
Sebuah kotak hadiah, tiba- tiba muncul di meja kerja Aldi. Ia segera melihat kartu ucapan yang ada di atasnya. Ternyata hadiah ini untuk Maula. Hadiah kelulusan yang harus dipake saat wisuda nanti. Selain kartu ucapan untuk Maula, di sana juga ada surat kecil yang ditujukan untuk Aldi.
Pasti dari Khayru, gumammya sambil menggeser dengan kasar kotak itu ke ujung meja. Selain itu, handphone-nya juga terus berdering. Aldi juga tak ingin mengangkatnya. Ia biarkan berdering sangat lama karena saat ini sedang tak ingin bicara atau pun mendengar nama Khayru.
Hingga Katia masuk ke ruangannya hanya untuk memberi tahu supaya dia mengangkat telepon sahabatnya.
“Pak Aldi. Anda sibuk?” ucapnya sambil masuk begitu saja. “Maaf saya langsung masuk karena terburu-buru. Di sana masih banyak kerjaan, cuman barusan Pak Iru telepon minta saya menemui Anda. Dia minta Pak Aldi mengangkat teleponnya segera.”
Aldi masih bergeming. Tidak menghiraukan ucapan Katia.
“Pak Aldi ... Pak ....” panggil Katia dengan nada yang menenangkan. “Sebaiknya kalian bicara dulu. Saya yakin Pak Iru tidak seperti yang Anda pikirkan.”
Aldi mulai mengangkat kepalanya dan meminta Katia untuk duduk sebentar. “Sekarang saya mengerti, kenapa mereka tiba-tiba bercerai. Saya merasa jadi orang paling bodoh karena baru mengetahuinya sekarang.”
“Mereka tidak memberitahu Pak Aldi ... mungkin karena ingin menjaga perasaan Pak Aldi saja. Atau nanti kita bisa tanya langsung aja sama Maula tentang hubungan Pak Iru dan Bu Risa. Supaya kita tidak hanya menerka-nerka.”
“Nanti saya bantu cari tau kebenarannya. Sekarang Pak Aldi angkat saja telepon dari Pak Iru,” ucap Katia sambil bangkit dari tempat duduknya. Dia harus kembali ke mejanya karena jauh sebelum Risa tiba-tiba menghilang seminggu yang lalu, beberapa karyawan senior pun satu per satu mengajukan pensiun karena mulai sakit-sakitan dan banyak lagi alasan lainnya. Sejak itulah, Aldi dan Katia menjadi sangat disibukkan dengan pekerjaan mereka.
Akhirnya, Aldi menarik handphonenya dari atas meja. Dia telepon kembali nomor Khayru setelah dia mengabaikannya.
“Assalamualaikum, Di ....” Terdengar suara yang sedikit lega saat Khayru menerima panggilan Aldi. Namun, Aldi tak juga mengeluarkan suara.
“Di, gue dah pesenin baju buat Maula di butik langganan. Dah nyampe sana belum, Di? Tolong kasih ke Maula, ya. Dia pasti butuh buat acara wisuda SMA.”
“Hmm,” jawab Aldi.
“Terus gue minta tolong sama Lo dan Katia buat datang ke acara wisudanya. Gue dah telepon kepala sekolah, katanya wisuda akan digelar hari Sabtu tanggal 25. Catat tanggalnya, jangan Sampe lupa, ya, Di.”
“Gue sibuk!” jawabnya ketus.
“Tolonglah, Di. Kasian Maula. Teman-temannya pasti didampingi orang tua, sementara Maula gimana? Dia pasti sedih. Ini acara penting buat dia.”
“Kenapa gak Elo aja, sih, yang dateng. Gue sama Katia sama-sama sibuk, tau, gak!”
“Loh, kok jadi sewot gitu? Gue kan minta tolong baik-baik. Kalau gue deket, sudah pasti gue dateng buat dia. Gak pernah sekali pun gue absen untuk acara-acara penting di sekolahnya. Hanya saja sekarang keadaannya sudah berbeda. Gue gak bisa ke sana, Di.”
“Karena Lo udah hidup bahagia bersama Risa kan di sana?”
“Di ...? Kok, Lo bawa-bawa Risa?”
“Mending Lo jujur deh sama gue. Kalian berdua udah rencanain ini semua kan buat khianatin gue dan Maula?” Aldi mengungkapkan kecurigaannya setelah mendengar pengakuan Risa sebelum akhirnya dia menghilang.
“Di, apa yang Lo tau tentang gue sama Risa? Gue harap Lo tidak berasumsi sendiri.”
“Kenyataannya memang seperti itu, kan, Ru? Lo cerai gara-gara Risa. Terus Lo pergi jauh ke Maroko, setelah beberapa lama Lo minta Risa nyusul Lo ke sana.”
“Gue dah nyangka, Lo bakal mikir kaya gitu, kalau gue kasih tau Lo sejak dulu.”
“Terserah Lo mau percaya apa enggak. Gue cuma mau bilang kalau Risa memang datang ke sini beberapa hari yang lalu, tapi langsung gue suruh pulang. Sama sekali gue gak mau ketemu dia, sebagai tamu atau apa pun.”
“Entahlah ... gue harus percaya siapa. Karena sebelum pergi dia mengakui kalau kalian saling cinta sejak dia SMA. Bahkan sampai sekarang.”
“Gue sedikit lega, jika Lo memang sudah tau semuanya. Setelah melihat kepribadian Risa yang berubah, tiba-tiba gue khawatir dia akan mengecewaka Lo, Di. Tapi gue juga gak bisa bilang yang sebenarnya karena jika gue halangi hubungan kalian bisa aja Lo berpikir kalau gue benar-benar mengincar Risa. Lo akan akan makin curiga jika gue benar-benar ada hubungan dengan Risa, padahal enggak.”
__ADS_1
Aldi terdiam, sepertinya dia harus lebih percaya pada sahabatnya yang sudah begitu memberi banyak kepercayaan padanya dibanding Risa--gadis yang pernah ia cintai tanpa benar-benar mengenal kepribadiannya.
“Maafin, gue, Ru. Gue salah paham.”
“Its oke. Yang penting Lo harus tetep jadi sahabat gue. Gue masih butuh banyak bantuan Lo, Di. Jangan ngelak dulu, ya. Abis ini tugas Lo buat daftarin Maula ke fakultas terbaik dan Lo harus bikin usaha kecil buat Rere biar dia bisa biayain adiknya sekolah dan kuliahnya sendiri.”
“Hhaaiiisss ... jadi kita sahabatan cuma biar Lo bisa manfaatin gue, hhh?”
“Ya, itu salah satunya, Di.” Khayru terkekeh. “Bukannya ... Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia, Di? Itu kata hadist loh.”
خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ
(HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289).
“Udahlah. Kalah telak gue kalau ngomongin hadist. Mending Lo buruan balik kesini, bantuin gue. Emangnya Lo gak kangen apa sama janda kecil Lo?”
Khayru tersenyum karena teringat Maula. “Maula ... gimana dia? Apa dia berubah?”
“Lo liat aja sendiri. Dia banyak berubah sekarang.”
“Gue pasti balik ke sana tapi gak sekarang.”
“Karena masih mau nyiksa gue kan, Lo?”
Khayru tertawa membayangkan repotnya Aldi saat ini.
“Akh, ya ampun. Aku lupa menitipkan ini pada Katia,” gumamnya sambil mengangkat kotak hadiah buat Maula dari atas meja. Dia putuskan untuk mampir ke rumah Maula untuk menyerahkannya secara langsung, sambil dia bahas perguruan tinggi yang akan dipilih Maula setelah lulus nanti.
“Pak Aldi ... m-mau ketemu Maula, ya?” tanyanya sedikit bimbang. Katia pikir, belum saatnya Aldi menanyakan perihal hubungan Khayru dan Risa--pada Maula. Karena butuh waktu yang tepat untuk membahas masalah itu di depan Maula.
“Iya, Kat. Maula belum tidur, kan?”
“Sepertinya belum. T-tapi ....”
“Izinkan saya masuk dulu. Di luar dingin, Kat,” ucap Aldi sambil mengusap lengannya.
Setelah Aldi duduk di ruang tamu, Katia nampak sedikit enggan memanggil Maula dari kamarnya. Menurut pengamatannya, Maula seperti menghindari bahasan tentang mantan suaminya itu. Khawatir dia tidak suka dengan tujuan kedatangan Aldi saat ini.
__ADS_1
“Mm ... Pak Aldi?” Katia menghentikan langkahnya.
“Iya.”
“Bisa tidak, kalau kita jangan bahas dulu soal yang tadi di depan Maula.”
“Kalau gitu, kamu saja yang temani saya ngobrol karena saya sudah terlanjur duduk di sini.” Aldi mengangkat alis dan bahunya.
“Apa?! Ngobrol? Berdua? Malem-malem gini?” Katia mengernyit lalu Aldi tertawa.
“Ahaha ... kamu jangan khawatir. Saya gak bahas Khayru dulu malam ini. Cuma mau tanya Maula mau kuliah di mana? Khayru minta kita yang urus semuanya.”
“Derita kita, emang, punya teman macam dia. Lari dari tanggung jawab. Padahal yang dikhawatirkannya itu hanya sang mantan istri. Ck ... hidup, kok, dibuat rumit sendiri.” Aldi berdecak sambil menggeleng.
“Ya, begitulah. Saya juga heran Pak Aldi. Saya tau betul, kalau Maula rindu setengah mati, tapi kenapa harus ditutupi. Apa untungnya menyiksa diri sendiri?” gumam Katia. Dia sampai lupa tujuannya untuk memanggil Maula.
“Oh, maaf, saya lupa. Tunggu sebentar Pak Aldi. Saya panggilkan adik saya dulu.”
To Be Continued ....
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
Jadi gimana? Khayru mau dipulangkan sekarang atau biarkan dulu di tempat pengasingan sampai karatan? 🤭🙈✌️
Oh, ya. Pesan cinta dari Admin gc yang kece badai. Buat kalian yang mau masuk gc, silakan tinggalkan jejak komentar di novel Author, maka Admin akan acc permintaan kalian.
__ADS_1
Terima kasih 🙏 😘