
Tuan Zul berpikir cukup panjang selama satu bulan ini. Tindakan teraphy yang sudah dia lakukan selama ini mungkin tidak akan merubah keadaan. Dia merasakan hari-harinya semakin berat. Rambut di kepalanya sudah sangat menipis. Namun, hatinya sedikit lega karena kabar Ayah Khayru di Maroko berbanding terbalik dengan keadaannya sekarang. Menurut orang suruhannya di sana, ayah Khayru sudah sangat baik. Kesehatannya mengalami kemajuan yang sangat pesat selama satu tahun ini.
Tuan Zul memanggil Maula untuk meminta sesuatu hal darinya.
“Pa ... Sebenarnya, Papa sakit apa, sih, Pa?” Maula naik ke tempat tidur lalu memeluk ayahnya.
“Sayang ... apa papa bisa minta sesuatu darimu?”
“Minta apa, Pa? Maula tidak punya apa-apa. Maula cuma punya Papa di dunia ini.”
“Papa cuma mau minta sebuah persetujuan dari kamu. Ini permintaan papa yang terakhir.”
Maula terhentak menatap ayahnya. “Terakhir? Apa maksud Papa?” Dia kembali memeluk ayahnya lebih erat. “Maula gak mau bicara sama Papa lagi kalau Papa mengucapkan kata-kata 'Terakhir' seperti itu.”
“Semua benda yang bernyawa di dunia ini pasti akan mati. Tak terkecuali papa yang sudah tua dan sakit-sakitan. Tapi sebelum papa meninggal, papa ingin melihat kamu bahagia.”
Maula menangis memeluk sang ayah. “Jangan tinggalin Maula, Pa. Maula gak mau hidup sendiri.”
“Papa janji kamu gak akan hidup sendiri. Tapi kamu pun harus janji untuk menyetujui semua yang papa lakukan untukmu.”
“Apa yang ingin Papa lakukan?”
“Banyak hal, La. Tapi sebelumnya papa harus melakukan perjalanan ke Maroko. Papa akan membawa Abangmu kembali ke rumah ini. Dan papa harus bertemu ayahnya untuk meminta maaf secara langsung.”
“Tapi nanti, ya, Pa. Setelah Papa sembuh,” rengek Maula.
“Kamu sayang papa, kan, La? Kamu tidak akan menentang apapun yang papa rencanakan suatu hari nanti. Semua yang papa lakukan untuk kebaikanmu.”
“Pa ...,” protes Maula dengan suara pelan.
“Berjanjilah, sayang.”
Maula menatap wajah sang ayah. “Apa pun akan Maula lakukan demi Papa, tapi Maula mau Papa sembuh.”
Di hari berikutnya, Tuan Zul mengundang Kyai Abdurrahman, dr. Luthfie dan pengacara Suryadi. Dia ingin mereka semua menemani perjalanannya ke Maroko.
“Pak Zul baru saja selesai menjalani kemoterapi, apa tidak sebaiknya beristirahat di rumah saja?” usul dr. Luthfie.
__ADS_1
“Karena itulah saya ingin dokter ikut dalam perjalanan nanti. Dokter adalah orang yang paham kondisi kesehatan saya saat ini.”
“Sebenarnya saya tidak berkompetensi dalam menangani penyakit kanker. Ada dr. spesialis onkolog yang lebih ahli dalam hal ini, meski begitu saya sangat peduli dan merasa memiliki tanggung jawab. Karena itu, saya sarankan pada Pak Zul supaya tidak mengambil resiko dengan melakukan perjalan udara. Apalagi jarak antara Indonesia dan Maroko ini bukan main jauhnya.”
“Ini sangat penting, dokter. Bila perlu saya akan membuat surat pernyataan supaya tidak ada pihak yang disalahkan jika sewaktu-waktu terjadi sesuatu dengan saya. Begitu pun dengan Pak Kyai dan pengacara, saya minta kerelaannya untuk menemani saya.”
Kyai Abdurrahman dan pengacara Suryadi menyatakan tidak ada masalah selama dokter mengizinkan. Akhirnya mereka berempat bersiap untuk bertolak ke negeri yang letaknya berada di benua Afrika barat yang cukup jauh.
Tuan Zul menitipkan Maula pada ART-nya untuk beberapa hari ke depan selama ia tidak di rumah. Maula sedikit merengek tidak ingin ayahnya pergi ke tempat yang dikenal sebagai negeri matahari tenggelam itu meski pun hanya untuk beberapa hari.
“Pa, Papa di rumah aja, jangan pergi, Pa.”
“Gak lama, kok, sayang. Nanti Papa pulang bawa oleh-oleh yang banyak.” Pak Zul menoleh ke arah Bik Sulis. “Bik, tolong jaga baik-baik Maula, ya.”
Khayru hampir tak percaya saat membuka pintu dia melihat seorang laki-laki yang sangat ringkih berada dalam gandengan beberapa orang yang membersamainya. “Pa ...!” Dia segera memeluknya dan membawa mereka masuk ke dalam rumah. Khayru pun memanggil sang ayah kandung lalu memperkenalkan semuanya.
Tiba-tiba, Tuan Zul tersungkur di hadapannya. Berlutut di hadapan Tuan Omar, dia tak berhenti mengucap kata maaf. Khayru dan ayahnya membawa Tuan Zul kembali duduk di tempat yang benar.
“Saya tidak pernah menyalahkan Anda, Tuan. Saya tidak dendam. Jauh di lubuk hati, saya benar-benar berterima kasih karena Anda telah merawat dan membesarkan putra saya,” ucap Tuan Omar dengan bijaksana seraya melirik dan mengusap lengan anaknya. “Bagi saya, ini sebuah keajaiban bisa bertemu kembali dengan anak saya di hari-hari tua seperti ini.
“Saya pikir, saya harus tetap datang untuk meminta maaf karena saya tidak tahu sampai kapan saya akan hidup. Dengan sakit yang saya derita, saya merasa sedang mendapatkan karma. Allah sedang menghukum saya saat ini. ”
“Pa, kenapa bicara seperti itu? Sebaiknya kita semua istirahat dulu. Besok kita ngobrol lagi.” Khayru menatap satu persatu wajah lelah dari tamu-tamunya yang datang bersama Zul, lalu mempersilakan mereka beristirahat di kamar tamu.
Pagi-pagi sekali, Khayru sudah mengetuk pintu kamar Tuan Zul. Dia sangat bersemangat menanyakan kabar ibu dan juga adiknya. Namun, bukan kabar baik yang dia terima saat itu melainkan kabar duka kematian ibunya. Kabar satu tahun terakhir ini membuat Khayru terpukul. Dia kecewa karena tak ada seorang pun yang memberitahunya.
__ADS_1
“Pa ... Iru baru saja berencana kembali ke Indonesia dua Minggu yang akan datang. Iru sangat merindukan mama, Papa juga Maula. Iru sudah membeli banyak hadiah untuk mama, Iru pikir mama akan senang menerimanya.” Khayru terisak mengenang sosok sang ibu yang tidak bisa ia temui lagi.
“Mama sudah tenang di sana. Kita masih bisa mendoakannya, Ru.”
“Tapi Iru belum bisa membalas kebaikan mama, Pa. Iru anak yang tidak berbakti.”
“Yang papa khawatirkan saat ini adalah adikmu, dia akan hidup sendiri jika papa meninggal nanti.”
“Pa! Hati Iru masih sakit karena kehilangan Mama. Sebelum ini pun Iru selalu dipenuhi perasaan cemas karena kesehatan ayah Omar yang memburuk. Papa jangan buat hati Iru lebih sakit lagi, dengan berbicara kematian.”
“Apa pun yang terjadi dengan papa, tolong jangan tinggalkan Maula. Jaga dan lindungi dia karena hanya kamu yang bisa papa mintai bantuan.”
“Apa pun akan Iru lakukan untuk Maula dan juga Papa. Iru akan merawat Papa seperti merawat ayah Omar sampai sembuh kembali.”
“Kalau begitu, panggil Pak Kyai, dokter, pengacara dan juga ayahmu. Kita akan melakukan sesuatu di kamar ini.”
Khayru mengikuti perintah ayahnya tanpa tahu apa yang ada dipikirannya. Keinginan Tuan Zul benar-benar di luar dugaan. Semua orang terkejut saat Tuan Zul meminta Khayru mengucapkan kalimat ijab kabul di hadapan saksi-saksi dan Pak Kyai.
“Tunggu, tunggu! Maksud Pak Zul ingin menikahkan Khayru dengan Maula, begitu?” tanya Pak Kyai.
“Iya, Pak Kyai,” jawab Tuan Zul dengan tegas.
__ADS_1
To be continued....