Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 42


__ADS_3

Hari ini ta kasih dobel up. Jadi, like dan komennya pun harus dobel, ya gengs.


Happy reading....


...______________________...


Khayru merasakan pelukan yang semakin erat di pinggangnya. Dia segera memutar badannya.


“Pulang jam berapa ta--” tanyanya terpotong padahal dia hampir mencium puncak kepala yang dia kira milik istrinya. Ternyata, dia telah salah mengira. perempuan itu bukan Maula akan tetapi Risa-sang calon tunangan Aldi.


Maula ingin datang menghadang Risa yang berprilaku tak pantas terhadap suaminya saat itu. Namun, tiba-tiba dia ingin melihat sendiri bagaimana suaminya bersikap pada Risa.


“Lepas, Risa. Kamu apa-apaan? Kalau Aldi melihatnya, dia akan kecewa dan marah.”


“Biar saja dia melihatnya. Biar dia tahu kalau aku tidak mencintainya.” Risa semakin tak mau melepaskan pelukannya.


“Risa, Please. Aldi lelaki yang sangat baik. Kamu jangan mengecewakannya.”


“Aku sudah berusaha sampai detik ini, tapi aku tak bisa. Aku putuskan untuk kembali menunggumu, Mas. Meski sampai tutup usiaku, aku rela.”


“Jangan bercanda, Risa. Menungguku adalah hal yang paling bodoh, jangan lakukan itu.”


“Tidak apa-apa aku menjadi orang bodoh karena kenyataannya kita saling mencintai.”


“Dengarkan aku ...,” ucapnya lembut sambil melepas tangan Risa pelan-pelan. “Tolong maafkan jika dulu aku pernah memberimu sebuah harapan. Sebuah ketidak pastian yang membuat hatimu tersiksa. Saat ini ... aku memiliki banyak tanggung jawab. Bagi seorang lelaki, ini lebih penting dari sekadar bicara tentang perasaan ... mengertilah, aku seorang suami yang harus mencintai istriku sepenuh hatiku.”


“Aku yakin, kamu akan hidup bahagia bersama Aldi. Dia laki-laki baik dan sangat mencintaimu. Pilihanmu sudah sangat tepat.” Khayru tersenyum sambil mengusap tetesan air mata di pipi Risa yang berdiri kaku di hadapannya. “Hapus air matamu, Aldi akan segera datang.”


Butuh sedikit waktu untuk menenangkan hati Risa hingga situasi benar-benar menjadi reda. Dia menunduk sambil mengusap sisa air mata di pipinya, beruntung Aldi tidak kembali ke ruangan itu. Jika tidak, acara malam ini akan menjadi sangat kacau.


Setelah Manarik napas, Maula mengetuk pintu sambil melongokkan kepalanya.


“Assalamualaikum. Boleh aku masuk?” Maula tak menunggu jawaban, dia segera berhambur ke pelukan suaminya. Dia juga tak segan mencium Khayru di hadapan Risa seolah tak ada yang dia dengar beberapa menit yang lalu. “Duh, aku sampe pusing nyariin Abang. Ternyata ada di sini.”


Maula beralih pada Risa yang tengah menatapnya. “Tante, maaf aku telat. Banyak sekali kegiatan di sekolah.”


“Gapapa, La. Ayo kita turun, acaranya akan segera dimulai,” ajak Risa. Dia pun bersikap seolah tak terjadi apa-apa di hadapan Maula.

__ADS_1


Acara demi acara berlangsung di tengah keluarga dan kerabat yang hadir melengkapi kebahagiaan yang seharusnya menjadi milik Risa dan Aldi malam ini.


Pandangan Risa tidak lepas dari Khayru, hingga pada sesi penyematan cincin, Risa yang ragu tetap menatap laki-laki itu. Maula melihat suaminya terus memberikan semangat pada Risa. Senyuman, anggukan bahkan kedipan mata supaya Risa tidak ragu lagi.


Entah suasana malam macam apa ini, hingga membuat dada Maula begitu berkecamuk. Melihat seorang wanita yang menyembunyikan rasa cinta terhadap suaminya atau bahkan mungkin mereka memang saling mencintai selama ini. Ia ingin marah tapi pada siapa? Langkah kaki Maula membawa dirinya ke taman yang sangat sepi.


Dia hanya ingin duduk sendiri di tengah meriahnya acara malam ini. Pandangannya menatap ke sembarang arah hingga terpaut ke jendela kamar di lantai atas. Nampak terang, memperlihatkan bayangan dua orang yang tengah bertengkar hebat di sana.


Tak lama, seorang lelaki paruh baya keluar tergesa-gesa. Sepertinya Maula masih ingat jika dia adalah ayahnya Ariel yang selama ini kerap bersitegang dengan istrinya. Nampak dia sedang marah hingga menutup pintu mobil dengan keras lalu melajukan mobil tersebut secepat kilat. Tak sampai di situ, di luar dugaan Maula, Ariel pun tiba-tiba muncul dan berlari dari dalam rumah, mengejar sang ayah. Tanpa berpikir panjang, Maula tiba-tiba menghadang di depan mobilnya.


“Minggir, La. Gue harus nyusul Papa!”


“Gue ikut!” Maula langsung membuka pintu mobil, duduk di sebelah Ariel.


“Turun, La. Lo gak usah ikut campur lagi dalam urusan keluarga gue.”


“Gue masih temen Lo, Riel. Buruan jalan sebelum kehilangan jejak!”


Ariel melajukan mobil dengan cepat. Dia tak menghiraukan keberadaan Maula di sampingnya karena Frustasi tengah menyelimuti Ariel saat ini. Mata yang lurus menatap ke depan mencari keberadaan mobil sang ayah yang tengah menjadi buruan


“Gue tau!”


“Gunakan jalur kanan dulu buat nyalip mobil di depan kita.” Maula memberi saran.


“Gak bisa. Jalanan terlalu padat.”


“Dia belok kanan. Kita pelan-pelan saja.” Mata Maula terus mengawasi pergerakan mobil ayahnya Ariel. “Hati-hati, Riel ...,” gumam Maula sambil menatap wajah sahabatnya.


Maula teringat saat-saat yang mereka lalui sebelum Ariel pergi ke luar negeri. Mereka kerap melakukan hal ini hingga kadang harus pulang malam hanya untuk membuntuti ibunya Ariel hingga terungkaplah sebuah perselingkuhan di sebuah rumah. Betapa terpukul hati Ariel saat itu, harus menerima kenyataan bahwa orangtuanya kini tak lagi saling mencintai. Keluarga yang awalnya hanya diwarnai pertengkaran-pertengkaran kecil, ternyata bukan hanya retak, akan tetapi hancur seperti pecahan kaca.


Mereka terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing, hingga lupa kapan terakhir mereka ada di sisi Ariel saat anak lelaki itu mendapat serangan Ashma yang dideritanya sejak kecil. Sejak Maula menyaksikan sendiri Ariel seperti tengah meregang nyawa karena kesulitan untuk bernapas, sejak itu pula wajah menyedihkan Ariel selalu terbayang di kepalanya.


Tiba-tiba, mobil Ariel berhenti tepat di belakang mobil milik ayahnya. Derit rem yang ditekan mendadak, sedikit mengagetkan dan membangunkan Maula dari lamunannya.


“Kita sudah sampai? Di mana ini, Riel?” Maula membuka sabuk pengaman. Namun, Ariel melarangnya turun.


“Jangan turun. Tetaplah di mobil.”

__ADS_1


Maula menatap sekeliling yang nampak familiar di matanya. Bagaimana tidak, tempat ini sering muncul di layar kaca. Tepatnya dalam berita razia prostitusi yang tayang di Chanel televisi swasta. Jika malam mulai larut, maka akan berjejer para perempuan dengan pakaian yang sangat menggoda, tengah menjajakan dirinya kepada para lelaki hidung belang di pinggir jalan sekitaran gang kecil itu.


Ya ampun, tempat apa ini? Kenapa aku bisa sampai di tempat seperti ini?


Maula melupakan suami yang saat ini tengah kelabakan mencari keberadaannya. Dia mengabaikan panggilan-panggilan dan chat Whatsapp karena yakin, sang suami akan memintanya segera pulang. Namun, dia tak sadar jika dalam hal ini, Khayru cukup membuka google maps untuk melacak keberadaannya.


Ariel yang tengah membuka sabuk pengaman lalu bergegas membuka pintu mobil, tiba-tiba dia melihat sang ayah keluar dari gang, menarik tangan seorang wanita dan membawanya ke dalam mobil.


Apakah Papa sedang melampiaskan sakit hatinya karena perselingkuhan Mama? Ariel menghentikan gerakannya menatap mobil ayahnya yang berlalu begitu saja.


“Riel, Papa Lo, jalan lagi.” Maula menepuk tangan Ariel. Ariel pun turut menjalankan mobilnya, kembali mengikuti sang ayah. Namun, dia bingung harus bicara apa pada ayahnya nanti. Harus memaki? Mencela? Atau membiarkannya?


Malam mulai larut, mereka tiba di sebuah club malam yang sudah begitu ramai dengan pengunjung. Ariel tetap meminta Maula untuk menunggu di mobil, sementara dia masuk ke dalam club mengikuti sang ayah. Cukup lama Maula menunggu hingga rasa penasaran membuatnya terpaksa masuk mencari keberadaan Ariel.


“Ke mana sih, tuh, anak? Lama banget,” gumamnya sambil menatap jam tangan. Akhirnya Maula putuskan untuk turun. Saat dia sadar ada jilbab di kepalanya, dia terdiam lalu akhirnya, dia lepas untuk sementara. Dia letakan di jok mobil lalu turun dengan tampang khas orang yang belum pernah sama sekali menginjakkan kakinya di tempat seperti itu.


Sangat asing dan sedikit menakutkan. Suara live music yang dimainkan seorang DJ sambil menari-nari dengan gayanya yang erotis, begitu memekakkan telinga. Gelap, remang-remang, hanya bercahayakan lampu disco yang berkerlap Kerlip menampilkan siluet wajah-wajah para pengunjung yang tengah menari-nari mengikuti alunan musik. Sebagian hanya duduk-duduk menikmati minuman yang entah apa namanya yang pasti membuat mata mereka terlihat memerah.


Aduh, Ariel ... Lo di mana, sih? Maula memandang sekelilingnya kebingungan mencari Ariel dan ayahnya.


Risih sekali saat tangan-tangan jahil mulai menyentuh bagian-bagian tubuh Maula yang sedari masuk hanya menunjukkan wajah polos kentara sekali pengalaman pertamanya mengenal dunia malam.


“Gadis, sendirian aja, ya? Ayo minum denganku,”sapa seorang lelaki yang sudah menunjukkan gejala tipsy akibat terlalu banyak minum (miras).


“Maaf ... saya tidak minum.”


“Cobalah sedikit saja. Pasti suka.” Dia mulai mendekatkan gelas minuman yang dibawanya--ke mulut Maula. Namun, Maula segera menepiskan gelas dengan kesal membuat minuman yang berbau menyengat itu, tumpah ke bajunya dan gelas pun jatuh ke lantai lalu pecah.


“Saya bilang, saya gak minum!” pekik Maula diantara jedag-jedug suara musik yang tidak karuan.


Merasa terhina, lelaki mabuk itu menarik rambut panjang Maula hingga ia meringis kesakitan. “Anak kemarin sore sudah banyak tingkah!” bisiknya di telinga Maula.


“Lepas!”


“Ikut, gue!” Lelaki itu menarik rambut Maula menuju tangga yang mengarah ke lantai atas.


To Be Continue ....

__ADS_1


__ADS_2