Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 17. On the way Lombok


__ADS_3

“Dek. Kamu dah siapin barang buat besok?”


Khayru masuk sebentar ke kamar Maula sebelum dia keluar karena ada sedikit urusan.


“Loh, ini apa? Berantakan banget?” tanyanya seraya mengerutkan kening.


“Abang gak lihat? Ini perlengkapan sanitasi, kamera, sandal, obat-obatan, kacamata, head set, sama ....” Maula menyebutkan satu per satu dari mulai A Sampe Z, barang-barang yang ingin dia bawa esok hari.


“Ngapain repot bawa beginian? Semuanya ada di hotel, kita tinggal pake aja nanti. Beresin lagi semuanya. Kita bawa yang benar-benar diperlukan saja, udah cukup.”


“Ini semua bukannya penting, Bang?”


“Enggak. Itu malah bikin repot perjalanan kita nanti. Kita cukup bawa beberapa baju saja dari rumah. Udah.” Kakinya kembali melangkah menuju pintu.


“O ya, jangan lupa baju Abang disiapin sekalian, ya. Itu juga kalau kamu masih mau ikut liburan, loh. Kalau enggak, gak apa-apa.”


“Aku boleh bawa bikini, ya, Bang?!” Maula setengah berteriak membuat Khayru kembali memutarkan kepalanya. Dia hanya menjawab dengan gerakan tangan yang pura-pura akan melepas sepatu dan ingin melemparnya ke arah Maula serta memperlihatkan dahinya yang berkerut.


“Ampun, Bang. Ampuuuun!”


Maula tergelak dibalas Khayru dengan gerakan tangan yang menyilang di leher sambil membulatkan bola matanya. “Kamu tahu apa artinya?”


“Mati?”


“Hmm ....”


“Ampun ya tuh Bhambhang! pengen bunuh gue cuma gara-gara pake bikini doang.” Maula menggelengkan kepalanya sambil berdecak.




Dua jam sebelum keberangkatan, mereka sudah tiba di bandara karena ada beberapa hal yang harus diurus terkait *boarding pass*. Hanya menunggu sebentar, pengumuman keberangkatan pun mulai terdengar dari pengeras suara.



***Your attention please, passengers of Garuda Indonesia on flight number GA328 to Lombok, please boarding from door A12, Thank you***.



***Mohon perhatian, para penumpang pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA328 tujuan Lombok dipersilahkan naik ke pesawat udara melalui pintu A12***.



Khayru menarik tangan Maula, sementara tangan lainnya menarik sebuah travel bag berisi barang-barang mereka yang dikemas menjadi satu. Mereka berjalan melewati pintu A12 menuju pesawat yang akan segera take off sesuai jadwalnya.



Semua penumpang mulai menempati kursinya masing-masing sementara *Pramugari annauncement* sayup-sayup mulai terdengar khas dengan suaranya yang merdu. Memberi arahan dan pengumuman demi penerbangan yang nyaman selama dua jam lebih ke depan.



Khayru menatap jam tangannya yang tengah menunjuk angka satu. “Kita akan sampai di sana sekitar pukul tiga sore waktu setempat. Jadi kita bisa tidur siang dalam pesawat,” ucapnya sambil memejamkan mata lalu menarik kepala Maula ke pundaknya supaya mereka sama-sama tidur.



“Tapi aku gak ngantuk. Kita ngobrol aja, ya Bang.” Maula menarik kepalanya dari pundak Khayru.



“Ya udah. Kamu ngomong aja. Abang dengerin sambil merem. Kalau Abang gak jawab pertanyaan, kamu tepuk dengan keras pundak Abang.”



“Abang inget, gak, kapan terakhir kita Lombok?”


__ADS_1


“Waktu usia kamu masih delapan tahun,” jawab Khayru dengan yakin. “Bertepatan dengan hari ulang tahun Mama. Kita merayakannya di sana. *Candle light dinner* berempat di tepi pantai. Romantis sekali,” terangnya sambil mengulas sebuah senyuman.



Namun, tiba-tiba hening. Khayru membuka matanya perlahan mengalihkan pandangan pada Maula yang berada di sampingnya. Dia segera merangkulnya karena ternyata Maula tengah tergaris oleh kenangan orang tua.



“Jangan sedih,” lirihnya sambil mengusap dan menciumi ujung kepala Maula. “Mama sama Papa gak pernah suka liat anak-anaknya bersedih.”



“Aku gak sedih. Aku cuma kangen aja.” Selain matanya yang basah, ternyata hidung Maula juga sedikit berair. Dia menyekanya dengan ujung jaket Khayru hingga hidungnya menjadi merah, dan matanya tiba-tiba menjadi ngantuk.



“*Ish ... joroknya itu, loh, tetep gak berubah*.”



Namun, Khayru mengurungkan niat untuk menyentil kening Maula ketika dia lihat anak itu mulai tertidur di bahunya. Dia hanya memandangi sebelum akhirnya Mereka sama-sama tertidur untuk melenyapkan kebosanan selama perjalanan, hingga akhirnya suara pramugari yang merdu itu terdengar kembali lewat pengeras suara.



*Bapak dan Ibu yang terhormat, sebentar lagi kita akan mendarat di Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid-Lombok, Nusa Tenggara Barat*.



*Waktu setempat saat ini menunjukkan pukul 03 lewat 50 menit sore hari. Konversi waktu 1 jam lebih cepat daripada waktu di Jakarta. Silahkan mengenakan sabuk pengaman, menegakkan sandaran kursi, melipat dan mengunci meja serta menyimpan sandaran kaki dan layar vidio ketempat semula. Pastikan jendela di samping anda tetap dalam keadaan terbuka. Laptop dan* *alat elektronik lainnya kami mohon untuk dimatikan sekarang. Perlu kami sampaikan bahwa bagi siapa saja yang membawa dan menyimpan segala bentuk narkoba atau sejenisnya akan mendapat hukuman berat, dan bagi anda yang mengetahui agar segera melapor kepada petugas yang berwajib, terimakasih*.



Khayru menepuk tangan Maula seraya berbisik di telinganya. “Bangun ... Sudah sampai.”



“Bilangnya gak ngantuk. Sekalinya tidur, udah kaya orang pingsan. Susah dibangunin.”




Bandara Internasional Lombok yang kini sudah berganti nama menjadi Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, relatif kecil. Namun mampu menampung hingga lebih dari dua juta wisatawan tiap tahunnya. Hanya terdapat satu terminal di bandara ini, yang terbagi menjadi dua untuk area penerbangan domestik dan internasional. 



“Akhirnya ... liburan juga.” Maula menghirup udara sore yang cukup cerah dan masih terasa hangat dari pulau ini.



“Kamu boleh liburan tapi jangan ganggu konsentrasi Abang lagi kerja, loh,” ucapnya sambil menelepon manager hotel untuk mengirim seorang sopir ke bandara.



“Aku bisa jalan-jalan sendiri. Abang kerja aja gak usah mikirin aku.”



“Hh ... tapi ini kawasan orang. Kamu gak boleh pergi sendiri. Tunggu Abang selesai kerja baru jalan-jalan.”



“Gak usah repot-repot nganter aku, Bang. Cariin Guide aja buat aku. Beres.”



“Gak usah. Abang kan bisa jadi Guide juga buat kamu.” Masih dengan mata yang terus mencari keberadaan sopir yang katanya sudah tiba di sini sejak satu jam yang lalu.

__ADS_1



“Emang dasar nih Abang-abang,” keluh Maula pelan. Namun, masih terdengar dengan jelas karena wajahnya tengah menengadah menghadap Khayru yang terlihat sibuk.



“Apa?!” Khayru membalas tatapan Maula seraya memasukkan handphone ke saku celananya.



“Bisa jadi aappaaa aja cuma buat ngawasin aku. Tak terkecuali saat liburan begini.”



“Iya, bagus dong. *All in*.” celetuknya dengan mata Masih memandang ke semua arah demi mencari keberadaan sopir hotel.



Sepintas kemudian, dia menghadap Maula seraya memindai seluruh tubuhnya sendiri dari ujung kepala sampai kaki. “Lihat baik-baik. Ini fasilitas khusus yang di sediakan Papa buat putri tercintanya. Apa ada yang kurang?” Senyumnya penuh teka teki.



“Fasilitas apaan? *Overall bad*.” Maula mengibaskan telapak tangannya sambil tergelak.



“*Bad* gimana? Katakan saja Abang kurang apa?”



“Apa Abang kurang bijak untuk menggantikan figur Mama sama Papa yang udah meninggal?”



“Atau mungkin kurang galak sebagai kakak pada adiknya?”



“Kurang dalam memberikan kasih sayang sebagai seorang suami pada istrinya?”



“Atau kurang tampan untuk menjadi pacar seorang Maula?”



“Abang ngomong apaan, sih?”



Maula hanya menatap dengan dahi berkerut. Lalu tiba-tiba dia tertawa. “Pacar ... suami ....”



Sepertinya Khayru dalam keadaan khilaf, untunglah seseorang yang ditunggu telah datang menyelamatkannya.



“Mohon maaf, saya datang terlambat,” ucapnya sungkan. Seseorang dengan seragam hotel turun dari sebuah mobil dengan logo yang sama seperti yang tertera di seragamnya. “Nama saya Jumitri. Sopir baru di hotel, Tuan. Maaf telah mumbuat anda lama menunggu.”



Dari seragam dan logonya, Khayru sudah bisa tahu bahwa dia salah satu karyawan di hotel miliknya.



“Tidak masalah.” Khayru mulai melangkahkan kakinya ke arah mobil dengan tangan yang tidak pernah lenggang. Selalu ada tangan Maula yang ia genggam serta *travel bag* di tangan yang lainnya.

__ADS_1



To be continue


__ADS_2