Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 86


__ADS_3

“Ternyata, selain indah dipandang, gaun pengantin merepotkan juga,” keluh Maula setelah mendudukkan dirinya di dalam mobil.


“Kenapa gak bawa baju ganti, biar gaunnya bisa dilepas sebelum pulang?” balas Khayru seraya membantu memasukkan gaun yang masih menjuntai ke luar. Setelah menutup pintu mobil rapat-rapat, dia pun duduk di sebelah Maula.


“Boro-boro ingat sama baju ganti, udah telat malah ditinggal lagi.” Sambil mengangkat kaki dan melepas high heel. Dia Meringis seraya memijit kakinya sendiri.


Khayru menarik kaki Maula sambil mendekat. Tanpa menunggu perintah, nalurinya sudah tau apa yang harus dia lakukan. Meletakkan tangannya lalu menekan seluruh bagian kaki Maula dengan lembut. Sementara mang Sodik sudah mulai melajukan mobil menuju kediamannya.


“Masa iya, pengantin ditinggal? Dandannya kelamaan kali?”


“Au, Akh.” Sambil menyandarkan kepalanya lalu memejamkan mata. “Capek,” gumamnya.


“Ya udah, tidur.” Sementara dirinya tetap memijit kaki Maula sembari menatap wajahnya.


“Tidur sekarang biar nanti malam gak ngantuk, ya, Tuan?” sela mang Sodik tiba-tiba sambil melirik.


“Hahaha... emangnya malam pertama harus gadang, ya, Mang? Nemenin tamu kali ya.”


“Jangan hiraukan para tamu, kunci saja pintu kamarnya.”


Khayru kembali tertawa mendengar saran dari mang Sodik. Dia memang sudah tak sanggup untuk menunggu, tapi karena Maula benar-benar terlihat lelah, dia putuskan untuk istirahat penuh malam ini. Dia juga harus menemani tamu sebelum mereka kembali ke Maroko.


Mobil mulai memasuki halaman rumah. Mang Sodik sengaja berhenti tepat di depan pintu utama untuk memudahkan tuannya saat membawa Maula yang tengah tertidur ke dalam rumahnya.


Khayru sempat menatapnya lamat-lamat. Dia tidak berpikir untuk membangunkannya karena sepertinya tidur Maula sangat lelap. Setelah mang Sodik membukakan pintu, dia coba mengeluarkan tubuh Maula. Meski sedikit kesulitan karena gaun yang sangat panjang dan berat, ia tetap membawa ke kamar untuk menidurkannya.


“Mang! Tolong bawa sepatu Maula ke dalam,” perintahnya seraya berlalu dari halaman.


Saat ia melewati ruang tamu, dia sempat memanggil seseorang supaya membantunya membuka pintu kamar. Katia yang juga belum lama tiba di rumah, segera berdiri dari tempat duduknya.


“Biar saya aja.” Katia berjalan lebih cepat di depan Khayru.


“Panggil Neneng atau Mbak Tini saja. Kamu juga pasti perlu istirahat.”


“Gak apa-apa,” imbuhnya sambil berjalan cepat. “Kasihan banget Maula, sampe ketiduran begitu.” Dia juga bantu mengangkat gaun yang menjuntai ke lantai.


“Sepertinya, gaun ini lebih berat daripada bobot pemakainya,” ucap Khayru pada Katia. “Sebaiknya nanti kamu jangan pilih gaun seperti ini. Kasihan Aldi kalau mau gendong kamu.”


Katia tertawa sambil membuka pintu. “Ke kamar pak Iru aja, ya. Kamar Maula pasti masih berantakan.”


“Kamu itu adik sepupuku, saudari iparku juga. Jadi jangan panggil 'pak' lagi.” Sambil melirik sekilas lalu masuk membawa Maula. “Makasih, Kat. Tolong tutup lagi pintunya.”


“Baik, pak, eh! Mas.” Sambil tertawa kecil, ia menutup pintu kamar lalu pergi kembali ke ruang tamu karena masih ada Aldi di sana.


Sementara Khayru mulai menidurkan Maula pelan-pelan. Dia juga menyalakan AC karena dilihatnya gadis itu sedikit berkeringat.


“Maksih, Dek, karena kamu sudah begitu santai menghadapi Risa yang datang tiba-tiba,” ucapnya pelan seraya mengusap keringat di dahinya.


Maula sempat membolak-balikkan tubuhnya karena gaun dan penutup kepala, membuatnya tidak bisa tidur dengan nyaman. Perlahan dia membuka mata. Dilihatnya Khayru yang sudah siap ke kamar mandi.


“Ini jam berapa?” Sambil mengerjapkan mata berkali-kali lalu menatap langit-langit untuk memastikan dirinya tengah berada di mana saat ini. Suara Maula membuat Khayru menoleh dan menghentikan langkahnya.


“Sudah bangun, ya? Ya udah, bangun, yuk. Salat dzuhur dulu.”


Maula mengulurkan kedua tangannya supaya Khayru membantunya untuk bangun. Lagi-lagi gaunnya membuat dia sulit untuk bergerak.


“Aku mau mandi dan salat di kamarku aja.” Dia bergegas ke luar dari kamar ini. Dan mereka akan bertemu di bawah setelah selesai semuanya.


Ruang tamu dan ruang tengah masih nampak ramai dengan sanak keluarga yang tengah berkemas. Khayru dan Maula datang membantu. Meski mereka berbasa-basi meminta untuk tinggal beberapa hari lagi, tapi Khayru sudah menyiapkan banyak oleh-oleh untuk dibawa pulang karena mereka mungkin tidak sempat membelinya.


Seusai makan malam, tuan Omar cukup pengertian. Dia meminta Khayru dan Maula untuk rehat saja di kamar. Seperti kata mang Sodik, tuan Omar bilang jangan hiraukan para tamu karena ada dia yang menemaninya.


“Ini kan belum malam, kenapa Ayah meminta kita cepat tidur? Aku masih mau ngobrol,” protesnya sebelum masuk kamar.


“Maksud Ayah kan, supaya kita ngobrolnya berdua di kamar.” Sambil membuka pintu kamarnya.


Namun, Maula juga segera membuka pintu kamarnya sendiri yang ternyata sudah disetting menjadi kamar pengantin yang romantis. “Lihat kamarku, Bang!”


“Widiihh. Kamarnya udah siap.” Sambil membelalakkan mata, Khayru mendorong tubuh Maula ke dalam kamarnya lalu mengunci pintu. “Udahlah, gak usah nunggu besok. Kamu juga udah siap ternyata.” Dia mendorong Maula hingga ke tempat tidurnya.

__ADS_1


“Abang mau apa?”


“Berselancar di malam pertama. Kamu siap?”


“A-aku... mau diapain?”


“Kamu berbaring aja. Kalau Abang melakukan sesuatu kamu jangan kaget.”


Maula pun hanya mengangguk sambil membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang penuh kelopak mawar. Dia mengembuskan napas sambil menggigit bibir bawahnya.


“Kamu gak tegang kan?”


“Sedikit.” Sambil memicingkan mata.


“Sedikit tapi sampe keringetan begini,” balasnya sambil terkekeh. Jarak wajah mereka semakin dekat. Napas yang berbaur terasa hangat menerpa kulit yang tiba-tiba meremang.


Khayru mendaratkan bibirnya dengan lembut. Menciumi wangi tubuh Maula hingga gadis itu tak mampu menghindar. Dia hanya memejamkan mata saat merasakan sentuhan demi sentuhan menyusuri titik-titik yang melemahkan. Jujur, tubuh Maula saat ini sangat tegang. Dia tidak bisa menikmati apa pun saat tiba-tiba harus menerima serangan dari suaminya. Namun, pikirnya ia harus tetap melakukan ini karena cepat atau lambat, peristiwa ini akan tetap terjadi. Siap atau tidak, semua pasangan suami istri akan mengalaminya.


Khayru bak tengah berselancar sebelum akhirnya akan melepaskan genjatan senjata. Aksinya sempat terhenti, karena terdengar ketukan pintu dari luar. Mereka berdua sempat mendelik lalu mengabaikan suara itu. Namun, semakin lama ketukan itu semakin mengganggu.


“Haaiissh!” Khayru menjatuhkan dirinya di samping Maula sambil mendengus.


“Dibuka dulu, Bang. Siapa tau penting.”


Tanpa mengatakan apa pun, dia beringsut menuju pintu.


“Kancing bajunya dirapikan dulu, Bang!” teriak Maula.


“Gak ada waktu lain em....” Ucapan Khayru terhenti ketika ia lihat yang berdiri di balik pintu ternyata ayahnya sendiri. “Maaf, Ayah. Aku kira si--”


“Ayah tidak bermaksud mengganggu, tapi Handphone kamu ketinggalan di meja makan. Dari tadi bunyi terus.” Tuan Omar memotong ucapan Khayru sambil mengulurkan handphone di tangannya karena tidak ingin membuang banyak waktu. Dia tahu saat ini tengah mengganggu waktu berharga--anaknya.


“Oh, iya, makasih, Ayah.” Sambil menggaruk tengkuknya.


“Lanjutkan.” Sang ayah menunjuk ke dalam kamar. “Jangan lupa kunci lagi pintunya,” ucapnya sambil berlalu dari hadapan anaknya.


Khayru sempat melongokkan kepalanya keluar sebelum mengunci pintu--untuk memastikan--tidak ada orang yang akan mengetuk pintu lagi. Sambil berjalan menuju tempat tidur, ia memeriksa panggilan yang masuk ke handphonenya.


“Tristan telepon malam-malam begini. Udahlah jangan diladenin. Gak ada faedahnya ngomong sama orang gendeng kaya dia.” Sambil melempar handphone ke atas nakas.


“Siapa tau urgent, Bang. Coba ditelepon balik.”


“Gak ada yang lebih urgent dibanding misi kita. Mencetak 20 orang anak sampe gol.” Dengan cepat dia naik ke tempat tidur. Mengangkat dagu Maula dan kembali merapatkan bibir mereka. Membangkitkan kembali hasrat yang sempat terjeda.


Lagi-lagi, handphone berbunyi.


“Astaghfirullah! Tristan...!” dengusnya.


“Makanya, diangkat dulu, Bang. Kayaknya penting itu.” Sambil menahan wajah Khayru yang terus mendekat.


Sedikit frustasi dia mendudukkan tubuhnya seraya meraih handphone yang belum berhenti berdering.


“Tris, ini malam keramat buat gue. Gak ada seorang pun yang boleh ganggu termasuk elo. paham?!”


“Assalamualaikum, Ru. Ini bapak.” Suara di balik telepon ternyata bukan Tristan.


Khayru menatap layar handphone lalu merutuki dirinya saat dia lihat nama pak Kiai yang memanggil.


Haduuhh, mati gue! malu malu malu....


“Astaghfirullah, saya minta maaf pak Kiai.” Sedikit mengaduh dan salah tingkah. “Saya... senang sekali, pak Kiai menelepon.”


“Maaf, bapak mengganggu malam keramatmu, Ru. Hahaha....”


“Eng-enggak, pak, tadi saya sedang bercanda sama Tristan. Tolong jangan dianggap serius hehe....” Dia berusaha menyembunyikan rasa malu.


“Bapak cuma mau ngingetin. Sebelum kamu mulai malam keramat, jangan lupa buka dulu Qurratul uyun. Siapa tau kamu lupa.”


“Ya, Allah. Saya benar-benar lupa. Untung pak Kiai telepon, kalau enggak, saya langsung tempur tadi.” Dia tertawa sambil menepuk jidatnya sendiri. “Pak Kiai... sebenarnya, saya belum khatam kitab itu,” terangnya.

__ADS_1


“Paling tidak, kamu buka pasal 9 dulu, yang lainnya dipelajari juga nanti setelahnya.”


“Siap pak Kiai. Terima kasih sudah diingatkan.”


“Ya sudah, Ru. Selamat berjuang, tapi ingat, ojo grasak grusuk, kasihan istri kamu.”


Setelah menutup percakapan, Khayru coba mengingat-ingat, di mana ia menyimpan kitab favorit para santri itu.


“Qurratul uyun... Qurratul uyun....” Dia berputar-putar sambil mengetuk-ngetuk kepalanya. “Oh, mungkin ada di kamarku, atau di perpustakaan Papa,” ucapnya sambil bergegas untuk mengambilnya.


“Abang mau ke mana? Aku boleh tidur duluan, gak?”


“Jangan, jangan. Jangan tidur dulu.” Ia kembali duduk di tempat tidur menghadap Maula. “Kita mau punya keturunan yang saleh dan salehah 'kan?”


Maula menjawab dengan anggukkan.


“Pak Kiai bilang, kita harus melakukannya dengan cara yang baik jika ingin mendapat keturunan yang baik. Kamu boleh ambil wudhu dulu. Abang mau ambil sesuatu di luar.”


“Semuanya ada 20 pasal. Bagaimana aku mempelajarinya dalam waktu satu malam?” Dia kembali ke kamar seraya membuka tiap halaman Qurratul Uyun--kitab Syarah Nazham Ibnu Yamun.


-Pasal 1 Nikah dan Hukumnya.


-Pasal 2 Beberapa hal yang positif dalam nikah.


-Pasal 3 hal-hal yang perlu diupayakan dalam menikah.


-Pasal 4 mencari waktu yang tepat untuk melakukan hubungan intim.


-Pasal 5 sekitar penyelenggaraan pesta perkawinan(walimah)


-Pasal 6 tentang tata krama melakukan hubungan int*m.


-Pasal 7 tentang etika dan cara-cara yang ni*mat dalam melakukan hubungan int*m


-Pasal 8 tentang berdandan dan kesetiaan istri.


-Pasal 9 tentang posisi, cara untuk mencapai puncak keni*matan dan doa dalam bers*tubuh.


-Pasal 10 tentang makanan yang perlu di jauhi saat sedang berbulan madu dan saat istri hamil.


-Pasal 11 beberapa hal yang harus diupayakan ketika hendak melakukan hubungan int*m.


-Pasal 12 kewajiban suami terhadap istri dalam memberi nafkah bathin.


-Pasal 13 posisi dalam bers*tubuh yang perlu dihindari.


-Pasal 14 batas-batas yang di haramkan dan di halalkan dalam hubungan int*m dengan istri.


-Pasal 15 memilih waktu yang tepat dan hal-hal lainnya yang perlu di perhatikan dalam hubungan int*m.


-Pasal 16 tata kerama orang yang sedang junub.


-Pasal 17 tentang tata kerama orang yang hendak bersetubuh dua kali dan hal-hal yang perlu di


perhatikan dalam bersetubuh


-Pasal 18 sumai istri harus saling memuliakan dan saling menghormati


-Pasal 19 kewajiban suami terhadap istri dan seluruh anggota keluarganya dalam membina rumah tangga.


-Pasal 20 suami dan istri wajib mendidik anaknya agar menjadi anak yang berbudi luhur.


“Pak Kiai tau aja, pasal 9 selalu jadi favorit para santri Ulya,” gumamnya sambil terkekeh.


To Be Continued....


__________


Note:

__ADS_1


Qurrotul Uyun merupakan kitab berbentuk syarah dari nazham (Syair) yang ditulis oleh Syekh Qasim bin Ahmad bin Musa bin Yamun. Sebagaimana kitab syarah pada umumnya, Syekh Tahami menyajikan ulasan yang memahamkan secara runut pada tiap bait-bait yang disusun Syekh Yamun. Tetapi, Syekh Tahami memiliki kelihaian dan keluwesan bahasa yang benar-benar mudah ditangkap oleh pembaca. Qurrotul Uyun menyajikan pembahasan sengg*ma secara lengkap dan gamblang, mulai dari pemilihan waktu yang tepat, tata cara foreplay yang dianjurkan, bagaimana posisi yang unggul dan doa-doa yang harus dibaca. (alif.id)


__ADS_2