
“Ris, berapa lama rencana kamu liburan di sini?”
“Sekitar seminggu, Mas.”
“Saranku, sebaiknya kamu cepat pulang saja. Aku gak mau Maula dan Aldi salah faham, Ris. Lagi pula, selama aku di sini, kerjaan Aldi pasti banyak. Harusnya kamu bantu dia di kantor.”
“Mas, aku kan berhak mendapat cuti juga. Aku ingin sekali melakukan hal yang benar-benar aku inginkan. Selama ini, Mas Iru selalu mengaturku. Mas Iru memaksaku menerima lamaran Aldi tanpa memikirkan perasaanku,” keluhnya seakan dia ingin dimengerti.
“Aku tidak pernah memaksamu, Risa. Aku hanya menyarankan saja karena aku tau Aldi sangat mencintaimu. Dia bisa membahagiakanmu dengan cinta yang dia miliki.”
“Tapi aku tidak pernah mencintainya. Mas tau betul itu.”
“Terserah kamu, Ris. Tapi mulai sekarang, jangan pernah kamu libatkan namaku lagi dalam perasaan kamu itu. Aku tidak akan pernah menoleh ke belakang karena masa depanku sudah bersama Maula.”
“Aku sudah coba berkali-kali, Mas. Tapi ....” Risa tidak melanjutkan ucapannya, karena kalimat itu sudah sangat sering dia ucapkan. Nyaris membuat Khayru bosan mendengarnya.
“Aku mau istirahat. Aku harap, kamu sudah meninggalkan tempat ini saat aku bangun, nanti.”
Khayru kehabisan cara untuk meyakinkan Risa, padahal dulu Risa gadis yang sangat menyenangkan. Selain cantik dan juga pintar, Risa sangat pengertian. Karena itulah Tuan Zul juga sangat menyukainya. Entahlah, manusia memang bisa berubah kapan saja.
Saat Khayru tertidur lelap, Risa masih duduk di sana. Namun, Khayru akhirnya merasa lega. Saat dia bangun, Risa sudah tak ada di sana lagi. Rupanya, Risa menuruti ucapan Khayru untuk pulang ke Indonesia.
Khayru meraih secarik kertas kecil di atas nakas yang disimpan Risa di bawah gelas minumnya.
Mas, ucapanmu benar. Maafkan aku, ya, Mas. Aku pulang hari ini juga. Sampaikan maaf dan terima kasih pada ayahmu, aku tidak sempat berpamitan.
“Syukurlah. Semoga dia benar-benar mengerti apa yang aku ucapkan.” Khayru tersenyum membaca tulisan di atas kertas tersebut.
Entah berapa lama dia tertidur siang ini. Ia menunggu seorang dokter atau perawat datang ke ruangannya untuk meminta izin pulang, karena merasa keadaannya sudah jauh lebih baik. Dia urung menyandarkan kembali punggungnya karena tiba-tiba handphonenya berbunyi. Dia tersenyum melihat nama istrinya muncul di layar handphone. Namun, seperti biasa, selalu wajah kecutnya yang muncul saat menelepon.
“Kenapa lagi, istri kecil?” goda Khayru sambil tersenyum manis.
“Cukup, Bang. Abang jangan berpura-pura lagi. Aku gak bisa maafin Abang kali ini.”
“Jangan bilang, rindu membuat kamu benar-benar berubah jadi kucing liar. Beberapa hari ini, kamu hanya marah-marah saja kerjaannya.”
“Aku kucing liar, sementara Abang kucing lapar yang gak pernah bisa nolak ikan segar di depan mata.” Maula benar-benar naik pitam kali ini. “Mana! Coba tunjukkan wajah ikan segar yang menawarkan dirinya untuk dimangsa kucing lapar seperti Abang! Bilang sama dia, aku tunggu kedatangannya. Sampai mana? Aku jabanin, Bang. Bilang sama dia!”
__ADS_1
“Astagfirullah! Kamu ngomong apa, sih, Dek? Lama-lama kuping Abang bisa pecah denger ocehan kamu.”
“Alahhh ... terus aja Abang pura-pura. Abang kira bisa bodohin aku?”
“Abang gak ngerti sama omongan kamu itu. Nanti saja Abang telepon lagi kalau kamu sudah tenang. Abang gak bisa ngomong kalau kamu seperti ini.”
“Aku tanya, di mana cincin Abang?”
Refleks, sepasang mata Khayru tertuju pada tangan kiri yang tengah terpasang jarum infus selama beberapa hari terakhir. Dia pun heran, kenapa cincin platinum di jari manisnya tiba-tiba hilang.
“Abang gak bisa jawab, kan? Gak apa-apa, cincin itu cuma mainan. Abang boleh buang kapan saja,” ucapnya membuat Khayru kebingungan. “Oh ya, Bang, bilang sama ikan segar santapan Abang itu, kalau aku bakal buat perhitungan sama dia. Sama Abang juga!” pungkasnya sembari menutup telepon dengan kasar.
Selepas meletakkan kembali handphonenya, Khayru segera bangkit dari tempat tidur. Mencabut jarum infus, lalu nmenyingkap selimut dan bantal di atas tempat tidur serta berjongkok mencari keberadaan cincin yang tiba-tiba hilang begitu saja.
“Jatuh di mana cincinku itu? Ya ampun, ada-ada saja yang bikin Maula marah.”
Tiba-tiba, seorang perawat datang membawakan makan siang dan obat-obatan. Dia sedikit kaget mendapati pasiennya tengah merangkak di lantai.
Sayidi, madha tafeal? (Tuan, anda sedang apa?)
Haliqata. ra'ayt khatimi? (Cincin. Anda lihat cincin saya?) Khayru menunjukkan jari manisnya dengan wajah sedikit cemas.
Khayru merasa lega ketika perawat itu mengembalikan cincin ke tangannya, akan tetapi dia masih heran, kenapa cincin itu tiba-tiba terasa longgar di jarinya hingga membuat perawat khawatir cincin itu akan terjatuh dan hilang. Akhirnya, dia tertawa karena berat badannya yang turun selama dia sakit, membuat jari-jarinya pun turut mengecil. Dia memandangi kulit tangannya itu yang terlihat sangat kering karena mengalami dehidrasi berat. Perawat meminta Khayru untuk menghabiskan makan siangnya supaya tubuhnya kembali normal.
Yumkinuny 'an akulun binafsi. bialtaakid aintahayat minhu. (Saya bisa makan sendiri. Saya pasti akan menghabiskannya), tolak Khayru ketika sang perawat hendak menyuapinya.
Siang tadi, Maula kembali meradang gara-gara postingan Risa yang seakan menyatakan ingin berperang dengannya. Hal gila sudah berani Risa lakukan pada suaminya. Dia menciumi semua bagian wajah Khayru juga meremas tangan dan menciuminya seperti sepasang kekasih yang lama tak bertemu. Dia lakukan itu sebelum meninggalkan rumah sakit. Bukan hanya marah pada Risa, Maula juga ingin marah pada suaminya karena hal itu tidak akan terjadi jika dia tidak mengizinkan Risa masuk ke ruangannya.
Ketika Risa mencari sebuah kertas dan pena untuk menulis sebuah memo, dia menemukan cincin itu di dalam laci kemudian dia manfaakan untuk membuat postingan kedua. Risa memainkan cincin milik Khayru dengan *caption* '**Benda kecil pembawa sial**' lalu melemparnya ke tong sampah. Postingan-postingan itu sudah pasti hanya ditujukan untuk Maula. Dia sudah mengatur privasi supaya orang lain tidak melihat postingannya yang menjijikkan itu. Itu pun segera Risa hapus setelah Maula melihatnya.
__ADS_1
Sudah bisa dipastikan, Maula tak akan memberi ampun pada wanita macam itu. Jenis wanita yang sama dengan wanita yang telah membuat sebuah neraka dalam rumah tangga Mamanya Rere.
*Aku tidak akan membiarkan para wanita jalang itu hidup dengan tenang. Kalian akan merasakan akibatnya*, batin Maula sembari mencorat coret buku PRnya hingga menjadi sobek. Dia hampir berteriak. Namun, Rere yang baru tiba di kelas, tiba-tiba menepuk pundaknya.
“Kenapa, La? PRnya susah, ya? Sini gue bantu ngerjain.” Rere duduk di bangkunya sambil menarik buku Maula. Suara Rere kali ini sedikit berbeda dari biasanya. Tidak bersemangat seperti hari-hari biasa.
“Lo udah baikan, Re?” tanya Maula saat itu.
Rere hanya mengangguk sambil tersenyum sekadaranya.
“Siapa yang nungguin Mama di rumah?” Nikita turut bertanya.
“Ada pembantu gue,” jawabnya.
“Semangat, ya, Re. Jangan lupa, kita selalu ada buat Lo.” Maula mengusap pundaknya pelan.
Rere kembali mengangguk sambil merentangkan kedua tangannya untuk memeluk kedua sahabat. “Thanks banget udah support gue, La, Nik.”
Selepas ayahnya yang memutuskan lari bersama Mamanya Ariel, Rere hanya tinggal bersama adik laki-laki yang masih duduk di bangku SMP. Sementara Ibunya kini tidak bisa hidup normal, karena tekanan batin cukup membuatnya frustasi.
__ADS_1
To Be Continued ....