
“Baik Arini, nanti aku sampaikan setelah Maula selesai mandi.”
Maula baru saja keluar dari kamar mandi ketika ia dengar percakapan terakhir suaminya dengan dr. Arini.
“Siapa, Bang?” Maula mendekat seraya melilitkan handuk di kepalanya.
“Dokter Arini,” jawabnya yang saat itu tengah duduk di tepi tempat tidur.
Seketika wajah Maula memanas. Ia tertegun dan tersadar jika ada sesuatu yang belum dia ceritakan pada suaminya. Ia mengulurkan tangan untuk meminta handphone yang masih berada dalam genggaman Khayru. “Aku mau telepon balik dr. Arini, Bang.”
Alih-alih mengembalikan handphone, Khayru malah menjauhkannya. “Gak usah. Dia cuma bilang, jadwal theraphy diundur besok.” Khayru mendongak menatap wajah Maula yang berdiri di hadapannya. Dia melihat dengan jelas, wajah sang istri, tiba-tiba berubah.
“Dokter Arini... dia... bilang apa lagi sama Abang?” Suaranya sedikit terbata. Rasanya belum siap jika BPD yang dia derita harus diketahui suaminya.
Khayru menggeleng, tidak ingin membuat istrinya semakin ketakutan. Dia menarik tubuh Maula dan mendudukkannya di atas pangkuan lalu memeluknya. “Dokter Arini dan Tristan, mereka teman kuliah Abang.”
“Itu artinya, dia sudah cerita semua tentang aku.”
“Abang minta maaf.”
“Abang terlalu sering meminta maaf. Aku bahkan tidak tau, salah Abang di mana.”
“Jangan merahasiakan apa pun lagi dari abang. Ceritakan semuanya meski hanya tentang seekor semut yang mengganggumu.”
“Dokter Arini bilang, gejala BPD yang aku derita, akan menghilang seiring bertambahnya usia. Jangan terlalu mengkhawatirkannya.”
“Jangan lupa, Abang ini suamimu.” Dia semakin mengeratkan pelukan hingga kepalanya ia sandarkan di leher Maula. “Jangan minta Abang untuk tidak khawatir.”
“Mana mungkin aku lupa.” Maula membalas pelukan sambil menciumi kepala suaminya. “Semalam....”
“Semalam apa?”
“Gak apa-apa.” Maula menghindari tatapan suaminya seraya bergegas bangkit dari pangkuannya. Namun, Khayru menahannya.
“Bukannya hari ini akan sibuk bantu Kak Tia dan Om Aldi?” Maula masih berusaha lepas dari cengkraman suaminya.
“Bilang dulu, semalam kenapa?” Perlahan dia tarik handuk yang menutupi kepala istrinya lalu melempar ke atas tempat tidur. Tangan lainnya tak kalah jahil, menarik tali bathrobe di pinggang Maula hingga terbuka.
“Maksud aku... semalam Abang sudah buktiin kalau Abang bener-bener suami aku. Sekarang lepasin tangannya.”
“Maaf, gak bisa dilepas. Abang sudah terlanjur on lagi.” Dia merebahkan istrinya di tempat tidur sambil menarik selimut.
“Abang, seprei bekas semalam aja belum dicuci,” selorohnya sambil menunjuk tumpukan cucian di dekat pintu kamar mandi.
“Gak masalah.” Khayru tak ambil pusing.
__ADS_1
“Abang! kita belum sarapan,” elaknya lagi sambil menahan tubuh suaminya.
“Tadi sudah diganjal sepotong roti bakar,” ucapnya sambil melirik piring bekas roti di samping cangkir teh manis.
“Tapi kita mau berangkat.”
“It's oke. Bisa berangkat siangan.”
“Abang....” Dan Maula kehabisan kata-kata untuk menolaknya.
Setelah selesai mandi untuk yang kesekian kalinya, Maula lebih memilih menunggu suaminya di bawah. Namun, ketika ia lewati kamar orangtuanya, tiba-tiba ingin masuk ke sana. Kamar yang cukup lama tidak ditempati, akan tetapi masih selalu dibersihkan tiap hari.
“Sarapannya kesiangan, ya, Tuan?”
“Pasti udah sarapan yang lain tadi di kamar.” Mereka tergelak melihat wajah Khayru sedikit memerah.
“Ehm, Maula di mana? Dia sudah sarapan belum?” Khayru coba mengalihkan topik.
“Bentar saya cari Maula dulu.” Dia baru teringat dengan pintu kamar orangtuanya yang terbuka. Dia yakin Maula ada di sana.
Setelah menyisir setiap sudut ruangan, menyentuh barang-barang kesayangan orang tuanya, Maula berdiri memandangi foto keluarga yang tertempel di dinding.
Tiba-tiba, Khayru memeluknya dari belakang sambil turut memandangi foto keluarga yang menempel.
“Gadis kecil itu, sekarang sudah pinter nyenengin suami.” Sambil menunjuk foto gadis kecil dalam pangkuan ayahnya. “Gak ada yang bisa ngalahin dia.”
__ADS_1
Maula menyikut perut suaminya sambil memutar wajah ke belakang. “Sarapan, Bang, ayo!”
“Oh, iya, iya. Ayo sarapan.” Sambil mengusap perut Maula yang rata. “Bagaimana bayi kita akan tumbuh di sini nanti? Kalau ibunya kelaparan.”
“Abang, kok, yang bikin aku kelaparan.”
“Hahaha... iya, maaf, maaf.” Dia mendorong tubuh Maula ke ruang makan tanpa melepaskan lengannya yang melingkar.
Seminggu kemudian, pernikahan Katia dan Aldi digelar tak kalah meriah. Sebagai hadiah pernikahan, Khayru menghadiahi tiket bulan madu ke Jepang. Bukan sekadar tiket, tetapi ini tentang waktu liburan yang jarang sekali mereka dapatkan selama ini. Bentuk penghargaan bagi mereka yang telah bekerja sangat keras selama Khayru berada di Maroko. Bahkan, Khayru lebih mengutamakan bulan madu mereka dibanding bulan madunya yang ia tunda.
“Emangnya gak apa-apa, nih, kita bulan madu duluan?”
“Kalau nanya terus, gue bisa berubah pikiran, loh, Di. Gue tarik lagi, nih, tiketnya.”
“Hahaha... jadi orang baik gak usah nanggung, Bro. Ntar pahalanya juga nanggung.”
“Udahlah. Nikmati bulan madu kalian, gue balik kerja dulu.”
Maula memberi pelukan pada Katia. “Selamat bersenang-senang, ya. Jangan lupa oleh-olehnya, Kak.”
Maula masih melambaikan tangannya pada Katia, meski Khayru sudah mulai menarik tangannya karena harus segera meninggalkan ruang tunggu Bandara. Khayru nampak terburu-buru karena sebelum ke tempat kerja, dia harus mampir ke rumah pak Kiai. Ada beberapa pakaian yang harus dia ambil di sana.
“Setelah mereka pulang nanti, kamu mau kita bulan madu ke mana?” tanyanya, ketika mereka sudah berada dalam kamar tamu pak Kiai. Khayru melipat baju-baju yang dikeluarkan Maula dari dalam lemari lalu memasukkannya ke dalam sebuah tas.
Maula seperti tak merespon apa pun yang dikatakan suaminya saat itu. Dia hanya fokus pada jaket jeans belel yang ditemukan bersama tumpukkan baju suaminya. Yang paling mencengangkan, ia temukan sebuah kumis palsu dan memandangi benda itu cukup lama. Sebelum dia putuskan untuk bertanya, dia menghadap suaminya lalu menempelkan kumis itu di atas bibirnya, hingga Khayru sedikit kaget seraya menyentuh kumis palsu di atas bibirnya itu.
Maula menatap wajah suaminya dengan saksama lalu menempelkan jaket jeans belel itu di depan tubuhnya hingga dia mendapat satu kesimpulan yang tidak diduga sebelumnya.
“Untuk apa Abang membohongiku?”
“B-bohong?” jawab Khayru panik. Ia kembali mengusap kumis palsu yang hitam pekat.
“Kenapa harus nyamar?!” Tatapannya makin sengit sementara Khayru makin tak berkutik. Dia hanya menggaruk kepalanya tanpa berani membalas tatapan Maula karena pertanyaan-pertanyaannya itu begitu tiba-tiba. Dan jawaban apa pun saat ini, tidak akan bisa memuaskan Maula. Hanya akan membuatnya semakin bersalah di matanya. Jadi, dia memilih bungkam.
“Dari tadi aku tanya, kenapa tidak dijawab?” Maula menjatuhkan jaket belel itu di hadapan suaminya. “Udahlah, kamar ini bikin aku sumpek.” Dia bergegas meninggalkan kamar, tetapi Khayru menarik tangannya dengan cepat.
“Ampuun... Abang minta ampun.” Ia beranikan diri untuk menatap dengan mata menyipit. “Sayang, hidup ini jangan terlalu serius. Please maafin Abang.”
__ADS_1
“Jangan kasih aku jawaban yang tidak masuk di akal, Bang. Kecuali Abang mau puasa. Gak usah deketin aku selama sebulan.”
“Ahaha... tega bener istriku. Itu hukuman yang paling tidak berperikelelakian, sayang. Jangan lakukan itu--demi misi kita.”