
“Abaaangg!! Aku sedang makan!” teriak Maula sambil meletakkan sendok yang gagal ia hantar ke mulutnya.
“Oke, oke! Lanjut dulu deh makannya.”
Khayru segera menjauhkan wajahnya karena lebih penting membuat Maula menjadi tenang saat ini.
“Jadi ilang kan selera makanku!” gerutunya.
“Abang suapin.” Khayru segera menarik piring milik Maula lalu mengaduk sedikit bagian dengan sendok. “Bismillahirrohmannirrohim. Bukan sulap bukan sihir, tangan abang bisa mengembalikan selera makanmu. Bimsalabim buka mulutnya aaa ....” Khayru mencontohkan cara buka mulut yang lebar seperti sedang menyuapi bocah kecil.
Maula menggeleng saat Khayru mendekatkan sesendok makanan ke mulutnya. Matanya melirik ke arah wanita yang duduk di hadapan beserta tiga orang wanita lain yang berdiri di belakangnya sambil mengamati seakan tengah menonton sebuah pertunjukkan.
Khayru turut memandang ke arah mereka.
“Seru, ya?” tanyanya saat menyadari mata mereka seperti enggan berkedip. “Drama kesayangan kalian sudah tayang lagi sekarang. Stay tune di situ biar gak ketinggalan.” Sambil menunjuk tempat mereka berdiri.
Akibat kelakarnya, ia berhasil mendapatkan sebuah cubitan di paha yang membuat ia meringis kesakitan. “Aww!!” Sambil mengusap bekas cubitan.
“Ngapain nyuruh mereka nontonin kita?” bisiknya. “Emangnya kita lagi main ludruk?” Maula hampir mendaratkan cubitan kedua, akan tetapi Khayru lebih dulu menangkap tangannya.
“Gapapa, dong. Kita emang seneng kan bikin mereka baper. Hahaha!”
“Iya, lanjut aja lanjut!” seru Neneng antusias.
“Reality show yang sudah lama bibi rindukan ini, sih. Lama banget gak tayang di Chanel kesayangan kita.” timpal bi Sulis sambil senyam senyum.
“Nyimak, nyimak ....” Mbak Tina mangangkat telapak tangannya sambil nyengir.
“Aku baru aja mau nonton, kok, acaranya dah abis lagi. Padahal udah gelar tiker.” Katia kembali menyantap makanannya setelah terbengong beberapa saat bersama tiga ART.
“Ngasih hiburan buat mereka, lumayan dapat pahala,” ucap Khayru sambil menyipitkan mata ke arah Maula lalu terkekeh.
Meski dia tahu banyak mata memandanginya, ia tak menolak suapan dari tangan Khayru sampai makanannya habis. Karena Khayru akan memencet hidungnya jika dia tidak membuka mulut.
“Baru kali ini, Tina lihat Enon makannya lahap lagi.” Tina menuangkan lagi air putih ke gelas Maula yang kosong. Entah kenapa mereka bertiga tidak mau beranjak dari ruang makan malah tak henti-hentinya menggoda.
“Gak nambah lagi makannya, Non? Biar durasinya lebih panjang, gitu, Non?” Tina mendekatkan sebuah keranjang cantik tempat ia menyimpan berbagai macam buah di atas meja makan.
“Aduh ... kenapa dahiku tiba-tiba berkernyut,” gumam Maula sambil menunduk lalu mengurut dahi dengan kedua tangannya yang bertumpu pada meja. “Kenapa kalian gak ke dapur aja, sih.”
“Kenapa, dek? Mau Abang pijit dahinya?” Meskipun tawarannya basa basi, yakin dia akan melakukannya jika Maula yang meminta.
“Buahnya dicuci dulu, gak, tadi, Mbak?” tanya Maula pada Tina saat ia ambil buah apel dari keranjangnya. Dia pura-pura tak mendengar tawaran Khayru.
“Udah, dong, Non ... sini, Tina kupasin dulu.” Sembari mengambil pisau kecil dari tempat sendok.
“Gak usah. Aku mau berangkat sekarang aja.” Dia bangkit dari tempat duduk sambil memandangi jam tangannya. “Aku mau nunggu kelas, sambil bantuin Mas Dandi di kafe.” Dia segera pamit sambil menggigit sebuah apel di tangannya.
__ADS_1
“Emangnya kita gak berangkat bareng, Dek? Kakak nunggu Mas Aldi dulu bentar. Dia mau jemput, katanya!”
“Gak papa, Kak. Aku kan bisa bawa mobil sendiri.” Sambil menoleh sesaat lalu kembali melangkah.
Sebenarnya, Maula biasa bawa mobil sendiri, tapi karena tujuan mereka searah, tak jarang mereka berangkat bersama jika jam kantor dan jam kuliah, kebetulan sama. Namun, mulai saat ini mungkin Katia akan lebih sering berangkat bersama calon suaminya--Aldi, dan Maula harus terbiasa berangkat sendiri.
“Biar aku aja yang anter Maula,” inisiatif Khayru sambil turut bangkit dari tempat duduk lalu menyusul ke halaman rumah dengan lari kecilnya.
“Berangkat bareng Abang, aja, Dek!” serunya.
“Setiap orang bawa mobil sendiri, sih, terserah, ya, orang dia beli mobil pake duitnya sendiri. Cuma ... buat apa? Hanya akan menambah kemacetan di jalan. Kasian aparatnya, kita juga pusing, 'kan.”
Niatnya, Khayru membujuk karena Maula tidak akan mudah menerima ajakannya. Ternyata, tidak perlu usaha keras sebab Maula yang hampir masuk ke mobil miliknya, urung dan memutuskan untuk tetap berdiri menunggu pria itu membukakan pintu mobil kuning untuknya.
Tak lama, mobil pun melaju, melintas di depan Ferdi yang berdiri menyapa setelah membukakan gerbang tinggi di muka rumahnya.
“Pagi, Fer.” Dia balas menyapa Ferdi dengan lambaian tangan. Perlahan mobilpun mulai keluar dari peredaran, melewati mini market di pertigaan yang pernah ia datangi delapan tahun yang lalu. Bibirnya tiba-tiba tersenyum melihat sebuah banner yang terpampang di depan toko.
“Apa yang lucu?” tanya Maula dengan bibir sedikit maju.
“Banner iklan itu yang lucu.” Masih dengan senyum tipisnya.
Maula mendelik sambil menelan ludah.“Iklan pembalut wanita? Jangan berpikir yang bukan-bukan tentang pembalut, Itu perabot wanita.” Maula memperingatkan sambil mengangkat telunjukknya.
“Abang pernah marah-marahin pelayan toko gara-gara beli pembalut di sini buat kamu.”
“Tapi buat Abang, rasanya baru kemarin.” Dia tersenyum sambil melirik. “Semua moment tentang kamu, masih segar dalam ingatan.” Senyumnya semakin lebar diiringi helaan napas.
“Tapi selama satu tahun ini, banyak hal yang Abang lewatkan tentang aku.”
Khayru kembali melirik sambil mengangguk. “Maaf,” ucapnya pelan.
Maula balas tersenyum sambil mengangkat bahu. “Gimana kabar Abang selama di sana?” Dia berusaha memperlihatkan senyum terindahnya karena membayangkan Khayru bahagia tinggal bersama ayahnya.
Khayru menghela napas sebelum akhirnya menjawab.“Belum juga mendarat di sana, Abang sudah berhalusinasi. Seperti ada kamu yang ikut dalam perjalanan. Kamu terus mengoceh sambil menggandeng tangan Abang. Merengek sambil menarik kemeja Abang. Bahkan setelah di rumah Ayah, kamu gak pernah jauh. Saat tidur, kamu tiba-tiba memeluk dari belakang. Saat makan, kamu minta Abang suapin seperti bayi.”
“Seperti itulah, Abang menjalani hari-hari di sana. Sampai suatu ketika, Abang sadar bahwa itu halusinasi semata. Abang sadar kamu tengah berada jauh dan itu membuat Abang beberapa kali terbang ke Jakarta hanya untuk memastikan keadaanmu. Khawatir jika kamu bersedih, merasakan hal persis seperti yang Abang rasakan.”
“Diam-diam datang ke sekolah, memandangimu dari kejauhan. Sampai terakhir Abang datang, Abang mulai lega karena kamu terlihat bahagia dan baik-baik saja. Mulai saat itulah Abang tak lagi datang untuk melihatmu. Abang percaya dengan janjimu.”
Maula ingin melontarkan protes, kenapa hanya Sampe disitu ia peduli tentangnya. Namun, setiap kalimat yang ia dengar dari pengecap lelaki itu masih mencengkram erat di leher kecilnya. Begitu sesak dia rasakan. Seketika sumbatan di hidung pun membuat dia sulit bernapas.
Kemacetan lalu lintas membuat laju mobil tersendat. Memberi sedikit waktu untuk mereka bicara dan menyadari apa arti perpisahan dan pertemuan. Juga tentang kebersamaan.
“Setelah Abang lihat aku bahagia ... apa Abang ikut bahagia?”
“Antara iya dan tidak.”
__ADS_1
“Kenapa harus ada dua jawaban?”
“Bahagia, karena tak ada kata lain lain saat melihatmu bahagia.” Sambil menatap lurus ke depan.
“Tidak bahagia ... because i leave my heart in Jakarta.” Dia menatap Maula yang tengah memalingkan wajah ke arah jendela. “Hatiku tertinggal di sini,” tegasnya.
Maula tak kunjung menampakkan wajahnya. Ungkapan seperti ini memang yang ingin dia dengar, tapi ia tidak menyangka, dadanya bisa sesakit ini. Kehadirannya yang tiba-tiba menghidupkan suasana hati yang dulu selalu beku. Namun, terkadang kini membuat dia apatis, dan selalu ingin menyangkal.
“Kita sudah sampai. Abang parkir di mana?” Dia baru bisa menampakkan wajahnya sambil membuka sabuk pengaman.
“Masih ada urusan. Mau jalan lagi.”
“Om Aldi bilang nanti malam dia datang bareng papanya ke rumah. Abang bisa bantu urus semuanya 'kan? Nanti aku bantu juga,” ucapnya sambil bersiap untuk turun, ketika mobil sudah berhenti di bahu jalan.
“Pasti abang siapkan semuanya. Akan ada pak Kiai, Umi, dr. Luthfie juga istrinya.”
“Tapi ....” Dia segera menyusul ucapannya. Namun, terjeda.
“Tapi apa?” Sambil membuka pintu mobil lalu mendaratkan kakinya di trotoar.
“Gimana dengan kita?” Khayru selalu penasaran tentang lamarannya.
“Aku pikirkan nanti,” pungkasnya
“Tapi jangan kelamaan! Tar kalau udah balik ke Maroko, Abang gak bisa balik ke sini lagi.”
Maula menahan sesaat, tangan yang tengah memegang rangka pintu mobil. Matanya yang seakan tak peduli, tiba-tiba menatap lekat ke arahnya. Menatap selama beberapa detik lalu mengangguk sambil menutup pintu rapat-rapat.
Khayru kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit, karena hari ini ada janji temu dengan dr. Luthfie dan dr. Aini. Dia juga harus mengurus lamaran Aldi nanti malam. Mengundang beberapa orang terdekat sebelum kembali bekerja.
Sampai menjelang siang, ternyata dia belum bisa kembali ke kantor. Mungkin karena kelamaan ngobrol di rumah sakit, bisa juga karena terlalu lama mampir di rumah pak Kiai yang pasti saat ini dia ingin istirahat sebentar di kafe.
“Di! Gue cape. Makan siang dulu di kafe, ya,” ucapnya lewat sambungan telepon sambil melahap satu iris potato stick yang dibuatkan Dandi untuknya. “Lo dateng aja ke sini, gue ....” Dia tidak melanjutkan ucapannya karena perhatiannya tertuju pada Maula dan Pram yang baru memasuki pintu bersamaan.
“Lo dateng aja, gue tunggu!” pungkasnya sambil menutup telepon. Sementara matanya terus mengawasi gerak gerik Maula yang belum menyadari keberadaannya.
“Mas Dandi! Lihat mas Cahyo dateng, gak? Kok lama banget gak dateng ke sini?”
Kahyru menelan makanannya yang belum sempat dikunyah sambil membulatkan mata saat dia dengar nama Cahyo. Mati gue!
“Gak pernah, La,” jawabnya sambil melirik ke arah Khayru yang duduk di meja paling kiri terhalang beberapa meja dan juga pohon sakura tiruan yang menghias ruangan.
“Ke mana, sih, dia gak pernah muncul lagi?” Dia bergumam sendiri, akan tetapi Dandi yang tengah menyeduh espresso, masih bisa mendengarnya.
“Coba tanya Aldi. Ke mana dia buang sampah masyarakat itu tempo hari.” Matanya kembali melirik ke arah Khayru yang sudah mulai melototot tajam ke arahnya.
“Jahat banget, sih, mulutnya Mas Dandi!” Dia mengerutkan bibir sambil mendelik kesal.
__ADS_1
To Be Continued ....