
Enam tahun kemudian....
“Akhirnya, selesai juga.” Maula duduk sambil memegangi pinggangnya yang terasa panas. Ini akibat dia terlalu fokus menyelesaikan sebuah gaun pengantin milik Rere yang akan dipakai Minggu depan.
Maula kembali berdiri seraya menyentuh satu per satu dress code yang dia buat untuk keluarga kecilnya.
“Ini untuk Papi,” ucapnya seraya mengangkat sebuah jas beserta hanger, lalu bibirnya tersenyum simpul saat mengangkat potongan baju paling kecil milik bayi lelakinya yang tengah tertidur dalam bouncher. “Baju Mourad paling lucu.” Ia menempelkannya di tubuh bayi kecil itu.
Dia pun mengangkat tiga potong baju lainnya. Itu milik Emir, Amily dan Ikrima. Mereka anak sulung, anak kedua dan ketiga yang memiliki jarak usia kira-kira satu tahun di antara keempat anaknya. Sehingga mereka memiliki ukuran baju yang hampir sama seperti anak kembar. Dia kembali duduk sambil mengusap perutnya lalu meraih handphone di atas meja. Dia ingin menghubungi Rere supaya datang mencoba gaun yang dia buat. Namun, niatnya urung ketika ia dengar suara anaknya memanggil dengan keras.
“Mami... Mami!!” Napas Emir tersenggal seraya membuka pintu ruang kerja ibunya.
“Emir! Kenapa selalu pake teriak-teriak kalau manggil Mami?! Telinga Mami sakit ini.” Entah teriakan Emir yang keberapa kali sejak pagi membuat ibunya selalu menutup telinga. Dia menempelkan telunjuk di bibirnya, khawatir anak bungsunya akan terbangun.
“Amily dan Mima, Mam...!”
“Iya, mereka kenapa?”
“Hilang, Mam!” Napas Emir masih tersenggal.
“Apa?!” Maula segera bangkit dari tempat duduknya lalu bergegas untuk mencari sang anak yang hilang sambil menarik tangan Emir.
“Kalian main di mana tadi? Kenapa Emir gak jagain adiknya. Biasanya Mami bisa mengandalkanmu buat jaga adik-adik. Kenapa Sampe hilang?”
Emir hanya menggeleng dengan wajah menunduk. Anak lelaki berusia lima tahun itu amat ketakutan lalu berlari ke kamarnya.
“Jangan ke mana-mana, Mir! Diem di kamar!” teriak Maula sambil berlari ke dapur, mencari keberadaan ketiga asisten rumah tangga untuk menanyakan keberadaan Amily dan Ikrima.
“Gak liat, Non. Bibi dari tadi sibuk masak di dapur.” Bi Sulis ikut panik.
“Ta-tadi, Tina meninggalkan mereka di halaman karena ingin mengambil makan siang buat mereka, tapi karena langit sudah mendung, Tina angkat jemuran dulu, takut keburu hujan. Abis itu....”
“Abis itu apa?” Tanpa menunggu jawaban Tina, Maula kembali mencari anaknya, menyisir setiap ruangan lalu berlari ke luar. Dilihatnya, gerbang rumah terbuka dan Ferdi tak ada di pos-nya dikarenakan tengah pergi ke kamar kecil.'
Fikirannya sudah menerawang sangat jauh. Dia lari ke jalanan sambil memanggil nama kedua anak perempuannya yang hilang. Sudah seperti orang gila dia berlari tanpa memperhatikan jalanan yang ia tapaki. Berkali-kali terjatuh bahkan hampir tertabrak sebuah mobil. Dengan perasaan takut dan sedih ia kembali ke rumahnya seraya berteriak memanggil mang Sodik dan Ferdi juga bi Sulis, Mbak Tina dan Neneng.
“Cari! Cari anak-anak sampai ketemu!” Dia sudah sangat lelah lalu menjatuhkan diri di halaman sambil menangis. Tiba-tiba, ketiga anaknya muncul sambil meneriakkan sebuah kata lalu tertawa terbahak-bahak.
“Prank!!” teriaknya, membuat Maula membulatkan kedua bola mata yang merah.
Apa?! Prank?!
Perasaannya amat sangat tidak karuan. Rasa lega terbalut kecewa dan amarah. Bagaimana bisa, anak-anak sekecil itu membuat Prank yang hampir mencelakai ibunya sendiri. Baru kemarin, Emir berpura-pura tenggelam di kolam membuat ibunya tak kalah kelabakan seperti orang gila. Kali ini, kesabarannya seperti habis gara-gara anak-anaknya yang nakal. Dia memberikan tatapan sengitnya sebelum masuk ke dalam rumah. Membawa Mourad yang ia tinggalkan di ruang kerja, lalu mengurung diri di dalam kamar.
Anak-anaknya berkali-kali datang ke kamar untuk meminta maaf. Namun, ia tetap bergeming tak menghiraukannya. Ia hanya peduli dengan anak bungsu yang masih bayi, membuat wajah ketiga anaknya berubah menjadi sangat sedih.
Ketiga anak itu, duduk menunduk di ruang tamu sambil menunggu ayahnya pulang. Bi Sulis sempat menceramahi mereka sambil memaksanya untuk makan. Namun, kali ini mereka benar-benar tak ingin makan sampai ibunya mau bicara.
Melihat ketiga anaknya hanya terdiam tak memberi sambutan padanya yang baru saja tiba di rumah, Khayru hanya berdiri seraya bertolak pinggang di hadapan mereka.
“Ada apa ini? Kenapa tidak ada yang senang papi pulang?” Dia menatap satu per satu wajah anaknya lalu tatapannya berlabuh pada bi Sulis.
“Bi, mereka kenapa?”
“Biasalah, Tuan,” jawab bi Sulis seraya mengangkat bahu, lalu beranjak ke dapur karena harus menyimpan piring makan anak-anak yang belum tersentuh.
__ADS_1
Khayru mengikuti langkah bi Sulis sambil bertanya apa yang sudah terjadi hari ini lalu kembali menghadap anak-anaknnya yang secara psikologis, mereka memiliki kepintaran di atas rata-rata, akan tetapi mereka memang sedikit nakal. Bukan nakal sebenarnya, mereka hanya ingin mencari perhatian ibunya dengan cara mengganggu kesibukan sang ibu. Mereka tidak pernah mengerti jika ulahnya hampir saja membuat sebuah kecelakaan.
Tiba-tiba, Khayru duduk di tengah-tengah mereka sambil memeluk ketiganya.
“Kalian bikin Mami marah?” tanyanya santai, tanpa ada tuduhan untuk menyudutkan mereka.
“Udah minta maaf, belum?”
Mereka mengangguk lalu ketiganya menangis sangat keras. Baru kali ini ibunya marah hingga tak ingin bicara sedikitpun dengan mereka. Mereka sangat takut jika ibunya yang tak pernah marah selama ini, ternyata tidak mau memaafkannya.
Khayru menunggu sampai ketiga anaknya berhenti menangis, setelah itu dia bicara pelan.
“Apa yang membuat kalian nangis?” Ia mengusap pundak anaknya satu per satu. “Apa karena Mami tak mau bicara lagi sama kalian?”
Mereka hanya menatap sambil mengangguk.
“Mami juga pasti pengen nangis sekeras-kerasnya karena kalian sangat nakal. Kasihan sekali Mami. Di perutnya ada bayi yang harus dia jaga. Mami gak boleh stres dengan alasan apa pun, tapi hari ini dia sedih dan kecewa. Gimana ini, Nak? Gimana kalau adek kecil dalam perut Mami ikut sedih juga?”
“Kakak gak mau nakal lagi!” Sambar Emir dengan wajah memelas dan matanya berkaca-kaca.
“Adek juga!” Seru Amily seraya terus menganggukan kepalanya.
“Mima juga, Papi. Janji!” Dia mengacungkan jari kelingkingnya sambil mendongak.
“Bisa papi pegang janji kalian?”
Mereka mengangguk yakin.
“Kalian anak baik, anak pintar. Papi selalu dengar Mami sebut nama kalian semua sehabis salat sambil menengadahkan kedua tangannya.”
“Gak ada yang sayang kalian, sebanyak yang Mami berikan buat kalian.”
Ketiga anak itu benar-benar melihat ayahnya hampir meneteskan air mata.
Tiba-tiba, Khayru tersenyum mengingat istrinya yang tidak pernah kapok dan tidak mengeluh.
“Papi sempat melarang Mami buat hamil dan melahirkan lagi, karena tak suka lihat dia menderita. Kalau pun harus hamil lagi, dokter bilang harus memberi jarak yang cukup.”
“Bayangin aja, Mami melahirkan setahun sekali. Hampir tak ada jeda untuk merehatkan tubuhnya.”
“Mami lakukan ini semua demi kalian, supaya kelak kalian memiliki banyak saudara dan tidak hidup dalam kesendirian. Mami tidak ingin kalian kesepian setelah Mami dan papi tak ada lagi di dunia ini.”
“Meskipun kalian masih sangat kecil, papi harap kalian mengerti.”
Ketiga anak itu, memeluk ayahnya sambil kembali menangis. Tangis Emir kali ini sedikit tertahan. Berbeda dengan Amily dan Ikrima, tangis khas anak kecil yang takut kehilangan kedua orangtuanya itu kembali pecah lagi.
“Supaya Mami tidak tambah sedih, kalian harus makan, mandi lalu tidur siang. Nanti papi bujuk Mami supaya maafin kalian.”
Setelah anak-anak itu setuju, Khayru mengantarnya ke ruang makan supaya mereka mau makan sama bi Sulis atau Neneng. Lalu kemudian, dia menemui istrinya di kamar. Duduk di samping tempat tidur sambil menyibak anak rambut sebelum mencium kening istrinya. Dia juga mengusap perut Maula hingga wanita itu memutar badan lalu bangun.
“Gak apa-apa, kalau mau tidur siang, gak usah bangun.”
Namun, karena istrinya sudah terlanjur bangun, Khayru meletakkan banyak bantal di belakangnya supaya dia duduk nyaman.
“Gimana hari ini, sayang?”
__ADS_1
Maula hanya tersenyum tanpa mau membahas kenakalan anak-anaknya seharian ini.
“Anak-anak nakal lagi?” Sambil memeluk istrinya dari samping.
Maula menggeleng. “Seharian ini aku terlalu sibuk. Sampe lupa sama mereka. Aku lelah dan akhirnya tertidur,” ucapnya sambil menyandarkan kepala di dada suami. Begitu nyaman, hingga matanya kembali mengerjap.
“Sudah kuduga, kamu tidak mungkin marah sama anak-anak.”
Maula mengangkat kepalanya seraya menatap heran. “Marah? Siapa yang bilang Mami marah sama anak-anak?”
“Anak-anak sedih sampai tak mau makan. Mereka pikir Maminya marah karena tak mau bicara lagi dengan mereka.”
“Ya ampun. Di mana mereka?” Maula beringsut dari tempat tidur. Mendengar anak-anaknya tak mau makan, Ia merasa bersalah. “Mami mau suapin mereka dulu, Pap.”
“Gak usah.” Khayru menahan istrinya di tempat tidur. “Mereka pasti sedang tidur siang di kamarnya.”
“Mereka sudah makan?”
Khayru mengangguk sambil menyentuh pipi sang istri. “Jangan khawatir, tadi sudah disupain bi Sulis.”
“Mami tetep mau lihat mereka. Mau minta maaf karena membuat mereka sedih hari ini.” Dia memaksa bangun, diantar suaminya menuju kamar anak-anak. Mereka berpapasan dengan Mbak Tina yang baru keluar dari kamar itu setelah berhasil menidurkannya.
“Mbak, tolong lihat Mourad di kamar. Ajak dia main di bawah dulu,” pinta Khayru sebelum masuk ke kamar Emir, Amily dan Ikrima.
Mereka memandangi wajah-wajah kecil yang baru saja terlelap. Wajah-wajah yang masih selalu berubah. Terkadang sangat mirip dengan ibunya, sedetik kemudian salah satu dari mereka mirip ayahnya, bahkan terkadang sangat mirip dengan kakek dan neneknya. Yang pasti, mereka adalah anak-anak yang cantik dan tampan seperti orangtuanya.
Dia menyentuh dan mencium pipi anak-anaknya yang sudah wangi karena dimandiin Neneng sebelum tidur.
“Makasih karena tidak pernah marah sama anak-anak. Karena sudah menjadi ibu yang sangat sabar buat mereka.”
“Setiap kali mau marah sama anak-anak, tiba-tiba Mami teringat masa kecil, Pap,” ucapnya malu-malu mengingat dia jauh lebih nakal dari anak-anaknya saat ini.
Seketika Khayru tertawa sambil mencubit hidung istrinya. “Akhirnya kamu mengakui kalau anak-anak mirip Maminya.”
“Mereka anak-anakku, sudah pasti mirip ibunya.”
“Tapi mereka juga anak-anakku, harusnya mirip Papinya juga, dong.”
“Mima mirip Papinya karena dia sedikit penakut. Kalau Papinya kan sangat penakut,” goda Maula pada sang suami.
“Haiisshh! Enak saja bilang penakut!” Tak terima selalu dibilang penakut, Khayru menggelitiki pinggang istrinya.
“Papi! Mandi sana! Jangan menggodaku nanti anak-anak bangun,” bisiknya sambil tertawa menahan gelitikan.
“Mandiin, ya, Mam,” ucapnya sambil menarik tangan istrinya kembali ke kamar miliknya. “Kebetulan, nih. Pasti Mami belum mandi juga,” godanya sambil mengerling.
...~Tamat~...
Alhamdulillah, akhirnya Maula dan Khayru, hidup bahagia. Mereka berhasil mencetak satu orang anak setiap tahunnya.
Readers tersayang, terima kasih untuk suamuanya. Karena sudah menyisihkan sedikit waktu untuk membaca karya recehanku. Mohon maaf atas segala kekurangannya.
Sebenarnya, Othor masih ingin bercerita tentang Fraud (kecurangan) dalam perusahaan yang menyebabkan mereka menjual rumah dan semua aset perusahaan. Masih ingin bercerita tentang bagaimana cinta Katia dan Aldi tumbuh setelah pernikahannya. Masih ingin bercerita tentang bagaimana Rere melunasi utang-utangnya sebelum menikah dengan Pram. Masih ingin bercerita tentang cinta segitiga antara Dandi, Nikita dan Billy.
Namun, jika itu semua Othor ceritakan, khawatir, cerita tidak sesuai lagi dengan judul dan sinopsis novel ini. Jadi, biarlah cerita ini dicukupkan sampai di sini saja. Yang penting, Maula dan Khayru sudah hidup bahagia, seperti pesan tuan Omar, cinta mereka tak goyah karena kehadiran orang kedua, ketiga dan seterusnya.
__ADS_1
Akhirnya, Othor cuma mau bilang, di mana pun kalian berada, kalian tetap di hatiku. Semoga kalian selalu sehat dan bahagia. See you, dears....
Salam hangat dari Author receh ~Mbuna Banafsha~ 😘😘😘