
Pesawat Garuda Indonesia GA 433 Boeing 737 800, akan berangkat sekitar pukul 14.50 WITA dari bandar udara internasional Lombok. Diperkirakan akan tiba di Jakarta sekitar pukul 15.50 WIB setelah menempuh penerbangan kurang lebih selama dua jam. Mereka harus duduk sebentar menunggu jadwal keberangkatan sore ini.
“Hhh, ya ampun. Padat banget. Panas lagi,” keluh Maula sambil mengibaskan kerah baju. Udara sedikit panas karena memang suasana di bandara menjadi sesak akibat pengunjung yang terlalu ramai. Dia melirik ke arah Khayru yang tiba-tiba mengeluarkan saputangan lalu menyeka keringat Maula yang menetes di dahinya.
“Memangnya pengunjung di sini selalu seramai ini ya, Bang?” Maula meniup wajahnya sendiri yang sudah memerah dan lembab.
“Entahlah. Harusnya sih, gak sepadat ini, karena penumpang pesawat gak sebanyak ini.”
“Kalau bukan penumpang pesawat, ngapain mereka datang ke sini? Kek kurang kerjaan aja mereka.”
“Mungkin karena hubungan kekerabatan di sini sangat kuat. Bisa jadi satu orang yang tiba di bandara ini, satu rumpun yang memiliki hubungan kekerabatan akan datang semua untuk menyambutnya.”
“Masa, sih? Kok, beda sama kita yang cuma hidup berdua aja? Saudara-saudara kita ke mana?”
“Abang juga ... gak tahu di mana saudara Papa sama Mama saat ini? Abang sudah berusaha mencarinya.” Khayru sedikit menyesal karena belum bisa menemukan kerabat orang tuanya saat ini.
Maula menatap Khayru sambil menghela napasnya. Seumpama Kakaknya itu kembali bersama keluarganya di Maroko, maka Maula benar-benar hidup sebatang kara di dunia ini. Bayangan itu selalu terlintas di pikirannya. Apa lagi jika dia mengingat bahwa Kakak satu-satu harus menikah dan berkeluarga suatu saat nanti.
“Jika aku sudah menikah nanti ... aku ingin melahirkan banyak anak supaya mereka tidak hidup sebatang kara seperti ibunya.”
Khayru menyambut dengan senang hati ucapan Maula. Dia tidak menghiraukan wajah sedihnya, tetapi hanya ingin menggodanya. “Berapa anak yang kamu mau? Sepuluh cukup?” tanyanya sambil menunjukkan sepuluh jari tangan miliknya.
Maula menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Kurang,” ucapnya lalu menggabungkan sepuluh jari miliknya dengan milik Khayru.
“Woow, dua puluh?” Khayru membelalakkan matanya.“Good! Nanti kita realisasikan.” sahutnya antusias sambil mengacungkan kedua jempol nya membuat Maula menatapnya dengan heran.
“Maksud Abang, Abang juga punya rencana yang sama setelah menikah.” Dia meralat ucapannya.
“Gak usah ikut-ikutan, Abang kan sudah memiliki banyak keluarga di Maroko,” tukasnya sambil kembali menyandarkan punggung ke sandaran kursi tunggu yang ia duduki.
“Apa salahnya Abang mendukung program melahirkan banyak anak jika istri Abang menginginkannya nanti.” Khayru masih duduk menghadap Maula sambil kembali menyeka keringat di wajahnya. “Roman-romannya kita bakal lihat muka kamu yang jerawatan lagi nih besok.”
“Akhh ... iya, gawat!” ucapnya sambil turut mengusap wajahnya dengan punggung tangan. Wajahnya yang sensitif memang mudah berjerawat jika keringatnya berlebih seperti ini. “Kok, bisa cuaca hari ini lebih panas dari kota Jakarta, ya?” gumamnya.
__ADS_1
“Jangan mengeluh. Kita gak bisa bayangin kan gimana panasnya saat matahari berada di jarak satu mil di atas kepala kita? Berdesak-desakan dengan seluruh manusia yang pernah hidup dari zaman nabi Adam hingga akhir Zaman. Tanpa terbalut sehelai benang pun, kita tenggelam dalam peluh kita sendiri.” ucapnya sambil bergidik ngeri karena membayangkan bangkit di alam Mahsyar.
“Bang, udah, Bang. Aku merinding nih jadinya.”
Tiba-tiba terdengar panggilan dari pengeras suara mengingatkan penumpang supaya bersiap dan naik ke pesawat yang akan terbang menuju Jakarta. Mereka tak membuang waktu lagi, segera melangkah menuju pesawat sesuai arahan.
Setelah dua jam perjalanan, mereka tiba di bandara Soetta Jakarta, melewati terminal 3 untuk kedatangan domestik. Mang Sodik sudah standby menunggu sejak setengah jam yang lalu di parkiran. Dan mereka tidak butuh waktu yang lama untuk tiba di rumahnya. Namun, hari sudah sangat sore, Maula dan Khayru segera menuju kamar masing-masing untuk melepas lelah dan membersihkan diri.
“Alhamdulillah ... ternyata habitatku ini lebih nyaman dari tempat mana pun juga,” ucap Maula saat keluar dari kamar mandi. Dia tak lagi merasa kepanasan karena kamarnya full AC.
“Lha iya, habitatnya itik kan di air. Mandinya aja lama. Kalau kepanasan, bulunya bisa rontok semua tuh,” seru Khayru yang tengah duduk di tepi tempat tidur Maula. Menunggu sambil mengeringkan rambutnya karena dia pun baru selesai membersihkan diri.
“Loh, Abang ngapain di kamar aku? Sukanya gentayangan Mulu, deh,” ketus Maula sambil menghampirinya.
“Duduk dulu.” Khayru menepuk tempat tidur yang ia duduki supaya Maula ikut duduk di sebelahnya.
“Udah, nih. Ngomongnya to the poin aja, ya, jangan bikin teka teki. Abang kan tahu IQ-ku di bawah SNI--”
“Acara apa sih, Bang?”Dahi Maula berkerut seperti biasanya.
“Besok kamu akan tahu,” ucapnya sambil bangkit dari tempat duduk.
“Mulai deh bikin teka teki lagi.”
Khayru memutar badannya sambil menatap wajah Maula yang mulai menampakkan kekecewaannya.
“Kamu tuh beneran mandi gak sih, Dek? Kok rasanya masih bau gimana gitu?” Sambil mengendus-ngenduskan hidungnya.
“Bau gimana? Aku kan udah pake Palmolive aroma theraphy yang wanginya paling tahan lama itu, loh,” ucapnya sambil turut mengendus bau badannya sendiri.
“Mungkin Shamphoo-nya yang salah, coba sini Abang cium rambut kamu.” Tiba-tiba, Khayru memeluk Maula dengan erat sambil pura-pura menciumi bau rambutnya.
“Akhh ... iya. Gak ada yang salah ternyata, sabun sama shampoo kamu udah wangi, kok.”
__ADS_1
“Hidung Abang kali yang salah,” ketusnya sambil mengerucutkan bibir.
“Iya, hidung Abang suka salah, Dek.”
Khayru hanya mencari cara untuk memeluk Maula karena dia merasa yakin jika mulai besok sikap Maula tidak akan sebaik ini lagi. Hubungan mereka mungkin tidak akan sedekat ini lagi. Suasana di antara mereka pun mungkin tidak akan sehangat seperti saat ini lagi.
“Abang boleh tidur di sini, gak?” candanya.
“Gak boleh!” Maula segera melepaskan pelukan Khayru lalu mendorong tubuhnya sampai ke pintu. “Sana! tidur di kamar sendiri aja.” Pintu kamar pun segera ia tutup dengan cepat.
“Heran, deh. Dia melarangku mengunci pintu kamar keknya supaya dia bisa main nyelonong aja masuk ke kamarku,” gerutunya sambil naik ke tempat tidur.
“Oh ya, Ariel apa kabarnya, ya?” Maula bangun untuk mengambil handphone. Namun, dia baru ingat Khayru mengambil benda itu sejak ia bilang mau menghubungi Ariel waktu masih liburan.
“Ish ... sialnya, Bambang belum mengembalikan handphoneku, atau jangan-jangan aku gak boleh pegang handphone lagi besok-besok,” rungutnya sambil berguling-guling di tempat tidur.
“Ingat ya, Dek, kamu jangan ke mana-mana. Di jam makan siang nanti Abang pulang, yang lain juga nanti pasti datang,” pesan Kahyru sebelum naik ke mobil menuju kantornya.
“Tapi handphone akunya balikin dulu, dong, Bang!”
“Kamu mau telepon Ariel, ya? Gak usah! Nanti juga ketemu. Dia diundang kok, siang nanti.” Akhirnya, mobil pun berlalu dari halaman rumah. Sementara Maula kembali masuk ke dalam rumah sambil merungut karena seharian ini benar-benar akan bosan tanpa handphone.
To Be Continued ....
__ADS_1