Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 39. Jejak durian runtuh


__ADS_3

Jam makan malam tiba. Maula menemani Katia bercakap-cakap di ruang keluarga sementara Khayru tengah membukakan pintu untuk tamunya. Pengacara Suryadi datang bersama anaknya--Aldian Syahputra Suryadi. Selain menemani ayahnya, Aldi juga membawa sebuah undangan untuk acara pertunangannya dengan Risa, lalu memberikannya pada Khayru.


“Jadi acaranya, besok lusa, ya, Al?” tanyanya sambil membaca isi dari undangan tersebut.


“Lo sama Maula mesti dateng.”


“Pastinya, gue usahain datenglah,” jawabnya sambil menutup kembali undangan bertuliskan tinta emas itu.


“Duduk dulu, Om. Saya panggilkan Katia dan Maula di dalam.” Khayru beranjak melangkahkan kaki ke ruangan lain. Tak lama, dia kembali bersama dua orang perempuan yang membawakan camilan dan minuman di tangannya. Khayru juga memperkenalkan Katia pada Aldi dan ayahnya. Karena mungkin di masa mendatang, Katia akan turut mengelola perusahaan bersama-sama. Namun, sebelumnya mereka harus memastikan identitas Katia terlebih dahulu. Katia menunjukkan semua dokumen yang dia miliki dan meletakkanya di atas meja.


“Aldi, bantu papa memeriksa dokumen-dokumen ini,” pinta Pengacara pada anaknya. Bukan cuma Aldi, Khayru pun turut membuka satu per satu.


“Katia Alfi Mayasari S.Ak ....” Aldi membaca nama lengkap Katia yang ada di kartu keluarga. “Anda seorang akuntan?” tanya Aldi sedikit sungkan karena ini pertemuan pertama mereka.


“Saya ambil S1 jurusan Akuntansi karena kebetulan mendapat beasiswa 'Bidikmisi' di Universitas Mataram,” jawabnya sedikit malu.


“Bidikmisi? Beasiswa untuk mahasiswa yang benar-benar berprestasi itu?” tanya pengacara sambil menunjukkan decak kagum.


“Berprestasi tapi miskin, tepatnya, Pak,” jawab Katia sambil tersenyum.


“Saya heran, kenapa kamu malah memilih jadi Assisten manajer di hotel kita?” Khayru teringat jabatan Katia di Hotel miliknya di Lombok.


“Karena lowongan pekerjaan yang tersedia saat itu hanya Assisten manajer, Pak.” Katia tertawa. “Lagi pula saya belum begitu percaya diri untuk menjadi seorang Akuntan atau sejenisnya.”


Maula menghela napas sambil mengetuk-ngetuk kepalanya dengan buku jari. “Sepertinya cuma aku yang isi kepalanya kosong. Gak pinter-pinter otakku,” gumamnya.


“Udahlah kamu gak usah pinter. Kalau dipaksain juga nanti yang ngajarin kamu malah stres.”


“Emangnya gak papa ya kalau aku gak lulus SMA?” tanyanya sambil mendelik.


“Kenapa nanya Abang? Nanti yang malu juga kamu. Ha ha ha ....”


Melihat Khayru menertawakannya sampai puas, Maula memukulkan kepalan tangan di paha suaminya. “Itu tanda-tanda suami tidak peduli dengan istrinya. Makanya gak malu kalau istrinya gak lulus sekolah.”


“Makanya rajin belajar biar suaminya gak malu.” Khayru menarik kepala Maula dengan gemas hingga gadis itu berteriak karena hampir terjerat akibat tangan Khayru yang sengaja melingkar di lehernya.

__ADS_1


Tak sampai pertengahan malam, mereka telah selesai memeriksa dokumen-dokumen itu. Hasilnya bisa dipastikan bahwa Katia memang keponakan Tuan Zul. Dia satu-satu saudara yang dimiliki Maula. Dan Khayru akan memperkenalkannya sebagai salah satu pemilik saham perusahaan selain dari memberinya jabatan penting untuk ke depannya.


Sebelum berpamitan, Aldi mengundang Katia secara lisan untuk datang di hari pertunangannya yang akan digelar di rumah Risa. Mengingat dia tidak membawa undangan lebih saat datang ke rumah ini.


“InsyaAllah, saya akan datang bersama Maula dan Pak Iru. Terima kasih atas undangannya, Pak Aldi.”


Setelah tamu benar-benar pulang, mereka kembali ke kamar. Namun, sebelumnya Khayru mengatakan bahwa mulai besok, Katia sudah bisa datang ke kantor.


“Baik. Jika sudah siap, saya pasti datang. Saya memang butuh sekali pekerjaan, tapi saya akan mulai dari bawah. Beri saya jabatan sebagai Cleaning Service saja, itu sudah cukup.”


“Ya ampun, Kak Tia nih apa-apaan, sih? Masa pemilik saham, jabatannya Cleaning Service?”


“Kalau lebih dari itu, saya tidak mau bekerja.”


“Ya udah sih, terserah saja. Kerja atau pun tidak, mulai nanti uang bulanan akan masuk ke rekeningmu.”


“Loh ...?”


“Selamat malam, selamat beristirahat.” Sebelum Katia protes dan bertanya banyak hal lagi, Khayru meninggalkannya sambil menarik bahu Maula.


Katia pun masuk dan menutup pintu kamar. Tak sengaja dia melihat banyak pesan masuk di handphonenya. Ada banyak panggilan tak terjawab juga ketika dia masih berada di ruang tamu. Dia baru bisa tidur setelah bicara panjang lebar saat menelepon balik nomor yang menghubunginya.


“Abang mau kemana?” Maula turut bangun.


“Kamu bilang di sini banyak nyamuk, jadi Abang mau tidur di kamar kamu saja.”


“Kan nyamuknya sudah aku bunuh, Bang. Aku bakalan jadi Kang Ronda kok tiap malam.”


“Kalau gitu, pastikan tidak ada nyamuk yang mengganggu. Abang mau tidur nyenyak malam ini.”


“Ya udah, ayo tidur lagi.” Maula menepuk tempat tidur di sampingnya. Lalu mengusap lembut rambut suaminya yang mulai merebahkan diri.


“Kamu kaya emak-emak,” ucap Khayru sambil memejamkan mata.


“Dari pada Abang, kaya anak bayi. Sama nyamuk aja takut. ” balasnya spontan membuat Khayru terkekeh.

__ADS_1


“Kalau nyamuknya gede sih, Abang gak takut.”


Dalam obrolan menjelang tidur, Maula selalu menjadi orang pertama yang lelap lebih dulu. Namun, dia punya kebiasaan bangun di tengah malam buta seperti yang dia katakan beberapa waktu yang lalu. Saat itulah justru Khayru baru hanyut dalam mimpinya. Dengan kata lain, mereka memiliki jadwal lelap yang berbeda.


Nah, kan kebiasaan jam segini bangun sendiri, batinnya saat terbangun sambil menatap jam dinding yang menunjuk angka 2 dini hari. Dia mengguncang kepalanya karena tak ada sedikit pun rasa kantuk kalau sudah begini. Yang dia lakukan hanya menatap sambil meraba wajah suaminya yang tengah tertidur. Pernah sekali dia mengecup bibir laki-laki itu. Namun, kini sudah menjadi kebiasaan.


Masa sih harus selalu ngelakuin ini? Jelas-jelas orangnya gak rela. Hhh!!


Bodo amatlah, dia kan gak tau. Yang penting aku bisa tidur lagi.


Kalau ketahuan, nanti aku pura-pura ngelindur. Hi hi ...


Maula mulai meraba wajah suaminya lalu merapatkan wajah hingga tak ada jarak sedikit pun.


Sialnya, ternyata kali ini Khayru sengaja tetap terjaga. Kena kau nyamuk nakal! batinnya tanpa merubah posisi tidur sedikit pun.


Terlepas dari itu semua, Khayru tetap membiarkan Maula menjalankan aksinya. Bahkan, dia harus menahan tawa setengah mati demi tidak mengganggu Maula yang tengah bermain-main dengan bibirnya.


Seperti asik dengan mainan barunya. Seperti itulah Maula saat ini.


Pagi buta kali ini. Khayru bangun, tetapi tidak segera pergi ke kamar mandi. Dia hanya duduk di depan cermin mengamati bibirnya sendiri.


“Bang!” panggil Maula sambil menggeliat.


“Sudah bangun, ya?”Khayru memutar badannya. “Semalam banyak nyamuk, gak?”


“Gak ada, Bang. Aman,” jawabnya sambil menutup mulut yang tengah menguap.


“Tapi, kok, ada bekasnya lagi.”


“Masa? Coba aku lihat.” Maula bangun lalu menghampiri. Sambil memegang dagu suaminya, ia tampak sedang berpikir. “Ini sih bukan gara-gara digigit nyamuk, bibirnya, tapi abis ketiban duren runtuh.” Maula melepaskan dagu suaminya lalu pergi ke kamar mandi.


Khayru menepuk jidatnya sambil geleng kepala. “Ya kariim ... Ini anak gadis apa Bajay bajuri, sih? Ngeles teroooooss.”


“Abang! Alhamdulillah, ya, Bang! Abis ketiban duren!” ejek Maula sebelum menutup pintu.

__ADS_1


“Duriannya kan kamu. Nyamuknya juga kamu. Kapan mau ngaku? Dasar bocah! Abang kasih pelajaran nanti.”


To Be Continued....


__ADS_2