Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 69


__ADS_3

Begitu Maula lihat Khayru melambaikan tangannya, ia segera menutup gorden dan berbalik badan. Baru menyadari jika bayangannya mungkin terlihat jelas dari halaman.


Dia mau pergi ke mana? Apa ini bukan rumahnya lagi?


Naik ke tempat tidur lalu menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh dan wajahnya. Berusaha memejamkan mata, akan tetapi, kesadarannya masih saja terjaga.



Siang tadi, setelah Aldi mengetahui bahwa Khayru sudah berada di Jakarta selama lebih dari seminggu, ia langsung datang dan menyeretnya dari kafe. Mendudukkannya di kursi kerja seperti seorang pesakitan.



“*Alon-alon to, Mas*. *Sampeyan ora sopan karo aku*. *Ta* laporin polisi, mau?” Dia mengusap lengan sambil meringis.



“*Alon-alon, alon-alon ... ndasmu*!” pekik Aldi sambil menarik kumis sama tahi lalat palsu di wajah Khayru.



“*Sek, sek, sek ... mole'e! (tahi lalatnya) kumis'e*! (kumisnya)” Cahyo KW alias Khayru segera turun ke lantai untuk memungut kumis dan tahi lalat palsunya, lalu ia kenakan kembali walau tidak pada tempat semestinya.



*Astagfirullah* ...! Aldi menggelengkan kepalanya sembari menahan tawa.



“Sejak kapan jadi segila ini, hhh ...? Lo jadi stres gara-gara jauh dari gue, kan?” Aldi berdiri sambil berkacak pinggang di depannya.



“Ahaha! Gue masih waras, Aldi! Sembarangan lo ngatain gue gila.” Sambil merapikan kumis yang tinggi sebelah.



“Kalau gak gila, apa namanya? Absurd, iya?”



“Terserah lo, deh. Kalau gak suka, gue mau balik lagi ke kafe.” Dia bersiap untuk pergi, akan tetapi Aldi kembali memaksanya duduk.



“Eits ... mo ke mana, lo? Urusan belum kelar, mau kabur aja.”



“Gue gak kabur, Di. Kalau kangen, lo bisa temuin gue di rumah Pak Kiai. Repot amat, sih.”



“Lo jangan main-main lagi, Ru. Kek anak kecil tau, gak?” Aldi menarik jaket jeans belel yang menempel di badan Khayru. “Ngapain, sih, nyamar-nyamar segala?!” Sambil melepaskannya dengan kasar.



Khayru menghela napas sambil melayangkan senyum kecil. “Setelah lama gak ketemu Maula, sepertinya gue butuh pendekatan lagi sama dia. Apalagi, semua bilang kalau Maula banyak berubah. Gue harus mengenal dulu sosok Maula yang baru sebelum dia nolak gue.”



“Kenapa gak minta bantuan gue kalau mau PDKT?”



“Ternyata dia gak berubah, Di.” Senyum Khayru makin merekah. Dia tak menghiraukan pertanyaan Aldi. “Perasaan Maula buat gue masih sama seperti dulu.”



“Jangan kebanyakan ngarep! Saingan lo banyak sekarang.” Aldi mengarahkan wajahnya ke gedung kampus yang berada tak jauh dari gedung tempatnya bekerja. Tempat di mana Maula dikelilingi mahasiswa dan dosen muda sejak kuliah di sana.



“Tadinya, iya gue pikir banyak lelaki model-model si Pram yang bakal jadi saingan. Ternyata, enggak. Saingan gue cuma satu, kok.”



“Siape?”



“Cahyono.”



“Oh my God!” Aldi memutar bola matanya sambil menjatuhkan diri di kursi. “Sekarang lo pilih, mau tetep nyamar atau mau ikut saran gue?”

__ADS_1



Tak ada pilihan terbaik untuk Khayru karena jika dia tetap nyamar, Aldi sudah siap membongkar penyamarannya itu. Sementara jika dia ikut sarannya, Khayru akan kembali sibuk dengan dunia kerja. Benar-benar pilihan yang berat hingga akhirnya dia putuskan menemui Maula malam ini. Tidak terlalu buruk, karena pertemuannya malam ini membuat dia kembali ke masa muda yang tidak pernah ia dapatkan. Pantas saja teman-tamannya dulu tak bisa berhenti tersenyum setelah pulang dari rumah sang pacar.



“Baru ngerasain hal seperti ini seumur hidup lo, ya? Kasian banget temen gue.” Aldi meninju lengan Khayru sambil menertawakannya.



“Jadi seperti ini rasanya, datang ke rumah gadis? Pulang dengan hati berdebar-debar, gak karuan.”



“Jadi lupa, kan, sama umur lo?”



“Lo juga! Umur Lo berapa? Kenapa belom nikah? Nungguin gue, ya?” kelakarnya di sela mengemudi.



“Masa lo gak ngerti kalau gue sibuk!”



“Ya udah, mulai sekarang kita kerja bareng-bareng lagi. Mau nikah bareng-bareng juga ayo,” selorohnya.



“Gue nikah sama siapa, emang? Risa kan, udah kabur entah ke mana?”



“Lha, tadi Katia ... katanya ...?”



“Ahaha ... itu tadi cuma candaan gue aja, lagi. Gara-gara ada laki-laki yang suka gangguin Katia, ya gue bilang aja kalau gue calon suaminya. Keterusan deh, kalau bercanda.”



“Siapa yang gangguin Katia, Di?” Khayru melirik sekilas dengan wajah penasaran.




“Utang piutang? Lo bantu selesein, dong, gimana, sih?”



“Gue mau bantu, cuman dia nolak. Katia bilang, berapa pun kita bayar, masalahnya gak bakalan selesai.”



“Kok, gitu?”



“Mungkin karena Si Nursyam cuma ngincer Katia aja. *I don't know*.” Aldi menggeleng sambil mengangkat bahu.



“Fix, lo musti nikahin Katia buat ngelindungi dia dari si Nursyam, Di.”



“Lo, pikir, nikah gak butuh cinta, apa?”



“Cinta itu nomor sekian. Yang penting, niat baik, tanggung jawab, saling setia, pengertian, itu aja dulu. Yang lainnya nyusul belakangan.”



“Ceileehh, sok sok an nasihatin gue. Padahal, rumah tangganya sendiri karam diterjang angin topan.”



“Gue janji, gue bakal bangun kembali rumah tangga gue sama Maula. Kalau Allah mengizinkan kita akan punya dua puluh orang anak, nanti.”



“Ya ampun ... lo mau nikah apa mau bikin peternakan, Bro?!”

__ADS_1



“Itu kan, cita-cita Maula. Terserah dia dong mau punya anak berapa!”



“Ya udah.” Aldi berpikir sejenak. “Ayo kita ngelamar sama-sama.” Terdengar seperti bercanda. Namun, Aldi serius dengan niat baiknya ini.



“Lo lamar Katia duluan,” ucapnya sambil tertawa. “Gue dapet kartu kuning dari Pak Kiai, nih.” Sambil menyipitkan mata lalu menggaruk tengkuknya. Dia harus bisa meyakinkan dulu Pak Kiai bahwa pernikahannya yang kedua nanti, bukan untuk main-main.



Sebenarnya, sudah dari sepuluh menit yang lalu, mereka tiba di rumah Aldi, akan tetapi belum ada yang turun dari mobil Khayru, demi obrolan yang belum selesai.



“Ya udah. Lo buruan turun. Kemaleman nih gue pulangnya.”



“Lo kenapa gak tinggal di rumah Maula, aja, sih? Kan lebih gampang kalau mo deketin dia.”



“Gak etis, dong. Mantan suami tidur di rumah mantan istri. Kalau digerebek warga, gimana?”



“Warga mana yang mau menggerebek kalian? Mereka, tau aja enggak kalau kalian pernah jadi suami istri,” gumam Aldi sambil turun lalu menutup kembali mobil Khayru. “Gak mau nginep di rumah gue, Bro?!”



“Makasih. Lain kali aja. Mau konsultasi dulu sama Pak Kiai!” serunya. Mobil pun berlalu pergi dari hadapan Aldi.



“Ceileee ... hahaha! Dasar!”



Pukul 07.00 pagi, Maula sudah tiba di kafe. Hari Minggu memang kafe tetap buka, akan tetapi Maula seharusnya libur. Orang pertama yang dia cari di sana tak lain adalah Dandi. Tentu saja untuk meminta penjelasan karena dia telah bersekongkol dengan mantan suaminya.


“Mas! Mas Dandi!”


Maula masuk lalu meletakkan tas di atas sofa. Ia lihat Dandi tengah sibuk mempersiapkan semua peralatan. Selain mendengar teriakkan Maula, dia juga melihat Maula yang tengah mengikuti gerak geriknya sambil berkacak pinggang, akan tetapi Dandi nampak sibuk bercakap-cakap via telepon. Dia hanya menunjukkan telapak tangannya supaya Maula tidak berisik dulu.


“Ngobrol di telepon, kok, gak selesai-selesai?”


“Apa, sih, La? Tumbenan hari Minggu datang ke kafe. Pake teriak-teriak, lagi? Latihan vokal, ya? Biar bisa ngamen bareng Cahyono, iya?”


“Mas Dandi! Sejak kapan Mas Dandi bohongin aku?”


“Bohongin apa, sih? Kamu aneh.” Dandi memanfaatkan kesibukannya supaya tidak terlalu fokus menjawab pertanyaan-pertanyaan Maula.


“Mas Dandi jangan pura-pura, deh, Mas! Dia yang nyuruh Mas Dandi, 'kan?”


“Iya, dia siapa? Sebut aja namanya, biar aku paham maksud kamu.”


“Dia yang hari Rabu nabrak mobil aku itu. Aku tanya Mas Dandi, tapi malah pura-pura gak tau. Aku lihat CCTV, Mas Dandi malah sengaja matiin listriknya. Udah gitu siangnya, rekaman CCTV malah ilang. Semua pasti kelakuan kalian, kan?”


Maula mendekat sambil menggebrak meja. “Tinggal bilang saja kalau dia orangnya!”


“Siapa namanya?”


“Ya ampun! Dibayar berapa, sih, buat tutup mulut?”


“Coba tengok ke belakang. Ada mobil kuning, tuh.” Dandi segera menyambut Khayru untuk menghindari Maula.


“Mas! Ada yang nyariin, tuh!”


“Siapa, Dan?” tanyanya basa basi karena sebenarnya dia sudah tahu.


“Cewek. Tuh di dalem.” Dandi menunjuk dengan mulutnya.


“Cakep, gak?” selorohnya lagi.


“Biasa aja, tuh. Kalau lagi ngambek, jelek banget.”


Khayru yang sudah tahu bahwa gadis yang tengah duduk bertumpang kaki di sofa, itu tak lain adalah Maula. Dia berdiri di sampingnya sambil tersenyum.


“Nyari Abang, ya, Dek? Kebetulan, Abang juga mau bicara penting sama kamu.”


“Siapa yang nyari Abang? Aku enggak!” Maula mendongak sambil mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


“Ikut Abang, yuk.” Khayru menarik lengan baju Maula supaya dia berdiri.


To Be Continued ....


__ADS_2