
“Coba tanya Aldi. Ke mana dia buang sampah masyarakat itu tempo hari.” Matanya kembali melirik ke arah Khayru yang sudah mulai melototot tajam ke arahnya.
“Jahat banget, sih, mulutnya Mas Dandi!” Dia mengerutkan bibir sambil mendelik kesal.
“Ahahaha ....” Dandi hanya asik mengamati wajah Khayru yang kernyat-kernyut seperti seekor marmut
“Crunchy banget ketawanya. Lebih garing dari gorengan pinggir jalan deh, kalau lagi mengejek orang,” sungut Maula.
“Oke, oke. Kamu makan apa, sih? Bikin sendiri apa dibikinin? Bentar lagi jam istirahat pasti sibuk, nih.” Sambil menatap jam tangan.
“Kimbap buat aku sama Mashed potato buat Kak Pram. Bikinin, ya. Minumnya es lemon tea aja.”
Maula kembali menghampiri Pram yang duduk menunggunya. Obrolan terlihat serius dan Maula melemparkan senyumnya beberapa kali pada dosen muda yang meski kali ini berwajah kaku, tapi terkadang mengangguk membalas senyuman Maula.
Dorongan hati untuk bergabung di antara mereka, tertunda sebab handphone Khayru di atas meja tiba-tiba menyala.
“Oh ....”
“Iya ....”
“Baik. Baik Ayah.”
Ia menutup telepon sambil menghela napas panjang lalu menghampiri Dandi di pantry. Tak lama, ia sudah berdiri di antara Maula dan Pram yang tengah berbincang serius dan sepertinya bukan sedang membahas mata kuliah.
“Silakan ... pesanan kalian.” Khayru meletakkan nampan berisi kimbap dan Mashed potato pesanan mereka.
“Iya, makasih, Mas.”
Decak lidah Khayru tak juga membuat Maula menyadari kehadirannya. Dia tetap melanjutkan obrolan yang serius itu dengan suara di atas level berbisik. Tidak terlalu keras, tetapi masih terdengar jelas di telingan Khayru.
“Jangan memberiku angin surga.” Pram terkekeh.“Paling juga cintaku bertepuk sebelah tangan lagi.” Pram sedikit menggeleng sambil menatapnya.
“Insecure, nih, ceritanya?” Sambil merelaksasikan punggung di sandaran kursi. Saat itu juga, Maula mengangkat wajah, dahinya berkerut saat matanya tak sengaja menangkap sosok lelaki yang berdiri sambil mendenguskan hidung.
Khayru yang berniat kembali ke pantry ternyata masih berdiri di jarak dua meter dari meja itu. Sialnya, Maula tidak menyadari jikalau dia baru saja membawakan makanan untuk mereka.
“Abang mau bicara sama aku? Kenapa berdiri di situ?”
“Pulang jam berapa? Abang tungguin kamu.” Masih dalam posisi berdiri.
“Mau nungguin di mana? Mending jangan ditungguin, aku kan masih ada kegiatan di kampus.” Sambil menatap jam tangannya.
“Telepon saja kalau sudah selesai,” ucapnya seraya memutar badan, kembali melangkah menuju pantry sambil menunggu Aldi.
Pram melayangkan tatapan sambil mengangkat alis, sementara Maula hanya mengendikkan bahu saat membalas tatapan itu.
“Kita dah bikin dia cemburu, kayaknya.” Pram menunjuk punggung Khayru dengan gerakan alisnya.
__ADS_1
Maula sedikit mengernyit Apa kak Pram sudah mencium hubunganku yang sebenarnya? Tapi akhirnya Maula tetap berpura-pura tak mengerti dengan ucapan Pram.
“Gak usah pura-pura! Aku tau, kok.”
Maula membelalakkan mata sambil melepas sedotan lemon tea dari bibirnya, pelan-pelan. “Tau apa, ya?” Pura-pura heran.
“Gak lucu! Pura-pura terus. Dikira gak ada yang tau apa?” Pram cuma bisa mendengus. “Semua orang sudah tau kali, kalau kamu cintanya cuma sama dia.”
“Siapa yang bilang begitu?”Masih mengelak sambil mamainkan es batu di dalam gelas lalu menarik piring berisi kimbap pesanannya.
“Kenapa gak bilang dari dulu?” Pram masih fokus dengan pertanyaan seputar Khayru terutama tentang statusnya yang ia ketahui baru-baru ini . “Aku kan malu udah nembak kamu.” Sambil memasang muka masam, padahal cuma pura-pura.
“Tapi setelah nembak aku, akhirnya kak Pram jadi sadar juga kan kalau yang kakak suka ternyata bukan aku tapi Rere.” Dia tergelak membuat Pram menutup wajah dengan telapak tangannya karena malu.
“Kamu dukun, ya, La? Kok, bisa lebih tau perasaanku daripada aku sendiri?”
“Ya, tau lah. Orang setiap obrolan, yang dibawa-bawa selalu nama Rere. Hayoo, gak nyadar, ya.” Maula menggoda sambil memicingkan mata. “Sampe kewalahan jari-jari aku kalau kupake ngitungin nama Rere.”
“Tapi Rere gak pernah nyebut-nyebut nama aku meski hanya satu kali. Iya, kan?” Pram menghela napas sambil menyandarkan punggungnya sedikit keras.
“Ini salah kak Pram. Ngapain PDKT-nya sama aku? Pasti bikin Rere mundur, tuh.” Maula nunjuk piring berisi Mashed potato yang sedari tadi belum disentuh. “Sambil makan, kak.”
“PDKT itu kan buat orang yang belum deket. Kalau sama Rere, ngapain PDKT lagi?” Pram mengangkat bahu sama alisnya bersamaan.
“Udah. Pokoknya, mulai sekarang kita gak usah duduk berdua gini lagi, ya. Biar gak ada yang salah paham. Masalah Rere, tar aku bantu menebar cinta di hatinya buat kak Pram seorang.” Maula mengerling, membulatkan jempol dan telunjuknya sambil terkekeh.
Maula mendelik sambil bergumam. “Pasti Nikita deh yang cerita kalau dia mantan suamiku. Ketauan kan kalau aku janda.”
“Iya ... baru tadi malam dia cerita.”
“Kalau ketemu, mau aku kasih penalti tuh anak! Biar tau rasa!” Berdecak lidah sambil menggut-manggut. “Jangan dibela kalau nanti aku marahin dia, ya.”
“Yang belain Niki, paling si Dandi.” Dia menunjuk pantry dengan mulutnya.
“Udah. Kamu pergi sana! Mantan suamimu di sana pasti mencak-mencak kepedesan.” Pram mengedarkan pandangan, menyapu seluruh ruangan mencari keberadaan Khayru yang mungkin sedang mengawasinya.
“Sekali-sekali, boleh dong, bikin dia geram sebelum nanti aku terima lamarannya.”
“Waduuh ... denger kamu ada yang ngelamar, kok, hatiku berasa ditusuk-tusuk, La,” candanya sambil memasang wajah kaget. “Kenapa secepat itu kamu terima? Pikir-pikir dulu, siapa tau aku lebih baik darinya.” Pram jelas sedang bercanda meski sebenarnya ia memang masih berharap.
“Di satu sisi, aku hidup bagai wanita sempurna, tapi hatiku tidak bahagia karena merindukannya. Di sisi lain, aku pure menjadi diriku sendiri. Menjalani proses dengan limpahan kasih sayang dari sosoknya.
Bukan pilihan yang mudah karena aku bimbang, takut dan khawatir. Namun, setelah aku tau, cintanya seluas samudra, dia mampu menerimaku apa adanya. Aku tak perlu lagi bersikap egois pada diri sendiri. Aku ingin kembali ke pelukannya.” Tutur Maula mengalir tenang dari lubuk hatinya.
“Bisa se lancar itu ya, sekarang ngomongin dia? Aku panggilin orangnya mau, ga?”
“Ish ... jangan dong. Ntar dia besar kepala,” bisiknya sambil menghabiskan isi piring dan juga sisa minuman.
__ADS_1
Suara mereka semakin tak terdengar jelas karena tenggelam di balik riuhnya pengunjung yang mulai ramai berdatangan. Masuknya jam istirahat kantor, menandai aktifitas Dandi yang mulai sibuk. Dia lihat, mantan suaminya mulai mondar-mandir mengantarkan pesanan ke meja pelanggan, membuat bibir Maula tak sadar mengulas senyuman.
Tak lama, Aldi datang bersama Katia disusul Rere dan juga Nikita.
“Mereka sudah datang. Aku mau gabung sama mereka.” Sambil bangkit dari duduknya. “Kak Pram, kalau mau deket sama Rere, coba deh deketin dia. Jangan kaku. Nih, lihat aku, ya. Aku mau bantu Abangku supaya hatinya tersentuh.” Tersenyum menunjukkan wajah genit sambil menyipitkan matanya lalu melangkah ke area dalam, tempat mereka tengah berkumpul saat ini.
Pram mengangguk dengan alis sedikit naik. “Hm ... goodluck.” Sambil mengacungkan jempol tangan, lalu kembali melipat tangan di dada.
Pram belum beranjak, dia masih memperhatikan gerak-gerik Rere si pemilik kafe. Maula telah menyadarkannya bahwa ternyata, yang membuat dia tertarik datang ke kafe cuma Rere. Hanya saja, Rere terlihat sibuk hingga terkesan selalu menghindarinya.
“Met siang Mas Dandi, sibuk, ya. Maaf nih aku telat mulu belakangan ini.” Rere mulai melepaskan tas lalu mengenakan apron yang dia ambil dari loker.
“Udah biasa,” jawab Dandi sambil melayani pembayaran di meja kasir. Dengan cepat dia berpindah karena harus melayani pesanan pengunjung yang lainnya. Dan meja kasir kini digantikan oleh Rere.
Nikita melakukannya juga, dia letakkan tas dan buku-buku, juga mengenakan apron yang sama sebagai ciri khas kafe dengan warna, motif dan tulisan yang sama.
“Aku datang, aku datang! Asisten kesayangan Mas Dandi siap membantuuu ....” Nikita menepuk lengan Dandi sambil menunjuk pinggang belakangnya. Dengan cekatan, Dandi memutar badan Niki dan membantunya mengikat tali apron di tubuh Nikita bagian belakang.
“Asisten yang satu ini, menyusahkan saja,” gerutu Dandi sambil tersenyum di tengah kesibukan.
“Silakan protes, selagi protes itu tidak dipungut biaya,” jawab Nikita dengan suara riang sambil menarik selembar tissue dari kotak lalu mengusapkannya di dahi Dandi sambil jinjit. “Keringetnya kalau netes di makanan, bisa bahaya,” gumam Nikita sambil terus menekan dahi Dandi yang sesekali menatap matanya.
“Eciee ... bisa-bisanya ya, kalian. Bikin romansa di tengah kesibukan! Awas, loh! Bikin aku pengen meluk tiang bendera kan, jadinya.” Maula datang menyampaikan beberapa pesanan Aldi dan Katia yang baru ia sapa di depan.
“Peluk aja, noh, mantan suami tercinta di belakang.” Nikita menunjuk Khayru yang datang dari arah belakang membawa nampan berisi piring kotor, membuat Maula langsung menoleh ke arahnya sambil tersenyum.
“Ada karyawan baru rupanya?” seloroh Maula sambil mengambil alih nampan dari tangannya untuk dibawa ke tempat pencuci piring.
“Gak usah! Kamu ngobrol lagi aja sana!” Dengan wajah ketus, Khayru menarik kembali nampan itu dari tangan Maula, membuat Maula terbengong sambil menganga memandangi punggung Khayru yang pergi dari hadapannya. Dia hanya menggeleng kepala lalu melirik ke arah Pram yang tengah terkekeh.
Melihat Pram yang terus menertawakannya dari jauh, Mulut Maula bersungut-sungut menunjuk ke arah Rere dengan delikkan matanya. Pram pun bangun, menemui Rere di meja kasir yang tengah menyusun lembaran uang dan merapikannya di laci yang bersekat.
“Duduk, Re. Gak pegel apa berdiri terus?” Pram datang membawa kursi buat Rere.
“Gak bisa sambil duduk. Mejanya ketinggian.” Tanpa menoleh karena masih fokus menyusun uang di laci.
“Uang kamu banyak juga ya, sekarang?” Pram ikut mengamati tangan Rere yang cekatan. Namun, setelah kalimat itu, dia bingung harus bicara apa lagi.
“Kenapa belum bayar utang juga sampe sekarang?” Kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya, membuat Rere menatap tak percaya.
Tiap ketemu, tak pernah telat menagih utang. Kasian banget istrinya nanti dapet suami pelit begini, batin Rere sambil menggeleng kepala.
Di saat yang bersamaan, Maula menepuk jidatnya sendiri karena dia mendengar sekilas ucapan Pram di luar dugaan.
Ya ampun, disuruh PDKT malah nagih utang. Bambang satu ini, cakep-cakep, alamat jodohnya bakalan jauh nih kayanknya.
Maula memutar badan dengan tangan kanan bertolak pinggang, dan tangan kiri mengurut keningnya sambil menunduk seperti orang kehabisan akal.
__ADS_1
To Be Continued ....