
“Ma! Mama ...!! Dek ... coba lihat, Abang dapat piala lagi ... yeaaa!” Dengan keringat yang masih membasahi rambut dan setelan olah raga yang dikenakannya, anak lelaki itu bersemangat turun dari mobil, berlari membawa sebuah piala di tangannya. Selesai mengikuti Kompetisi Olahraga Siswa cabang bulu tangkis tingkat SMA, ia turun dari mobil berlari ke dalam rumah membawa serta tas raket di punggungnya.
“Wahh ... Abang juara lagi!” Sang ibu berdiri dari tempat duduk, menunjukkan kekaguman pada putranya. “Nyesel mama gak ikut ke kompetisi tadi, Bang.” ucapnya saat menyambut kedatangan sang putra sambil mengusap lengannya.
“Horeee!! Buat aku, buat akuuu!!” Gadis kecil yang cantik mengenakan setelan bermotif sailor stripe itu ikut turun dari tempat duduknya. Ia segera meraih trophy dari tangan kakaknya.
“ Aku tau.” Gadis itu mengangkat telunjuknya. “Harus disimpan di sana, kan, Bang?” tanyanya sambil lari menuju lemari pajangan yang saat ini sudah penuh dengan barang-barang milik Kakaknya.
“Hati-hati, Dek, nanti jatoh bisa rusak, loh!” teriak Mama yang khawatir saat melihat Maula kecil membawa benda itu sambil berlari-lari.
Khayru meletakkan tas raket di meja lalu menghampiri Maula. Ia menyusul gadis kecil itu lalu memangkunya supaya bisa meletakan piala di dalam lemari kaca yang masih terlalu tinggi untuk dijangkau gadis seusianya.
“Coba hitung dulu, ada berapa jumlahnya sekarang? Harusnya kan bertambah.”
“Duaaaaa!!” Dengan cepat ia mengangkat sepuluh jarinya yang mungil. 'Dua' versi Maula artinya adalah 'banyak' dan berapa pun jumlahnya dia hanya akan menunjukkan sepuluh jari jika tidak bisa menghitung benda karena jumlah yang terlalu banyak.
“Kok, masih dua aja, sih?” protes Khayru.
“Sibuk ngitungin punya Abang mulu, nih, Adek. Kamu juga harus punya piala sendiri, dong,” seru Tuan Zul yang tiba-tiba masuk setelah memarkirkan mobilnya di halaman lalu menghampiri istrinya yang duduk di sofa, memperhatikan putra dan putrinya.
“Nah tuh, Papa bilang kamu harus punya piala sendiri, Dek,” timpal Khayru.
“No, no!” ucap Maula yang masih berada dalam pangkuan Khayru. Dia menggoyangkan jari telunjukknya. “Yang itu... itu ...,” sambil menunjuk deretan piala milik sang Kakak. “Kan buat Adek semua. Ya, Bang. Ya, ya...?” Dia memainkan alisnya lalu melingkarkan tangan di leher Khayru sambil merayu.
“Iya apa enggaaak?!” pekiknya sambil terus menarik pipi Kakaknya yang terus mengernyit. Pertanyaan Maula mesti sama artinya dengan paksaan.
“Iya, inces. Iyaaa! Gak usah teriak di telinga Abang. Kan gak budek.”
Tuan Zul dan istrinya hanya tergelak melihat Khayru seperti mendapat sebuah kutukan karena tidak pernah bisa berkata 'tidak' untuk adik kesayangannya.
“Terus nanti, Abang gak punya piala lagi dong?” Selorohnya sambil membawa Maula yang masih menemplok padanya--duduk di sofa.
“Abang kan punya aku.” Maula menunjuk dirinya sendiri. “Aku mau jadi pialanya Abang.” Dia kembali memainkan alisnya sambil merapikan rambut sang Kakak yang berantakan dan berkeringat. Maula adalah gadis paling romantis yang Khayru kenal, karena Cuma Maula yang berani melakukan hal-hal seperti itu termasuk mencium keningnya.
“Lah, kok, malah mau jadi piala, sih, Dek? Mama gak ngerti?” tanya sang ibu Heran.
“Ada-ada saja kamu, Dek. Dibilangin harus punya piala sendiri malah mau jadi piala,” timpal ayahnya sambil mencoba duduk sesantai mungkin karena sedikit lelah.
“Abang sayang gak sama piala-piala Abang?” tanya Maula.
“Ya sayang, dong. Kan susah banget dapetinnya.”
__ADS_1
“Aku juga mau disayang sama Abang. Makanya mau jadi piala,” jawabnya sambil tergelak.
Khayru menghela napasnya, ketika kenangan itu terlintas begitu saja.
Abang sayang kamu, Dek. Di mana pun Abang berada, Abang akan tetap sayang kamu selamanya, batinnya seraya berdiri mematung memejamkan matanya di depan lemari kaca.
Tepukan di pundak Khayru membuyarkan sedikit kilasan masa kecilnya yang tiba-tiba muncul saat tak sengaja ia lihat deretan piala yang tertata rapi di dalam lemari kaca itu.
“Ru!”
“I-iya, Di,” jawabnya gelagapan sambil menoleh.
“Hhh ... Gue kira Lo bisa tidur sambil berdiri. Dipanggil-panggil dari tadi, gak nyahut,” cibir Aldi. “Ini barang-barangnya siapa, Nih? Kaya mau pergi jauh aja,” tunjuk Aldi heran ke arah beberapa tas yang sudah siap diangkut ke dalam mobil.
“Duduk dulu, Di.” Khayru mengajak Aldi duduk di sofa ruang tamu sambil menunggu yang lainnya. Tak lama Katia pun keluar dari kamarnya setelah mendengar mobil Aldi yang baru tiba di halaman.
“Kat, bisa minta tolong bentar, gak? Panggilin Maula di kamarnya.”
“Baik.” Ia langsung melangkah menuju kamar di lantai atas.
“Lo kenapa, sih, Ru? Lo mau ke mana? Gue tanya gak jawab-jawab.”
“Tapi berapa lama?”
“Namanya juga pulang. Berarti gue menetap dong di sana.”
“Menetap? Lo gimana, sih, Ru. Gue kan repot sendiri di kantor,” protesnya. “Lo malah pergi-pergian kaya gini. Mana Risa masih masa pemulihan, lagi.”
“Oh, ya. Posisi Risa tolong kamu ganti sama Katia, ya, Di. Kasih aja Risa tunjangan tiap bulan sebagai permintaan maaf dari Maula, tapi jangan biarkan dia kerja lagi di perusahaan kita.”
“Maksudnya diberhentikan? Kenapa?”
“Hmm ... Gapapa, kasian aja dia kan abis kecelakaan. Ya tapi terserah Lo aja deh. Selama dia masih bisa bekerja dengan profesional. Jangan lupa bimbing Katia. Bantu teman-teman Maula juga.”
“Ya ampun. Banyak banget tugas gue? Sementara Lo, enak-enakan di sana.”
“Gue bantu Lo dari kejauhan,” jawab Khayru sambil terkekeh. “Udah Lo jangan rewel. Gue yakin, Katia bisa diandalkan. Bila perlu, rekruit tenaga-tenaga profesional lainnya kan gampang.”
“Bulshit, Lo! Nyiksa gue,” desisnya.
Khayru memanggil semua ART karena ingin berpesan banyak hal seperti biasa jika dia akan meninggalkan Maula. Namun, kali ini berbeda. Dia tidak tahu kapan akan menginjakkan kakinya lagi di rumah ini. Dia pernah pergi selama setahun dari rumah ini, tapi kali ini rasanya sangat beda. Dia tak henti memandangi setiap sudut ruangan di rumah ini. Dia rasa kali ini akan benar-benar merindukannya lebih dari sebelumnya.
__ADS_1
“Gimana, Bik, Mbak, Neng ... Ngerti kan ucapan saya tadi?”
“Ng-ngerti, sih. Tapi ... Tuan sebenarnya mau ke mana? Kok, begini amat?”
“Oh, itu Maula dateng.” Khayru segera berdiri menghampirinya. “Sini, Dek.” Dia menarik tangannya sementara Katia dia persilakan duduk.
Maula sedikit menahan diri karena firasatnya mengatakan bahwa hari ini akan menjadi hari terberat untuknya. Tiba-tiba, Khayru memeluknya. Sangat erat.
“Mulai lagi dah tuh, pamer kemesraan,” cibir Aldi sambil membuang muka.
“Seperti janji Abang, hari ini semuanya akan tuntas, tapi sebelumnya izinkan Abang memelukmu dulu. “Satu-satunya piala kebanggan Abang, gadis romatis pemilik hati Abang, nyamuk nakal yang mencuri ciuman pertama Abang, kucing liar kesayangan, jadilah kucing yang manis mulai sekarang.”Keduanya sedang berusaha keras untuk tidak menangis.
Khayru melepaskan pelukan. Tangannya masih memegangi kedua pundak Maula sambil menatapnya. “Buat Abang, yang terpenting adalah membuat Mama sama Papa bangga dengan putri kesayangannya. Kamu harus ingat janji kamu untuk mewujudkan hal itu.”
Butuh waktu beberapa menit sampai Maula akhirnya mengangguk setuju, akan tetapi matanya sudah mulai merah dan berkaca-kaca. Khayru mencium dua tangan Maula sambil memejamkan matanya. Menyentuh ujung kepalanya dan mengusap pipi Maula yang sepertinya mulai dibasahi beberapa butir kristal hangat yang lolos dari kelopak matanya.
“Jangan pernah menangis. Abang gak suka lihat kamu nangis. Lihat di sekelilingmu. Ada banyak orang yang akan menyayangimu. Kamu gak akan pernah kesepian di dunia ini.” Khayru menatap semua orang yang ada di sana untuk meyakinkan Maula.
“Silakan berkeluh kesah pada Katia, dia adalah saudara perempuanmu. Minta tolonglah pada Bik Sulis, Mbak Tina, Neneng, Ferdi dan juga Mang Sodik, jika kamu butuh bantuan. Ada Om Aldi juga yang siap bantu kamu kapanpun karena dia orang kepercayaan Abang. Rere dan Nikita juga akan selalu ada buat kamu, menemani kamu belajar di sekolah, dan bermainlah sesekali untuk menghibur hatimu jika sedang bosan.”
Ia memandangi cincin kecil di jari Maula. “Abang minta kenang-kenangan dari kamu. Boleh Abang minta cincin ini?” tanyanya sambil membuka cincin itu lalu memandanginya seperti ketika sebelum ia pertama kali memakaikannya di jari Maula.
Dia tersenyum lalu ia peluk erat tubuh gadis kecil yang terpaku di hadapannya. “Seperti kata Papa, hanya ikatan pernikahan yang bisa membuat kita sedekat ini. Namun ... mulai hari ini, Abang akan melepaskan ikatan itu.”
Setelah memandangi wajahnya dengan puas, perlahan dia melepaskan segala bentuk sentuhan terhadap Maula lalu mundur satu langkah untuk membuat sedikit jarak di antara mereka. Dia tarik napasnya yang paling dalam.
“Detik ini ... dengan disaksikan mereka semua ....” Khayru menatap mereka yang ada di sana. “Abang jatuhkan talak atasmu, sehingga mulai saat ini, kamu tidak memiliki kewajiban apa pun, karena Abang bukan suamimu lagi.”
“Abang tidak berhak atasmu lagi.” Khayru menengadah karena sepertinya air mata ingin sekali meluncur di waktunya yang belum tepat.
“Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita.” Dia sadar betul bahwa perceraian sangatlah dibenci Allah.
Ikrar yang diucapkan Khayru, membuat semua orang membelalakkan matanya.
“Tunggu! Tunggu!” Aldi segera berdiri dengan wajah kagetnya. Tak ada beda dengan wajah yang ada di sekitarnya. Penuh tanda tanya.
“Kalian tidak sedang bercanda, Kan? Ru! Lo sadar apa yang sudah Lo ucapkan tadi?”
“Kenapa main-main dengan kata talak? Cepat Istighfar,” desaknya karena Aldi pikir, Khayru sedang khilaf.
To Be Cobtinued ....
__ADS_1