
Mobil Khayru tiba di halaman rumah Pak Kyai yang letaknya diapit oleh dua bangunan pondok laki-laki dan perempuan. Seorang santri laki-laki datang menyambut lalu menunjukkan jalan karena rumah Pak Kyai memiliki dua ruang tamu khusus wanita dan laki-laki yang terpisah. Ini dimaksudkan supaya tamu yang berlainan jenis tidak berkhalwat dan ikhtilat.
Khayru sudah paham peraturan di sini. Karena itu mereka segera memisahkan diri di ruangan yang berbeda.
“Dek, kamu tunggu Umi Khadijah di ruangan itu, ya. Abang ada urusan penting sama Pak Kyai di ruangan ini.”
Maula pun mengikuti santri laki-laki yang terlihat tampan di mata gadis remaja yang tengah mengalami puber saat ini.
“Silakan tunggu sebentar. Umi Khadijah sedang menuju ke sini,” ucap santri sambil meninggalkan Maula di sana.
“Baik, Kak.” Maula tersenyum genit sambil mengedipkan matanya.
“Anak pesantren aura-nya memang beda. Seperti ada kharismanya gitu. Hihi ....”
“Heii! Ngapain cengengesan begitu? Masuk!” Khayru masih berdiri di ambang pintu sebelah sambil mengangkat telunjuk. Suaranya cukup mengagetkan. Maula tertawa kecil sambil menutup pintu.
Tak lama Pak Kyai dan Umi Khadijah datang. Mereka berbincang sebentar.
“Maaf, Pak Kyai, Umi ... Saya datang mengganggu waktunya.” Khayru mencium tangan Kyai lalu merapatkan kedua belah telapak tangannya di dada sambil mengangguk pada Umi Khadijah.
“Kita sudah seperti keluarga. Jangan terlalu sungkan. Umi senang kamu datang.” Umi Khadijah meletakkan minuman di atas meja.
“Minum dulu, Ru.” Pak Kyai menunjuk minuman yang dibawa istrinya.
“Saya bawa Maula juga ke sini karena dia tidak sekolah hari ini.” Tangannya mengambil secangkir teh dari atas meja.
“Di mana dia? Umi belum melihatnya.”
“Di ruang sebelah, Umi. Saya sengaja memintanya menunggu di sana.”
Umi Khadijah sedikit heran karena biasanya ketika datang ke sini Maula tidak bisa dipisahkan dari Khayru. Jiwa anak-anak selalu melekat pada dirinya.
“Wah, tumben,” canda Umi Khadijah sambil tersenyum.
“Maula bukan anak-anak lagi, Umi. Dia sudah beranjak remaja. Bahkan hari ini ... dia mendapat haid pertamanya, tadi pagi.” Khayru terpaksa mengatakan itu meskipun sedikit malu.
“Masyaallah. Gak kerasa gadis kecil itu sudah besar sekarang. Padahal, Umi masih ingat betul bagaimana lucunya waktu dia masih bayi.” kenang Umi Khadijah.
“Berapa usia Maula sekarang, Ru?” tanya Pak Kyai.
“Tiga belas tahun, Pak Kyai. Sudah waktunya Maula belajar apa arti baligh dan apa kewajiban seorang muslimah setelah dia baligh.”
“Kalau gitu, Umi permisi mau menemui gadis cantik kesayangan Umi. Kasihan dia menunggu sendiri.”
Umi Khadijah segera pergi ke ruangan sebelah untuk menemui Maula. Pada waktu yang bersamaan, Khayru bercerita panjang lebar. Dia memang rajin meminta nasihat pada Kyai, terutama tentang Maula dan pernikahan yang mereka rahasiakan.
Sebenarnya saat ini pikirannya sedikit terganggu setelah mendengar selentingan gosip yang tengah beredar di dapur. Ini tentang kedekatan dirinya dengan Maula di mata para ART yang nampak tidak wajar. Ini karena mereka berdua bukan saudara kandung.
Namun, Khayru mengurungkan niat yang sudah dia susun dari rumah untuk bercerita tentang hal itu pada Kyai. Pernah Kyai memberi saran supaya memberi tahu statusnya kepada para pekerja di rumah untuk mencegah fitnah. Hanya saja, Khayru khawatir jika berita ini jadi bahan gosip baru yang nantinya bisa sampai ke telinga Maula.
Saya yakin, jika Maula tahu hal ini, dia akan menolak. Hubungan kami menjadi kaku, dan aku tidak bisa menjalankan wasiat Papa dengan baik.
Tak terasa beberapa jam sudah berlalu. Khayru mengajak Maula pulang sebelum hari terlalu sore.
“Kenapa buru- buru, sih, Bang? Aku kan masih betah di sini,” gumamnya ketika memasangkan sabuk pengaman.
“Sejak kapan kamu betah di rumah Pak Kyai?”
“Sejak aku sadar kalau di depan rumahnya banyak santri kece yang lalu lalang.” Saat itu juga, Maula memalingkan wajahnya karena sadar ucapannya akan mendapat protes dari Khayru.
“Ups!”
__ADS_1
“Ish, beraninya.” Khayru memasang wajah geram.
Setiba di rumah, mereka melihat sebuah mobil yang tidak asing, terparkir di halaman.
“Sepertinya ada Tante Risa di rumah.”
“Jangan-jangan dia nunggu dari tadi.”
“Kalian janjian?” tanya Maula sambil mengerutkan kening.
“Enggak. Ayo turun dulu.”
Risa tidak datang sendiri. Dia bersama Ariel yang masih lengkap dengan seragam sekolahnya.
“Kalian sudah lama nunggu?” sapa Khayru sambil berjalan ke ruang tamu.
Seketika Risa dan Ariel berdiri saat suara bariton itu terdengar dari ambang pintu.
“Ah, enggak. Baru Lima belas menit yang lalu, Mas.”
“Assalamualaikum, Ris.”
Khayru mengalihakan pandangan pada Ariel. “Baru pulang sekolah, ya Riel,” Dia menepuk pundak Ariel pelan.
“Maula kenapa gak sekolah, Om? Dia sakit?” tanyanya sambil melirik ke arah Maula.
Maula tidak bisa fokus dengan apa yang mereka bicarakan. Ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman saat ini. Dia menarik lengan Khayru karena ingin membisikkan sesuatu. Dia meminta Khayru mendekatkan telinganya.
“Aku belum ganti pembalut,” bisiknya.
“Ya, ampun.”
Khayru menatap tamunya sambil menarik tangan Maula. “Maaf ya, kalian harus menunggu lagi. Silakan duduk dulu. Gak lama, kok.”
Tidak lebih dari lima belas menit, mereka kembali setelah berganti pakaian. Wajah Maula nampak tidak terlalu senang. Ini bukan karena dia tidak suka melihat wajah Ariel yang sering mengganggunya di sekolah, tapi karena ekspresi Khayru yang begitu antusias menemui Risa. Matanya tidak lepas mengawasi sepasang lelaki dan perempuan dewasa yang tengah bercakap-cakap di depannya. Bahkan, Maula tiba-tiba duduk di pangkuan Khayru sambil melingkarkan tangannya.
Perasaan apa yang tengah dia rasakan Maula saat ini? Apakah dia merasa takut kehilangan? Takut jika lagi dan lagi ditinggalkan?
“Loh, kenapa malah duduk di sini? Kan mau ngerjain PR sama Ariel.”
“Iya, La. Mumpung Ariel lagi baik hati, nih. Biasanya kan dia nyebelin.” Risa menimpali. “Bawa bukunya, abis itu Tante bantu ngerjainnya.”
“Nah, tuh. Kapan lagi dibantu Tante Risa? Dia jago Matematika, loh.”
Setelah dibujuk, Maula yang manja akhirnya mau mengerjakan PR bersama Ariel. Sementara Khayru duduk di teras karena tak ingin mengganggu.
“Tante kasih contoh abis itu kalian coba kerjain sendiri.”
Semua orang di rumah ini sangat mengenal Risa. Gadis cantik, pintar dan ramah. Semua orang berpikir bahwa Risa adalah calon istri Khayru. Namun, kenapa sampai saat ini mereka belum menikah, tidak ada yang tahu alasannya.
“Kalian boleh saling bantu tapi gak boleh nyontek, Ok. Tante tinggal sebentar. Kalau sudah selesai atau ada yang mau ditanyakan, panggil aja Tante.”
Ariel menggunakan kesempatan ini mengobrol lebih banyak dengan Maula. Diam-diam matanya melirik.
__ADS_1
“La, aku minta maaf, ya.”
“Maaf untuk apa?” jawab Maula dingin. Dia bahkan tak ingin menatap Ariel.
“Kita bisa temenan, gak?”
“Gak salah tuh, mau temenan sama aku?”
“Jutek banget, sih.”
“Aku mau ambil minum dulu.”
Rasanya, kok males banget menanggapi ucapan Ariel yang tiba-tiba so baik. Maula memilih pergi ke dapur untuk menghindar.
Dari kejauhan sudah terdengar suara-suara aneh dari arah dapur. Semakin dekat semakin jelas. Maula berhenti di balik pintu. Rasanya malas juga mendengar percakapan mereka. Seperti gak ada habisnya yang mereka bahas. Selalu ada saja topik hangat yang menarik untuk dibicarakan, tapi niatnya untuk meninggalkan dapur, urung.
“Nduk, kerja sing apik. Ojo malas kaya ngono.”
“Iya, Mbak.”
“Kenape lagi, Lo?”
“Sakit aja hati Neneng teh kalau liat Tuan berdua-duaan sama Non Risa. Mereka terlalu sempurna. Tuan ganteng, Non Risa cantik.”
“Lha terus? Kamu patah hati, Neng?”
“Hehe ...
“Oalah ....”
“Ha ha ha ....”
“Gak, kok. Aku tetep doain mereka semoga cepet nikah dan hidup bahagia.”
“Eh, tapi kasian juga, ya Tuan Iru. Dia pasti pengen banget nikah sama Non Risa.”
“Lha, kenapa memangnya? Orang yang sudah nikah aja bisa nikah lagi. Apa lagi yang belum. Tinggal nikah aja.”
“Kebayang, gak kalau Tuan nikah? Malam pertamanya pasti dibayang-bayangi sama Non Maula. Orang dia tuh nempel terus ke mana-mana. Kalau masih kecil, sih gapapa. Lha ini dah gede masih nempel begitu kan gak lucu.”
“Ha ha ha ....”
“Deg!
____________
Khalwat adalah berkumpulnya seorang laki-laki bersama perempuan yang bukan mahramnya dan tidak ada orang ketiga bersama mereka.
Perbedaan ikhtilat dan khalwat terletak pada jumlahnya. Ikhtilat merujuk pada beberapa laki-laki dan perempuan.
__ADS_1
To be continue ....