Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 55. Bonus visual


__ADS_3

“Kenapa main-main dengan kata talak? Cepatlah Istighfar,” desaknya karena Aldi pikir, Khayru sedang khilaf.


“Tadi ... kalian pelukan. Kulihat masih sangat mesra. Gak mungkin kalian lagi bertengkar, kan? Jawab, Ru.” Aldi lihat, Khayru belum menjawab apa pun. Dia semakin bingung.


“Duduk dulu, Di.” Khayru memberi isyarat supaya Aldi kembali duduk. Maula masih berdiri menghadapnya sambil terisak. Begitu pun Khayru. Sungguh sakit hatinya melihat Maula menangis, akan tetapi tak bisa memeluk untuk menenangkannya.


“Untuk semuanya, semoga bisa paham keadaan kami. Tidak pernah sedikit pun saya ada keinginan untuk melepas dan meninggalkan Maula, akan tetapi saya tidak punya cara lain untuk membahagiakannya. Saat ini, dia menangis tapi besok pikirannya akan menjadi ringan, dan bisa memulai hidupnya yang baru.”


“Saya lakukan ini di depan kalian, karena kalianlah yang akan selalu ada untuk Maula di kemudian hari. Harus tahu status Maula yang sebenarnya karena jika Maula sudah dewasa nanti mungkin akan ada pemuda baik yang meminangnya. Kalian bisa meyakinkan lelaki baik itu jika ada keraguan di hatinya.”


“Meski pernikahan kami seperti sebuah bayangan, tapi buat saya itu nyata adanya. Saya pernah menikahinya, tapi hanya kalianlah yang mengetahuinya. Karena itu, cukup kalian saja yang tau jika sebenarnya Maula seorang janda. Saya berani jamin, jika kesuciannya masih terjaga. Lelaki mana pun tidak akan merasa dirugikan jika memiliki gadis yang pernah menjadi istriku ini. Tolong jaga reputasi Maula, karena bagiku dia sangat berharga,” pesan Khayru pada semua orang yang ada di sana.


“Kalian tolong bantu, karena saya tidak bisa menjaganya lagi. Saya hanya bisa mendoakannya dari jauh. Tolong buat dia bahagia. Bantu dia untuk meraih cita-citanya. Ingatkan dia juga jika telah salah dalam melangkah.” Khayru menghentikan ucapannya karena harus mengatur napas yang tiba-tiba menjadi sesak. Belum lagi harus menahan air mata yang tidak ingin dia perlihatkan.


“Sepertinya hanya itu yang bisa saya sampaikan. Saya minta maaf pada kalian semua. Terutama ... sama kamu, ya, Dek. Abang banyak sekali salah selama menjadi seorang Kakak atau pun seorang suami, tolong dimaafkan.” Sambil kembali menatap Maula yang terus menunduk.


Khayru menatap jam tangannya. “Sepertinya saya harus berangkat sekarang. Karena khawatir akan ketinggalan pesawat,” pungkasnya seraya meraih tas paling kecil lalu meminta Mang Sodik dan Ferdi untuk memindahkan yang lainnya ke dalam mobil.


“Tuan! Jangan pergi, Tuan, Bibik mohon.” Bik Sulis berusaha menghadang sebelaum Khayru mulai melangkahkan kakinya.


“Benar, Pak Iru. Tolong dipikirkan lagi baik-baik keputusannya,” pinta Katia yang juga berusaha meyakinkannya. Namun, semua itu tidak bisa merubah rencana apa pun karena dia tetap harus melakukannya meski semua orang memelas dan memohon padanya.


Ketika dia mulai melangkah, seseorang menarik ujung jaket yang dikenakannya. Saat menoleh, ia tak kuasa untuk tidak memeluknya lagi.


“Maaf,” lirihnya seraya meraih tubuh kecil itu ke dalam pelukannya. “Satu pelukan lagi. Tolong jangan menangis dan jangan merindukanku.” Setelah itu ia lepas kembali lalu pergi tanpa menatap lagi, sebelum wajah Maula merubah pikirannya. Aldi mengejar karena tak puas dengan alasan Khayru yang pergi begitu saja.


“Oke, Ru! Biar gue yang anter Lo ke Bandara!” Berharap bisa membujuknya selama perjalanan menuju Bandara.


Katia memeluk Maula dan meyakinkan bahwa masih ada kesempatan untuk mencegah Khayru pergi sebelum dia tiba di bandara. “Kejarlah sebelum dia benar-benar pergi. Masih ada waktu untuk membawanya kembali ke sisimu,” bujuknya sambil mengusap punggung Maula yang terlihat seperti sedang menahan rasa sakit, akan tetapi Maula terus menggeleng. Dia yakin bahwa ini hanya kesedihan sesaat, karena waktu akan merubah segalanya. Dia harus buktikan bahwa dia bisa hidup lebih baik supaya keputusan berat ini tidak menjadi sia-sia, buat dirinya maupun mantan suaminya.


Setelah cukup lama ia menangis dalam pelukan Katia, Maula kembali merapikan wajah yang sembab dan meminta Katia menemaninya pergi ke rumah Kiai dan Umi Khadijah. Karena ini hari Minggu, dia harus datang menghadiri pengajian rutin di sana.


Sementara Aldi yang tengah mengemudi menuju bandara, tak berhasil membujuk sahabatnya. Khayru tak memberi kesempatan untuknya membahas ini. Khayru tahu, semua orang akan berusaha meyakinkannya, termasuk Nikita yang tengah dia ajak bicara via telepon saat ini. Bahkan mungkin Rere, jika saat itu dia meneleponnya juga.


“Apa, Om?!” Sudah tak salah lagi, ekspresi Nikita saat mendengar pernyataan Khayru mungkin sama kagetnya dengan orang-orang yang ada di rumah.

__ADS_1


“Iya, Nik.”


“Maafkan saya. Mulai sekarang ... kamu dan Rere harus lebih dekat dengan Maula. Tolong, ya. Bantu dia, jangan tinggalkan dia. Saya ini sekarang bukan siapa-siapa. Gak bisa lagi ngatur-ngatur hidupnya, tapi ... insyaallah masih bisa mendoakan yang terbaik untuknya.”


“Sampaikan juga ini pada Rere karena saya belum berani menghubunginya. Dia masih berkabung untuk Mamanya, jadi saya tak ingin membuatnya shock dulu, Nik.”


“Akh ... gila!” gumam Nikita. “Saya harap Om sedang bercanda, tapi kalau ini beneran, sepertinya s*tan tengah merasuki kalian berdua. Semoga s*tan dalam bentuk apa pun, segera enyah dari tubuh kalian berdua,” pungkas Nikita, dengan sedikit marah dia menutup teleponnya. Meskipun Khayru bilang tak ingin mengganggu Rere dulu dengan masalah ini, akan tetapi Nikita tak bisa untuk tidak segera memberi tahunya.


“Lo, so so-an peduli sama Maula. Semua orang harus bersikap baik dan harus ada untuk Maula,” cibir Aldi yang masih fokus mengemudi.


“Karena emang gak pernah sedetikpun gue gak peduli sama dia. Dari dulu Lo tau kan hal itu?” tegas Khayru sambil melirik sekilas.


“Lah terus sekarang ...? Apa yang udah Lo lakuin sama dia?” cibirnya. “Menceraikannya ... membuat dia nangis terisak lalu meninggalkannya begitu saja. Peduli macam apa maksud Lo ini, hah?”


Sontak, Khayru melirik lalu menundukkan kepalanya. Ingin dia katakan bahwa dia tak sudi melakukan semua ini kalau bukan demi kebaikan Maula. Namun, itu semua percuma dia katakan. Tak akan ada seorang pun yang percaya dengan alasannya. Ini memang tak masuk akal.


Saat pesawat mulai take off dari landasan bandar udara Sukarno-Hatta, Jakarta. Saat itulah, Khayru menumpahkan semua tangisnya seraya memandang ke arah jendela. “Selamat tinggal Jakarta, selamat tinggal Maula dan semua kenangan tentang kita. Aku titip jandaku ya Allah. Tolong jaga dia. Berikan dia kebahagiaan dan kelilingi dia dengan orang baik yang menyayanginya,” harapnya sambil terus memandang lewat jendela.


Lalu dia menengadah karena teringat orangtua yang sudah berada di alam sana.


Siapa pun yang melihat Khayru saat itu, pasti akan berpikir bahwa dia laki-laki paling cengeng di dunia. Dia tak peduli lagi jika beberapa pasang mata dari sebagian penumpang pesawat, tertuju padanya.


Menempuh jarak sejauh 8 ribu mil, membuat Khayru beberapa kali tertidur di dalam pesawat, dengan fasilitas yang cukup nyaman. Puncak kecepatan penerbangan, mencapai angka 900km/ jam hingga perjalanan bisa ditempuh kurang dari 15 jam saja.


“Bang ... bangun.” Seseorang berbisik membuat Khayru melirik ke arah samping.


“Dek ... kamu beneran ada di pesawat ini?” tanya Khayru pada gadis yang tengah senyum dengan lesung pipinya yang manis. Pasalnya, dia baru saja memimpikan Maula yang berlari mengejar hingga ke bandara, memintanya untuk tetap berada di sana.


Sekali lagi suara seorang gadis berseragam memanggilnya dengan lembut.


(Sir, the plane will be landing at Casablanca International Airport, Mohammed V. Please stay awake.)


“Tuan, pesawat akan segera mendarat di bandar udara internasional Casablanca mohammed V. Mohon untuk tetap terjaga.”


Begitulah Pramugari yang selalu mengingatkan penumpang untuk tidak tertidur pada saat pesawat akan lepas landas maupun mendarat, supaya telinga bisa menyesuaikan perubahan tekanan udara secara alami.

__ADS_1


Akh ... Astagfirullah! Khayru mengusap wajahnya.


Apa Abang terlalu berharap kamu ada di sini, hingga Abang tidak bisa membedakan mana mimpi dan mana kejadian nyata?


Dek ... dek. Belum apa-apa, kamu sudah mengganggu pikiran Abang, ishh .... sambil memandangi bayangan yang seperti berada persis di sampingnya.


__________


Aku baca komen di bawah, ada yg minta visual. Yaudah aku kasih lagi. Meski rada-rada kasian liat wajah dengan status baru mereka saat ini. Ya Allah.


Duda vs janda, bikin gak bisa nahan. 😪🥺


Khayru baru nyampe bandara












To Be Continued ....

__ADS_1


__ADS_2