
“Cukup! Aku mau balik ke kantor!” Khayru melepas apron lalu meletakkannya di atas meja dengan kasar, setelah dia kembali dari penyimpanan piring kotor. “Kalau lama-lama, omset Rere bisa abis buat bayar honorku.”
“Hahaha ... thank you, Mas!” seru Dandi sambil melipat apron yang baru dilepas Khayru lalu menyerahkan pada Nikita untuk disimpan di tumpukan apron lainnya.
“Sering-sering bantu aku di sini, ya, Om!” teriak Rere sambil melongokkan kepalanya karena Khayru sudah melangkah keluar.
“Kalian nyuruh dia jadi pelayan?” Tiba-tiba suara Aldi yang datang melontarkan pertanyaan, oh tidak, ia sedang menegur tepatnya.
“Gak ada tuh yang berani nyuruh. Dia sukarela karena mau mengawasi Maula,” tegas Dandi, bicara terus terang di hadapan Maula yang tidak menyadari ucapannya karena mata dan pikiran Maula tengah mengikuti gerak-gerik Khayru sampai ia tidak terlihat lagi di teras kafe.
“Ngapain diliatin terus? Susul aja Sono!” Suara Aldi membuat Maula terhenyak lalu terkekeh. Melihat wajah Aldi, Maula teringat sesuatu yang ingin dia tanyakan. “Kebetulan, nih. Aku mau tanya sesuatu sama om Aldi.”
“Apa, tuh? Jangan bilang kalau syarat lamaran ditambah lagi!” Aldi mengangkat telunjuknya lalu melirik ke arah Katia yang duduk di meja nomor 13, sambil melambaikan tangannya.
“Dih! orang aku cuma mau nanyain mas Cahyo, kok. Dia pasti diapa-apain waktu itu sampe gak pernah dateng lagi ke sini.”
“Dia pulang kampung. Gak usah ditanyain lagi, napa.” Aldi mengambil makanan yang baru selesai dibuatkan Dandi lalu kembali ke mejanya.
“Pulang kampung sih, gapapa. Asal jangan dimarahi atau dipukuli dulu. Kasian, tau, Om!” Sambil mengikuti Aldi di belakangnya.
“Dia sudah bohongin orang. Harusnya sih, dibawa ke polisi, La,” seloroh Aldi sambil duduk di sebelah Katia yang menunggunya. Sedetik kemudian dia tidak lagi menghiraukan pertanyaan-pertanyaan Maula karena takut salah bicara yang berujung membocorkan rahasia. Secara, belum ada izin resmi dari pelaku utama.
“Itu yang nanya, dijawab dulu, Mas, biar lamaran kita nanti gak ada hambatan lagi,” canda Katia diselingi tawa renyah. Matanya tak berhenti menatap Maula yang sudah mulai mengerutkan bibir.
Sadar perkataannya tidak digubris, Maula yang pura-pura kesal, bangun dari duduknya sambil mengancam. “Belum jadi kakak ipar aja udah cuek begitu. Jangan salahin aku ya, kalau lamarannya nanti ditolak.”
“Hahaha ... Eh! lagian, calon adik iparnya aja yang gak ada akhlak. Orang lagi makan, malah ditanya-tanya. Kalau keselek gimana?”
“Pake ngancam lagi!” Aldi tidak berhenti menyalak.
“Mau ke mana, hey! Balik sini! Mau aku bisikin, kamu dapet salam dari Basuki Cahyono! Hahaha ...”
“Namanya keren, ya, kembaran sama pejabat yang ono!” gumam Aldi sambil melirik sekilas pada Katia, lalu sama-sama terbahak.
“Kalau gak diterima, nyesel, loh! Wajahnya kan mirip pangeran dari Maroko, hahaha .....” Sampai Aldi terkekeh, Maula tak menggubris ucapannya.
Karena malam ini ada acara lamaran, tidak mungkin ia lembur di tempat kerja. Sementara, banyak sekali berkas-berkas yang harus Khayru periksa di hari pertamanya memulai kerja. Akhirnya, ia bawa ke rumah untuk diselesaikan. Ia letakkan di jok belakang karena di depan akan menjadi tempat duduk untuk Maula.
“Abang beneran nungguin aku?” Saat Maula memasuki mobilnya sore itu. “Bete pasti, kan, nungguin lama.”
Alih-alih menjawab pertanyaan Maula, Khayru malah menunjuk *seat belt* yang menjadi kebiasaan Maula—lupa memasangnya.
“Oh, Oke, oke ... siap!” Maula bisa menangkap kode dari mantan suaminya. Dia hanya senyum-senyum sepanjang perjalanan, meski beberapa pertanyaan yang ia lontarkan, tak kunjung mendapat respon dari lelaki itu.
“Kenapa, sih? Lagi *PMS*, ya?” Dengan nakalnya, Maula terus melontarkan pertanyaan receh sambil menatap wajah kecut yang tak kunjung meleleh meski disiram dengan kata-kata manis sekalipun.
“Sariawan.” Hanya itu yang terdengar dari bibir Khayru, itu pun dia ucapkan dengan malas tanpa ekspresi. Selain kata itu, Khayru hanya bertahan untuk tidak mengeluarkan suara lagi. Bibirnya sengaja ia kunci rapat-rapat, bahkan sampai ia tiba di rumah.
Maula menawarkan bantuan untuk memindahkan sebagian berkas yang sengaja ia bawa ke rumah. Namun, ia tetap menolak dengan hanya menggeleng saja. Bahkan melangkah dengan cepat menuju ke kamarnya.
“Tuan kenapa, Non?” Tina tengah membersihkan debu yang menempel di hiasan porselen yang tertata rapi di ruang tamu. Ia menghentikan gerakannya ketika melihat Maula yang masih berdiri sambil menggeleng memandangi Khayru.
“Orang kalau lagi sariawan, biasanya nafsu makannya yang berkurang. Ini malah nafsu bicara yang hilang,” gerutunya.
“Lagi marah kali, Non? Orang seramah Tuan, gak pernah mogok bicara sejauh ini, kecuali ....”
“Kecuali apa?” Sambil menatap penasaran.
“Kecuali ... kalau Tuan lagi merajuk.” Sambil meletakkan kembali hiasan setelah ia selesai membersihkannya. Malam ini akan ada beberapa tamu, jadi semua orang mempersiapkan waktu, tempat dan juga hidangan spesial untuk makan malam.
“Ya udah, Mbak. Yang lagi merajuk mah biar aku yang urus. Semuanya fokus untuk acara nanti malam saja, jangan sampe ada yang kurang.” Maula memperingatkan sebelum dia kembali ke kamarnya.
Setelah selesai membersihkan diri dan salat ashar, Maula mencari keberadaan Khayru di ruang kerja, tapi dia tidak menemukannya di mana pun. Dia hanya melihat semua orang yang sibuk menata rumah, juga menyusun menu makanan.
__ADS_1
“Sembunyi di mana, sih, tuh orang? Gak rugi apa, gak mau baikan sama aku?” Sambil mendenguskan napas dari hidung. Maula bahkan sudah membuka pintu kamarnya sambil memanggil, tapi di sana sepi tak ada sahutan. Akhirnya, dia kembali ke kamarnya, membuka jendela supaya sirkulasi udara dan cahaya bebas masuk.
Matanya terbelalak, lalu mengembuskan napas pelan-pelan. *Aaah ... di sana rupanya*? Ia mendengus sambil tersenyum miring. Pergi ke dapur untuk mengambil secangkir teh hangat lalu, kembali ke balkon diam-diam. Duduk di atas ayunan gantung, tempat ia bersantai jika sedang ingin menghirup udara segar.
*Panggil ... jangan ... panggil ... jangan* .... Sambil memilin jari. *Tuh cowok serius amat, sih* *kalau lagi kerja* ....
Maula belum menyapa Khayru yang tengah duduk sambil membuka-buka berkas penting di balkon kamar sebelahnya, karena memang keberadaan Maula belum disadari. Bunyi seruput-seruput dari bibir Maula saat menyesap teh hangat, tak juga menarik perhatiannya. Dan akhirnya, Maula tersenyum sambil menyipitkan mata, ketika denting gelas yang beradu beberapa kali dengan tatakan, berhasil membuat Khayru menoleh ke arahnya.
*Yess!! Berhasil*.
“Ng-ngapain di situ?!” Seperti tidak terima saat menyadari Maula tengah memandanginya sedari tadi.
“Pengen duduk-duduk aja di sini, kebetulan kan, lagi butuh vitamin A.” jawabnya nyeleneh sambil menggerakkan ayunan seperti mengikuti irama.
“Vitamin ada di kotak obat.”
“Di sini juga ada.” Sambil memainkan alis.
“Coba Abang liat mataku.” Ia membulatkan mata sipitnya sambil menatap lamat-lamat.
“Ternyata benar... pemadangan yang indah... bagus buat kesehatan mata,” gumam Maula setelah Khayru benar-benar membalas tatapannya.
“Cukup!”
Terlihat gadis itu tengah menyembunyikan senyumnya karena mata Khayru yang selalu berbinar, Maula ibaratkan seperti vitamin A yang menyehatkan mata jika dipandang. Entah benar atau hanya rekayasa, yang pasti, saat ini Maula sukses membuat pipi seorang lelaki, merona.
Sebab tak nyaman dengan keberadaan Maula, Khayru menggeser posisi kursi supaya membelakanginya. “Bisa, gak, kamu masuk dulu. Jangan duduk di situ.”
*Bukannya semangat malah grogi*. Tiba-tiba ia terkekeh sendiri. *Ternyata* ... *pria sepertiku bisa gerogi juga*. *Gak percaya, sih*.
————
Pukul 20.00, Aldi beserta keluarga besarnya, benar-benar datang untuk melamar. Acara ini dihadiri kerabat dan sahabat dekat. Semua datang memenuhi undangan yang terfokus pada jamuan makan malam dan di penghujung itulah Aldi menyampaikan maksud terhadap Katia. Semua berjalan lancar. Pihak tuan rumah diwakili oleh pak Kiai dan umi Khadijah, sementara Aldi mengusung orang tuanya sendiri—pengacara Suryadi beserta istri—saat menyampaikan maksudnya.
Khayru duduk di sebelah Aldi, sesekali menggodanya karena wajah Aldi malam ini nampak tegang karena gugup, meski akhirnya dia lega karena lamarannya di terima. Di sisi lainnya, ada Dandi dan Pram, terlihat lebih dekat dari biasanya.
Seperti biasa pak Kiai, Om Suryadi dan dr. Luthfie selalu berdiskusi karena memiliki obrolan yang sama, obrolan khas orang-orang yang sudah berumur. Namun, mereka tetap santai karena sesekali selalu terdengar suara tawanya.
Para kaum wanita, semua berkumpul mengitari Katia. Maula, umi Khadijah, Shasha, Rere, Nikita tak ketinggalan ibunya Aldi yang ternyata sikapnya tidak sekaku penampilannya. Mereka semua berbaur hingga saling mengenal lebih dekat, satu sama lain.
Hanya Maula yang tiba-tiba memisahkan diri karena matanya selalu tertuju pada si kembar Arimbie dan Satria yang selalu berebut mainan di lantai yang beralaskan permadani turki. Ia datang untuk melerai dan ikut bermain seperti anak kecil. Saking menikmati, dia rela menirukan gerakan keledai demi si kembar yang ingin naik ke punggungnya.
“Tinggal sama kakak di rumah ini, mau, gak? Biar gak sepi rumah kakak, nih.” Sambil merangkak mengelilingi permadani di depan televisi.
“Kenapa bisa sepi? Ini rame banget.” Arimbie menatap ke arah orang dewasa yang tengah asik dengan obrolannya. Sementara tangannya memegang erat pundak Maula.
“Bentar lagi mereka semua pulang, Bie. Jadi sepi lagi, deh, rumah kakak.” Dahi Maula sudah mulai berkeringat, napasnya pun sedikit tersengal. Dia mulai kecapean.
__ADS_1
“Memangnya, kakak tinggal sama siapa di rumah?” tanya Satria yang berpegangan erat pada Arimbie.
“Kalau Kakak Tia jadi nikah sama Om Aldi, kakak nanti tinggalnya berdua saja sama om-om.”
“Ohhh ... om yang ini maksudnya?” tunjuk Satria pada lelaki yang baru datang setelah kembali dari toilet.
*Ya ampun*! Pram hampir tak percaya, melihat Maula yang ditunggangi dua anak gembul—pastinya memiliki bobot luar biasa—khas anak pasangan dokter muda.
“Pindah sini, yuk. Kasian kakaknya udah keringetan, tuh.” Pram menepuk pundaknya. Tanpa berpikir panjang, Arimbie dan Satria pun minta turun karena ingin berpindah ke punggung Pram. Akhirnya, Maula bisa mengatur napas lagi sambil mendudukkan tubuhnya.
Di sofa yang melingkar, Aldi yang kewalahan dengan candaan Khayru, coba mengalihkan pembicaraan. Dia menyela obrolan ringan pak Kiai dan orang tuanya.
“Pak Kiai, maaf saya ganggu sebentar.”
Kiai pun menoleh sambil manggut. “Iya, kenapa, Di?”
“Saya mau tanya pak Kiai. Kapan kartu kuning Khayru bisa dicabut?” Memasang wajah sedih sambil mendelik ke arah Khayru.
“Kartu kuning? Kartu apa itu, Di?”
“Khayru butuh kartu hijau supaya bisa menghalalkan lagi hubungannya dengan Maula. Tolong dibantu pak Kiai.”
*Astagfirullah, ini orang tidak melihat situasi kalau bicara*. Khayru menyikut lengan Aldi supaya dia tidak melanjutkan ucapannya.
“Masalahnya, kamar mereka berdua ini berdekatan.” Sambil mensejajarkan dua telunjuknya hingga membentuk angka 11. “Khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Sebaiknya, cepat dihalalkan saja,” tutur Aldi, bercanda dengan wajah yang serius.
Spontan Khayru menendang pelan kaki Aldi sambil berbisik. “Lo mau bikin malu gue di depan semuanya?” Sembari melotot tajam.
Tanpa disadari, ucapan Aldi, ternyata cukup menggugah, karena benar jika situasinya seperti itu, akan ada kemungkinan terjadi hal-hal yang tidak pantas di antara mereka. Namun, pa Kiai mengembalikan lagi pada kesiapan Khayru yang akan menjalaninya.
“Gimana, Ru?!” tanya pa Kiai. “Kamu siap dengan segala konsekuensinya?”
Khayru masih diam mematung, tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti ini dibdepan banyak orang.
“Mewakili orang tua Maula, saya akan bertanya seperti ini pada laki-laki mana pun yang nantinya akan meminang dia. Hanya saja, terhadap kamu yang pernah gagal, saya butuh jawaban yang lebih pasti. Yang lebih meyakinkan.”
Khayru melayangkan tatapan pada Maula yang tengah asik bermain dengan si kembar dan ditemani Pram hingga tertawa bahagia.
“Saya ....”
To Be Continued ....
———————
Author :
Maaf nih, ya, sengaja digantung. Mau gimana lagi? part-nya hampir mau 2.000 kata, gays. Kalo kepanjangan ntar cape bacanya, bosen, lupa like, lupa komen dan sebagainya. Maaf, ya.
Di mana pun kita berada, semoga semuanya dalam keadaan baik. Selalu jaga kesehatan. Kita berdoa bersama-sama, semoga pandemi di negeri ini segera berlalu 😔😟
__ADS_1
Aamiin 🤲