkanya? Coba dilihat lagi.”


Katia yang penasaran meraih kertas itu dan melihatnya. “Ini tagihan apa?” tanyanya sambil memandang ke arah Maula.


Tiba-tiba sang sopir menjelaskan kejadian itu dengan lantang dan mengaku bahwa kerusakan mobil mewah milik majikannya memang sangat parah hingga memakan biaya yang sangat fantastis untuk memperbaikinya.


“Wajar saja, sih, biaya perbaikannya sangat mahal karena mobil majikan saya itu kan limit edison (limite edition)”


“Tapi, Pak. Gak mungkin segini juga, kali. Biaya perbaikan kok hampir sama dengan harga mobil baru? Bapak sedang memeras adik saya, ya?”


“Loh, emang kenyataannya seperti itu, kok.”


“Dek ....” Katia beralih pada Maula yang tidak nampak marah sedikit pun saat seseorang sedang coba menipunya. “Coba kamu ceritakan separah apa kerusakan mobilnya?”


“Sebanding dengan kerusakan mobil aku kemarin sih, Kak. Gak jauh beda, hanya saja itu bagian depan. Mobilku kena bagian belakang.” Maula hanya mengangkat bahu saja.


“Nah, berarti sudah bisa ditaksir kan, biayanya. Perbaikan bemper yang penyok gak lebih dari lima ratus ribu, biaya pengecatan ulang juga sekitar lima ratus doang. Itu kisaran paling mahal, loh,” terang Katia.


“Mbak! Mbak jangan seenaknya menyamakan mobil Mbak dengan mobil majikan saya, dong, Mbak! Ini jelas beda! Dan kerusakan juga jauh lebih parah, karena ada komponen yang harus diganti, harganya sangat mahal, karena susah nyarinya, itu kata montir saya kemarin. Udah gitu, saya kena marah karena mobil majikan saya tetap gak bisa seperti baru lagi meski sudah di servis sedemikian rupa. Mbak mau ganti sama yang baru?” cerocos sang supir sudah mirip seperti petasan yang menyambut iring-iringan pengantin. Katia sampai pusing mendengar suara lelaki paruh baya itu.


“Astagfirullahaladzim.” Sambil mengusap dada.


“Sayangnya, Mbak gak bakalan Nemu mobil kayak gitu. Limit edison, Mbak. Li-mit e-di-son. Ngerti, Mbak?”


“Limite edition kali, Pak,” ralat Katia sambil mengulang dengan ejaan bahasa Inggris yang benar. Katia geli dengan tingkah sopir yang so tahu itu. Baru jadi sopir mobil mahal aja udah belagu apalagi kalau jadi pemiliknya, ck ....


“Iya, itu maksudnya.” Sang sopir yang belum diketahui namanya itu manggut-manggut.


“Baiklah Pak, sebelum kepala saya bertambah pusing lagi, Bapak tolong berikan saya nomor rekening Bapak. Saya transfer uangnya, tapi kembalikan KTP saya dulu, detik ini juga.” Maula lebih ingin menyelamatkan Kartu identitasnya dibanding uang ratusan juta yang dia minta.


“Loh, majikan saya kan gak bodoh. KTP Mbak, dia yang pegang karena saya belum mengganti biaya kerusakan kemarin, Mbak. Jadi saya gak pegang KTP Mbak lagi sekarang.”


Katia membulatkan matanya sambil mengusap dada. “Majikan anda memang tidak bodoh. Dan kami juga bukan orang bodoh yang bisa anda tipu begitu saja.”


“Dek! Kamu jangan langsung kasih dia uangnya gitu aja. Kita suruh datang saja majikannya, biar kita bicara langsung sama dia.”


“Maaf, majikan saya orang yang sangat sibuk. Dia gak mungkin datang ke sini.” Dia menggeleng dengan yakin.

__ADS_1


“Terserah, ya, Pak. Kita gak mau bayar apa pun, kecuali dia menghadap saya.” Katia berdiri dari duduknya sambil berkacak pinggang. “Dan sekarang, Bapak pulang karena kami harus istirahat. Kami juga orang sibuk sama seperti majikan Bapak.”


“Jadi, Mbak gak mau bayar, nih? Oke ... kita ketemu di kantor polisi aja dah kalau gitu,” ucapnya dengan percaya diri lalu berdiri, bersiap untuk pulang.


“Boleh, Pak. Jangan lupa, bawa barang bukti, ya!” tantang Katia, sedikit mengeraskan suaranya karena sopir itu mulai melangkah keluar.


Sang sopir kalah telak, akhirnya pulang dengan tangan kosong. Uang ratusan juta itu tidak bisa ia kantongi malam ini. Ia harus kembali menghadap sang majikan di suatu tempat.


Sementara Sebelum tidur, Katia sedikit menegur adiknya yang hampir tertipu ratusan juta dalam sekejap mata.


“Aku cuma khawatir dengan KTP-ku Kak. Sepertinya besok harus ke kantor polisi, bikin surat kehilangan dulu. Sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.”


“Iya, sekalian cari bukti juga kalau kita gak ngerusak mobil mereka.”


“Tenang aja, Kak. Di kafe, kan ada CCTV,” jawabnya sambil mengerling.


“Oke, sip.” Katia mengacungkan jempolnya. “Gak usah takut kalau kita gak salah, iya, gak?”


Maula mengangguk setuju, lalu memeluk Katia sebelum akhirnya mereka masuk ke kamarnya masing-masing.




Seorang lelaki yang selama beberapa Minggu ini mengisi kamar tamu di kediaman Kiai Abdurrahman, tengah menggaruk-garuk punggung dan lehernya yang memerah terkena alergi akibat salah makan beberapa hari yang lalu.



“Wes tau alergi kacang tanah, malah dimakan Sampe abis to, Mas?”



“Gak papalah, demi cinta,” selorohnya.




“Haha ... terima kasih, Mas Cahyo.” Sambil mengenakan kembali kaos putihnya yang tipis. “Biasanya gatal-gatal ini cepet ilang, kok. Asal rutin dikasih obat.”



“Sama-sama, Mas Cahyo,” jawab lelaki yang membantunya. Spontan, mereka berdua tertawa, mengingat keduanya memanggil dengan nama yang sama.



“Hahaha ....”



“Kenapa tertawa, Mas? Nama kita memang sama, 'kan, sekarang?” Mereka masih terkekeh.



“Saya ini heran sebenarnya.”



“Kenapa, Mas?”


__ADS_1


“Wong saya lihat di mana-mana orang-orang tuh datang ke salon tujuannya kan biar cantik, biar ganteng. Biar bening gitu mukanya kayak bintang korea, Iya, *toh*?”



“Terus?”



“Lha saya heran aja *karo* *sampeyan*. Saya *ndak* pernah lihat yang kaya Mas Iru, nih. Tiap hari menghabiskan uang di salon cuma buat bikin penampilannya mirip saya yang amburadul ini . *piye*?”



“Hmm ... ” Khayru nampak menautkan kedua alisnya yang tebal sambil menyiapkan sebuah jawaban. “Mungkin karena saya ini seorang pengecut. Tidak lebih dari seorang pecundang.”



“*Ndak*.”Cahyo menggeleng yakin. “Bukan itu jawaban sebenarnya. Mas Iru bukan pecundang tapi seorang pejuang.” Cahyo mengepalkan tangannya. “Semangat ya, Mas, buat dapetin kembali hati mantan.”



Khayru mengangguk sambil menghela napas. “Awalnya, saya pikir cukup datang ke rumah Maula lalu menikahinya lagi, tapi ... ketika saya minta izin Pak Kiai. Saya malah dimarahinya habis-habisan.” Khayru pun tertawa. Namun, ia sedih mengingat kesalahan yang dilakukannya satu tahun yang lalu. Terlalu mudah ia mengucapkan ***talak Sharih³***.



“*Nak, Iru, saya bukannya tidak mendukung niat baikmu, Nak. Hanya saja, tolong jangan permainkan sebuah ikatan pernikahan. Sebisa mungkin, menikahlah sekali dalam seumur hidup. Bukan menikah lalu bercerai setelah bosan. Menikah lagi setelah berubah pikiran lalu bercerai ketika ujian datang. Menikah tidak sesederhana itu*.”



“*Seorang suami memiliki hak penuh atas talak. Ini bukan tanpa alasan, karena lelaki diharapkan bertindak secara logis. Berpikir jauh ke depan. Tolong ikat dengan erat kata talak. Saat menemui kesulitan dalam pernikahan. Karena akan selalu ada badai yang datang menghadang*.”



Bukan cuma Khayru. Di waktu yang berbeda, Maula pun sempat dihujani teguran halus perihal dirinya yang mengaku bahwa perceraian itu terjadi atas permintaannya. Maula harus mengerti bahwa dalam syariat Islam, ada rambu-rambu yang harus diperhatikan saat seorang istri meminta cerai terhadap suaminya.



“Jadi ... dengan kata lain, Mas Iru sedang menyelidiki isi hatinya Mbak Maula, supaya tidak gagal lagi saat menikahinya nanti, begitu?”



“Saya juga ingin mengembalikan kebahagiaannya. Kalau bisa.”



“*Saged. Mesthi saged, Mas*.” (Bisa. Harus bisa, Mas)



Obrolan duo Cahyo berlanjut dengan les bahasa Jawa yang mereka lakukan setiap malam sambil bercanda. Cahyo Ori telah berhasil mencetak kembarannya menjadi Cahyo kw yang sama persis. Untungnya, dulu Cahyo sangat jarang mengeluarkan suara, jadi Maula tidak terlalu melihat perbedaan suara mereka dalam logat Jawa. Bahkan perbedaan wajah tidak kentara karena Maula tak pernah menatap wajahnya.



Sebenarnya, mereka tidak cuma berdua karena masih ada satu orang lelaki lagi yang akan segera datang menyampaikan laporannya.



\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


**³Talak Sharih** adalah talak yang diucapkan suami kepada istri, dilakukan dengan bahasa tegas dan jelas.


(Sumber : pustaka madzhab)

__ADS_1



To Be Continued ....


__ADS_2