Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 56


__ADS_3

Adzan Maghrib berkumandang ketika Maula dan Katia tiba di rumah setelah mengikuti pengajian di pesantren. Setelah duduk sebentar, bergegas mengambil wudu dan membawa peralatan salat dari dalam lemarinya. Bersiap melaksanakan salat Maghrib, tanpa imam lagi yang selalu ada di depannya.


Please jangan baper, Maula. Dari kemarin pun, kamu salat sendiri, batinnya saat dia lihat tempat di depan yang biasa digunakan suaminya untuk salat jika kebetulan berhalangan pergi ke masjid. Dia menepis ingatan yang memang wajar jika saat ini selalu muncul.


Melupakan itu butuh waktu dan proses. Jadi, bersabarlah wahai hati. Sambil menggelar sajadahnya menghadap kiblat.


“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Menoleh ke samping kanan dan kiri lalu mengusap wajahnya. Akhir dari rangkaian salat magrib yang baru selesai ia tunaikan. Masih bergeming dalam posisi duduk tawaruk, ia angkat kedua telapak tangannya untuk berdoa.


Dua orang gadis sudah berdiri di depan pintu kamar karena saat mereka datang, sengaja Bik Sulis memintanya untuk langsung naik menemui Maula di kamarnya.


Maula kembali mengusap wajah dengan dua telapak tangan setelah meyelesaikan doanya, dan bergegas membuka pintu kamar karena seseorang telah mengetuknya dari luar.


“Tumben kalian dateng malem-malem.” Maula membuka pintu lebar-lebar. “Ayo masuk,” ucapnya meminta Nikita dan Rere untuk mengikuti langkahnya. Dia buka kain mukena dan meletakkannya di atas sajadah untuk dia gunakan saat salat isya nanti.


Setelah menutup kembali pintu kamar, Rere dan Nikita duduk di samping kiri dan kanan Maula, di sofa kamarnya. Rere menaikan satu kaki dan melipatnya supaya bisa menghadap ke arah Maula yang nampak tenang bawaannya.


“Kenapa jadi seperti ini?” Pertanyaan yang sangat ingin Rere ucapkan sejak mengetahui berita tentangnya. “Kalau ada masalah kenapa gak cerita sama gue dan Nikita. Gue kaget, tau, dengernya.”


“Gue juga. Ampir gue marah-marahin tuh mantan suami, Lo, tadi. Gak terima gue karena dia dah nyerein Lo. Emangnya gak ada cara lain apa?”


“Gue, kok, yang minta cerai. Kenapa Lo jadi marah-marahin dia?” Maula mengernyit sambil mengulas senyum untuk menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja.


“Lo minta cerai? Dia salah apa sama Lo? Sampai Lo gak bisa maafin dia, hhh?”


“Dia gak salah apa-apa sama gue. Cuman, gue takut jika dia akan melakukan kesalahan di masa mendatang gara-gara melawan perasaannya di masa sekarang.”


“Gimana, gimana? Gue belum paham, sumpah.” Nikita ingin Maula bercerita dengan bahasa yang lebih dimengerti.

__ADS_1


“Hhh ....” Maula menghela napasnya. Merasa bingung bagaimana cara dia mengatakan apa yang dia rasakan saat mengambil keputusan cerai. Seperti halnya Papa Rere yang terlihat sempurna di mata Rere dan Mamanya, Maula juga melihat sosok sempurna pada diri suaminya. Ceritanya mungkin tidak akan dia anggap sama seandainya tidak pernah ada Risa dalam hidup suaminya. Maula belajar dari kejadian yang menimpa keluarga Rere. Bahwa ternyata rumah tangga tidak akan baik-baik saja jika orang ketiga telah muncul di antara mereka. Apalagi jika orang ketiga itu adalah wanita yang memiliki riwayat di hati suaminya.


Mamanya Rere tidak akan seberat itu melepas suaminya jika lelaki itu bukan orang sempurna dalam hidupnya. Begitu pun Maula, dia tak akan bisa melepas Khayru demi wanita lain karena dia suami yang sempurna juga. Sedangkan di antara mereka sudah ada Risa yang terang-terangan mengusik hidupnya.


Bisa saja Maula melawan demi mempertahankan apa yang menjadi miliknya, akan tetapi dia khawatir dengan jiwa pemberontak yang ada dalam dirinya. Dia bisa mengotori tangannya sendiri dengan cara mencelakai orang lain seperti yang terjadi pada Risa. Meski kejadian itu tidak disengaja, tetapi dia pernah memiliki niat lebih buruk dari itu. Bisa dia lakukan kapan pun jika bom waktu sudah meledak di kepalanya.


Seandainya dia memilih tenang. Menutup mata dan telinga lalu menjadi istri penurut untuk suaminya. Sementara dia tidak tahu apa yang dilakukan suaminya dengan wanita lain atau mungkin ... setelah dia coba memaafkan apa pun, tapi akhirnya dia tetap menjadi wanita yang dicampakkan. Dia pikir hidupnya tidak akan jauh beda. Akan berakhir persis seperti Mamanya Rere.


Jadi menurutnya, perpisahan secara mutlak saat ini jauh lebih baik dibanding harus membuang waktu untuk cemburu. Lebih baik juga dibanding harus mengotori pikiran dan tangannya untuk membalas perbuatan jahat dari orang ketiga. Bahkan lebih baik dibanding mengakhiri hidup karena dicampakkan. Yang bisa saja terjadi di masa mendatang adalah, suaminya berubah. Tidak ada yang menjamin bahwa dia akan selalu setia padanya hingga akhir. Dan satu hal lagi yang paling penting, bahwa dia akan sangat mengecewakan almarhum orangtuanya saat itu terjadi, karena otomatis masa depan dan pendidikannyapun ikut hancur begitu saja.


“Bisakah kalian memahamiku saat ini? Tak ada keputusan yang lebih baik lagi dari ini buatku.”


Rere dan Nikita dibuat bungkam oleh ucapan Maula yang saat ini tengah mengalami konflik batin. Konflik itu ternyata tidak selalu datang dari luar, akan tetapi bisa datang dari dalam diri sendiri. Ini lebih sulit untuk memeranginya karena datang dari keyakinan hati.


“Jika Lo pikir semua orang akan ditimpa masalah yang sama persis, mungkin tidak akan ada orang yang bahagia dengan pernikahannya. Coba Lo ingat-ingat, apa pernikahan orangtua Lo dulu tidak bahagia juga?” Rere berusaha merubah keyakinan Maula bahwa yang dialami orangtuanya belum tentu terjadi pada orang lain. “Gue aja yang terlibat langsung dan benar-benar menjadi seorang korban, selalu berusaha untuk bangkit dari rasa trauma.”


“Jadi gimana? Lo mau hidup sendiri selamanya karena takut dihantui orang ketiga, gitu?” tukas Nikita.


“Ya, enggaklah.” Maula tergelak. “Aku mau cari suami yang jauh dari kata sempurna biar tak ada wanita yang tertarik untuk menjadi orang ketiga,” tekadnya sangat yakin.


“Re ... mari kita lihat. Apa benar Maula bisa berpaling dari mantan suaminya?” seru Nikita sambil melongokkan wajahnya ke arah Rere yang duduk di sisi kanan Maula.


“Ya ... mungkin saja bisa. Tergantung seberapa besar usahanya,” Rere menanggapi candaan Nikita.


“Tapi ... menurut gue gak Bakalan bisa deh. Gue yakin 100% kalau cintanya itu cuma buat sang mantan.” Mereka seolah tidak peduli dengan keberadaan Maula di dekatnya.


“Kita taruhan aja, gimana? Yang Menang dapat tiket liburan ke luar negeri apa ke mana, gitu?”

__ADS_1


“Pertanyaannya ... siapa yang mau ngasih hadiah tiket liburan buat kita, Dodol?”


“Kalau gue yang Menang, gue minta ke mantannya Maula karena gue jagoin dia.”


“Kalau gue yang Menang? Minta ame siape?” sahut Rere.


“Ya Lo minta ame calon suami Maula yang katanya jauh dari kata sempurna itulah. Yang udah bikin dia berpaling dari mantan suaminya, ye nggak?”


“Hahaha ... bisa aje Lo.”


Maula mengernyit lalu berdiri. “Dah malem, kalian pulang saja, sana,” Maula jengkel dengan kelakuan teman-temannya yang menjadikan dia bahan candaan.


“Bisa-bisanya kalian jadiin aku bahan taruhan. Biar begini, ada seseorang yang selalu bilang kalau aku gadis paling berharga dalam hidupnya. Dia akan marah jika kalian perlakukan aku seperti ini.”


“Siapa ... siapa yang bilang gitu?” Rere menunjukkan wajah penasarannya lalu Nikita berdiri sambil memeluk Maula. “Gue tau, dia pasti mantan suami Lo. Cuma dia yang selalu bilang begitu.”


Maula tak bisa berkata-kata lagi. Ucapan Nikita membuat matanya sedikit basah. Dia kembali mendapat pelukan dari Rere. Mereka berdua memeluk Maula sambil mengusap punggungnya pelan.


To Be Continued ....


__________


Gaiss, di part ini udah gak ada irisan bawang lagi, kan, ya? Simpan baik-baik tisue dan kanebonya buat besok-besok aja.


Yang kemarin belum bisa lihat visual Khayru dan Maula, coba tengok lagi ke bab 55. Udah aku selipin buat kalian semua.


See you, gaiss 😍😘

__ADS_1


__ADS_2