Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 64


__ADS_3

Karena tak ingin terlalu membuang waktu untuk berdebat. Maula hanya menyetujui kemauan sopir itu lalu pergi sebelum terlambat.


Sang sopir masuk ke dalam mobil lalu menyerahkan dua kartu identitas milik Maula pada majikannya yang duduk di kursi belakang.


“Terima kasih, Pak,” ucap sang majikan sambil membuka jendela mobil. Matanya masih memandangi Maula yang terus berjalan menjauh dari halaman kafe yang masih tampak sepi. Ia kembali menunduk memandangi dua kartu di tangan sambil melebarkan sudut bibirnya.


Kenapa mengalah? Harusnya tadi kamu marah.


“Jalan, Pak!” ucapnya pada sopir sambil mengenakan kaca mata hitam lalu menutup kembali jendela mobil. Mereka pun berlalu dengan mobil yang sedikit rusak di bagian depan.


“Ke mana, Tuan?”


“Bengkel, Pak.”


Setiba di bengkel, sang majikan melanjutkan perjalanan ke suatu tempat dengan menaiki taksi. Ia tinggalkan sopir dan mobilnya di sana karena masih ada hal penting yang harus dia urus.


“Pak, tunggu mobil sampai selesai diperbaiki. Nanti saya kasih tau di mana Bapak harus jemput saya,” ucapnya sebelum naik taksi.


“Baik, Tuan.” Sopir itu kembali mengawasi montir yang tengah memeriksa kerusakan mobil sambil ngobrol ngalor ngidul.


“Abis kecelakaan di mana, Pak?” tanya montir sambil melirik sekilas.


Sopir itu malah tertawa mendengar pertanyaan montir yang tiba-tiba mengernyit setelahnya.


“Ini kecelakaan disengaja, Mas,” jawabnya masih terkekeh.


“Loh, kok, aneh. Ada ya orang yang mengundang mautnya sendiri?”


“Enggak, kok. Tadi majikan saya cuma minta bikin benturan kecil aja.” Matanya masih mengikuti gerak gerik tangan sang montir. “Saya ini kan sopir dadakan. Nyetir aja masih latihan. Gak tau juga kalau sedikit benturan bisa menyebabkan kerusakan seperti ini, Mas.”


“Crumble Zone kan emang sengaja dibuat rapuh, demi keamanan jiwa manusia, Pak.”


“Loh, gak mudeng, saya.”


“Dibuat rapuh untuk meredam benturan supaya tidak berlanjut sampai ke kabin. Jadi, pengemudi akan tetap aman saat terjadi kecelakaan.”


“Begitu, ya, Mas.”


“Belum lagi kalau mobil ini menabrak manusia. Bayangin aja kalau ini didesign terlalu kuat,” ucap montir sambil menepuk body monocoque. “Mobil mungkin akan selamat, tapi akibatnya akan sangat fatal bagi korban tertabrak,” terangnya sambil mulai memperbaiki.


“Oh gitu, ya.” Sang sopir mengangguk paham. Obrolan berlanjut untuk menghilangkan rasa bosan saat menunggu. Di akhir cerita, sang sopir membisikkan sesuatu pada montir. Dia sedikit memaksa karena ini permintaan majikannya. Setelah Tuannya yang aneh itu menelepon langsung pada pemilik bengkel, permintaannya dikabulkan.


“Ini bill-nya. Pembayaran sudah dilunasi pemilik mobil,” ucap pemilik bengkel.


Sang sopir mencium selembar kertas dengan nama lain--tagihan--sambil tersenyum puas, pertanda misinya dari majikan sudah berhasil dia laksanakan. Misi berikutnya, dia harus menyampaikan tagihan itu pada Maula--gadis yang dia temui pagi tadi. Dia hanya perlu menunggu sang Tuan memberi perintah.




Setelah beberapa hari, Maula sepertinya tidak melihat keberadaan Cahyono di depan kafe. Padahal, sudah beberapa kali juga dia menyiapkan makanan untuknya.



“Loh, kok, dibawa lagi makanannya? Dia gak dateng lagi apa gak mau makan?” tanya Dandi santai, akan tetapi tangannya selalu sibuk.



“Sepertinya, Mas Dandi gak perlu bikinin makanan buat Mas Cahyo lagi deh, mulai sekarang.” Dia taruh kembali piring makanan itu di hadapan Dandi.



“Kenapa?”



“Udah beberapa hari ini kan dia gak ada.”



“Ke mana dia?”



“Gak tau,” jawabnya sambil mengendikkan bahu. “Ya udah, Mas, aku pulang bentar, ya. Pengen mandi dulu. Tar balik lagi ke sini.”



“Oke,” jawab Dandi tanpa melirik ke arahnya karena sedang sibuk meracik secangkir capuccino pesanan pelanggan.



Saat Maula sedang membuka pintu mobilnya, tiba-tiba dia melihat sosok laki-laki dekil dengan kulit sedikit gelap itu sudah kembali duduk di depan kafe. Akhirnya dia hanya meletakkan tas dan laptop ke dalam mobil lalu menutupnya kembali. Dia mengurungkan niat untuk pulang dan kembali ke dalam kafe untuk mengambil makanan yang sudah dia siapkan beberapa menit yang lalu.

__ADS_1



“Mas! Tunggu, Mas!”



Dandi hampir melahap roti bakar yang sudah dingin itu. Namun, suara Maula berhasil mencegahnya.



“Ada Mas Cahyo, tuh. Biar aku kasih makanannya ke dia.”



“Tapi ini sudah dingin, loh.” Sambil meletakkan kembali roti di atas piring.



“Yang penting masih bersih. Kalau bikin lagi malah lama.” Tanpa banyak bicara Maula membawa piring itu ke luar.



Entah apa yang membuat Dandi terkekeh sambil memandangi Maula yang bersemangat pergi ke luar. Mungkinkah Dandi teringat akan tahi lalat yang ada di pipi Cahyo? Atau ... dia teringat kumis tipis milik Cahyo? Atau mungkin, kulit gelap yang entah bawaan lahir atau malah karena jarang mandi? Dia coba menerka-nerka apa yang menjadi daya tarik Cahyo selama ini.



“Ke mana aja, Mas?” seru Maula seraya meletakkan piring dan segelas air mineral di bangku panjang, tempat Cahyo duduk sambil memainkan gitarnya.



Cahyo yang masih belum mengira dengan kedatangan Maula, hanya memandanginya sambil tersenyum.



“Wahh!! Mas Cahyo punya gitar?” Maula menjadi tertarik untuk duduk di sebelahnya.



Jrengggg ....



Cahyo mengangguk setelah memainkan satu petikan gitar sambil tersenyum.




“Wah!! Mas Cahyo banyak uang dong sekarang. Pantesan udah gak mau datang ke sini lagi.” kelakar Maula sambil mengulas senyum.



“Ada-lah sedikit buat traktir Mbak Maula,” balasnya masih dengan logat Jawa yang khas.



“Mau traktir saya makan apa memangnya, Mas?” Maula hanya iseng menanggapi candaan Cahyo yang hari ini nampak sedikit berbeda, mungkin karena gitar yang dia bawa, membuatnya sedikit keren di mata Maula.



“Apa aja, terserah. Mau es krim atau ... makan sate, mungkin.”



“Kok, tau makanan kesukaan saya?”



Tiba-tiba, Cahyo tertawa sambil memainkan kumisnya. “Saya malah baru tau kalau itu makanan kesukaan Mbak Maula. Tadi itu hanya asal keluar dari mulut saya, loh, Mbak.”



Maula memandangi wajah lelaki berkulit gelap itu. “Perasaan, baru kali ini saya lihat Mas Cahyo tertawa? Mas Cahyo lagi bahagia, ya?”



Selama ini, Maula hanya melihat Cahyo duduk, termenung, tak banyak bicara apalagi bercanda. Inilah yang membuat Maula iba padanya. Namun, hari ini dia nampak berbeda dari biasanya.



“Karena hari ini lagi banyak duit, Mbak,” ucapnya sambil mengeluarkan beberapa lembar uang kusam dengan nominal sepuluh ribu, lima ribu dan entah berapa lembar pecahan uang dua ribuan dari saku jaket jeans-nya.


__ADS_1


“Yah, segitu mana cukup buat traktir saya, Mas,” canda Maula sambil tersenyum.



“Besok saya ngamen lagi cari tambahan.”



Maula tergelak karena merasa lucu dengan logat Jawa yang keluar dari mulut Cahyo itu. “Saya bercanda, Mas. Gak usah traktir saya segala,” ucapnya sambil bangkit dari tempat duduk sambil nunjuk piring roti bakar dengan isi slai di dalamnya.



“Rotinya mungkin sudah dingin. Kalau gak enak, silakan minta yang baru sama Mas Dandi. Saya harus pulang sekarang.”



“Saya makan, kok.” Cahyo segera melahap sepotong roti. Namun, ia nampak berhenti sesaat sambil membulatkan matanya ketika ia merasakan aroma slai kacang di dalam roti tersebut.



“Pelan-pelan saja, Mas.” Maula mengangsurkan botol air mineral saat dia mengira, Cahyo sedang tersedak.



“Makasih,” ucap Cahyo dengan mulut yang penuh lalu membuka segel minuman tersebut dan meneguknya setelah menelan habis roti tadi. Seharusnya, dia tidak menelan roti itu, tapi ... dia tidak mungkin memuntahkannya di depan Maula.



“Baiklah. Saya pulang, ya, Mas.” Sambil beranjak menuju tempat ia memarkirkan mobilnya. Maula menekan klakson, saat mobil miliknya keluar dari halaman kafe dan melewati tempat duduk Cahyo yang tersenyum ke arahnya.



Saat tiba di depan rumah, Maula menghentikan mobil karena di sana terhalang mobil Aldi dan satu mobil lagi yang berada tepat di depan gerbang. Seperti sedang ada sebuah keributan kecil yang membuat Maula mengerutkan kening lalu keluar untuk memastikan kejadian sebenarnya.



Beberapa saat yang lalu, ketika Aldi mengantar Katia pulang, seseorang sudah berdiri di sana menghadang Katia yang baru tiba. Nursyam rupanya menemukan tempat tinggal Katia dan tidak ingin berhenti untuk mengganggunya. Aldi yang berani, berdiri untuk melindungi Katia. Dia katakan pada Nursyam bahwa Katia adalah calon istrinya. Tak ada seorang pun yang boleh mengganggu Katia kecuali dia harus berhadapan dengan Aldi. Dia juga sudah memanggil Ferdi dan Mang Sodik untuk mengusir Nursyam secara paksa. Mereka menggandeng pria itu dan memaksanya masuk kedalam mobil miliknya yang menghalangi jalan. Untuk kedua kalinya, Nursyam kembali tak berkutik, akan tetapi dia masih belum menerima jika ternyata Katia akan jatuh ke tangan pria lain selain dirinya.



“Ada apa ini ribut-ribut?” seru Maula sambil memandangi mobil Nursyam yang berlalu melewatinya.



“Gak ada apa-apa. Kalian masuk saja.” Aldi berpesan pada Ferdi dan Mang Sodik untuk menjaga keamanan rumah, karena hanya mereka penghuni laki-laki di rumah ini.



“Siapa dia, Kak?” tanya Maula saat mereka memasuki rumah. Wajah laki-laki yang marah-marah tadi sepertinya belum pernah ia lihat sebelumnya.



“Nanti saja ceritanya, ya. Sekarang mandi dulu, gih!” Katia mendorong tubuh Maula supaya dia segera memasuki kamar. Mereka akan bertemu lagi di meja makan setelah membersihkan diri.



Satu pesan dan panggilan WhatsApp muncul di layar handphone Katia, saat dia keluar dari kamar mandi.



\[Kat, maaf, ya, tadi aku bilang kalau kamu calon istriku.\] Chat dari Aldi karena penggilannya tak kunjung diangkat.



\[Gapapa, Pak Aldi. Sepertinya, ucapan Pak Aldi tadi cukup membantu. Harusnya saya bilang makasih, tadi, tapi lupa.\]



\[Hahaha ... tapi itu gak gratis, loh. Kamu harus bayar dengan membuatkan aku kopi tiap hari di kantor.\]



\[Beres\] Chat penutup dari Katia untuk Aldi.



To Be Continued ....



\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_1


Udah gelar karpet merah belum? Petasan mana petasan? Yang kemarin minta Abang pulang, mana sambutannya?? 📢📢


__ADS_2