Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 52


__ADS_3

Sore menjelang malam, Maula pulang ke rumah disambut Katia dan para ART yang sedikit khawatir sejak semalam hingga pagi tadi, karena setelah kejadian-kejadian beruntun itu, mereka baru bisa bertatap muka. Satu per satu mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memastikan kejadian yang sebenarnya. Namun, Maula mengaku belum siap untuk bercerita karena hari ini sangat melelahkan. Dia meminta izin untuk beristirahat di kamarnya.


Selang beberapa waktu, Khayru yang juga baru tiba di rumah, menyusulnya ke kamar, setelah tahu bahwa Maula sudah berada di dalam. Ia mendapati Maula yang tengah duduk di tepi tempat tidur. Ia menoleh saat Khayru masuk dan menghampirinya membawa semangkuk air es untuk mengompres bagian wajah dan tangannya yang memar lalu mengoleskan sedikit obat.


“Tunggu sebentar. Abang ambilkan makan, kamu pasti lapar.”


Maula membiarkan Khayru melakukan apa pun untuknya, seperti biasa. Meski suasana di antara mereka belum cair sepenuhnya. Hingga selesai Khayru menyuapinya, dia meminta lelaki itu untuk tidak pergi dulu.


“Ada apa?” Khayru kembali duduk di sebelahnya. “Kamu mau mandi, gak? Abang siapin air anget.”


Maula menggeleng lalu memeluknya sangat erat.


“Kamu peluk Abang supaya Abang tidak memarahimu kan?” Biasanya trik ini Maula gunakan untuk memikat hati suaminya yang sedang marah. Dan ternyata benar, rasa kecewa dan marah tiba-tiba hilang begitu saja. “Atau ... kamu sangat merindukan Abang seperti katamu kemarin.”


“Setelah hari ini ... aku janji tidak akan merindukan Abang lagi.”


“Maksudnya?”


Maula melepaskan pelukannya sambil menatap wajah Khayru. “Aku sudah membuat satu keputusan dan sudah aku pikirkan baik-baik.”


“Keputusan apa? Jangan bikin Abang bingung.”


“Dan ini keputusan terakhir. Aku tidak akan merubahnya lagi.”


“Kamu memutuskan apa?” desaknya.


“Cerai” Dengan berat hati dia harus mengatakan ini.


“Kamu jangan main-main dengan kata cerai. Abang tidak akan sembarangan mengucapkannya sekalipun Abang tengah marah.” Khayru menatap dalam-dalam mata Maula yang seakan bicara di bawah kesadarannya.


“Tapi ini harus,” tegas Maula. “Aku sungguh-sungguh menginginkannya.”


“Katakan apa saja jika kamu marah pada Abang, dan kamu harus tau jika marahnya Abang sama kamu bukan karena Abang benci tapi karena Abang tidak mau gagal menjagamu. Dan tentang Risa, Abang akan percaya apa pun yang kamu katakan. Abang tidak akan menyalahkanmu. Abang tau jika Risa memang sudah kelewatan.”


“Ini bukan tentang siapa yang salah dan bukan siapa yang marah. Banyak hal yang terjadi, membuatku sadar bahwa pernikahan bukan porsiku saat ini. Pernikahan terlalu rumit untuk kujalani.” Maula menggeleng pelan.


“Apa Abang membuat hidupmu menjadi rumit?” tanya Khayru dengan lembut. Dia khawatir jika ucapannya melukai hati Maula hingga ia memutuskan hal di luar dugaan.


“Aku bilang, pernikahanlah yang rumit, bukan Abang,” ralatnya. “Jangan salah faham.”


“Tugas kita untuk menyederhanakannya supaya tidak menjadi rumit lagi.”


“Itulah masalahnya. Jalan pikiranku Kini tidak bisa sederhana lagi setelah semua yang terjadi. Setelah aku tahu Papanya Rere berselingkuh dengan Mamanya Ariel lalu Mamanya Rere meninggal karena bunuh diri. Masih ada banyak lagi cerita di luar sana tentang gagalnya sebuah pernikahan, meski awalnya nampak baik-baik saja.”


“Kamu hanya sedang mengalami Krisis kepercayaan saja. Seharusnya kamu lihat ke luar sana. Masih banyak keluarga bahagia setelah berhasil melewati banyak ujian. Abang tau ini pasti karena Risa. Kamu boleh cemburu dan marah tapi harus tetap berpikir dengan kepala dingin. Jangan samakan Abang dengan Papanya Rere. Abang tidak pernah mengkhianatimu.”


“Kita tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi besok. Semua bisa berubah, siapa pun bisa berubah. Mungkin saja nasibku akan berakhir sama dengan Mamanya Rere, meski diluar kehendak kita, tapi itu bisa saja terjadi.”


“Dengarkan Abang, Dek. Abang minta maaf jika Abang terlalu keras saat memarahimu. Ini semua karena Abang tidak pernah berhenti mengkhawatirkan kamu.”


“Aku juga sama, Bang.” Tiba-tiba, Maula mengulas senyum kecil sambil menatap. “Sejak Abang menjadi suamiku dan sejak Bik Sulis bilang, kalau suami ditaksir banyak orang, tidurku bakalan gak nyenyak lagi. Itu semua aku rasakan seperti anak kecil yang takut mainannya dicuri orang.” Maula tergelak mengingat kelakuannya sendiri membuat Khayru mengernyit, di saat seperti ini dia masih bisa tertawa.

__ADS_1


“Coba Abang tanya pada Rere dan Nikita, apa yang terjadi dengan pelajaranku saat aku merindukan Abang, saat aku mengkhawatirkan Abang apa lagi saat aku cemburu. Semuanya kacau.”


“Jadi, Abang sudah membuat pikiranmu sangat kacau?” Kali ini Khayru ikut tersenyum sambil mengusap ujung kepala Maula.


“Ini karena otak udangku tak mampu untuk bercabang. Untuk menampung beberapa mata pelajaran saja terkadang kepala udah kaya komputer hang. Apa lagi jika harus menampung masalah rumah tangga. Gak akan bisa jalan, pasti. Bisa jadi, procesor akan lumpuh dan tamatlah riwayatnya.” Dia kembali menertawakan dirinya sendiri yang dia umpamakan seperti komputer keluaran lama.


“Komputer hang saja masih bisa direstart atau direboot, masa otak kamu enggak bisa.”


“Restart dan reboot itu butuh waktu. Aku hanya akan membuang kesempatan dan melewatkan banyak hal jika melakukannya.”


“Lalu, menurutmu hal terbaik apa yang seharusnya kamu lakukan ketika otak kamu hang?”


“Mengosongkan sebagian memory atau bahkan menghilangkannya supaya otak tidak bekerja terlalu berat. Karna jika aku paksakan ....”Maula menatap lamat mata suaminya. “Aku bisa lumpuh lalu mati,” lanjutnya sambil menunduk.


“Gak mungkin.”


“Aku akan fokus untuk belajar dan memperbaiki diriku, tapi untuk itu aku harus mengakhiri pernikahan ini demi bisa mengurangi beban pikiran.”


“Terserah kamu mau bilang apa. Apa pun alasannya, Abang tidak akan menceraikanmu.” Khayru berdiri dari tempat duduknya. Dia harus mengakhiri obrolan yang tidak penting ini dan pergi ke kamarnya.


“Itu artinya, Abang tidak peduli dengan masa depanku!” teriak Maula mmembuat Khayru kembali menoleh.


“Ayo kita pikirkan lagi dengan hati yang lapang. Abang yakin, setelah ini kamu akan berubah pikiran dan menyesali keputusanmu.” Khayru benar-benar pergi ke kamarnya. Meninggalkan Maula supaya berpikir seribu kali sebelum membuat keputusan.


Setelah berpikir beberapa hari, mengingat kembali setiap ucapan Maula, membuat Khayru merasa dirinya telah menzalimi gadis kecil itu dengan memaksanya menanggung beban berat yang seharusnya tidak ia alami di usianya yang masih belia.


Apakah selama ini aku terlalu egois? Tidak mau mendengar apa yang sebenarnya diinginkan Maula. Mungkin dia benar-benar ingin bebas seperti anak-anak yang lain.





Maula duduk di bangku taman, menunggu Khayru yang tengah berdiri di samping kios es krim. Maula tersenyum membalas lambaian tangan suaminya yang masih antre menunggu pesanan. Hal-hal kecil ini sering Khayru lakukan untuk menghibur hati Maula supaya tetap bahagia. Bahkan sejak mereka masih kecil.



Tak lama, Khayru datang dengan dua buah es krim di tangan kiri dan kanannya.



“Stoberi apa coklat?” tanya Khayru.



“Stroberi dong.” Maula langsung menyambar cone dengan krim berwarna merah muda di atasnya. Wajahnya langsung mengkerut saat tiba-tiba Khayru menjauhkan tangannya dari jangkauan Maula. “Niat ngasih, gak, sih, Bang?”



Khayru tertawa sambil menyerahkan es krim itu ke tangannya. Dia duduk menghadap Maula sambil menjilati es krim coklat miliknya. “Ternyata, Pak Ngadimin sudah pensiun jualan es krim. Itu yang jualan sekarang, anaknya Pak Ngadimin.” Sambil menunjuk penjual, dengan bibirnya.

__ADS_1



“Oh, ya?” Maula nampak gak peduli. Dia hanya sibuk menjilati es krim sambil sesekali menyapu bibir yang belepotan dengan lidahnya.



“Masih inget, gak? Kamu pernah lempar mainan serangga ke atas cup es krimnya Pak Ngadimin Sampe pelanggannya pada lari karena jijik.”



“Masa?” Maula mengangkat wajahnya sambil mengingat-ingat lalu tertawa terbahak.



“Iya, iya ... aku ingat betul marahnya Pak Ngadimin saat itu”



*Duassar anak settannn*!!



“Abang ikutan marah kan gara-gara aku dipanggil anak setan? Hahaha ....”



“Kamu, sih, nakalnya kebangetan,” sungut Khayru sambil menempelkan krim ke hidung Maula.



“Abisnya kesel aku, ngantrinya kelamaan.”



“Masih mau main, gak? Kalau enggak kita pulang sekarang,” tawar Khayru sambil menatap jam tangannya.



“Ya udahlah, kita pulang aja, capek.”



Hari sudah mulai gelap saat mereka tiba di rumah karena mereka mampir cukup lama di masjid saat perjalanan pulang.



“Makasih ya, Bang, udah ngajak aku jalan-jalan.”



Khayru mengangguk. “Maaf ... jika setelah ini, mungkin Abang gak bisa ajak kamu jalan-jalan lagi.” Khayru meraih kedua tangan mungil gadis itu sambil menatapnya lekat-lekat.

__ADS_1



To Be Continued ....


__ADS_2