
“Abang kenapa tegang, sih, Bang?”
Maula menatap wajah Khayru sambil sesekali menyanyikan reff sountrack Moana the movie. Kakinya dia angkat sedikit naik saat melangkah. Tangan kanan masih melingkar erat di lengan Khayru untuk menahan tubuh dan tangan kiri yang tengah bergerak masih menirukan adegan Moana.
I know, everybody on this island seems so happy on this island
Everything is by design
I know, everybody on this island has a role on this island
So maybe I can roll with mine
Terus aja jingkrak-jingkrak, kalau bisa sampai besok, batin Khayru sambil melirik.
“Tingkahnya yang sopan dikit, dong! Banyak orang tua yang datang khusus buat kamu hari ini. Jangan genit-genit di depan Ariel,” bisik Khayru mengingatkan.
“Tunggu! Tunggu!” Maula menghentikan langkahnya sesaat. “Mereka repot-repot datang cuma buat ketemu aku?”
“Lha iya, kan kamu ulang tahun hari ini,” jawabnya santai.
“Eh, lihat! Sepertinya di bawah ada si kembar Arya dan Arimbie juga, tuh.” Dari atas tangga, Khayru sudah bisa melihat siapa saja yang datang dan tengah menunggu di ruang tamu. Pak Kyai beserta Umi Khadijah. Dokter Luthfie tidak hanya mengajak istrinya yang tengah hamil anak ketiga, dia juga membawa anak kembarnya yang masih berusia kira-kira lima tahun.
Shasha--istrinya dr. Luthfie, tengah asik bercakap-cakap dengan Umi Khadijah yang berwajah kalem. Sesekali mereka tersenyum mengusap perut Shasa yang buncit.
Ariel duduk di lantai beralaskan karpet tebal yang hangat. Dia tengah bermain-main bersama si kembar Arya dan Arimbie yang dari bibir mereka terdengar gelak tawa setelah mendengar Ariel bercerita.
Sementara Om Suryadi terlihat sedang membahas sesuatu bersama Kyai dan juga dr. Luthfie. Berbeda dari yang lainnya, raut wajah mereka terlihat sedikit serius saat itu. Hingga sapaan terdengar dari mulut Khayru dan Maula yang baru menuruni anak tangga dengan seulas senyum menghiasai bibir mereka.
“Assalamualaikum ... maaf menunggu lama.”
Serempak mereka menjawab salam sambil mengalihkan pandangan ke arah Khayru dan Maula.
Maula mengikuti Khayru yang tengah menyalami tamu satu persatu. Namun, matanya tak sabar ingin segera duduk di lantai untuk menyapa Ariel dan si kembar yang menggemaskan itu.
“Apa kabar, Umi ...? Bu Dokter, kandungannya gimana? Sehat?” sapa Maula dengan ramah.
“Alhamdulillah, sehat, sayang.”
“InsyaAllah kabar baik.”
“Duduk sini, sayang.” Umi Khadijah bergeser lalu mempersilakan Maula duduk di tengah mereka. Tiga wanita cantik dari tiga generasi ini saling memuji kecantikan masing-masing setelah itu tergelak. Begitu pun dengan Khayru, dia sibuk dengan obrolan ringannya bersama para lelaki yang hadir di sana.
Risa bersama Aldi, muncul tiba-tiba dari arah dapur. Mereka terlihat sibuk membantu menyiapkan menu makan siang di meja makan. Saat itu juga mereka menggiring para tamu untuk mengarah ke meja makan karena jam makan siang sudah sedikit telat.
“Semua sudah hadir, ya ....” seru Risa berjalan memasuki ruang tamu.
“Kita langsung ke meja makan ajalah kalau gitu. Sebelum makanannya jadi dingin.” Aldi menimpali sambil menunjuk ke ruang makan.
“Iya, iya. Ayo mari ....” Khayru berdiri sambil mempersilakan tamu-tamunya.
Ariel dan Maula mempersilakan para orang tua melangkah terlebih dahulu sementara mereka masih berdiri di belakangnya.
__ADS_1
“Handphone kamu kenapa gak bisa dihubungi?” bisik Ariel sambil menyenggol lengan Maula.
“Nanti aja aku ceritain, ya? Kita makan dulu.”
Segmen makan siang tidak membutuhkan waktu yang lama karena mereka tidak terbiasa makan sambil bercakap-cakap. Waktu makan benar-benar mereka gunakan untuk makan setelah itu kembali ke ruang tamu.
Pak Kyai meminta semuanya untuk berkumpul, karena itu Khayru meminta Aldi memanggil semua pekerja di rumah ini dari mulai satpam, sopir dan ketiga asisten rumah tangganya. Setengah berlari dia ke halaman memanggil Mang Sodik dan Ferdi--satpam jaga di rumah ini. Setelah itu dia menuju ke dapur menghampiri para ART yang masih sibuk membereskan sisa makan siang di meja makan.
Setelah mengelap meja makan, Bik Sulis membawa piring kotor ke dapur. Di sana ada Neneng tengah mencuci piring-piring.
“Ini, Neng, cuci semua sampai bersih, ya,” Bik Sulis meletakkan piring kotor itu ke hadapan Neneng. Setelah itu ia menyerahkan lap bersih pada Tini untuk mengeringkan piring yang sudah dicuci.
“Tin, piring yang sudah dicuci bersih, kamu lap sampai kering lalu taruh kembali ke dalam lemari. Jangan sampai pecah, loh, itu piring-piring mahal,” titahnya.
Bik Sulis ditunjuk menjadi kepala ART karena memiliki pengalaman kerja paling lama. Dia sudah paham betul semua pekerjaan di rumah ini.
“Iya. Hari ini Non Maula ulang tahun ke-19. Jadi acara makannya sedikit spesial.”
“Non Maula udah 19 tahun, ya, Bik? Udah dewasa, dong?”
“Iya, cuma selisih beberapa tahun aja kan sama kamu, Neng?”
Dari wastafel terdengar suara piring-piring, sendok, garpu serta gelas yang saling berbenturan, mengiringi percakapan mereka.
“Neneng heran,” ucapnya sambil terus mencuci.
__ADS_1
“Heran kenapa, Neng?” Bik Sulis mengumpulkan sampah dan sisa-sisa makanan lalu memasukkannya ke dalam kantong besar berwarna hitam.
“Tuan muda sama Non Maula kan sama-sama dewasa sekarang. Mereka juga bukan saudara kandung, tapi kadang mereka menghabiskan waktu cukup lama di kamar yang sama. Tadi aja Neneng dengar dari balik pintu kalau Tuan ternyata sering berbuat tidak senonoh pada Non Maula. Neneng--”
Sebelum dia melanjutkan ucapannya, tiba-tiba Aldi datang sambil berdehem untuk memberitahukan kedatangannya.
“Ngapain kalian sibuk bergosip?” bentaknya dengan suara pelan karena khawatir akan terdengar sampai ke ruang tamu. “Jika kalian tidak suka dengan majikan kalian, kalian boleh angkat kaki dari rumah ini, nanti!” Tatapan sengit dari Aldi cukup membuat mereka menyelingar. Membungkam mulut-mulut mereka yang selama ini terlalu liar dalam bertutur.
“Untuk saat ini, kalian tinggalkan dulu pekerjaan kalian karena ada sesuatu yang harus kalian dengar di ruang tamu. Ingat! Jangan bicara macam-macam lagi tentang Khayru dan Maula. Mereka sudah cukup baik dengan memberikan pekerjaan yang layak selama ini.”
Aldi kembali ke ruang tamu diikuti ketiga perempuan yang hanya menyembunyikan wajahnya karena takut sekaligus malu. Tak biasanya mereka dipanggil seperti ini. Pikirnya mungkin mereka akan dihakimi lalu dihukum, dipecat dan semacamnya. Mereka langsung mengambil posisi duduk di lantai sambil menunduk.
“Loh! Kenapa duduk di bawah? Di sana masih banyak kursi kosong yang bisa ditempati.” Khayru menunjuk satu bagian dari sofa di ruang tamu ini yang cukup besar.
“Bik, Mbak, Neng ... duduk di sebelah Mang Sodik dan Ferdi aja. Sayang banget kalau kursi sebesar ini cuma buat pajangan doang.” Maula menambahkan sambil menunjuk Mang Sodik dan Ferdi yang sudah sedari tadi duduk di sana.
Dengan tatapan sinisnya, Aldi memberi kode pada mereka supaya mengikuti ucapan Khayru dan Maula.
“Dek, kamu juga pindah sini duduknya. Kita mau ngomong dulu.” Khayru meminta Maula yang baru turun dari kamar membawa banyak mainan miliknya untuk si kembar. Setelah meletakkan mainan itu di atas karpet, Maula pun duduk di samping Khayru sambil mengangguk.
Pak Kyai membacakan rangkaian doa lalu mempersilakan Tuan rumah membuka acara. Diawali dengan seulas senyum, Khayru menarik napas yang paling dalam untuk mengurangi kegugupan.
“*Saya buka acara hari ini dengan mengucap, Bismillahirrahmanirrahim* ....” Dia menatap semua yang hadir di sana.
To Be Continue ....
__ADS_1
Sabar ya, gaiss. Hari ini aku up 2 bab buat kalian yang sabar. Di jamin sampai wasiat itu terungkap pokonya. Jan bilang aku PHP. Jangan!! Awas, loh!!