Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 41. high voltage


__ADS_3

“Gimana kesan pertama masuk kerja di pabrik kita, Kak?” Maula antusias untuk mendengar cerita dari Katia yang terhitung siang tadi menjadi karyawan baru di perusahaan.


“Hm ... jujur ya, sebenarnya Kakak masih canggung. Maklum tempat baru, kebiasaan baru. Masih butuh adaptasi,” jawabnya seperti tidak ada yang menarik untuk dibicarakan.


“Gak papa, nanti akan terbiasa.” Sambil menepuk punggung tangan Katia di atas meja.


Mereka tengah bercakap-cakap di meja makan, sambil menunggu Khayru keluar dari ruang kerjanya. Tak lama, orang yang ditunggu datang dengan santainya. Dia berdiri tepat di belakang Maula sambil mengusap pundaknya lalu mencium puncak kepala gadis itu sebelum kembali menarik wajah yang tiba-tiba mengkerut.


“Gak mandi, ya?” tanya Khayru setelah mencium bau keringat di rambut Maula.


“Kan udah tadi pagi. Gak keringetan ini, kok.”


“Gak keringetan gimana? Hidung Abang kan sensitif.” Khayru mulai duduk di sebelahnya.


“Ya udah, dari pada penciuman Abang terganggu, mending Abang jauh-jauh dari aku.”


“Kamu sengaja gak mandi atau mau Abang mandiin?” tanyanya iseng. Namun, berhasil membuat bulu-bulu di tubuh Maula meremang kembali.


“Dimandiin?” tanya Katia. “Mandi bareng, kali?” Katia bercanda sambil tertawa.


Maula lebih memilih mengisi piringnya dengan berbagai menu yang sudah dihidangkan Bik Sulis di atas meja dibanding menanggapi ucapan mereka. Padahal, Khayru tahu jika saat ini Maula sedikit tegang. Cukup tegang atau bahkan sangat tegang. Untuk membuktikannya, dia tempelkan ujung telunjuknya pelan-pelan di tangan Maula. Dan benar saja, sentuhan kecil itu membuat Maula kaget. Setengah berteriak sambil menarik tubuhnya sedikit menjauh.


“Apa sih, Dek. Disentuh dikit aja udah kaya disengat listrik? Tegang banget.” Khayru terkekeh sambil menatapnya.


Maula hanya menggeleng dengan cepat. Dia pura-pura sibuk dengan doa sebelum makan tanpa menghiraukan suara-suara sumbang yang menggodanya. Selesai makan, Katia coba menyentuh tangan Maula yang sedari tadi mendadak tak mengeluarkan suara. Tangan yang begitu dingin membuat Katia mengira, Maula sedang sakit.


“Pak Iru, sepertinya Dek Maula sedang tidak enak badan. Sebaiknya istirahat di kamar, jangan tidur terlalu malam,” saran Katia.


“Kamu sakit, Dek?” tanya Khayru sambil menatap wajahnya yang pucat. Lalu berdiri untuk membawanya ke kamar meski Maula sudah menggeleng dengan cepat.


“Enggak, kok, enggak!”


Namun, Khayru tetap membawanya ke kamar dengan paksa. Setelah meminta Maula berbaring, Khayru mengambil satu stel piyama miliknya. Dia berganti baju di depan Maula yang menutup dirinya dengan selimut.


“Dek, Abang tadi ketemu temen lama di parkiran. Kita ngobrol bentar di kantin, ehh dia nawarin obat-obatan. Dia sales obat ternyata,” ucapnya dengan tangan yang sibuk mengancingkan baju.


“Abang beli gak obatnya?”


“Ya belilah. Kasian, jualannya belum ada yang laku.” Sambil melangkah menuju laci.


“Dia jual obat apa sih, Bang?” Maula bangun karena penasaran. “Pasti obat herbal, banyak tuh yang jual dor to dor.”


Khayru mengambil satu botol kecil dari dalam laci. Menunjukkannya pada Maula sambil berbaring di sebelahnya.


Mata Maula menjadi cekung saat membaca tulisan-tulisan kecil yang ada di botol plastik tersebut. Spontan dia melemparkannya ke sudut yang paling jauh di kamar itu.


Khayru yang sudah mulai berbaring, kembali mendudukkan dirinya karena kaget. “Loh, kok, dilempar? Abang kan belum coba obatnya.”


“Abang pikir aku gak tau itu obat apaan? Pengen muntah aku baca khasiatnya.”


Khayru kembali merebahkan diri dengan wajah kecewa. “Yaelah, baru dibaca udah ngegas. Belum juga di cobain. Dahlah, tidur aja.” Dia menyelimuti dirinya sambil membelakangi Maula.


Suasananya membuat Maula menjadi serba salah. Dia tidak bisa tidur dalam keadaan seperti ini. Tidak ingin suaminya marah meski hanya pura-pura marah saja. Sepertinya Maula mengerti apa yang ada dipikiran suaminya saat ini. Dia tengah berjuang melawan hasratnya yang menggebu, layaknya lelaki-lelaki dewasa lain di luar sana.


“Bang ... sepertinya, kita harus meresmikan pernikahan kita dulu,” bujuknya sambil mendekat. Dia mencoba berpikir se dewasa mungkin kali ini.


“Kamu, kan masih sekolah. Nanti dikira orang perut kamu ada isinya, karena buru-buru nikah.”


“Nah, itu Abang tau.”


Khayru membalikkan badannya. “Abang tau, Abang ngerti. Intinya, Abang gak boleh bikin kamu hamil karena masih sekolah, kan? Jangan dibahas lagi. Berdoalah semoga high voltage yang sudah mencapai 150.000 volt ini, masih bisa Abang atasi sampai kamu lulus sekolah,” gumamnya sambil menarik tubuh Maula.


“Maafin aku ya, Bang.” Maula mendongak dengan perasaan bersalahnya.

__ADS_1


Khayru menjawabnya dengan sebuah kecupan di bibir Maula. “Setidaknya, Abang sudah bisa mencium bibir nakalmu sekarang.”


“Rasanya seperti apa, Bang, ciuman pertama yang dicuri?” tanya Maula masih mendongak sambil mengulas senyum.


“Sepet. Ada asem-asemnya gitu.”


Maula mendaratkan kecupan seperti yang dilakukan suaminya. “Kalau ini gimana rasanya, Bang?” tanyanya lagi.


“Kurang berasa. Coba sekali lagi,” titahnya


Maula kembali mendaratkan bibirnya.


“Sekali lagi.”


“Haaiiiss ... dasar suami kurang asem.”


Khayru tertawa sambil mendekap Maula yang sudah mengerucutkan bibirnya. “Nice, ciumannya manis sekali. Kamu belajar di mana?”


Maula tampak malu-malu lalu menyembunyikan paras dari tatapan mata suaminya.




Telepon Khayru berdering di tengah kesibukannya. Dia harus menghandle semua pekerjaan karena Aldi tengah bersiap untuk acara pertunangan nanti malam.



“Assalamualaikum, Di. Jangan ganggu dulu, masih banyak kerjaan, nih, gue.”



“Waalaikum salam. Lo jangan lupa tar malem jangan langsung ke rumah Risa. Berangkat bareng keluarga gue dari rumah.”




“Tinggalin aja kerjaannya. Besok gue sama Risa yang beresin. Buruan Lo ke tempat gue sekarang!”



“Iya, iya! Lo tunggu bentar, Gue telepon Maula dulu.”



Maula tak juga mengangkat teleponnya karena hari ini ada jadwal belajar tambahan di sekolah. Khayru meninggalkan pesan karena tak bisa menunggu Maula di depan sekolah seperti biasanya.



\[Kalau sudah selesai, segera telepon Abang. Kita harus ke rumah Aldi.\]



Setelah siap dengan stelan batiknya yang semi formal, Khayru kembali duduk sambil memainkan handphone. Menunggu telepon Maula. Namun, kali ini hanya ada satu pesan yang dia terima.



\[Aku belum selesai, Bang. Abang duluan saja, biar aku diantar Mang Sodik nanti.\]



“Kalau Maula masih lama, biar dia berangkat sama saya saja nanti. Pak Iru bisa berangkat duluan,” saran Katia karena kasian Khayru sudah menunggu terlalu lama.

__ADS_1



Khayru menatap jam tangannya lagi, dan lagi-lagi Aldi meneleponnya untuk sekadar memintanya datang sesegera mungkin.



“Ya udah kalau gitu, minta tolong banget Maula nanti ditemani. Kalau dia datang, nanti suruh istirahat aja dulu. Gak usah terburu-buru, acaranya malam jadi kalian bisa datang setelah acara mulai di rumah Risa,” pesan Khayru sebelum berangkat ke rumah Aldi.



Seperti pesan Khayru, Katia meminta Maula istirahat terlebih dahulu saat pulang bersama Mang Sodik.



“Abang, udah berangkat duluan ya, Kak?”



“Iya. Katanya harus nemenin Pak Aldi, jadi dia berangkat dari sana.” Katia menyambut Maula lalu memintanya duduk di sofa. “Santai aja dulu, Dek. Kita berangkatnya abis Maghrib aja.”



“Oke.” Maula menyenderkan punggungnya di sandaran sofa sambil melepas lelah sebelum akhirnya masuk ke kamar. Mereka bertemu kembali setelah selesai salat magrib, dalam keadaan siap berangkat dengan gaun malam yang melekat indah di tubuhnya.



Mereka berangkat diantar Mang Sodik sampai ke tempat tujuan. Sejak dalam perjalanan, handphone kembali berdering beberapa kali.



“Iya, Bang. Ini aku baru nyampe rumah Tante Risa. Di sini rame banget, aku gak bisa nangkep suara Abang,” ucapnya sambil menutup satu telinganya karena suasana sekeliling teramat bising.



“Kamu naik ke lantai atas dulu. Temui Abang di balkon.” Khayru mengulang ucapannya dalam bentuk teks pesan Whatsapp, khawatir Maula tidak bisa mendengar ucapannya.



Katia bertemu beberapa orang teman yang dia kenal beberapa hari ini, mereka tak lain adalah karyawan di tempat kerjanya yang baru. Maula pun meninggalkannya supaya Katia merasa bebas bercengkrama.



“Kak, aku cari Abang dulu di lantai atas, ya. Kakak silakan ngobrol-ngobrol aja di sini.”



Di atas balkon, Khayru menemani Aldi ngobrol sebelum acara dimulai. Namun, Aldi pergi sebentar karena harus menemui seseorang di bawah.



Khayru yang tengah berdiri memandang ke luar sana, tiba-tiba mendapat pelukan dari belakang. Tanpa menoleh, Khayru sudah bisa mengira siapa yang melingkarkan tangan di pinggangnya.



Bersamaan dengan Maula yang mendorong pintu, suara Khayru dari dalam, terdengar mesra dan lembut di telinga.



“Kamu dari mana aja? Lama banget.” Matanya tetap fokus menatap ke depan.



Maula masih berdiri di ambang pintu sambil membulatkan matanya. Langkahnya tertahan di sana demi memastikan apa yang sedang terjadi di depan matanya.

__ADS_1



To Be Continue ....


__ADS_2