
“Gimana, Dek, rekaman CCTV di kafe, ada gak?” Katia mendorong piring-piring kotor bekas makan yang segera di rapikan sama Bik Sulis
“Tadi pagi, sih, ada. Aku belum sempet bikin salinannya karena listrik mati. Sorenya aku cek lagi, udah gak ada,” jawabnya sambil meraih segelas air putih, penutup makan malamnya.
“Loh, kok, gak ada? Udah tanya Dandi?”
“Tadi pagi udah minta tolong dia bikinin salinannya, tapi keknya dia sibuk. Rekamannya juga udah ilang semua pas listrik mati.”
“Kamu gak ngerasa, aneh?” tanyanya, datar.
“Iya, emang aneh, Kak. Yang paling aneh, tuh ternyata mereka sengaja nabrakin mobilnya ke mobil aku. Ini bukan kecelakaan.”
“Bentar, di luar kayaknya ada tamu, deh.” Katia melongokkan kepalanya ke arah pintu utama. Ada suara bel dari sana, dia coba melihatnya. Tak lama dia kembali sambil tersenyum.
“Siapa, Kak?”
“Tamu buat kamu. Temuin, gih.” Katia masih tersenyum, padahal yang datang hanya sopir menyebalkan yang mengajaknya bertemu di kantor polisi, kemarin malam.
“Siapa, sih, Kak? Sering banget ada tamu malem-malem.” Terpaksa bangun dengan malas dari tempat duduk karena Katia sudah menarik tangannya.
“Anda datang lagi, Pak?” Maula duduk di ruang tamu, menghadap sopir menyebalkan itu. “Saya harap kali ini, Bapak bawa KTP saya.”
“Maaf, anu, Mbak ....” Sopir itu sedikit ragu mengatakannya.
“Anu kenapa, Pak?”
“Majikan saya bilang ... KTP-nya ilang sewaktu dia kencan sama ceweknya, i-itu maksud saya.”
“Apa?!” Maula tak habis pikir. Kejadiannya semakin tak masuk akal. “Alasan macam apa ini, Pak?” Nada bicaranya masih sangat datar.
“I-iya. Dia bilang gak papa, biaya perbaikan mobilnya, bayar setengah aja karena dia mengaku salah sudah menghilangkan KTP Mbaknya, gitu, Mbak.”
Maula sedikit mendengus sambil bangkit dari duduknya. “Tolong bilang sama majikan Bapak, setengahnya pun saya gak mau bayar kecuali dia datang menghadap saya. Maaf saya tinggal. Saya harus belajar.” Maula beranjak meninggalkan Katia dan sopir itu di ruang tamu.
“Saya sudah datang!”
Suara itu terdengar setelah tiga langkah Maula mengayunkan kakinya. Sontak, membuat ia berhenti dan memaku diri. Coba memastikan pendengarannya karena suara itu ... begitu dekat.
“Untuk menghadapmu ...,” ucapnya kali ini lebih pelan.
Maula memutar badan, menatap lelaki yang muncul tiba-tiba di hadapannya. Namun, dunia yang selama ini berputar sangat lambat dalam kurun waktu satu tahun, tiba-tiba berhenti. Semua benda di sekitarnya tak lagi bergerak, hanya ada mereka berdua yang saling menatap, hanya ada angin malam yang terus berdesir membawa pesan-pesan kerinduan yang kian menyentuh. Hanya ada dua pasang bola mata yang memerah, tak sanggup untuk saling melepaskan pandangan. Bibir yang terkunci rapat, tak mampu mengucap apa yang ingin disampaikan hati. Bahkan, untuk lari ke pelukan rasanya tak mungkin lagi. Untuk merasakan sentuhannya pun tak bisa lagi. Mata yang masih bisa menatap itu, tak kuasa menahan pusaran hangat yang kini berjatuhan di pipinya. Sama sekali hanya berdiri seperti ini. Tetap seperti ini.
__ADS_1
Khayru hanya mengulas senyum penuh arti. Untuk melangkah lebih dekat dan mengusap air matanya, dia tidak berani. Padahal, tangannya sudah terulur. Namun, akhirnya hanya meletakkan telapak tangan itu di atas kepala Maula tanpa menyentuhnya.
Aldi yang yang datang bersamanya sedari tadi, menepuk pundak Khayru seakan membangunkan semua benda-benda mati yang ada di rumah ini. Termasuk Maula, segera melepaskan diri dari rangkaian ilusi yang mengisi kepalanya.
Ini bukan mimpi. Sambil memicingkan matanya.
“Dia sudah pulang, Maula.” Aldi merangkul bahu Khayru yang masih berdiri di hadapannya. Ucapannya seolah menegaskan bahwa Maula tidak sedang bermimpi saat ini.
Bibirnya hanya tersenyum kecil sambil menunduk. Katia merangkulnya sambil mendekatkan wajah mereka hingga bersentuhan.
“Gimana, seneng gak?” bisik Katia yang masih bisa didengar Aldi dan Khayru.
Saat menyadari pertanyaan Katia, mendadak Maula jadi salah tingkah. Dia hampir mengangguk, akan tetapi gak mungkin dia jawab seperti itu di hadapan Khayru.
“Aku ... ngantuk,” ucapnya sambil mengucek matanya hingga terlihat semakin memerah.
“Kok, ngantuk? Tamunya kan belum disapa.”
“Anu ... Pak sopir yang tadi ke mana, ya, Kak?” Maula nampak mencari-cari, memutar wajahnya ke kanan dan ke kiri, akan tetapi ketika pandangannya tak sengaja lewat di wajah Khayru, ia dapati wajah itu terus tersenyum ke arahnya. Membuat dia makin serba salah.
“Aduh, ngapain sih, nanyain Pak Sopir menyebalkan itu? Ini sudah ada majikannya. Silakan mau kamu apain?” Katia menarik lengan Maula ke sofa. “Pada berdiri semua, gak pegel emangnya?”
“Yang nyebelin itu bukan Pak sopir, Kak, tapi majikannya.” Maula mendelik ke arah Khayru yang saat ini tak lebih dari seorang majikan dari sopir yang menabrak mobilnya.
“Ya ampun, Pak Aldi belum makan malam?”
“Sudah, sih, tapi energi hari ini keluar habis-habisan hanya buat nabokin cowok satu ini.” Dia menunjuk Khayru dengan mata dan mulutnya.
Katia pun berdiri. Dia mengerti maksud Aldi yang ingin meninggalkan Maula dan Khayru supaya bisa bicara berdua.
“Ayo Mas Aldi saya temenin makan malam dulu.” Panggilan 'Mas' membuat Aldi gemas ingin berseloroh.
“Nah, gitu dong. Calon suami ditemenin makan juga, bukan cuma dibikinin kopi di tempat kerja.” Canda Aldi disambut kedipan mata oleh Katia.
“Eh! Kalian?!” Sudah bisa ditebak dari wajahnya, Khayru penasaran dengan hubungan mereka.
“Sejak kapan, Kak?” Maula pun baru kali ini mendengar penggilan 'calon suami' di antara mereka.
“Nanti saja kita cerita. Yang pasti kali ini, giliran kita yang mau pamer. Iya, gak, sayang?” Aldi senang sekali melihat wajah Maula dan Khayru saat ini. Tak bisa lagi pamer kemesraan seperti dulu.
“Ish! Dasar,” gumam Khayru sambil memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Tinggallah mereka berdua di tengah kecanggungan. Entah bagaimana cara mencairkan suasana ekstrem ini. Yang pasti, keduanya sama-sama kehilangan kata-kata. Beruntung masih bisa bertanya kabar masing-masing sambil melempar senyum, meski setelahnya kembali hening.
Maula mengulurkan telapak tangan terbuka, menambah kesangsian yang dirasakan Khayru untuk menerka apa maksud uluran tangannya itu. Mungkin gadis itu tengah meminta jabat tangan. Dia coba membalasnya. Namun, dengan cepat Maula menjauhkan tangan mereka.
“KTP-ku,” jelasnya sambil mengerucutkan bibir.
“Ough ... ya, ampun.” Khayru menyentuh kening dengan telapak tangan sambil menyembunyikan wajahnya karena malu. Lalu merogoh saku jaket untuk mendapatkan KTP milik Maula.
“Maaf,” ucapnya kikuk, sambil mengangsurkan benda kecil itu.
“Abang sengaja menabrak mobilku? Mau cari gara-gara denganku?”
“Ahahaha ....” Tawa itu terdengar ringan. Namun, tak lama karena dia lihat Maula terus menatapnya. “Pak Darya yang nyetir,” ucapnya untuk melindungi diri jika sewaktu-waktu Maula menjadi marah karena itu.
“Abang yang nyuruh dia nambrak mobil aku, terus bawa KTP ini sampe berhari-hari.” Sambil mengangkat kartu di tangannya.
Khayru tak bisa berkata apa pun, hanya menahan napas sambil mengangkat alis.
“Abang juga nyuruh sopir itu datang buat minta ganti rugi senilai 130 juta. Sebenarnya untuk apa melakukan ini?”
Khayru mengangkat alisnya semakin tinggi lalu menyipitkan matanya sambil tersenyum.
“Sekongkol sama Mas Dandi, terus ... siapa lagi kira-kira?”
“Mas Aldi enggak, kok, Maula ...!” seru Aldi yang baru selesai makan malam.
“Idiihh, Mas Aldi?” cibir Khayru.
Ternyata, Aldi diikuti Bi Sulis, Tini dan juga Neneng. Tidak terbayang ekspresi mereka ketika tiba-tiba melihat Tuannya ada di rumah ini.
“Tuan! Ya ampun, Tuan!” Bi Sulis menatap Khayru dari ujung rambut hingga ke kaki.
“Syukurlah, Tuan tidak lupa jalan pulang.” Tini bernapas lega.
“Tuannn!! Neneng kangen banget sama Tuan. Ya, ampun, boleh peluk, gak, Tuan? Satu kali aja.” Neneng datang paling terakhir sambil merentangkan kedua tangannya. Namun, dia segera meralat ucapannya sambil memeluk Maula. “Neneng bercanda, Non. Enon kangen, gak, sama Tuan? Kangen, kan? Pasti kangen banget. Pasti ini mah gak diragukan lagi.”
Jika sudah seperti ini, jalan satu-satunya, Maula harus pura-pura ngantuk, lalu masuk ke kamar. Jika tidak, ia akan habis di-bully para ART. Dia pamit sebelum wajahnya memerah dan panas. Padahal, malam ini yakin, dia tidak mungkin bisa tidur. Bahkan, saat mesin dari mobil berwarna kuning itu menyala di halaman, Maula masih berdiri di balik jendela.
Khayru yang sudah siap melajukan mobilnya untuk kembali ke rumah Pak Kiai, ia sempatkan membuka jendela mobil lalu melambaikan tangannya ke arah kamar Maula yang masih menyala. Dia tahu, Maula belum tidur, karena itu dia tersenyum melihat jendela kamar yang sedikit terbuka.
“Good night!”
__ADS_1
To Be Continued ....