
“Sudah siap?” tanya Khayru sebelum keluar dari kamarnya.
“Siapp!!” Maula mendongak sambil menyelesaikan ikatan tali sepatunya.
“Dibully lagi, siap?”
“Dibully?” Maula mengerutkan kening.
“Kaya gak tahu aja. Tiap kita keluar dari kamar bersama-sama, selalu ada jiwa-jiwa yang kepo menanti kita di bawah,” terangnya sambil tertawa.
“Hhaa ha ... ART Absurd maksudnya?” Maula pun ikut tertawa. “Berang aku tuh pengen nonjok Abang kemarin. Ck ....” Sambil menaikkan sudut bibirnya.
“Loh, mereka yang salah kenapa harus Abang yang kena?” Khayru jongkok sambil menarik kaki Maula yang satunya. Membantu mengikat tali sepatu supaya lebih cepat selesai.
“Abang sih diem aja aku diperlakukan kaya gitu. Kerudung aku yang rapi dibuat berantakan. Geli leher aku disentuh-sentuh sama mereka, Bang. Kelewat Absurd emang,” gerutunya.
Khayru kembali tertawa. “Percuma Abang cegah. Mereka gak akan berhenti sampai menemukannya.”
“Menemukan apa?!” Nadanya sedikit naik.
“Jejak Abang ... mungkin.” Khayru mengangkat bahunya.
“Biasanya kan gitu. Kalau pengantin baru, lehernya suka merah-merah. Mereka bilang itu tanda kepemilikan.”
“Sekali-sekali kita harus bikin tanda kek gitu, Dek. Biar Bik Sulis, Mbak Tini sama Neneng gak penasaran lagi.” Sambil menerawang.
“Akh ... gak bener nih. Pagi-pagi, otak Abang minta disapu aja.” Dia bangkit lalu mengacak rambut Khayru sampai berantakan. “Ayo cuci dulu otaknya biar bersih. Kalau enggak, aku semprot pake insectisida, biar gak dikerubungi lalat.”
Aduuhh, dia kira otak ini dapet mungut dari tong sampah apa?
Khayru bangun menatap tampilannya di cermin.“Dirapiin lagi gak nih, rambut? Kamu yang bikin kek gini tadi.” Khayru meminta Maula mengembalikan tatanan rambutnya, akan tetapi Maula tidak menghiraukan, malah melenggang keluar sambil bernyanyi dan melompat-lompat.
“Awas, ya! Anak nakal kek kamu bisa Abang lempar ke kali Ciliwung.” Dia mengejar lalu mengangkat tubuh kecil Maula dengan entengnya.
“Astagfirullah!” Maula yang kaget, berusaha lepas. “Turunin gak, Bang?!”
“Enggak!”
“Turunin sekarang juga!” Sambil menendangkan kakinya ke udara.
“Kamu kalau nakal tinggal Abang cemplungin ke kolam, kan. Gampang banget.” Sambil tetap berjalan menuruni anak tangga.
“Iya, Bang. Ampun. Aku rapijn lagi deh rambutnya. Udah, turunin dulu. Buruan!”
Khayru pun menurunkan Maula sambil memegang tangan kirinya supaya tidak kabur.
“Ini gimana kalau tangannya gak dilepas begini?” Dia berusaha melepaskan genggaman.
“Pake tangan kanan kan, bisa.”
“Ya udah bentar,” ucapnya sambil nengok ke belakang, memanggil salah satu ART.
“Iya, Non. Ada apa Non?” Neneng datang tergopoh-gopoh.
“Ambilin sikat cuci dong buat nyisir rambut Abang,” cibirnya.
“Sikat cuci?!”
“Yang benar aja. Masa pake sikat?”
“Sini, Tuan, biar Neneng aja. Kalau Non Maula gak mau nyisir rambut Tuan.” Neneng maju sambil cengar cengir.
“Gak usah! Sana jauh-jauh!” Maula mengibaskan tangannya. “Menyisir rambut suami, kan pahala buat istri,” sungutnya.
“Nah, itu tau.”
Mereka menuju ruang makan setelah Maula selesai merapikan rambut suaminya. Alhasil mendapat banyak pertanyaan karena model rambut Khayru yang tiba-tiba berubah dari biasanya. Ini ulah Maula yang merubah gaya rambut Come over yang paling kontemporer menjadi Bowl cut ala-ala bintang Korea.
“Udah jangan pada protes. Ini untuk menyiasati perbedaan usia kita, Bang. ABG kek aku kan harus bersanding dengan cowok keren, dong.” kilahnya.
“Suami udah keren gitu, Non,” ucap Bik Sulis setelah meletakkan piring-piring di meja, lalu pergi ke dapur.
“Dengerin tuh.” Khayru menyalak sambil mulai duduk.
Dari arah dapur terdengar Bik Sulis memberi perintah pada Tini dan Neneng.
Tin, lanjutin bersih-bersih di lantai atas saja. Neneng selesein cucian di ruang Laundy. Meja makan biar bibik yang bereskan!
Tak lama dia kembali membawa berbagai hidangan dari dapur.
__ADS_1
“Kalau dibikin lebih keren lagi nanti Non Maula sendiri yang repot,” lanjut Bik Sulis pada Maula.
“Gak bisa tidur nanti, takut suaminya diambil orang.”
“Betul, Bik! Bulan depan naik gaji Bibik.” Dengan suara lantang dan bangga.
“Dihh ... sogokannya naik gaji, ternyata,” gumam Maula yang disusul tawa suaminya.
Hari pertama masuk sekolah, terasa ada yang beda karena Maula tidak melihat Ariel di kelasnya. Begitu pun di kavling tempat mereka ketemuan. Setelah ia tanya ke teman sekelasnya, mereka tidak ada yang tahu karena ini hari pertama. Ariel tidak masuk sekolah tanpa kabar.
Ariel dan Maula, sama-sama orang yang tidak memiliki banyak teman. Jika salah satunya tidak ada, maka dia akan seperti orang bisu. Tidak mengeluarkan suara.
“Duh, Ariel ke mana, ya?”
“Jangan-jangan dia ....”
Setelah pulang sekolah Maula berencana untuk datang ke rumah Ariel. Ingin memastikan keadaannya. Namun, saat ingin memanggil sebuah taksi, tiba-tiba klakson mobil Khayru berbunyi. Mau tak mau, ia mengurungkan niatnya dan masuk ke dalam mobil dengan hati kecewa.
“Kamu mau ke mana tadi?” Khayru memperhatikan gelagat Maula yang sedikit murung.
“Aku kira, Abang gak jemput, jadi aku panggil taksi,” jawabnya tak semangat.
“Kamu kan tahu kalau Abang akan selalu mengawalmu.”
“Bang, boleh, gak, aku minta handphoneku lagi?”
“Hmm ... Oke, nanti Abang cari dulu di rumah. Abang lupa nyimpen kek nya Sampe lupa balikin sama kamu.”
Maula mulai tersenyum karena setelah handphonenya kembali, dia bisa menghubungi Ariel lagi.
“Kita mampir ke toko perhiasan dulu, ya. Bentar.”
“Ngapain?”
“Bukannya cincin itu udah kekecilan? Kita beli yang baru, gimana?”
“Gak usah! Gak usah!” sahut Maula dengan cepat.
“Nanti dikira orang, Abang pelit, lagi.”
“Cincin ini bukti kejahatan Abang. Ngapain diganti?”
__ADS_1
“Kejahatan?” Wajah Khayru lantas mengerut.
“Abang menikahi anak di bawah umur. Dah gitu secara paksa, lagi.”
Telak, Khayru langsung memupuh kepala Maula dari samping.
“Aww ...!”Sambil mengusap kepalanya. “Ya Allah! Jangan biarkan anak yatim dizalimi seperti ini.” Dia menarik muka masam sambil mencebik.
Buru-buru Khayru meraih pundak Maula sambil mengusap kepalanya, dengan tangan kiri. “Maaf, maaf. Abang salah, Abang gak sengaja. Jangan marah, ya, istri Abang yang cantiknya mirip Sayyidah Aisyah r.a.”
“Seperti apa cantiknya istri kecil Rosulullah, Bang?”
“Gak tau, kan belum pernah ketemu. Tapi katanya, Sang *Habibatu Rasulillah* (Wanita yang dicintai Rasul Allah) itu memiliki rambut ikal, kulit putih dan pipi yang merona.” Khayru menatap Maula yang tengah tersenyum sambil menyentuh pipinya yang merah.
“Yang jelas, Aisyah r.a, gak keringetan dan bau matahari kaya kamu.” Sambil mengenduskan hidungnya ke tubuh Maula.
“Terus aja gitu. Bikin aku terbang melayang-layang, abis itu lemparkan aku dari puncak *everest*.” Sambil melepas tangan Khayru yang masih melingkar.
“Becanda, dong. Kamu cantik. Abang serius.”
KIA Sonet 7 merah maroon, melandai di atas carport yang luasnya cukup untuk menampung tiga-empat buah mobil, di halaman rumah mereka.
Setiba di rumah, Maula tak berhenti menagih handphone yang entah di mana keberadaannya. Mungkin karena disimpan terlalu lama, benda tersebut kehabisan battre. Tidak bisa di hubungi. Khayru menawarkan handphone miliknya jika memang Maula sangat membutuhkannya. Atau mungkin, dia bisa membelikan handphone baru yang lebih bagus. Namun, Maula menolak. Dia hanya ingin menemukan handphone lamanya.
Tak lama, Khayru menunjukkan benda yang dicari tepat di depan wajah Maula yang kelimpungan.
“Ini ... jangan lupa isi battre dulu.”
Maula mengembuskan napas lega sambil tersenyum. “Akhirnya ....”
Dia segera menyambungkan benda itu ke charger. Dengan tak sabar menungguinya persis seperti tengah menunggu pacar datang ke rumah.
“Mandi dulu, salat dulu, terus makan. Gak usah ditungguin, nanti juga penuh sendiri,” sahut Khayru sambil membuka pintu lalu melangkah ke kamarnya.
Setelah selesai salat duhur, Maula kembali melihat layar handphone yang sudah terisi daya 40%. Cukup untuk menyalakan gadget tersebut, tidak perlu menunggu sampai terisi penuh.
“*Maksi*, yuk,” ajak Khayru setelah beberapa menit.
Dia masuk, akan tetapi Maula seolah tidak menyadari kedatangannya. Hanya sibuk membaca chat Whatapp yang masuk selama satu Minggu belakangan. Matanya nampak berkaca-kaca. Akhirnya, pipi merah itu menjadi basah.
__ADS_1
To Be Continued ....