Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 70


__ADS_3

Hari masih sangat pagi. Tanpa sarapan dahulu, Maula sudah pergi ke kafe, padahal biasanya hari Minggu begini, dia bersiap pergi ke pengajian. Aldi dan Khayru, tiba-tiba sudah di depan pintu. Sepertinya, mereka sudah merencanakan sesuatu terkait obrolan semalam.


“Pada tumben-tumbenan datang pagi-pagi. Mau nemenin saya sarapan, ya?” Sambil mempersilakan mereka duduk.


Sejak Katia membukakan pintu, Khayru hanya menatap sekeliling rumah. Seakan memahaminya, Katia bisa menebak apa yang dia cari. “Nyariin Maula, ya? Dia baruuu aja keluar. Harusnya, sih, Pak Iru gak pulang semalam, udah kangen kan, jam segini,” seloroh Katia sambil tersenyum.


“Ohh ... Ehh ....” Khayru sedikit meringis malu, tapi tidak, sejak menyamar jadi Cahyono, dia sudah mengesampingkan rasa malu yang dia punya.


“Memangnya hari Minggu pun dia selalu pergi ke kafe? Bukannya harus ke rumah Pak Kiai?”


“Tadi dia bilang mau ketemu Dandi, abis itu ada janji sama Pram, katanya,” jawab Katia persis seperti yang dikatakan Maula sebelum pergi. Membuat Khayru bergegas berdiri lagi sambil menepuk pundak Aldi yang nampak gelisah menyusun kata-kata.


“Jangan tegang, dong!” Sambil menatapnya lalu tertawa kecil. “Tarik napas dulu, buang perlahan. Jangan grogi ... gue cuma pergi sebentar.” Dia kembali menepuk pundak Aldi, lalu pergi.


“Eh! Mo ke mana, sih?!”


“Nyari Maula!” Sambil menoleh sebentar. “Daripada di sini cuma jadi wasit doang. Hahaha ...!”


Selain memberi ruang pada Aldi dan Katia, Khayru harus menyelidiki apa yang akan dilakukan Maula dan Pram di hari libur seperti ini. Kebetulan, Dandi yang tengah diberondong banyak pertanyaan, memintanya datang sekarang juga.


Tanpa memperhatikan mimik wajah Maula yang belum selesai mengintrogasi Dandi, ia langsung menarik lengan baju dan membawanya ke luar.


“Apa-apaan, sih ini pake ditarik-tarik? Aku mau dibawa ke mana?” Maula melepaskan lengan bajunya, lalu Khayru menarik kembali.


“Terserah kamu mau ke mana, Abang temenin pokoknya.” Khayru membuka pintu mobil, lalu mempersilakan Maula masuk.


“Gak usah repot-repot. Ada yang nemenin aku, kok, di sana. Lagipula, aku bawa mobil sendiri.” Sambil nunjuk mobil miliknya yang terparkir bersebelahan dengan mobil Khayru.


“Kalau nyetir sendiri, khawatir kamu ngantuk. Katia bilang semalam kamu gak bisa tidur, 'kan?” Dia buka pintu mobil lalu mengangkat kedua telapak tangannya sambil mengatakan 'maaf' karena harus mendorong tubuh Maula ke dalam mobil.


“Ngawur! Kapan Kak Tia bilang gitu? Abang pasti bohong, kan?” Matanya bergerak mengikuti Khayru yang berjalan setengah berlari mengitari mobilnya lalu duduk di belakang kemudi.


“Abang dari rumahmu tadi, bareng Aldi,” katanya sambil melirik sabuk pengaman yang belum dikenakan Maula. “Seatbelt-nya mau Abang yang pakein?” candanya. “Tapi jangan, ya. Ntar yang lihat bisa galfok.” Khayru terkekeh. Jika dia memasangkan seatbelt seperti yang biasa ia lakukan dulu, jarak mereka tentu akan sangat dekat. Banyak sekali kebiasaan yang harus dia ubah seiring berubahnya status mereka meskipun terkadang masih suka lupa.


“Ish ... aku mau turun!” Maula memutar badannya sambil bersiap membuka kembali pintu mobil, akan tetapi ... 'klik' terdengar semua pintu mulai terkunci. Maula hanya mendelik sambil menghela napas kesal.


“Seatbelt-nya sayang ....” Khayru mengingatkan kembali sambil bercanda. “Jangan-jangan bener, mau Abang yang pakein,” gumamnya pelan.


Sayang?


Mata cekung membalas tatapan dengan dahi yang tak kalah mengkerut begitu pun dengan bibirnya. Menggerakkan tangan menarik sabuk pengaman dari belakang. Tanpa prosedur yang benar, membuat Khayru menunggu sebelum mobil melaju.


“Yang bener dong, pasangnya.” Khayru sudah mengulurkan tangannya, tetapi Maula dengan cepat menepuk dengan telapak jari-jarinya.


“Aku cuma mau nyari buku referensi aja, kok, Bang. Deket sana. Lima menit juga nyampe,” gerutunya sambil mengulang cara mengenakan seatbelt. Dan itu masih belum sempurna. Masih mengundang perhatian mantan suaminya untuk memperbaiki.


“Pake seatbelt, kok, di leher?” Lelaki itu menarik ikatan dan menggesernya ke arah bahu Maula hingga terpasang rapi.


“Mau nyari buku, ya? Abang tau toko buku yang paling lengkap,” ucapnya sambil memutar kemudi dan berbalik arah.


“Lho, lho ... kenapa putar arah, Bang? Aku kan sudah janjian di 'LITERA BOOKS SHOP'” ucapnya sambil memutar pandangan ke arah belakang, khawatir, seseorang menunggunya di sana.

__ADS_1


“Di toko 'MARIBAYA' lebih lengkap, Dek.” Sambil menunjuk ke arah depan.


“Ish ....” Maula kembali mendesis sambil memutar bola mata lalu menekan tombol di handphone-nya untuk menghubungi seseorang. Dengan sungkan dia meminta maaf karena harus merubah tempat pertemuan. Saat itu juga, orang di balik telepon menuju toko buku yang dituju Maula saat ini.


“Wah, tokonya masih tutup. Kita keliling-keliling dulu sambil nunggu, ya.”


Khayru melewati gedung Mall dan terus melajukan mobilnya sampai beberapa putaran. Maula dibuat pusing hanya karena dia harus melihat pemandangan yang sama di sekitar bundaran saja.


“Bang! Tokonya kan di dalam Mall. Keliatan juga enggak, kalau tokonya masih tutup?” gerutunya sambil menatap gedung Mall yang menjulang tinggi.


“Kalau gak salah, bukanya sekitar pukul 10 pagi.” Ia turut menengok sedikit ke arah jendela mobil.


“Tau gitu, kenapa gak cari toko lain saja? Aku bisa, kok, pergi sendiri, daripada buang waktu cuma buat muter-muter di sini.”


“Oke, oke. Kita cari tempat parkiran dulu, ya.” Akhirnya, Khayru tak bisa berkilah lagi.


“Bang! Stop dulu, Bang! Aku turun di sini.” Sambil membuka jendela mobil lalu melambaikan tangan ke arah seseorang yang tengah berdiri menunggunya.


“Kak Pram!!” serunya dari kejauhan.


“Ntar aja turunnya barengan. Dia gak lari ke mana-mana kok,” gumam Khayru sambil mencibir.


“Sshh ... apa sih?” Maula mendelik sambil menyunggingkan bibirnya. “Kasian tau, dia nyariin aku. Mana nungguin dari tadi, lagi.”


Ternyata, mantan suaminya itu masih seperti dulu. Tak ada yang berubah. Ia tak suka melihatnya dekat dengan lelaki lain, masih suka ngatur-ngatur meski dia tak menyadarinya.


Setengah berlari, Maula menghampiri Pram yang berdiri sambil tersenyum ke arahnya. “Maaf, Kak Pram. Nungguin lama, ya.” Biasanya Maula sedikit sungkan, akan tetapi kali ini dia terlihat akrab.


Tidak terbayang ekspresi wajah Khayru ketika dia memanggil Maula untuk menunjukkan letak toko buku langganannya. Namun, Maula menjawab dengan nada datar sedikit ketus


“Iya! Udah tau, kok!” Maula hanya menoleh sebentar lalu melanjutkan langkahnya. Namun, Pram segera bertanya heran kenapa bisa ada lelaki di belakangnya.


“Siapa dia, La?” Pram berhenti sambil menghadap Khayru. Sebagai seorang dosen, sikapnya cukup sopan dan ramah.


Khayru mendekat sambil mengulurkan tangannya. “Kenalkan, saya--”


“Dia ini Abangku, Kak Pram.” Maula mendahului ucapan Khayru yang belum selesai.


“Kok, gak pernah ada yang cerita kalau kamu punya seorang Kakak lelaki?” Sambil membalas uluran tangan Khayru. Sebisa mungkin, Pram berusaha menjaga image di depannya.


Entah kenapa, semakin baik sikap Pram, Semakin Khayru tidak menyukainya. Sayang, dia tak bisa berbuat apa-apa.


'The Human Side of Enterprise' karya Douglas McGregor. Pram mengambil buku itu dari rak, lalu menunjukkannyan pada Maula. Ketika mereka sedang berkeliling di toko buku--MARIBAYA--langganan Khayru.


“Kak Pram sudah baca itu? Gimana isinya?”


“Sudah baca, tapi sayang belum pernah memilikinya.” Sambil mengamati tulisan di belakang buku tersebut.


“Walau buku ini merupakan buku lama, isi dari bukunya hingga kini tetap bisa digunakan sebagai rujukan bagi mereka yang ingin belajar mengatur bisnis,” tuturnya.


“Buku itu sudah ada di ruang kerja Papa, Dek. Coba deh kamu sering-sering masuk ke sana. Perpustakaan pribadi Papa, isinya buku semua.”

__ADS_1


“Ini ...” Khayru tiba-tiba mendekat, juga menunjukkan sebuah buku berjudul 'Winning' karya Jack Welch. “Ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadi sang penulis.”


“Oh ya? Jangan-jangan, ini ada di perpustakaan pribadi Papa juga, Bang.”


“Makanya, kamu baca dulu semua buku yang ada di rumah, baru nyari di toko.” Lagi-lagi sambil mendelik.


Maula mengendikkan bahunya lalu melangkah ke rak buku yang lain. Baik buku yang dipegang Pram maupun Khayru, dia tidak pernah ada minat untuk membacanya meskipun itu berkaitan dengan materi kuliahnya. Dia beralih pada buku-buku berbau fashion dan mode yang sejak dulu memang sangat disukainya. Wajahnya menunjukkan betapa ia sangat tertarik dengan kumpulan judul-judul buku itu.


The Little Dictionary of Fashion: A Guide to Dress Sense for Every Woman – Christian Dior--Buku klasik yang terbit pertama pada tahun 1954. Kemudian diterbitkan kembali pada tahun 2007.All About Yves oleh Catherine Ormen. Coco Chanel: An Intimate Life oleh Lisa Chaney. Vogue: The Editor’s Eye. Masih banyak lagi judul-judul buku yang membuat Maula cukup tergiur. Ia ingin memilikinya, tapi ....


Untuk apa?


Dia taruh kembali buku-buku yang sempat membuatnya tersenyum selama beberapa detik terakhir.


“Sepertinya ... aku lapar.” Maula mengusap perutnya karena waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Apalagi, dia tidak sempat sarapan saat keluar dari rumahnya.


“Kalau gitu, kamu pilih buku yang mau kamu beli setelah itu kita cari tempat makan yang enak,” usul Pram.


“Gak beli buku dulu, kayaknya. Aku mua coba baca-baca punya Papa dulu di rumah.”


“Oke. Kita cari makan saja.” Pram menatap Maula dan Khayru bergantian, sebagai tanda ajakan.


“Kalian duluan saja. Nanti saya nyusul.” Khayru masih ingin mencari sesuatu di sana. “Makan di tempat biasa, La! Biar Abang tidak susah nyari kamu.”


“He-em,” gumamnya sambil mengangguk.


Di sebuah tongkrongan yang masih berada dalam Mall tersebut, Maula duduk berhadapan dengan Pram sambil menertawakan sesuatu.


“Rere kan, emang gitu orangnya, La.” Pram berkali-kali menatap jam tangan, sesekali dia nyalakan layar handphonenya.


“Masa? Menurutku, dia baik dan tangguh, Kak.”


“Baik gimana? Setiap main ke rumahku, dia selalu mengambil uang jajan yang aku taruh di atas meja. Bikin jengkel pokoknya.”


“Dia nyuri?!” Maula terbengong tak percaya.


“Gimana, ya. Dia selalu meninggalkan catatan kecil setiap dia ambil uangku.”


Kak, aku pinjam lagi uangnya, ya ... Ini total utangku sama yang kemarin-kemarin. Jangan ilang catatannya. Ntar aku bayar.


Pram menunjukkan catatan-catatan kecil dari dompetnya.


“Terus, dia bayar, gak?” tanya Maula semakin penasaran.


“Enggak!!” jawabnya sambil tertawa. “Boro-boro bayar, yang ada dia lupa.”


“Berapa, sih, utangnya? Coba aku lihat.” Maula sedikit mendekatkan wajahnya karena ingin melihat isi tulisan-tulisan Rere dari masa ia kecil hingga saat ini.


Mereka tak sadar ada beberapa orang yang datang ke arahnya.


To Be Continued ....

__ADS_1


__ADS_2