
Five year later ...
SMA CENDEKIA 1
“Riel ...!”
Maula menuju ruang guru. Di sela langkahnya menyusuri koridor, ia melihat Ariel berjalan setengah berlari.
“Eh ... mulut itik kesayangan gue.” sapanya dibuat sesopan mungkin.
“Mo ke mana sih? Buru-buru.” tanyanya pelan tapi gerakan bibirnya dipertegas.
“Ikut, yu.” Ariel menarik tangan Maula tergesa-gesa karena tak tahan menahan sesuatu.
“Eh, ke mana ini? Aku ditunggu Bu Tika di ruangannya.” Dia sedikit menahan langkahnya.
“Toilet.” Ariel nunjuk toilet pria di ujung sana sambil meringis.
“Heh!... lepasin, gak!?”
Ariel melepaskan tangan Maula setelah meletakkan sesuatu di genggamannya. Sepintas kemudian dia lari pontang panting karena ingin berkemih.
Sementara, Maula segera membuka cengkraman tangannya. “Dark cocolate lagi?
“Ini pahit, tau!?” serunya. “Jerawatan iya, muka gue.”
“Aku lebih suka lihat jerawat dari pada harus melihat kamu pasang mulut itik.”
“Dasar kamu, Riel.” Maula mengulas senyuman sambil kembali menuju ruang guru karena harus mengambil tugas untuk hari ini.
Coklat hitam yang Ariel berikan setiap hari dipercaya bisa memperbaiki suasana hati Maula yang cenderung sangat buruk, pemarah, jutek, gak ada manis-manisnya. Eh, tapi ... ada tulisan Ariel di kemasan coklat itu.
“Tunggu aku di gerbang sekolah, pulang nanti.”
Menunggu ....
Gerbang sekolah kira-kira setinggi dua meter itu selalu menjadi tempat favorit untuk menunggu. Tentunya harus memilih lokasi yang strategis untuk menghindar dari radar pencarian Khayru jika sewaktu-waktu dia muncul.
“Buruan dong, Riel. Keburu Abang gue dateng aja, udah deh ... isolasi mandiri.”
“Ini udah buru-buru.” Ariel menghentikan motor di depan Maula. “Ternyata kamu tidak sesabar ketika aku menunggu balasan cinta dari kamu, ya.” cibirnya.
Maula mengenakan helm sebelum duduk dengan posisi senyaman mungkin di atas motor. Sementara Ariel menarik dan melingkarkan kedua tangan Maula di pinggangnya.
“Pegangan yang kenceng, ya.”
Maula membenturkan helmnya. “Ayo, jalan!” Dia sudah bersiap jika motor akan melaju kencang seperti kuda terbang. Namun, ternyata dugaannya salah kali ini.
“Lha, kok, slow banget?!” suaranya sedikit keras demi menghalau suara-suara kendaraan lain di sekitarnya.
“Sengaja, biar lama.” Ariel membuka penutup helm. “Kan enak kalau boncengan gini. Bisa pegangan, tatap-tatapan di kaca spion, aiihh.” Ariel memutar wajahnya sekilas. Namun, tetap fokus ke depan.
Maula kembali membenturkan helmnya. “Sa aja, kamu.”
“Jalan ke Mall dulu, ya. Abis itu pulang ke rumahku,” ajak Ariel.
Ariel dengan caranya sendiri selalu bisa mengeluarkan Maula dari dunianya yang membosankan.
AMK Manufacturing Ind.
__ADS_1
Tidak lebih dari tiga puluh menit, Khayru sudah kembali ke kantornya. Jika saja Aldi tidak menepuk pundaknya, mungkin pikirannya masih menerawang ke jalan raya. Di mana dia melihat sepasang muda mudi tengah berboncengan seperti remaja kebanyakan.
“Kok, balik ke kantor?” Aldi mengerutkan kening. “Bilangnya habis jemput Maula langsung ke rumah?”
“Oh ....” Khayru yang kelimpungan segera mengumpulkan kesadaran demi menjawab pertanyaan Aldi.
“Maula sudah pulang.” Dia mengalihkan perhatiannya pada tumpukkan berkas yang ada di meja.
“Bisa kutebak. Dia pulang sama Ariel lagi?”
Seketika Khayru meletakkan kembali berkas itu lalu bangkit. Dia menyalakan mesin coffe maker lalu mengambil dua buah cangkir.
“Americano atau Espresso, Di.” Tanpa melirik Aldi yang mulai mendaratkan tubuhnya di sofa.
“Apa saja.”
Khayru menyenderkan setengah badannya di meja—menghadap coffe maker yang mengeluarkan suara gemericik saat seduhan kopi itu tertuang di atas cangkir. Dengan hati-hati ia meletakkan dua cangkir dengan menu yang berbeda di hadapan Aldi sebelum ia duduk di hadapannya.
“Ahaha ... sepertinya hanya di sini seorang pemegang jabatan tertinggi mau membuatkan kopi untuk bawahannya.”
“Ya, tentu saja. Karena buat Lo tak ada masalah besar selain Maula.”
“Benar,” gumamnya lagi sambil menghirup wangi dari secangkir kopi.
“Sepertinya gue sedang berada dalam masalah besar saat ini. Sebentar lagi usianya genap sembilan belas tahun.”
“Bagus, dong. Dia akan segera tahu semuanya.”
“Menurut Lo dia akan menerima kenyataan begitu saja?!” Khayru menyolot sepintas kemudian dia menarik napas panjang.
“Akan sangat sulit memaksa Maula untuk berpikir dewasa di usianya saat ini. Gue juga gak mau dia kehilangan masa remaja. Karena mungkin, itu tidak akan terulang dalam hidupnya.”
“Jadi, karena itu Lo izinin dia pacaran dengan lelaki lain?”
“Mereka gak pacaran. Gue yakin mereka cuma temenan saja.” Khayru menepis semua kemungkinan yang tidak dia inginkan dalam hatinya.
__ADS_1
“Itu menurut, Lo. Gue melihatnya lebih dari itu.”
“Maksud Lo?” Tatapan sengit itu melesat dari matanya.
“Ciuman. Pelukan. Sepertinya itu bukan gaya orang berteman, Ru.” Aldi terpaksa harus mengatakan apa yang dia lihat di rumah Risa.
Khayru hampir memuntahkan kopi yang tengah ia sesap separuhnya.
“Sialan kamu, Di! Berani bicara buruk tentang Maula.”
Meletakkan kembali cangkir kopi dengan kasar.
“Sorry, Ru! Lupakan saja. Lo gak perlu marah.” Aldi mengangkat kedua telapak tanggan lalu perlahan menurunkannya sebagai isyarat supaya Khayru menenangkan dirinya.
“Gue tarik ucapan gue tadi.”
Khayru menatap jam tangannya setelah mematikan mesin mobil tepat di halaman rumah. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Hari ini memang terlalu banyak pekerjaan di kantor yang memaksanya harus pulang semalam ini.
Keluar dari mobil dengan wajah lelahnya lalu memasuki pintu yang sudah terlebih dahulu dibuka oleh Neneng.
“Sini, Tuan, tasnya biar Neneng yang bawa.”
“Gakpapa, Neng.”Dia menoleh sekilas. "Kenapa kamu yang buka pintu, Neng?"
“Bik Sulis sama Mbak Tini sudah tidur, Tuan.”
Khayru menambah kecepatan langkahnya. Yang ia inginkan saat ini adalah istirahat.
“Sudah makan malam, Tuan?”tanya Neneng sebelum kembali ke kamarnya.
“Sudah,” jawabnya singkat tanpa menoleh. Dia hanya sibuk melonggarkan ikatan dasi di lehernya.
Mendorong handle pintu kamarnya hingga sedikit terbuka. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti. Dia menoleh ke arah pintu kamar Maula yang berada tepat di depan kamarnya. Hatinya tergerak untuk melihat keadaan Maula yang mungkin sudah tertidur.
Seketika wajahnya berubah ketika mendapati ranjangnya yang masih rapi. Bahkan setelah berkeliling ke semua sudut kamar, dia tak mendapati Maula di sana.
Tanpa berpikir panjang, dia segera merogoh handphone dari saku kemeja yang terlihat berantakan.
“Masih di mana jam segini?”
“Aku di sini, Bang.” Kemunculannya dari arah belakang sangat tiba-tiba. Sedikit mengagetkan sekaligus melegakan. Ekspresi yang semula khawatir, pudar hanya dengan melihat wajahnya.
“Dari mana?”
“Ambil minum dari dapur, Bang. Aus,” ucapnya sambil mengusap tenggorokan.
“Ya sudah. Tidur!” Khayru melintas di depan Maula yang masih berdiri di ambang pintu.
“Iya, Bang.” Saat itu juga Maula menutup pintu untuk meyakinkan Khayru.
Dia menunggu beberapa menit untuk kembali membuka pintu kamar. Matanya menyapu setiap sudut hanya memastikan sudah tak ada orang di sana. Dia perlu mengambil spatu dan tas yang ia tinggalkan di balik pot bunga lavender sebelum muncul di belakang Khayru beberapa saat yang lalu.
“Aman.”
Dalam hitungan detik, dia bisa kembali ke kamarnya dan tidur dengan nyenyak.
To be continue ....
__ADS_1