Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 8. Akad rahasia


__ADS_3

“Saya ingin menggunakan hak Ijbar saya sebagai wali mujbir sebelum saya meninggal dunia. Karena hanya ini yang bisa saya lakukan untuk melindungi putri saya yang masih berumur sepuluh tahun.”


“Ini gak mungkin, Pa. Maula itu adikku. Mana bisa aku menikahinya?”


“Kalian tidak punya hubungan darah, Ru. Posisimu tidak akan kuat untuk bisa melindungi Maula, selain menjadi suaminya.


Papa mau kamu selalu di sampingnya. Jangan biarkan dia sendiri setelah papa meninggal nanti.”


“I-iya, tapi ... Maula masih kecil, kita bisa pikirkan dulu cara yang lain.”


“Benar Pak Zul, ini sedikit bersinggungan dengan hukum di negara kita. Setidaknya, kita harus menunggu usia Maula sampai sembilan belas tahun dulu, baru menikahkannya.” Walau bagaimana pun, pengacara Suryadi merupakan seorang aparat penegak hukum, dia menyarankan supaya rencana ini dipikirkan lagi baik-baik.


“Saya ingin sekali menjadi wali dalam pernikahan putri saya, sementara saya tidak yakin bisa menunggu sampai usianya dewasa.”


Terjadi perdebatan yang cukup lama. Termasuk Pak Kyai, dia tidak begitu menyetujui rencana Tuan Zul karena meskipun diperkenankan dalam fiqih Islam, dia tak ingin menjadi orang yang disalahkan di kemudian hari. Namun, dengan berbagai pertimbangan akhirnya pernikahan paksa itu terjadi karena satu kondisi dan juga beberapa syarat yang harus dipenuhi.


“Baiklah ... jika memang pernikahan ini harus terjadi, lakukan semuanya sesuai dengan syariat Islam yang diyakini,” tegas Pak Kyai. Akhirnya dia mengabulkan keinginan Tuan Zul.


“Setelah Maula cukup umur, kalian bisa meresmikan pernikahan kalian secara hukum, pengacara akan membantu kalian. Jadi, papa minta kamu jangan menggaulinya sebelum dia cukup dewasa. Maaf jika permintaan papa terlalu membebanimu, Ru.”


“Tapi masalahnya, bagaimana jika setelah Maula dewasa, dia menyukai lelaki pilihannya sendiri, Pa?”


Tuan Zul menghela napasnya sambil berpikir. “Sebenarnya, papa berharap hanya kamu yang akan menjadi jodoh Maula. Jangan sampai ada perpisahan, tapi ... semua terserah kalian selama kalian, terutama jika Maula bisa membedakan mana yang baik dan tidak untuk dirinya sendiri.”


Ijab qobul pun diucapkan dengan haru terdengar lantang di sebuah ruanganr—rumah Tuan Omar—di Maroko. Dipimpin Pak Kyai dan disaksikan tiga orang saksi seperti keinginan Tuan Zul.


Dia menitikkan air matanya mengingat pernikahan yang harus dilakukan dengan cara seperti ini. “Mulai detik ini, papa serahkan tanggung jawab papa atas Maula kepadamu. Maafkan papa jika ketika kalian menjalankan rumah tangga nanti, papa sudah tidak ada di dunia ini.”


“Pa, tolong jangan bicara seperti itu.” Khayru memeluk Tuan Zul. “Tetap berprasangka baik pada Allah, Pa.”


“Setidaknya, papa lebih tenang sekarang.”

__ADS_1


Dia bisa bernapas lega, lebih tenang meskipun selalu merasakan ajal sudah semakin dekat mengintainya. Dia menyiapkan segala sesuatunya seperti dia akan mati esok hari. Dia pun meminta tiga orang penting ini untuk membimbing anak-anaknya kelak setelah dia tiada. Selain itu, dia meminta Tuan Omar untuk kembali ke Jakarta bersama Khayru. Namun, dia menolak. Dia merasa baik-baik saja meskipun harus tinggal sendiri di Maroko.


“Tidak apa-apa, saya tetap di sini. Saya yakin, anak saya tidak akan melupakan ayahnya meskipun kami berjauhan.”


Semua urusan dirasa sudah selesai. Tuan Zul bisa pulang dengan lega. Kekhawatiran atas anak gadisnya sudah hilang dari pikirannya.


“Pa, kenapa kita tidak pulang sama-sama saja Minggu depan, setelah urusan Iru di sini selesai.”


“Kasian Maula kalau terlalu lama ditinggal. Lagi pula, Pak Kyai, dokter dan pengacara banyak urusan penting di sana. Gak apa-apa. Selesaikan saja dulu urusanmu, setelah itu papa tunggu di Jakarta.”


Mereka berpamitan dan berpisah di bandara, untuk bertemu kembali beberapa hari yang akan datang. Pesawat lepas landas ke udara dan Khayru pulang ke rumahnya. Dia menyiapkan banyak hal karena setelah ini akan meninggalkan ayah kandungnya di Maroko. Meski begitu, masih akan ada orang-orang kepercayaan Tuan Zul yang tetap menjaga di sana.


Setiba di Jakarta, Kesehatan Tuan Zul semakin memburuk. Namun, raut wajahnya sangat damai. Dia lebih banyak tersenyum menjelang hari-hari terakhirnya. Waktunya lebih banyak dia habiskan bersama Maula di rumah.


“Nak, kamu sudah salat?” tanyanya ketika Maula datang menemui. Suaranya begitu parau dan lemah.


“Sudah, Pa.”


“Maula juga doain mama tadi. Maula kangen banget sama mama.”


“Selain mama sama papa, siapa orang yang sering kamu rindukan selama ini?”


“Abang,” jawabnya pelan. “Tapi itu dulu.”


“Kenapa sekarang tidak?”


“Abang bilang, Maula jangan menunggunya. Jadi, untuk apa merindukannya.”


“Tapi dia merindukanmu, sebentar lagi abangmu akan datang. Tunggulah.”


“Gak mungkin, Pa. Karena abang punya keluarga baru jadi lupa sama kita.”

__ADS_1


“Dia laki-laki sejati. Tidak pernah mengingkari janjinya. Jika dia pulang nanti, hormati dia, sayangi dan patuhi dia seperti yang mama lakukan pada papa dulu. Tolong ingat pesan papa ini.”


Maula tidak begitu mengerti ucapan ayahnya. Namun, dia tak berhenti mengajaknya ngobrol. Dia tak ingin ayahnya tidur terlalu lama seperti yang terjadi pada ibunya yang akhirnya tidak bangun kembali.


Namun, tiba-tiba Tuan Zul seperti berhalusinasi. Seperti melihat orang-orang dari masa lalu yang datang dari berbagai arah. Tatapan matanya kosong. Kesadarannya seperti terombang ambing. Dia benar-benar tak berdaya.


Ketika Pak Kiai datang, hanya ada komunikasi satu arah. Mulut Tuan Zul seperti terkunci meski matanya semakin terbelalak. Namun, Pak Kiai tidak menyerah untuk terus membisikkan kalimat-kalimat tauhid di telinganya. Hingga bibir yang sangat kaku itu bergerak pelan mengikuti suara yang tertangkap oleh pendengaran. Dan... terlepaslah ruh dari jasadnya.


Seandainya manusia bisa melihat betapa dahsyat sakaratul maut. Sayangnya, seorang mayat tidak bisa menceritakan kematiannya pada penghuni dunia.


Awan seakan kelam mengantar kepergian Tuan Zul ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Tangis gadis berumur sepuluh tahun itu pun pecah mengingat kini dia hidup sebatang kara.




Maroko, pukul tiga dini hari.



Bunyi panggilan masuk di handphone Khayru membangunkannya dari tidur. Dia terperanjat saat mendengar suara Aldi di balik telepon. Suara itu hampir tenggelam dalam lamunan yang hampir membawa Khayru ke alam bawah sadar.



“Gak mungkin.” Dia menjatuhkan Handphone karena tangannya tiba-tiba menjadi lemas. “Jangan sekarang, Pa. Iru belum bisa membalas semua kebaikan Papa.”



Tanpa berpikir panjang, dia segera memajukan rencana keberangkatannya ke Indonesia yang memang sudah diatur sejak beberapa hari yang lalu. Kedatangannya menjadi awal kehidupan baru bersama gadis kecil bernama Maula.


__ADS_1


To be continued ....


__ADS_2