
Maula sedang menghindari sekali telepon dari suaminya. Namun, tiba-tiba handphonenya berbunyi lagi.
“Mikum, Bang. Gak usah telepon-telepon dulu deh, pokoknya aku tunggu Abang pulang ajalah di rumah,” cerocosnya saat menerima telepon.
Tiba-tiba, terdengar suara sumbang lelaki paruh baya yang tengah menertawakannya di balik telepon. “Ini ayah, Nak. Kamu nunggu banget suamimu pulang, ya.”
Mati aku! Mana ngucap salamnya asal bunyi, tadi, batinnya dalam hati.
“Ayah?! Maaf, Ayah. Maula kira, Abang yang telepon.” Sambil cengengesan.
“Maaf, ya, Nak. Suamimu menunda kepulangannya lagi. Dia kecapean, Sampe harus nginap di rumah sakit segala.”
“Astagfirullah! Abang sakit, yah? Dia dirawat di rumah sakit?” Maula sedikit khawatir.
“Cuma kelelahan aja, kok. Ayah cepat-cepat kasih tau kamu, supaya tidak salah paham. Kamu jangan terlalu khawatir, ya.”
“Baik, Ayah. Terima kasih banyak.”
Setelah menutup telepon, Maula baru tahu jika mertuanya ternyata sudah terlebih dahulu memasang story WA di handphone suaminya. Foto suaminya yang tengah terkulai lemas dengan selang infus di punggung tangannya.
'Get Well Soon, Nak' caption di gambar itu.
“Ya Allah, Bang. Apa karena aku yang memintamu cepat pulang, sampe membuatmu seperti ini? Maafin aku, Bang. Cepatlah sembuh,” ucapnya sambil mengusap foto di layar handphone.
Selama ini, Khayru terhitung sangat jarang sakit. Maula menyesalkan karena sekalinya Khayru tumbang, mereka tengah berjauhan. Padahal seharusnya Maula bisa merawat suaminya seperti Khayru yang selalu merawatnya selama ini.
Haruskah aku terbang ke sana? Huuhh ... Gak mungkin saat ini.
Terdengar ketukan pintu dari luar sana diikuti suara Neneng yang memberitahukan ada tamu yang datang.
“Siapa yang datang, Neng?” tanya Maula sambil membuka pintu kamarnya.
“Mbak Risa, Non,” jawabnya sambil membungkuk.
Maula langsung menemuinya di ruang tamu. Dia sedang ditemani Katia ngobrol sambil menunggu.
“Assalamualaikum, Tante. Ada apa malem-malem?” Maula duduk di sebelah Katia dengan tatapan heran.
“Waalaikum salam.” Wajah cantik Risa tersenyum sangat manis. “Gak apa-apa, Kok. Tante cuma mau lihat keadaan kamu.”
“Aku baik-baik aja, Tante. Terima kasih.”
__ADS_1
“Sekalian ... Tante mau tanya alamat Mas Iru di kota Safi, boleh, kan?” tanyanya membuat Maula sedikit heran bercampur khawatir.
“Buat apa, ya, Tante?”
“Tante ambil cuti. Mau liburan, siapa tau bisa mampir ke sana.”
Maula tak lantas menjawab. Dia malah meminta Risa untuk bicara berdua saja di luar. Karena ingin bicara sesuatu hal yang tidak boleh didengar oleh siapa pun.
“Gak apa-apa, kalian bicara di sini saja. Biar saya yang masuk. Kebetulan saya harus ke dapur dulu,” tawar Katia sambil beranjak dan pergi ke dapur.
“Ada apa, La. Kenapa kita harus bicara berdua saja?”
“Maaf, Tante. Aku gak bisa ngasih alamat Abang di sana.”
“Oh, ya udah, gak apa-apa. Tante bisa tanya Mas Aldi, besok,” jawabnya santai sambil tersenyum tanpa beban.
“Tante, maksud aku ... Tante jangan datang ke sana.”
“Loh, kenapa memangnya?” tanya Risa heran.
“Tante, Abang adalah suamiku dan Tante adalah tunangan Om Aldi. Gak baik jika Tante menemui Abang di sana seorang diri.”
“Dulu ... waktu pertama kali Mas Iru datang ke Maroko, kira-kira sepuluh tahun yang lalu, kami selalu ngobrol via telepon. Dia bilang di sana banyak tempat-tempat indah yang bisa dikunjungi. Makanya Tante tertarik datang ke sana.” Risa menjelaskan alasan kenapa sangat ingin datang ke sana.
Seketika, wajah Risa memerah. Dia tak tau harus berkata apa. Kaget, malu. Namun, saat menyadari tak ada lagi yang bisa ia tutupi dari Maula, tak mengurangi kekhawatiran terhadap Khayru setelah mendengar kabarnya yang sedang sakit juga tak menyurutkan niatnya untuk datang ke sana.
“Kamu ... tau perasaanku?” tanyanya lembut. “Kami saling mencintai, Maula,” ucapnya tanpa malu-malu.
Kata-kata itu terngiang lagi di telinga Maula. Kata-kata yang selama ini dia usir dari pikirannya. Dia rela membuat hatinya tuli untuk berpura-pura tak mengetahui jika suaminya mencintai orang lain demi tidak merusak rumah tangganya sendiri.
“Lupakan, Tante. Aku mohon. Ada hati Om Aldi juga yang akan terluka.”
Risa masih menunduk, menyembunyikan bola matanya yang mulai memerah dan hampir basah.
“Aku memang tidak pernah tau perasaan Abang yang sesungguhnya untukku, tapi aku sangat tahu jika Abang tidak akan pernah membiarkan aku terluka. Dia juga tidak akan pernah mengkhianati Om Aldi sebagai sahabatnya. Jadi, akan sia-sia jika Tante mendekatinya. Dan aku sudah bertekad untuk tidak membiarkan sesuatu apa pun, mengganggu rumah tanggaku. Maaf, Tante.”
“Memangnya siapa yang akan mengganggu rumah tanggamu? Pikiranmu terlalu jauh, Maula.” Risa mengambil tas kecilnya lalu berpamitan pulang. “Tante pulang sekarang. Terima kasih obrolan malamnya,” pungkasnya sebelum pergi.
Maula merasa sedikit lega karena telah memperingatkan Risa supaya tidak coba-coba mengganggu suaminya. Namun, keesokan harinya ia kembali dibuat gelisah dengan postingan Risa di Story WA miliknya.
Boarding pass yang berisi informasi nama penumpang, tujuan, nomor pesawat, boarding gate, bandara kedatangan hingga nomor tiket. Dan sempat-sempatnya Risa menampilkan foto selfie di bandara juga di dalam pesawat dengan senyumnya yang menawan. Berbeda dengan wajahnya yang Maula lihat semalam.
__ADS_1
“Wanita ini benar-benar pergi ke Maroko,” gumam Maula seraya membuang napas kasar.
“Kenapa lagi, Wooyyy? Dari tadi bibirnya komat kamit kaya emak-emak.” Nikita menepuk pundaknya dari belakang.
“Kagak!!” jawabnya cepat padahal hatinya mulai kacau meski tidak ia perlihatkan.
Lain halnya yang terjadi di hari berikutnya. Ketika Maula menerima sebuah pesan gambar dari Risa yang sudah tiba di kediaman Khayru. Makin hari, emosinya seperti sengaja disulut menjadi bara api yang membakar akal sehatnya. Saat itu juga, Maula menelepon suaminya hanya untuk meminta dia tidak menerima Risa di rumahnya. Khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
“Dek, Abang masih di rumah sakit. Kamu gak tanya kabar Abang dulu malah langsung marah-marah.”
“Maaf, Bang. Aku gak marah, cuman ... aku gak suka liat Tante Risa ada di sana.”
“Abang belum ketemu dia. Lagi pula, masa iya Abang harus usir dia yang jauh-jauh datang berkunjung ke sini. Gak sopan, dong.”
“Bang. Dia ada maksud lain sama Abang. Mana bisa aku tenang-tenang di sini. Sementara dia godain Abang di sana.”
Khayru tertawa menanggapi ucapan istri kecilnya yang pencemburu. “Tenang aja. Abang gak akan pindah ke lain hati, sayang. Jangan berpikir yang aneh-aneh lagi.”
“Abang panggil aku apa tadi?”
“Sayang.”
“Please, jangan bilang itu sekarang.”
“Loh, kenapa Abang gak boleh panggil sayang?”
“Aku bisa gila denger itu sekarang. Nanti saja kalau Abang sudah pulang, aku mau denger itu tiap hari.”
“Ha ha ha ... Kamu, kok, lucu, sayang.”
“Akh! Kok, malah diulang-ulang, sih, Bang? Mau lihat aku beneran gila ya?”
“Semakin kamu tergila-gila, semakin senang hati Abang,” godanya.
“Hati-hati loh, Bang, jangan bikin aku kecewa karena aku bisa lebih gila dari kucing liar.” Maula menunjukkan tangannya seperti kaki kucing yang siap mencakar.
“Kucing liar bukannya lucu, ya? Abang suka sama kucing liar. Gak sabar pengen dicakar sama kucing liar peliharaan Abang di rumah. Doain ya biar cepet pulih terus bisa pulang ketemu kamu.”
“Ya udah Abang istirahat. Sakitnya jangan lama-lama. Jaga diri, jaga hati juga buat aku.”
“Oke, sayang.”
__ADS_1
To Be Continue ....