Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 73.


__ADS_3

Sesaat setelah menutup telepon, Maula menangis sambil menggenggam handphone-nya sangat erat. Dia tahu bahwa dirinya akan selalu seperti ini.


Sementara Khayru mulai merasakan apa yang terjadi pada Maula, sangatlah tidak normal.


“Apa yang terjadi dengannya. Mungkinkah dia sakit?”


“Ah, tidak! tidak! Ini tidak mungkin.” Dia mengguncang kepala untuk penepis kecurigaan yang tiba-tiba muncul di benaknya.


“Tapi ....” Dia kembali berandai-andai karena kecurigaan itu terus mengganggunya. “Bagaimana jika ini memang benar terjadi?”


Setelah berpikir cukup lama, akhirnya dia putuskan untuk menelepon dr. Luthfie karena hanya dia yang bisa diajak bicara saat ini. Terlebih karena dr. Luthfie adalah seorang psikiater yang mungkin akan lebih memahami kondisi kejiwaan seseorang.


“Wah, tumben telepon. Ada apa, Ru?” Beruntung dokter Luthfie masih bisa dihubungi meski dia tengah berjaga di rumah sakit miliknya di Bandung. Mereka saling bertanya kabar masing-masing karena terbilang cukup lama tidak bertemu, sebelum akhirnya, Khayru sempatkan bertanya beberapa hal.


“Maaf, dokter, saya mengganggu malam-malam begini.” Sepertinya, dia tidak akan bisa tidur jika harus menunggu sampai besok untuk menanyakan hal ini.


“Jangan sungkan, saya ini kan dokter siaga, Ru,” kelakarnya. “Siap menerima telepon kapan saja, 24 jam.” lanjutnya sambil terkekeh.


Khyaru mengucapkan beberapa ungkapan kekaguman terhadap dokter yang satu itu karena memang dia dokter panutan di rumah sakitnya.


“Gimana, gimana? Ada yang bisa dibantu?” tawarnya.


Meski malam sudah hampir larut, akan tetapi nada bicaranya masih terdengar sigap penuh semangat. Ini kesempatan Khayru untuk bertanya beberapa hal tentang kebiasaan dan tingkah seseorang yang ia nilai tidak umum terjadi pada kebanyakan orang.


Dokter Luthfie hanya diam menyimak apa yang disampaikan Khayru tentang seseorang yang tidak ia sebutkan namanya. Namun, tidak disangka ternyata dokter Luthfie sudah bisa menebak dengan tepat, siapa dan ada apa yang terjadi dengan seseorang yang menjadi bahan perbincangan malam ini.


“Kamu baru menyadarinya, Ru?” tanya dokter Luthfie membuat Khayru mengerutkan kening.


“Menyadari apa, dokter?”


mengenai apa yang dialami Maula selama ini, sudah sejak lama, dia menetapkan diagnosis bahwa Maula menderita BPD (Borderline personality disorder)⁶


“Apa?!” Khayru hampir tak percaya bahwa selama ini Maula mengidap penyakit kejiwaan semacam itu.


“Kamu pikir, untuk apa tuan Zul bersikeras memintamu untuk menjaga Maula? Ya, itu karena dia menyadari bahwa putrinya membutuhkan perlakuan khusus dari orang-orang terdekatnya yaitu kamu. Dia sedikit berbeda dengan anak-anak lainnya.”


Khayru tertegun, seketika mulutnya tak mampu mengeluarkan kata-kata. Dia telah melakukan kesalahan terbesar karena melepas amanat dari ayahnya Maula.


“BPD, pada umumnya menyerang anak-anak remaja hingga menjelang dewasa. Dan Maula menyadari ada yang tidak beres dengan dirinya sejak lebih dari satu tahun yang lalu. Sebelum kamu pergi ke Maroko.”


“Kenapa tidak ada yang memberi tahuku? Seharusnya aku tahu apa pun yang terjadi pada Maula. Bukan malah membiarkanku pergi jauh darinya.” gumamnya seakan ingin menyalahkan dokter Luthfie.


“Maula yang minta untuk tidak memberitahu siapa pun dan itu memang keinginannya supaya kamu pergi jauh, Ru. Gejalanya memang seperti itu. Merasa harus menghindar dari seseorang, suasana hati yang terus berubah-ubah, stres, takut akan penolakan, merasa tidak berharga, hampa dan kesepian,” tuturnya lagi. “Saya kira kamu gak akan menuruti kemauan Maula. Kamu payah, Ru!”


Mulutnya semakin kelu. Dia tak punya pilihan kata terbaik untuk menyatakan sebuah penyesalan. Dia semakin teringat dengan ucapan Katia bahwa Maula selama ini sering menghabiskan waktu di kamar mandi hanya untuk menangis sendiri.


Mungkinkah saat itu Maula kesepian. Seharusnya aku tidak pergi, apa pun yang terjadi. Dia menghela napas panjang.


Merutuki dirinya sendiri karena telah membiarkan Maula menjalani masa itu seorang diri.


“Maula tengah berjuang menghindari hal yang paling menakutkan dalam hidupnya yaitu ... bunuh diri,” terang dokter Lutfie dengan hati-hati.


“Astagfirullahaladzim!!” Khayru kembali mengucap istighfar seraya mengusap dadanya. “Separah itukah?” Kekhawatiran Khayru semakin memuncak.


“Saya harap tidak. Karena dia selalu bilang keadaanya masih bisa dikendalikan. Hanya saja, mungkin ada sedikit ketakutan jika sewaktu-waktu dia kehilangan kendali.”


“Maula memang pernah menyatakan keinginan untuk bunuh diri saat Papa meninggal dunia. Aku pikir itu normal, karena dia kehilangan orangtua. Lain hal dengan kejadian Mamanya Rere yang meninggal karena bunuh diri. Sikap responsif Maula sangat tidak lazim karena dia mengaitkannya dengan banyak hal.”


“Ya, bagi penderita BPD memang hal seperti itu bisa memicu untuk melakukan hal-hal yang impulsif. Merasa hidup tidak berharga lagi karena orang-orang yang dia sayangi telah meninggalkannya.”


“Apa yang harus saya lakukan untuk bisa berada di dekatnya, dokter? Saya tidak ingin melakukan kesalahan lagi.” Kelopak matanya kini mulai basah dengan bola yang semakin memerah.


“Hindari perdebatan saat berada di dekatnya, karena dia cenderung mudah marah. Itu saja dulu.”


“Baik.” Khayru mengangguk pelan pada dirinya sendiri.

__ADS_1


“Besok kita ketemu di Jakarta. Saya akan buat janji dengan dokter Aini sp.KJ di rumah sakit.”


“Dokter Aini?” Nama itu seperti tidak asing di telinga Khayru.


“Iya, dokter Aini,” jelas Luthfie. “Saat saya berhalangan datang ke Jakarta, dokter Aini lah yang berhadapan langsung dengan Maula saat dia datang untuk konsultasi.”


Sesaat setelah menutup telepon, Khayru segera melajukan mobil. Di tengah malam buta, ia menelepon Ferdi supaya membukakan pintu untuknya.


Semua penghuni rumah tengah lelap dalam buaian mimpi, sementara dia berdiri menghadap kamar Maula sambil menengadahkan wajah.


“Mulai sekarang, jangan pernah minta Abang untuk pergi, karena Abang akan selalu berada di tempat paling dekat denganmu seperti bayangan. Jangan kesepian lagi.”




Pagi itu, di waktu yang bersamaan dengan Maula, Khayru pun keluar dari kamarnya. Kehadiran yang cukup mengagetkan, terlebih saat itu, Khayru langsung memeluk Maula tanpa aba-aba. Kali ini dia mengabaikan aturan lagi, karena yang ingin dia lakukan saat ini, berada sedekat mungkin dengan Maula.



*K-kenapa tiba-tiba ada di sini*?



“Abang! Lepasin aku!”



Khayru tak peduli dengan suara Maula. Hingga beberapa menit berlalu, dia baru melepaskan pelukannya itu



Maula menatap heran, tak ada yang tahu kapan lelaki itu masuk ke rumahnya. Kembali untuk menempati kamar yang sudah lama ia tinggalkan.




“Ish ... jangan pegang sembarangan!” gerutunya pelan.



Khayru menarik napas dalam, sambil merentangkan kedua tangan ke atas. “Syukurlah, kamu tidak merubah apa pun yang ada di rumah ini. Kalau iya, Abang bisa kehilangan semua kenangan manis tentang kita berdua.”



Dia berjalan di belakang Maula yang melangkah pelan karena harus merapikan kembali kerudungnya. “Sini Abang bantu.” Khayru menawarkan bantuan sambil mengulurkan tangan.



“Aku bilang jangan pegang-pegang!” pekiknya kesal. “Abang bisa tinggal di rumah ini karena ini rumah Abang juga, tapi bukan berarti Abang boleh sentuh-sentuh aku seenaknya.”



“Kalau Abang khilaf gimana?”



“Ya jangan khilaf, dong. Masa gitu aja khilaf.”



Suara ocehan Maula cukup menyita perhatian seluruh penghuni rumah yang berkumpul di ruang makan. Namun, kehadiran Khayru pagi itu lebih menyita perhatian lagi. Karena hanya Ferdi yang tahu bahwa semalam Khayru pulang ke rumah ini.


__ADS_1


“Wah, pagi-pagi begini sudah ada di sini, pak Iru?” tanya Katia sambil berdiri menyambut kehadirannya.



“Maaf untuk semuanya, karena mungkin mulai sekarang saya akan tinggal di sini lagi. Semoga tidak ada yang keberatan.” Sambil menggeser sebuah kursi untuk Maula sementara dia duduk di sebelahnya.



Tentu saja ia mendapat sambutan baik dari Bi Sulis, Mbak Tina dan juga Neneng yang saat ini hadir semua di ruang makan dengan tugas masing-masing saat menyiapkan sarapan. Neneng yang membawakan semua menu makanan dari dapur, Mbak Tina menyiapkan piring, gelas serta sendok dan yang lainnya. Sementara Bi Sulis mengisi piring-piring itu dengan nasi lalu menuangkan air putih ke dalam gelas-gelas kristal yang memantulkan kilau ketika cahaya mentari menyentuhnya dari sela jendela.



“Saya senang pak Iru, karena saya butuh seseorang yang bisa dituakan di rumah ini. Apalagi jika saya nikah nanti, mungkin saya gak bisa tinggal di sini lagi. Saya harus ikut suami, dong. Iya 'kan?” ucap Katia sebelum memilih hidangan pelengkap nasi, di piringnya.



“Kamu ... jadi nikah, Kat?” tanya Khayru sambil fokus ke wajah Maula yang sudah mulai melahap makanannya setelah berdoa sebentar. Membicarakan pernikahan Aldi dan Katia lagi, membuatnya khawatir jika Maula tidak menyukainya.



Katia mengangguk sambil tersenyum. “Tanya Maula saja. Dia yang mengatur semuanya, kok, hingga saya bisa yakin dengan keputusan saya ini, karena dia bantu bicara dengan Aldi.” Katia menatap Maula yang ada di depannya. “Makasih, Dek, bantuannya.”



“Memangnya ... apa yang kamu bicarakan sama Aldi semalam?” tanya Khayru pada Maula di sela mengunyah makanan sambil mengingat-ingat ucapan Aldi semalam yang belum tuntas ia dengarkan. Aldi hanya bilang jika Maula sangat mempersulit jalan untuk dia bisa menikahi Katia, karena pandangannya terhadap hubungan pernikahan sangatlah rumit. Aldi belum sempat bilang bahwa Maula akhirnya mengajukan banyak syarat padanya hanya demi Katia hidup bahagia setelah menikah tanpa ada Risa atau wanita manapun yang akan mengganggu rumah tangga mereka. Khayru terlalu cepat menutup telepon Aldi semalam, membuatnya salah mengerti.



“Kenapa tanya aku? Bukannya Abang paling tau kalau aku sudah meracuni pikiran Kak Tia sama Om Aldi supaya mereka tidak jadi menikah?” ketus Maula sambil mengingat ucapan Khayru yang tiba-tiba menyalahkannya semalam.



“Kalian salah paham, ya?” tanya Katia sedikit bingung.



Semakin lama, Maula semakin menyadari bahwa paradigma negatif tentang sebuah pernikahan yang dibayang-bayangi orang ketiga tidak mungkin berakhir bahagia--itu masih mengisi pikirannya. Namun, dalam kasus Aldi dan Katia, Maula hanya coba mengantisipasi. Dia tidak mungkin bersikap egois dengan melarang mereka untuk menikah. Itulah yang terjadi saat ini.



Khayru menepuk-nepuk jidatnya sendiri saat menyadari bahwa dirinya telah salah memahami. Namun, sebab kesalahannya itulah dia bisa tahu gangguan yang dialami Maula selama ini.



“Maafkan calon suamimu ini, ya, sayang?” ucap Khayru sambil menurunkan wajahnya demi bisa menatap wajah Maula yang tengah menunduk dan fokus dengan makanan di piringnya.



“Abang bukan calon suamiku tapi mantan suamiku,” ucapnya pelan karena jarak wajah mereka cukup dekat.



“Jangan gitu. Abang kan sudah melamarmu. Kamu boleh mengajukan syarat apa pun yang kamu mau, asal kamu terima lamaran Abang.”



Khayru sampai beberapa kali menahan tangan Maula yang ingin melahap makanannya demi mendengar jawaban dari mulut Maula. “Terima, ya, ya?”



“Abaaangg!! Aku sedang makan!” teriak Maula sambil meletakkan sendok yang gagal ia hantar ke mulutnya.



\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_

__ADS_1


Note :


⁶Borderline personality disorder (BPD) atau gangguan kepribadian ambang adalah sebuah kondisi yang muncul akibat terganggunya kesehatan mental seseorang. Kondisi ini berdampak pada cara berpikir dan perasaan terhadap diri sendiri maupun orang lain, serta adanya pola tingkah laku abnormal. (Sumber : Hallodoc)


__ADS_2