Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 38. Rahasia bersama


__ADS_3

Maula terperanjat. Dia segera menurunkan kakinya lalu duduk tegak. Dengan wajah kebingungan ia berdiri menatap kedua temannya.


“Kalian ... bukannya kalian sudah pulang? Kenapa tiba-tiba ada di sini?” tanyanya, salah tingkah.


“Kenapa berdiri di situ? Ayo duduk!” titah Khayru dengan wajah yang santai tanpa beban. Berbanding terbalik dengan reaksi Maula.


“Anu ... tadi Rere mau nunmpang ke toilet.” Nikita nunjuk temannya sambil nyengir.


“Ikut gue!” Maula narik tangan Rere. Dia mengantarnya ke toilet khusus tamu. Rere tidak berhenti menatap, membuat Maula tidak bisa berkutik di depannya. Setelah membukakan pintu toilet, Maula mendorong temannya supaya cepat masuk.


“Buruan masuk, tar pipis di celana, lagi.”


“Jangan lari, ya? Lo masih utang penjelasan sama gue,” tegas Rere sambil membulatkan matanya.


“Lari ke mana emangnya? Ini kan rumah gue,” gumam Maula sambil menutup pintu.


“Kalau dah selesai, susul gue di ruang tamu, ya!” Maula meninggalkan temannya di sana lalu kembali duduk di ruang tamu.


Tak lama, Rere pun menyusul ke ruang tamu. Dia duduk di sebelah Nikita dan Katia, tepat berhadapan dengan Maula dan suaminya. Suasana di ruangan itu nampak amat sangat canggung. Maula mengedip-ngedipkan matanya pada Khayru karena bingung harus memulai percakapan.


“Minum dulu. Kalian pasti haus.” Katia memecah keheningan. “Kalian teman dekat Maula, kan? Jadi ... gak usah sungkan,” tawarnya sambil menyesap minuman yang ada di cangkir miliknya.


“Apa yang kalian lihat dan kalian dengar tadi ... itu ...” Maula memilin jari-jarinya sambil menatap Khayru yang tak kunjung mengeluarkan suara. Dia hanya duduk dengan santai sambil menebar senyuman.


Namun, akhirnya Khayru membuka suara. “Begini ....” Ia mengubah posisi duduknya. Awalnya hanya bersandar di sandaran sofa, kini duduk dengan tegak sambil menarik napas.


“Kami ... saya dan Maula, sudah menikah. Kami bukan adik berkaka tapi suami istri.”


Katia yang sudah mengetahui hal ini sejak pagi, dia meng-iya-kan dengan cara mengangguk-anggukan kepala ke arah Rere dan Nikita.


Sementara Maula nampak menyesali kecerobohannya. Walau bagaimana pun dia tak ingin orang luar mengetahui pernikahannya ini.


“Kalian mau bertanya, gak? Dari pada pulang dengan hati penasaran, mending tanya sekarang,” tawar Khayru masih dengan ekspresi yang santai seperti di pantai. Lengang seperti di gelanggang.


Rere menarik napasnya lalu berdiri, dia duduk kembali di sebelah Maula sambil menatap tajam. Tiba-tiba, tangannya meraba perut Maula sambil bertanya pelan. Namun, semua orang masih bisa mendengarnya.


“Bilang sama gue, sudah berapa bulan?!”


“Apanya yang berapa bulan?!” bentak Maula sambil menyingkirkan tangan Rere dengan kasar.


“Kandungan Lo?!” tegas Rere pelan tapi penuh penekanan.

__ADS_1


“Lo kira, gue bunting?! Sial banget gue kenal sama teman jahara kaya Lo!!” teriak Maula sambil memukul temannya dengan bantal. “Pulang sana!! Gak mau temenan sama Lo lagi!”


Rere membekap mulut Maula dengan telapak tangannya. “Jangan kenceng-kenceng ngomongnya. Tar kalau banyak yang tau Lo hamil kan berabe.”


“Gue gak hamil! Gue gak bunting. Ya ampun dasar songong!” makinya sambil meracau. Dia mengalihkan tatapan pada suaminya.


“Bang! Bilangin sama mereka. Kalau aku gak hamil. Kita cuma tidur sekamar tapi gak ngapa-ngapain. Ayo bilang!”


“Gak ngapa-ngapain? Masa sih? Terus kalau gak hamil, ngapain buru-buru nikah? Gak sabaran banget.” Rere yang masih ngeyel, membuat Maula semakin berang.


“Bukannya gak ngapa-ngapain, tapi kalau cuma ciuman di bibir doang mah gak bakalan bikin hamil kali, Re. Coba Lo tanya guru biologi kita.”


Khayru yang sedari tadi hanya senyum-senyum, tiba-tiba membulatkan matanya. Dia mencoba mengingat-ingat kapan dan di mana dia mencium Maula di bagian bibirnya.


“Gue percaya kok, kalau Lo baru ciuman bibir doang.” Nikita lebih memilih melakukan pembelaan untuk Maula sambil tersenyum membayangkan temannya yang tengah berciuman.


Katia hanya menyimak. Sesekali mengurut dahi mendengar betapa berisiknya percakapan ala-ala remaja SMA ini.


“Oke. Kalian lanjutkan saja ngobrol-ngobrolnya. Abang pusing denger suara kalian.” Namun, niatnya untuk meninggalkan ruang tamu, urung karena Maula menarik tangannya secepat kilat. Maula tidak akan bisa tenang karena akan menjadi bahan bullyan di sekolah sebelum dua temannya itu tahu alasan kenapa mereka harus menikah.


“Ayo ceritakan. Saya penasaran juga.” Tak kalah antusias, Katia pun menunggu cerita selengkapnya, karena Bik Sulis hanya cerita sedikit saja.


Perlahan Khayru menceritakan kembali kisah sembilan tahun silam. Di mana dia menikahi Maula diam-diam saat usianya sepuluh tahun. Maula pun menunjukkan cincin platinum bertatahkan berlian yang dia kenakan di jari kelingkingnya.


Rere dan Nikita mengangguk pelan. Mau tak mau, percaya atau tidak, kenyataannya memang begitu.


“Ya ampun. Kecil-kecil sudah jadi 'Ibu Negara'” Rere mencubit hidung Maula sambil tersenyum padanya.


Nikita pun berdiri seraya merentangkan tangannya. “Peluk dulu, Buner kita.”


Ketiganya saling berpelukkan. Sebenarnya, mereka pernah sedekat ini. Dulu, saat mereka sama-sama duduk di taman kanak-kanak. Sejak itu, Maula tak memiliki teman lagi selain Ariel.


“Kalian pulang, gih! Dah sore. Tar dicariin nyokap, lagi.” Maula melepaskan pelukan teman-temannya.


“Tapi kapan-kapan boleh main lagi ke sini, kan?” Nikita mangambil tasnya di atas sofa bersiap untuk pulang.


“Mainlah ke sini sesering mungkin, biar Ibu Negara tidak kesepian,” sahut Khayru sambil berdiri, siap mengantar mereka sampai teras rumah.


“Boleh main, tapi jangan jadi pelakor, ya, Re!”


Mereka tertawa sambil berjalan menuju teras. Sementara Katia bergegas pergi ke dapur membantu Bik Sulis karena malam ini akan ada acara makan malam dengan pengacara.

__ADS_1


“Ampun, deh. Suaminya protectif, istrinya posessif. Cocok banget, iya gak, Nik?”


Nikita mengangguk sambil masuk ke dalam mobil. “Baanggeettt.”


“Udah sana, ati-ati di jalan.”


“Daaahh Buner ...! Semoga sukses menjalankan tugas sebagai Ibu Negara!”


“Awas loh! itu mulut gak boleh ember!”


Maula yang masih melambaikan tangan, kaget karena tubuh kecilnya tiba-tiba diangkat begitu saja.


“Bang! Apaan, sih? Kaget tau!?”


“Abang mau tanya sesuatu sama kamu.”


“Ya udah. Tanya aja.”


“Nanti di kamar,” jawabnya sambil membawa Maula lalu merebahkannya di tempat tidur.


“Tanya apa, sih, Bang? Aku mau mandi dulu.”


“Tentang ciuman di bibir yang kamu bilang tadi, maksudnya apa?”


“Akhh, itu. Cuma omong kosong aja, Bang. Biar mereka pada diem mulutnya.”


“Masalahnya, Abang belum pernah melakukan ciuman di bibir dengan wanita mana pun. Kenapa kamu mengatakan seolah kita pernah melakukannya.”


“Abang belum pernah melakukan first kiss?”Maula mengangkat alis sambil menahan tawa. Dan Khayru mengangguk dengan cepat.


“Ya sama. Aku juga masih polos, Bang. Gak tau rasanya first kiss itu seperti apa,” ucapnya setengah berlari menuju kamar mandi. “Ngobrolnya kita lanjut nanti setelah seselai mandi ya, Bang.”Maula menutup kamar mandi dengan cepat dan menguncinya.


“Eh, tunggu dulu! Abang belum selesai ngomong!”


“Iya, Nanti, Bang! Nanti!” jawabnya dari dalam.


“Kok, jadi curiga, ya. Ada yang nyuri ciuman pertama Abang diam-diam!”


Maula terbahak mendengar ucapan suaminya. Ingin rasanya dia kembali ke luar demi melihat wajah Khayru saat ini.


“Kasihan banget, bibirnya gak perjaka lagi. Udah se tua itu masih gak rela kehilangan ciuman pertama. Ha ha ha ...,”

__ADS_1


Tawanya semakin menjadi. Namun, tak lama dia mengusap dada sambil istighfar. “Astagfirullah. Istri macam apa aku ini? Teganya mempermainkan suami sendiri. Kurang ajar! Kurang ajar!” makinya sambil memukul kepalanya sendiri.


To Be Continue ....


__ADS_2